Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tak Ingin Terluka
Setelah berperang dengan perasaannya, akhirnya kondisi Safa kembali membaik. Kini, ia bahkan sudah berada di kantor.
Pagi itu ia diantarkan oleh Farah tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Hari ini jadwalnya sangat padat. Ia harus memeriksa tata bahasa yang baku dan menemukan kalimat yang tidak tepat sebelum sebuah artikel diluncurkan.
Sesekali ia memikirkan suaminya yang sampai sekarang belum juga menghubunginya. Tak ingin kembali larut dalam kesedihan, Safa berjalan ke area pantry. Ia menyeduh segelas kopi hitam agar fokusnya kembali.
Klutik! Klutik!
Bunyi sendok yang beradu dengan gelas seolah menjadi musik penenang baginya. Pikirannya kembali melayang hingga ia tidak sadar bahwa Fajrin tengah berjalan mendekat.
"Safa..." tegur Fajrin. "Kopimu tumpah."
Safa tersentak dan langsung melihat ke arah kopinya. Alisnya bertaut saat melihat kopinya baik-baik saja.
"Tidak tumpah, kok," ucapnya bingung.
Fajrin tersenyum melihat ekspresi bingung Safa. "Aku hanya menggodamu, Safa. Habisnya kamu melamun saja."
"Iya, aku sedang banyak pikiran," katanya lirih.
"Jangan terlalu dipikirkan. Semua pasti ada jalan keluarnya. Yakinlah Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan kita," tutur Fajrin.
Fajrin pun ikut menyeduh kopi sehingga Safa bergeser sedikit untuk memberi ruang.
"Jika kita diuji, itu berarti kita kuat, Safa. Kita adalah orang-orang pilihan hingga bisa menerima cobaan yang begitu berat. Namun, yakinlah kebahagiaan itu akan datang," ungkap Fajrin dengan senyum hangat.
Safa merasa perasaannya membaik setelah mendengar perkataan Fajrin. Ia juga merasa menjadi lebih dekat dengan pria itu.
"Apa kamu suka membaca novel?" tanya Safa tiba-tiba.
Fajrin menoleh, lalu menyesap kopinya. "Novel, ya? Iya, aku sering membacanya. Karena sering menghabiskan waktu di rumah, sesekali aku membaca novel."
Fajrin meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu menatap Safa dengan penasaran. "Memangnya kenapa tiba-tiba bertanya soal itu? Apa kamu suka membaca novel juga, atau... kamu seorang penulis novel?"
Safa hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman dan anggukan.
"Wah, beneran kamu penulis novel?" ucap Fajrin antusias.
"Iya, tetapi aku masih amatiran. Aku juga belum menerbitkan buku, baru menulis di aplikasi daring saja," tutur Safa malu-malu.
Dengan wajah berbinar, Fajrin mengeluarkan ponselnya. "Apa judul novelmu? Nanti sesampainya di rumah akan kubaca."
"Judulnya Hanya Ingin Diakui. Boleh aku tahu nama akunmu?" ucap Safa penasaran. Entah mengapa, ia merasa Fajrin ada hubungannya dengan Kelana.
"Tentu!" kata Fajrin sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Safa mendekat untuk melihat ponsel Fajrin. Posisi mereka yang begitu dekat kebetulan terlihat oleh Arlan yang baru saja datang.
Arlan sengaja datang ke kantor untuk mencari Safa. Namun, pemandangan di depannya itu berhasil membuat hatinya memanas.
Egar yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggigit bibir karena bingung sekaligus panik.
Arlan berbalik dan hendak pergi. Namun, ia tiba-tiba berhenti, membuat Egar dan sekretarisnya terkejut.
"Egar! Suruh Safa ke ruangan saya. Ada berkas yang akan saya berikan padanya." Dengan langkah lebar, Arlan lalu pergi diikuti oleh Siska, sekretarisnya.
Sementara itu, Egar tertinggal di koridor sambil tersenyum simpul. "Baik, Bos!"
Egar lalu kembali ke pantry. Di ambang pintu, ia berhenti. "Safa, anak magang. Ayo ikut saya."
Safa menoleh. Dengan wajah masam ia menjawab, "Iya."
"Aku pergi dulu," ujarnya berpamitan sebelum meninggalkan Fajrin sendiri.
Safa segera berjalan cepat mengikuti langkah Egar. Wajahnya tampak kecewa setelah melihat nama akun Fajrin tadi.
"Ternyata bukan dia," gumamnya.
"Hah, apa?" tanya Egar yang lamat-lamat mendengar ucapan Safa.
Safa segera menunduk salah tingkah. "Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya bicara sendiri."
Egar melambatkan langkahnya untuk menyeimbangkan ritme berjalan Safa. "Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu kelihatan pucat."
Safa mengangguk dalam. "Aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan."
Safa mengelak, berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Egar mendekat, lalu berbisik di telinga Safa. "Lebih baik kamu omeli saja si sialan itu. Aku mendukungmu."
Safa hanya tersenyum—sebuah senyuman yang tampak dipaksakan.
Di depan pintu ruangan, Egar berhenti. Ia membukakan pintu untuk Safa. "Masuklah!"
Safa menunduk lalu melangkah masuk. Di dalam, Arlan sudah berdiri membelakanginya sambil menatap ke luar jendela.
Begitu mendengar langkah kaki, Arlan berbalik. Tatapan mata pria itu seketika membuat Safa bergetar.
Rasa kecewa dan perasaan diduakan pasti menyakiti hati sang istri.
Arlan perlahan mendekat. Namun, Safa tetap bergeming dengan tatapan dingin.
"Safa, Mas bisa jelaskan kejadian yang semalam."
"Untuk apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak Arlan," desis Safa, sengaja memberi batasan jarak.
Manik mata Safa jelas bergetar. Tentu saja hatinya sakit saat mengatakan hal itu, namun ia berusaha untuk tetap kuat. Ia tidak ingin lagi terlihat lemah di depan suaminya.
"Itu pilihan Anda. Saya tentu harus mengerti posisi saya sebagai orang yang masuk ke dalam kehidupan Anda berdua. Jadi, Pak Arlan tidak perlu meNjelaskan apa pun," ucap Safa tegas.
"Safa..." Arlan memohon. Ia merangsek maju lalu mendekap kedua tangan Safa. Namun, saat ia hendak mengatakan sesuatu yang penting, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.
"Siapa?!" sentak Arlan kesal karena merasa terganggu.
"Saya manajer editing, Riana!" ucap sebuah suara di balik pintu.
Mendengar hal itu, Safa segera melepaskan genggaman tangan Arlan dan mundur beberapa langkah untuk memberi jarak.
Arlan mengembuskan napas berat, mencoba mengatur emosinya yang sempat tersulut. Ia melepaskan pandangannya dari Safa, lalu merapikan jasnya sekilas.
"Masuk!" seru Arlan dengan suara baritonnya yang tegas.
Pintu terbuka, dan Riana melangkah masuk sambil mendekap beberapa map dokumen. Namun, langkah kaki manajer editing itu mendadak terhenti. Matanya membelalak tak percaya saat mendapati Safa juga berada di dalam ruangan tersebut.
"Eh, ada Safa juga di sini?" tanya Riana dengan nada suara yang dibuat seramah mungkin.
Safa tidak menjawab, ia hanya melempar senyum tipis yang sarat akan formalitas, lalu memilih menundukkan kepala.
Riana segera mengalihkan perhatiannya kembali kepada Arlan. Ia berjalan mendekat ke arah meja kerja pria itu dengan ritme langkah yang sengaja diperlambat, memamerkan keanggunannya.
"Maaf mengganggu waktunya, Pak Arlan. Tetapi ada beberapa masalah mendesak di area editing yang harus segera saya laporkan secara langsung kepada Anda," ujar Riana dengan suara yang mendadak melembut, jauh berbeda dari ketegasan biasanya.
"Masalah apa?" tanya Arlan dingin. Pikirannya masih tertinggal pada penjelasan yang belum sempat ia sampaikan kepada istrinya.
Riana membuka map yang dibawanya, lalu meletakkannya di atas meja. Alih-alih berdiri di posisi semestinya, Riana justru sengaja melangkah memutari meja dan berdiri sangat dekat di samping Arlan—bahkan terlalu dekat untuk ukuran profesionalitas kerja.
Ia sedikit membungkuk, seolah-olah ingin menunjukkan detail dokumen, namun gerak-gerik tubuhnya jelas menunjukkan bahwa ia sedang mencari kesempatan untuk tebar pesona.
"Ini, Pak. Ada beberapa draf artikel yang tata bahasanya sangat berantakan. Penulisnya kurang teliti, dan saya rasa tim pemagang tidak bekerja dengan maksimal," ucap Riana setengah berbisik sambil melirik sinis ke arah Safa.
Jarak di antara Riana dan Arlan kini hanya tersisa beberapa jengkal saja.
Safa yang menyaksikan pemandangan itu dari sudut ruangan merasakan darahnya mendesir hebat. Dadanya bergemuruh parah. Rasa geram dan panas menjalar di sekujur tubuhnya melihat bagaimana mbaknya dengan begitu berani menggoda suaminya.
Safa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi roknya.
Sebelum Arlan sempat merespons tindakan Riana, Safa buru-buru mengambil langkah maju.
"Maaf memotong pembicaraan, Pak Arlan, Bu Riana," sela Safa dengan suara bergetar.
Arlan langsung menoleh menatap Safa, matanya memancarkan rasa bersalah sekaligus cemas saat melihat rahang istrinya yang mengeras.
"Karena sepertinya ada hal penting yang harus Bapak bicarakan dengan Bu Riana mengenai area editing, dan tugas saya di sini juga sudah selesai, saya mohon izin untuk kembali ke draf pekerjaan saya di luar," ucap Safa tegas, menatap lurus ke arah manik mata Arlan tanpa berkedip.
"Safa, tunggu dulu. Saya belum memberikan berkas yang—" Arlan mencoba menahan, kalimatnya menggantung di udara. Ia ingin Safa tetap tinggal, ia tidak ingin kesalahpahaman di antara mereka semakin meruncing akibat ulah Riana.
"Permisi, Pak," potong Safa cepat. Ia tidak memberikan ruang bagi Arlan untuk mendebat.
Melihat keras kepala dan luka yang tersirat di mata istrinya, Arlan akhirnya tidak memiliki pilihan lain.
Dengan berat hati, Arlan mengangguk pelan. "Baiklah. Kamu boleh keluar."
"Terima kasih, Pak," ucap Safa formal.
Safa berbalik tanpa memandang Riana sedikit pun. Dengan langkah kaki yang mantap dan cepat, ia segera keluar dari ruangan itu, menutup pintu kayu dengan sedikit sentakan yang mencerminkan seluruh kekesalan di hatinya.