NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Teratai Di Atas Abu

Bab 8 — Sekte Gunung Awan Putih

Setelah meninggalkan pegunungan utara, Lian Hua berjalan berhari-hari menuju ke selatan, hingga tibalah ia di kawasan Pegunungan Awan Putih. Di puncaknya, berdiri salah satu sekte terbesar dan paling disegani di wilayah itu: Sekte Gunung Awan Putih. Sekte ini terkenal karena ajarannya yang murni, tenaga dalam yang kuat, serta ribuan murid yang tersebar ke seluruh penjuru negeri. Setiap tahun, di sini diadakan ujian penyaringan untuk menerima murid baru, dan pemuda dari segala penjuru datang berbondong-bondong, berharap bisa diterima dan menapaki jalan persilatan yang gemilang.

Hari itu, halaman luas di gerbang utama sekte penuh sesak oleh ribuan peserta ujian. Di antara kerumunan itu, Lian Hua berdiri tenang mengenakan jubah biru tua sederhana yang diberi A Bao, pedang lurus tersampir di punggung, dan liontin giok tersembunyi rapat di balik baju. Wajahnya tenang, namun di balik ketenangan itu, matanya tajam mengamati segala sesuatu di sekelilingnya. Baginya, masuk ke sekte besar ini adalah langkah awal: di sini ia bisa belajar lebih banyak, mendapatkan berita, dan perlahan mencari jejak Menara Darah Hitam.

Ujian berlangsung bertahap. Tahap pertama menguji kekuatan raga dan ketahanan, tahap kedua menguji ketajaman indra, dan tahap ketiga—yang paling penting—adalah pengukuran dasar bakat serta kemampuan menampung tenaga. Bagi para kultivator, bakat adalah hal paling utama; orang berbakat tinggi bisa menempuh jalan panjang dengan mudah, sedangkan yang bakatnya rendah, sekeras apa pun berusaha, hasilnya akan tetap terbatas.

Satu per satu peserta dipanggil maju. Mereka meletakkan tangan di atas batu pengukur besar berwarna putih susu. Saat hawa mereka mengalir masuk, batu itu akan memancarkan cahaya terang atau redup, menandakan seberapa besar potensi yang dimiliki. Ada yang cahayanya menyala terang bagai matahari, membuat para penguji mengangguk puas dan berseru kagum, ada yang bersinar sedang, dan ada pula yang hanya memancarkan cahaya remang, membuat mereka tertunduk malu dan diusir pergi.

Tiba giliran Lian Hua. Ia melangkah maju perlahan, meletakkan telapak tangannya di permukaan batu yang dingin itu. Ia mengingat pesan A Bao: Jangan tampakkan segala kekuatanmu. Biarkan mereka melihat apa yang ingin mereka lihat, sampai waktumu tiba.

Ia menggerakkan hawa di dalam tubuhnya, namun hanya mengalirkan sedikit saja, hawa yang terbatas dari jalur lama yang rusak, bukan tenaga murni dari jalur baru yang ia bangun lewat Seni Teratai Langit.

Sekejap saja, batu itu berdenyut pelan, lalu memancarkan cahaya abu-abu yang sangat redup, nyaris tak tampak, lalu segera padam kembali seolah tak ada apa-apa.

Terdengar suara tawa dan bisikan di mana-mana.

“Hahaha, lihatlah itu! Cahayanya hampir tak ada. Dasar bakat sampah, berani-beraninya datang ke sini?”

“Pakaiannya saja sederhana sekali, pasti anak kampung yang bermimpi jadi pendekar. Dasar buang-buang waktu saja.”

“Dengan bakat seburuk itu, bahkan jadi murid rendahan saja mungkin tak cukup. Lebih baik pulang dan jadi petani saja!”

Beberapa murid senior yang berdiri di samping penguji ikut tertawa sinis, menatap Lian Hua dengan pandangan meremehkan dan jijik. Bagi mereka, orang dengan bakat serendah ini tak lebih dari sekadar semut yang tak tahu diri.

Seorang penguji berwajah keras mengerutkan kening, melambaikan tangan dengan tak sabar. “Cukup! Bakatmu terlalu rendah. Dasar yang kau miliki takkan bisa membawamu jauh di jalan ini. Pergilah, kami tak menerima orang yang hanya akan membuang sumber daya sekte.”

Lian Hua tak beranjak. Ia berdiri tegak, tatapannya lurus ke depan, tak ada rasa malu atau marah di wajahnya, hanya ketenangan yang dingin. Ia sudah terbiasa dengan tatapan dan kata-kata seperti ini—dulu saat klannya masih ada, saat ia mengembara, saat ia hidup di gunung, selalu saja ada orang yang memandangnya rendah. Kata-kata hinaan ini baginya tak lebih dari angin lalu.

“Tetua, saya tahu bakat saya dianggap rendah di mata umum,” ucap Lian Hua dengan suara tenang dan jelas, terdengar di tengah keramaian yang mulai gaduh. “Namun saya datang ke sini bukan karena mengandalkan bakat, melainkan mengandalkan kemauan dan ketekunan. Saya tak meminta perlakuan istimewa, saya hanya minta kesempatan. Biarkan saya masuk sebagai murid paling bawah, melakukan pekerjaan paling berat, asal saya boleh belajar dan berlatih di sini.”

Penguji itu makin kesal, hendak membentak dan menyuruhnya pergi paksa, namun tiba-tiba terdengar suara batuk pelan dari panggung tinggi di belakang. Seorang lelaki tua berjubah putih polos, rambutnya memutih sepenuhnya namun tatapan matanya masih tajam dan jernih, turun perlahan mendekat. Ia adalah Tetua Bai, salah satu tetua tertua di sekte itu, orang yang bijaksana dan sering kali memiliki pandangan berbeda dari yang lain.

Semua orang segera diam dan menunduk hormat. Tetua Bai berjalan mendekati Lian Hua, menatap pemuda itu dari ujung kaki hingga ke kepala, lalu menatap lekat-lekat ke dalam manik matanya yang hitam pekat.

Ia tak melihat sorot mata orang yang lemah, atau orang yang penuh keputusasaan, atau orang yang hanya bermimpi kosong. Di sana, Tetua Bai melihat api yang tenang namun tak akan pernah padam, keteguhan yang kokoh seperti gunung, dan kedalaman yang tak terduga—seolah di balik wajah muda itu tersembunyi samudra pengalaman dan rasa sakit yang mendalam.

Tetua Bai tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah penguji tadi. “Anak ini bakatnya memang rendah jika diukur dengan cara biasa. Tapi bakat hanyalah titik awal, bukan segalanya. Sepanjang hidupku melihat banyak orang berbakat tinggi yang akhirnya gagal karena sombong atau tak tahan lelah, dan aku juga melihat orang yang dianggap tak berguna, yang berkat ketekunan baja, akhirnya melampaui semua orang.”

Ia kembali menatap Lian Hua, lalu berkata lantang agar semua orang mendengarnya.

“Aku Tetua Bai, dan aku yang akan menerima murid ini. Mulai hari ini, Lian Hua adalah murid luar Sekte Gunung Awan Putih. Ia akan ditempatkan di barak murid baru, melakukan tugas sebagaimana mestinya, dan berlatih sesuai aturan. Ingatlah kalian semua: jangan menilai nilai seseorang hanya dari cahaya batu pengukur. Waktu yang akan membuktikan siapa yang benar-benar mampu bertahan sampai akhir.”

Kerumunan terdiam kaget, ada yang tak setuju, ada yang heran, namun tak ada yang berani membantah keputusan seorang tetua.

Lian Hua menundukkan badan dalam penghormatan yang dalam. Di dalam hatinya, ia tahu: langkah pertamanya sudah berhasil diambil. Di tempat ini, di tengah tatapan hinaan dan pandangan rendah orang lain, ia akan perlahan tumbuh, menumpuk kekuatan, sampai saatnya tiba ia akan mengejutkan seluruh dunia persilatan.

“Terima kasih, Tetua,” ucapnya pelan. “Saya takkan mengecewakan kepercayaan ini.”

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!