Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA GARIS YANG MEMBUNUH HARAPAN
Azzura terhenti tepat di depan pintu kamar, tangannya sudah memegang gagang pintu saat ponsel di saku jaketnya bergetar. Ia merogohnya dengan jemari yang masih gemetar hebat. Sebuah pesan dari Satya muncul di layar.
"Zura, kamu nggak apa-apa? Perasaanku tiba-tiba nggak enak banget."
Azzura menutup mulutnya dengan sebelah tangan, air matanya seketika tumpah. Ia selalu takjub sekaligus takut dengan bagaimana insting mereka bekerja. Sejak dulu, Satya seolah memiliki radar yang menyatu dengan jiwanya; saat Azzura sedih, Satya akan merasakannya meski mereka berjauhan. Dan pagi ini, di saat dunia Azzura terasa runtuh karena ketakutan akan kehamilan yang mustahil ini, Satya kembali merasakannya.
Ia ingin sekali membalas pesan itu, ingin berteriak bahwa ia sedang sangat tidak baik-baik saja. Namun, apa yang harus ia katakan? Bahwa ia sedang dalam perjalanan membeli test pack untuk membuktikan tuduhan Nayaka?
Azzura menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia tidak boleh memberi tahu Satya sekarang. Belum saatnya. Jika ia jujur dan hasilnya ternyata positif, itu akan menjadi luka paling mematikan bagi Satya—pria yang sudah berjanji untuk menunggunya sampai satu bulan ini berakhir.
"Aku nggak apa-apa, Sat. Mungkin kamu cuma kurang tidur karena kepikiran kerjaan. Aku cuma mau keluar cari udara segar sebentar," balas Azzura, berbohong demi melindungi perasaan pria itu.
Setelah mengirim pesan itu, Azzura segera memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia mengusap air matanya dengan kasar dan memakai masker serta kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya. Ia tidak ingin ada orang yang mengenalinya saat membeli benda itu di apotek.
Dengan langkah terburu-buru, ia keluar dari rumah, mengabaikan fakta bahwa ia bahkan belum sarapan. Pikirannya hanya tertuju pada satu benda kecil yang akan menentukan apakah hidupnya akan tetap menjadi sebuah harapan atau berubah menjadi mimpi buruk yang abadi. Di balik kemudi taksi yang ia tumpangi, Azzura terus berdoa dalam hati, "Tolong... jangan biarkan ini terjadi. Jangan biarkan insting Satya kali ini benar."
Azzura melangkah masuk ke dalam apotek yang tampak sepi di ujung jalan. Ia sengaja memilih tempat yang agak jauh dari lingkungan rumahnya demi menjaga kerahasiaan. Aroma khas obat-obatan dan antiseptik menyambutnya, namun kali ini aroma itu justru membuat perutnya kembali bergejolak.
Dengan kepala tertunduk dan langkah yang dipacu, ia menghampiri rak alat kesehatan. Matanya menyisir cepat deretan kotak kecil di sana. Jantungnya berdegup kencang seolah ia sedang melakukan sebuah kejahatan besar. Tangannya yang gemetar meraih dua kotak test pack dari merk yang berbeda—ia butuh kepastian ganda agar tidak ada ruang untuk keraguan.
Saat di kasir, Azzura bahkan tidak berani menatap mata sang apoteker. Ia segera meletakkan benda itu di meja, membayarnya dengan uang pas, dan langsung memasukkannya ke dalam tas kecilnya sebelum sempat dibungkus plastik.
"Terima kasih," ucapnya hampir berbisik, lalu bergegas keluar.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, tas yang berisi test pack itu terasa begitu berat di pangkuannya. Benda kecil itu terasa seperti bom waktu. Jika hasilnya negatif, ia bisa kembali bernapas lega dan menatap Satya dengan kepala tegak. Namun jika positif... ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keajaiban yang mengerikan ini kepada siapa pun, terutama pada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, Azzura langsung mengunci diri di kamar mandi. Ia menatap dua alat tes itu di atas wastafel. Dunianya kini menyempit, hanya sebatas ruangan kecil itu dan dua garis yang mungkin akan muncul. Dengan napas yang tertahan dan doa yang terus merapal di dalam hati, ia mulai melakukan prosedur pengetesan tersebut.
Menit-menit menunggu terasa seperti berabad-abad. Ia membelakangi wastafel, tidak sanggup melihat perubahan warna pada alat itu secara langsung. Tangannya bertaut erat di depan dada, sementara air mata ketakutan mulai membasahi maskernya.
"Tolong... jangan sekarang... jangan begini," isaknya lirih, berharap mukjizat bahwa firasatnya dan tuduhan Nayaka adalah salah besar.
Pandangan Azzura seketika mengabur. Dua alat tes di atas wastafel itu seolah berteriak ke arahnya dengan warna merah yang begitu pekat. Dua garis.
Azzura merasa seluruh persendiannya meloloskan diri. Ia merosot jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin, punggungnya bersandar pada pintu yang terkunci rapat. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang.
"Enggak... ini nggak mungkin... kenapa bisa begini?" isaknya sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Pikirannya berputar liar mencari jawaban. Ia tahu pasti bahwa ia tidak pernah mengkhianati Satya dengan pria mana pun. Namun, hasil di tangannya adalah bukti biologis yang tidak bisa dibantah. Logikanya mulai menelusuri setiap malam yang hilang, setiap pagi di mana ia terbangun dengan tubuh yang terasa sangat lelah tanpa alasan yang jelas.
"Gue nggak pernah nyentuh lo, Ra!"
Ucapan Nayaka kemarin terngiang kembali. Jika Nayaka juga merasa tidak pernah menyentuhnya, lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka berdua telah dijebak? Apakah ada tangan-tangan yang sengaja membuat ini terjadi saat mereka tidak sadarkan diri?
Azzura memeluk lututnya, menangis tersedu-sedu dalam keheningan. Kenyataan ini jauh lebih mengerikan dari sekadar "salah makan". Dua garis itu bukan hanya tanda kehidupan baru, tapi juga tanda kematian bagi impiannya bersama Satya.
Bagaimana ia bisa menatap Satya lagi? Bagaimana ia bisa menjelaskan hal ini kepada pria yang sudah berjanji akan menunggunya sampai perceraian itu tiba? Satya akan menganggapnya sebagai pembohong terbesar. Dan Nayaka... pria itu akan memiliki senjata paling mematikan untuk menghancurkan harga dirinya di depan semua orang.
"Satya... maafkan aku," rintihnya di sela tangis, sementara tangan gemetarnya secara tak sadar menyentuh perutnya sendiri—sebuah tempat yang kini bukan lagi miliknya sendiri, melainkan penjara bagi masa depannya.
Azzura terkesiap di tengah isakannya saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Suara itu bukan milik Nayaka, melainkan mertuanya yang entah sejak kapan sudah berada di depan kamar.
"Azzura? Kamu di dalam, Nak? Kenapa lama sekali?" suara Ibu Nayaka terdengar penuh kecemasan. "Azzura, jawab Ibu!"
Azzura mencoba menjawab, namun tenggorokannya terasa seperti tercekik. Ia ingin berdiri dan menyembunyikan alat tes itu, tapi seluruh tubuhnya terasa lumpuh. Tangannya hanya sanggup meremas lantai keramik yang dingin. Pikirannya kalut—bagaimana jika mereka melihat dua garis merah ini?
"Azzura! Kamu kenapa di dalam? Ayah dengar kamu menangis," timpal suara Ayah Nayaka yang terdengar lebih tegas namun menyimpan kekhawatiran yang sama.
Keheningan dari dalam kamar mandi justru membuat suasana di luar semakin tegang. Ibu Nayaka mulai panik, ia teringat wajah pucat menantunya belakangan ini.
"Pak, perasaanku tidak enak. Azzura tidak menyahut sama sekali. Pak, dobrak saja!" ucap ibunya dengan suara gemetar.
"Azzura! Ayah dobrak ya!"
Brak!
Pintu kamar mandi itu tidak langsung terbuka karena tubuh Azzura yang lemas tersandar di baliknya. Namun, pada dorongan kedua yang lebih keras, pintu itu ternganga. Ayah dan Ibu Nayaka terbelalak melihat menantu mereka terduduk lemas di lantai dengan wajah sembab dan rambut berantakan.
Mata Ibu Nayaka langsung tertuju pada benda kecil yang masih tergenggam erat di jemari Azzura yang gemetar. Sebelum Azzura sempat menyembunyikannya, Ibu Nayaka sudah berlutut dan mengambil benda itu.
Suasana seketika menjadi sunyi senyap saat Ibu Nayaka menatap dua garis merah yang sangat jelas di sana. Ia menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru seketika mengalir di pipinya. Ia menatap suaminya dengan binar bahagia yang kontras dengan ketakutan luar biasa di mata Azzura.
"Pak... lihat ini, Pak... Azzura hamil," bisik Ibu Nayaka penuh syukur, sementara Azzura hanya bisa menggeleng lemah dengan tatapan kosong, merasa bahwa hidupnya benar-benar telah berakhir di detik itu juga.