Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ruang keluarga rumah besar milik Kartika dipenuhi suara kartun dari televisi. Mainan berserakan di atas karpet tebal. Mobil-mobilan kecil memenuhi sudut meja. Beberapa paper bag belanja masih tergeletak di sofa karena tadi siang Kartika baru pulang menemani Kalingga membeli perlengkapan untuk acara kemping sekolahnya.
Namun, di tengah rumah semewah dan senyaman itu Kaivan tetap terlihat murung. Bocah kecil itu duduk memeluk boneka dinosaurusnya sambil menatap pintu utama sejak tadi.NSesekali matanya bergerak ke arah lift rumah. Lalu, kembali lagi ke pintu.
“Papa mana, Ma?”
Suara kecil itu membuat Kartika yang sedang duduk membaca laporan pemasaran, langsung mengangkat kepala. Ia menatap putra bungsunya.
Kaivan turun dari sofa kecilnya. Langkah mungilnya berjalan menuju pintu utama. Tangannya mencoba menarik gagang pintu meski jelas terlalu tinggi untuk dijangkau.
“Papa kapan datang? Adek lindu.”
Kartika langsung menelan ludah pelan. Di belakang sana, salah satu ART rumah yang sedang membawa nampan buah ikut berhenti sejenak.
Suasana rumah langsung terasa berbeda.
Kartika menutup tabletnya perlahan. Ia bangkit lalu menghampiri anaknya. “Adek.”
Kaivan menoleh cepat. “Mama, Papa mana?”
Kartika jongkok di depan anaknya. Ia merapikan rambut Kaivan yang sedikit berantakan.
“Papa lagi kerja.”
Kaivan mengerutkan wajah. “Papa keljanya lama.”
“Iya.”
“Adek mau Papa.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kaivan dengan polos. Namun, cukup membuat dada Kartika terasa diremas.
Berbeda dengan Kalingga, Kaivan belum mengerti apa pun. Di usia dua tahun, bocah itu hanya tahu satu hal, papanya tiba-tiba tidak ada dan itu membuat dunianya berubah.
“Mama, ayo telepon Papa!”
Kartika memaksakan senyum kecil. “Nanti, ya.”
Kaivan langsung menggeleng kuat. “Cekalang!”
Bibir mungil Kaivan mulai turun, matanya memerah. Kartika langsung tahu tanda itu. Dan benar saja detik berikutnya Kaivan mulai menangis. Awalnya pelan, lalu semakin lama makin keras.
“Mau Papa ...! Papaaa ...!” Tangan Kaivan meraih udara kosong seolah mencari seseorang untuk menggendongnya.
Kartika cepat-cepat memeluk tubuh kecil itu. “Sssttt ... Sayang yang sabar, ya. Nanti papa akan datang.”
“Huaaaa ...!”
Kaivan justru menangis semakin menjadi. Tubuh kecilnya meronta dalam pelukan ibunya.
“Papa gendong Adek! Adek mau tidul cama Papa!” Suara tangis itu menggema sampai ke ruang sebelah.
Kalingga yang baru turun dari lantai atas langsung berhenti di tangga. Wajah bocah itu ikut sedih melihat adiknya menangis lagi.
Kartika memejamkan mata sesaat. Tangannya mengusap punggung Kaivan berkali-kali. Dia sendiri matanya mulai panas, karena sesungguhnya bukan cuma Kaivan yang rindu, dia juga sangat rindu.
Rindu suara Deva memanggilnya dan anak-anak, sepulang kerja. Rindu melihat laki-laki itu duduk di lantai bermain bersama Kaivan dan membatu Kalingga belajar. Rindu melihat Kalingga tertawa saat Deva pura-pura kalah bermain.
Rumah besar ini memang nyaman, tenang, dan mewah. Semua kebutuhan tersedia. Kartika bahkan tidak perlu lagi mengurus pekerjaan rumah sedikit pun. Ada ART, ada sopir, ada chef pribadi yang memasak sesuai menu anak-anak.
Dia kembali menjadi Kartika yang dulu. Nyonya muda keluarga berada. Namun anehnya, di tengah semua kenyamanan itu tetap ada ruang kosong yang tidak bisa diisi apa pun. Dan ruang kosong itu bernama Deva.
Kaivan masih sesenggukan di pundaknya. Kartika memeluk anaknya lebih erat. Lalu tanpa sadar ingatan-ingatan lama kembali memenuhi kepalanya. Deva yang tertidur di sofa karena terlalu lelah bekerja. Deva yang diam-diam memperbaiki mainan Kalingga tengah malam. Deva yang selalu memeluk dan mencium keningnya sebelum berangkat kerja.
Deva itu bukan suami yang jahat. Bukan ayah yang tidak sayang keluarga. Justru terlalu sayang dan terlalu peduli sampai akhirnya tidak bisa membedakan mana keluarga yang harus diprioritaskan. Dan itulah yang menghancurkan rumah tangga mereka perlahan.
Kartika menunduk. Ia mengecup kepala Kaivan pelan. “Adek kangen Papa, ya?”
Kaivan langsung mengangguk sambil terisak. “Iya.”
Kartika tersenyum kecil dan rapuh. “Mama juga kangen Papa.” Suaranya nyaris tidak terdengar.
Malam sebelumnya Anggun sempat meneleponnya. Sampai sekarang ucapan perempuan itu masih terngiang jelas di kepala Kartika.
“Deva makin kurus dan kucel, Tik. Kayaknya kepergian kamu mengubah kehidupannya.”
Kartika waktu itu diam cukup lama.
Ada Rian, orang kepercayaan Kartika yang menjadi rekan kerja Deva di kantornya. Juga suka memberi laporan kepadanya.
“Deva sekarang sering pulang malam, Bu. Kadang duduk sendirian di parkiran kantor.”
Kartika menunduk sambil menggenggam ponsel erat. Dadanya nyeri mendengarnya.
“Deva masih nyimpen foto Ibu dan anak-anak di meja kerja. Kalau istirahat sering bengong lihat foto Kaivan sama Kalingga.”
Kartika sampai harus menutup wajah saat itu. Karena air matanya hampir jatuh.
Laporan terbaru dari Fadli, salah satu rekan kerja Deva sempat menghubunginya diam-diam. Bukan untuk ikut campur, hanya memberi kabar.
“Bu, Pak Deva belakangan sering enggak fokus. Beliau kelihatan terpukul banget.”
Kartika hanya membalas pendek. Terima kasih sudah memberi kabar. Setelah itu ia mematikan layar ponselnya lama sekali. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu peduli. Ia takut hatinya goyah lagi. Karena kalau soal cinta Kartika tidak pernah benar-benar menutup hati untuk Deva.
Namun, untuk kembali tinggal di lingkungan keluarganya yang toxic, Kartika tidak mau. Ia tidak ingin kembali hidup dalam rasa lelah yang sama. Tidak ingin lagi melihat suaminya diperas habis-habisan rasa tanggung jawab. Tidak ingin lagi setiap kebutuhan rumah tangga mereka kalah oleh tuntutan keluarga besar Deva. Ia sudah pernah bertahan sejauh itu.
***
Baca juga karya temanku ini, yuk!
anak² belum mengerti tentang masalah orang tua