Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela besar ruang kuliah menyinari debu-debu yang menari di udara.
Kensington Valerio duduk di barisan tengah, sebuah posisi yang tidak biasanya ia ambil. Ia tidak lagi menyandar malas. Hari ini, ia tampak benar-benar fokus. Di depannya terbentang buku catatan tebal dan sebuah pena yang terus ia mainkan di antara jemarinya.
Dosen Miller, pria tua dengan kacamata yang selalu bertengger di ujung hidung, sedang menjelaskan tentang kompleksitas hukum kontrak internasional.
Suaranya yang berat mengisi ruangan, menciptakan suasana akademis yang kental. Kensington mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat poin-poin penting. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai terbangun—semacam ambisi yang telah lama terkubur di bawah tumpukan botol alkohol dan penyesalan.
Namun, keheningan belajar itu terinterupsi oleh ketukan tegas di pintu kayu ek ruang kelas.
Pintu terbuka, dan sesosok wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang kaku. Rambutnya disanggul rapi seperti biasa, dan setelan blazer berwarna biru dongker yang ia kenakan tampak sangat pas di tubuhnya. Itu adalah Catalonia Vera West.
Dosen Miller menghentikan penjelasannya dan tersenyum menyambut wanita itu. "Ah, tepat waktu seperti biasa," ujar Miller. Ia kemudian berbalik menatap para mahasiswa.
"Untuk satu jam ke depan, Late Vera akan menggantikanku memberikan materi pendalaman kasus. Ada yang ingin bertanya sebelum saya keluar?"
Tangan Kensington langsung terangkat ke udara sebelum Miller sempat menyelesaikan kalimatnya. Seluruh mata di kelas tertuju pada sang berandal Valerio.
"Prof," panggil Kensington, suaranya terdengar jernih namun mengandung nada skeptis yang jelas. "Kenapa asisten dari Departemen Teknik Elektro harus berada di ruang kelas hukum? Bukankah ini salah alamat?"
Kensington tahu Vera sering terlihat di gedung teknik untuk membantu beberapa riset administrasi, dan baginya, melihat wanita itu di sini terasa seperti gangguan wilayah.
Dosen Miller terkekeh pelan, seolah sudah menduga pertanyaan itu. "Kensington, kau mungkin terlalu lama bercuti dari kampus ini. Vera bukan sekadar asisten administrasi. Dia adalah lulusan terbaik hukum dari angkatan tahun lalu dengan predikat Summa Cum Laude."
Kensington tertegun. Matanya menyipit, menatap Vera yang kini berdiri di balik podium dengan wajah datar.
Kapan wanita ini berada di jurusan hukum? tanyanya dalam hati. Selama tiga tahun ia menghilang dalam kegelapan, ia memang tidak pernah memperhatikan siapa saja bintang baru di kampus ini. Ia mengira Vera hanyalah asisten kaku yang beruntung mendapatkan posisi di ruangan Lexington.
"Terima kasih, Prof," ucap Vera dingin, matanya melirik Kensington sekilas—sebuah tatapan yang seolah berkata: Duduk dan diamlah, Berandal.
Setelah Miller keluar, suasana kelas berubah total. Jika Miller adalah pengajar yang tenang, Vera adalah penguji yang kejam. Ia tidak membuang waktu. Ia langsung membuka layar PowerPoint dan memindai ruang kelas dengan mata elangnya.
Vera seakan ingin memperlihatkan kekuasaannya, terutama di depan pria yang kemarin melihat titik terlemahnya. Sepanjang satu jam itu, ia terus-menerus menargetkan Kensington.
"Tuan Valerio, bisa kau jelaskan bagaimana implikasi dalam kontrak ini jika dikaitkan dengan putusan Mahkamah Agung tahun 2024?" tanya Vera dengan nada menantang.
Ia berpikir Kensington hanyalah pria 25 tahun yang otaknya sudah tumpul karena pesta. Ia berekspektasi Kensington akan gagap atau memberikan jawaban asal-asalan yang akan membuatnya punya alasan untuk mempermalukannya di depan kelas.
Namun, di luar dugaan, Kensington menjawab dengan tenang. "Berdasarkan preseden tahun 2024, Tidak bisa digunakan sebagai alasan mutlak jika risiko tersebut sudah dapat diprediksi sejak awal kontrak dibuat. Dalam kasus ini, pihak tergugat gagal membuktikan bahwa mereka telah melakukan upaya yang memadai..."
Kensington memberikan penjelasan yang sangat teknis, runut, dan tajam. Kelas menjadi hening. Bahkan beberapa mahasiswa yang tadinya meremehkan Kensington mulai berbisik kagum.
Vera tampak sinis. Ia tidak memberikan pujian. Ia hanya mengangguk singkat dan segera melemparkan pertanyaan lain yang lebih sulit. "Lalu bagaimana dengan doktrin dalam situasi tersebut?"
Kensington kembali menjawab tanpa cela. Perdebatan intelektual terjadi di antara mereka, sebuah tarian kata-kata hukum yang menegangkan. Vera mencoba memojokkan, namun Kensington selalu menemukan celah untuk kembali berdiri tegak.
Jam kuliah berakhir. Satu per satu mahasiswa keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan yang perlahan merayap kembali. Vera masih sibuk di depan, merapikan kabel laptop dan mengunggah data absen ke sistem universitas.
Kensington tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat mejanya, memerhatikan punggung Vera yang tampak tegang. Saat kelas benar-benar sepi, ia berjalan mendekat ke arah podium.
"Aku tidak lulus bukan karena aku bodoh, Late Vera," ucap Kensington memecah kesunyian.
Vera berhenti bergerak. Ia tidak langsung berbalik. Jemarinya masih menyentuh layar sentuh laptop. "Ya, aku baru tahu itu setelah mendengar jawabanmu tadi," sahutnya tanpa nada.
Ia berbalik, menyilangkan tangan di dada, dan menatap Kensington dengan tatapan menyelidik. "Lalu kenapa kau tidak lulus-lulus mata kuliah ini? Kau hampir saja di-Drop Out jika ayahmu tidak turun tangan, bukan?"
Kensington tersenyum tipis, sebuah senyum hampa yang menyimpan banyak rahasia. "Aku terlalu nyaman berada di lingkungan universitas. Di sini, aku bisa berpura-pura bahwa waktu berhenti. Di luar sana... dunia menuntutku untuk menjadi orang yang tidak kuinginkan."
Vera mengernyit. Jawaban itu terdengar terlalu jujur untuk seorang pria yang biasanya penuh sarkasme. "Dan kau sendiri? Kapan kau jadi lulusan terbaik yang menakutkan ini?" tanya Kensington mengalihkan pembicaraan.
"Tahun lalu," jawab Vera singkat.
Kensington mengangguk-angguk kecil. "Tapi kenapa bisa kau jadi asisten Lexington? Kau punya gelar hukum terbaik, kau seharusnya berada di firma hukum besar, bukan mengurusi jadwal dosen."
Vera mengangkat dagunya, menunjukkan keangkuhan khas keluarga West. "Karena ayahku dekan di sini. Dia ingin aku memahami birokrasi pendidikan sebelum aku terjun ke dunia korporat."
"Pantas," kata Kensington pendek. Ia menatap Vera sekali lagi, teringat kejadian di ruang Lexington kemarin. Kehangatan singkat saat ia membantu wanita itu membersihkan roknya seolah menguap begitu saja.
Tatapan Kensington kembali menjadi dingin, kembali menjadi pria asing yang tertutup oleh kabut misteri. "Hukum mungkin bidangmu, Vera. Tapi jangan pernah merasa kau punya kuasa untuk menghakimiku hanya karena kau memakai lencana lulusan terbaik."
Tanpa menunggu jawaban, Kensington memutar tubuhnya. Ia meraih jaket kulitnya yang tersampir di kursi dan melangkah keluar dari kelas. Suara langkah sepatunya yang berat bergema di lorong yang kosong, meninggalkan Vera yang masih berdiri mematung di balik podium.
Obrolan yang sempat menghangat sejenak itu kini kembali membeku.
Di ruang kelas yang kosong itu, Vera menyadari satu hal: Kensington Valerio bukan sekadar berandal yang butuh bimbingan. Pria itu adalah teka-teki rumit yang, entah mengapa, membuat hatinya merasa gelisah setiap kali mereka berada di ruangan yang sama.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭