NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DI BALIK PAGAR HITAM

​Samudera terdiam sejenak. Ia mengingat bagaimana Alana menatapnya dengan penuh ketakutan dan sikap protektif di taman sore tadi. Jika ia datang mendadak dengan kekuasaan dan pasukannya, Alana pasti akan merasa terancam dan mungkin akan melarikan diri lagi. Samudera tidak ingin menjadi ancaman bagi wanita yang telah menjaga darah dagingnya dengan begitu sempurna.

​"Tidak," jawab Samudera tegas. "Jangan mengejutkannya malam ini. Biarkan dia tenang."

​Samudera memperbaiki posisi duduknya, matanya kembali menatap lurus ke arah rumah itu dengan binar posesif dan penuh tekad. "Besok, saya sendiri yang akan datang menemuinya. Bukan sebagai seorang pengusaha yang menuntut hak, tapi sebagai seorang pria yang ingin menebus waktu empat tahun yang hilang."

Keesokan harinya, hari Minggu pagi yang cerah. Udara kompleks perumahan elit itu terasa begitu segar, diringi kicau burung yang bersahutan. Sesuai dengan janjinya pada diri sendiri, Samudera datang seorang diri tanpa kawalan ketat para pengawalnya. Ia mengendarai mobilnya sendiri dan memarkirkannya agak jauh dari rumah nomor 12-B, tidak ingin memicu kepanikan Alana.

​Dengan langkah kaki yang mantap namun penuh kehati-hatian, Samudera berjalan mendekati pagar hitam rumah minimalis tersebut.

​Jantung pengusaha muda yang biasanya sedingin es itu mendadak berpacu cepat saat melihat pemandangan di halaman depan. Pagar rumah itu sedikit terbuka. Di atas rumput hijau yang rapi, tampak Arkana Dirgantara sedang asyik bermain sendiri dengan mobil-mobilan robot miliknya. Bocah empat tahun itu sesekali membuat suara tiruan mesin mobil dengan mulut mungilnya, tampak sangat tenggelam dalam dunianya.

​Alana tidak terlihat di sana. Suasana rumah tampak sunyi, kemungkinan wanita itu sedang berada di dapur atau di dalam rumah untuk menyiapkan sesuatu.

​Samudera berdiri mematung di dekat pagar. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap lekat-lekat setiap inci wajah bocah lelaki itu dari dekat. Kemiripan mereka benar-benar tak terbantahkan.

​Seolah merasakan kehadiran seseorang, Arka mendongakkan kepalanya. Mata bulatnya yang berbinar langsung mengenali sosok pria jangkung yang kemarin sore menatapnya di taman. Bukannya takut atau berteriak memanggil ibunya, Arka justru berkedip polos, lalu berdiri dari rumput sambil memeluk mainan robotnya.

​"Om yang kemarin di taman, ya?" tanya Arka dengan suara cemprengnya yang khas, berbicara dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih dan terdengar menggemaskan.

​Mendengar suara putranya untuk pertama kali, pertahanan ego Samudera runtuh seketika. Sudut bibirnya perlahan ketarik membentuk sebuah senyuman yang sangat tulus—senyuman yang belum pernah dilihat oleh rekan bisnis atau karyawannya di kantor.

​Samudera perlahan berlutut di balik pagar yang terbuka, menyamakan tinggi badannya dengan bocah kecil itu agar tidak terlihat mengintimidasi.

​"Iya, ini Om yang kemarin," jawab Samudera, berusaha melembutkan suaranya yang terbiasa berat dan tegas. "Nama kamu siapa, Jagoan?"

​"Namaku Arka... Arkana Dirgantara!" jawab Arka dengan bangga, menepuk dada kecilnya sendiri. "Om siapa namanya?"

​"Nama Om... Samudera," bisik Samudera, matanya mendadak terasa sedikit panas karena emosi yang membuncah. Ia mengulurkan tangan kanannya yang besar melewati celah pagar. "Boleh Om kenalan?"

​Arka menatap tangan besar itu sejenak, lalu dengan kepolosan anak-anak, ia menyambutnya dengan tangan mungilnya yang halus. Saat telapak tangan mereka bersentuhan, Samudera merasakan aliran kehangatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Ini adalah darah dagingnya. Anak yang selama empat tahun ini ia cari.

​"Arka lagi main apa sendiri di sini? Ibu mu di mana?" tanya Samudera lembut, matanya sesekali melirik ke arah pintu rumah yang tertutup, mengantisipasi kemunculan Alana kapan saja.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!