Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan Tahun Kemudian
Delapan tahun berlalu begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin Alena menimang sosok kecil yang selalu menjadi rebutan antara dirinya dan ketiga sahabatnya untuk dirawat dengan penuh kasih sayang.
Pagi ini, debur ombak terdengar jelas seperti biasanya. Hembusan angin pantai mengibaskan rambut panjang Alena yang belum sempat terikat rapi.
Di tangannya terdapat baskom berisi pakaian bersih yang hendak dijemur. Namun baru beberapa langkah, suara nyaring dari arah halaman depan membuat langkahnya terhenti.
“Ma… Mama!”
Suara bocah laki-laki itu terdengar lantang memenuhi halaman rumah.
Kai berlari menghampiri ibunya sambil membawa layang-layang kecil di tangannya. Rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa angin pantai.
Wajah tampannya begitu mencolok, berbeda dari anak-anak lain seusianya. Kai memiliki pembawaan yang mahal, begitu kata warga pesisir. Postur tubuhnya tinggi meski baru berusia delapan tahun, kulitnya putih bersih walaupun tumbuh besar di daerah pantai.
Tidak hanya itu, tatapan matanya juga terlihat tegas dan dingin. Tatapan yang samar-samar selalu mengingatkan Alena pada seseorang yang selama ini berusaha ia lupakan.
“Kai, jangan lari!” tegur Alena cepat sambil menaruh baskom cucian di kursi kayu dekat teras.
Namun bocah itu hanya tersenyum lebar, tampak begitu antusias ingin menunjukkan sesuatu.
“Ma, hari ini Kai menang lagi lawan Om nelayan!” ujarnya bangga.
Alena hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah putranya itu.
“Kamu pintar sekali, Kai,” ucapnya sambil mengusap rambut anak itu lembut. “Tapi jangan lupa sama pelajaran sekolah juga ya.”
Kai langsung mengangguk patuh. Sikapnya kembali tenang seperti biasanya.
“Iya, Ma. Tadi malam Kai juga sudah menyelesaikan tugas matematika.”
"Anak pintar," puji Alena.
"Iya dong," sahutnya.
Bukan hanya layang-layang saja, namun di tangan kanannya anak itu juga membawa ikan hasil pancingannya sendiri, di usia yang terbilang masih bocah tangan Kai terbilang dingin anak itu tak hanya jago memainkan layang-layang. Tapi juga jago memancing ikan di laut meskipun yang dihasilkan hanya ikan kecil.
"Ma, ini ikan hasil pancingan Kai," katanya kembali sambil menyodorkan bak kecil.
Alena tertegun, dadanya selalu menghangat melihat hasil kerja keras sang anak. "Makasih ya Kai, ini bisa buat lauk nanti malam."
"Dimasak yang enak ya Ma..."
"Itu pasti Nak," ujar Alena sambil menatap bangga sang anak.
Kai menatap teduh wajah sang ibu entah kenapa melihat Alena yang sibuk menjemur pakaian tangannya langsung terulur untuk membantu.
"Sini Ma, Kai bantu," ucap anaknya itu.
"Gak usah Nak, ini tugas Mama," tolak Alena dengan cepat.
"Tapi Kai gak mau lihat Mama capek," potong Kai.
"Gak capek kok, selagi ada Kai dunia Mama tidak akan pernah capek," jelas Alena.
Kai tersenyum kecil tanpa sadar mulut kecilnya bersuara. "Makasih Mam, sudah mencintai Kai apa adanya, Kai sayang Mama."
"Mama juga sayang Kai," imbuh Alena.
"Jangan capek-capek ya Mam," pesan Kai.
Alena tersenyum hangat entah kenapa perhatian kecil itu mampu menyentuh hingga ke dasar hatinya.
Kai masih menggenggam layang-layang itu, tiba-tiba saja bayangannya teringat akan satu sosok yang membuatnya mencintai layang-layang seperti ini. "Ibu Senna pasti bangga kalau dengar aku menang lagi."
Belum sempat masuk ke rumah ibunya anak itu langsung lari ke luar entah kemana, sementara Alena hanya bisa menghela napas kecil, seolah sudah tahu kemana langkah yang dituju anaknya.
Kai terus berlari melewati deretan rumah warga dekat pesisir. Napasnya mulai ngos-ngosan, namun anak itu sama sekali tidak menghiraukannya.
Wajah kecilnya justru terlihat begitu antusias.
Hingga akhirnya langkahnya berhenti di depan rumah gedongan milik Ibu Senna.
“Ibu Senna!” panggilnya cukup keras dari luar pagar.
Sementara di dalam rumah, Senna yang sedang menikmati hari liburnya dengan karaoke sendirian namun begitu terdengar suara dari luar ia langsung meletakkan mikrofonnya begitu saja.
“Anakkuu… masuk saja, tidak usah teriak-teriak,” sahutnya dari dalam dengan nada ceria.
Pintu rumah pun terbuka.
Kai langsung mengangkat layang-layang di tangannya dengan wajah bangga. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, Senna sudah tahu apa yang terjadi.
“Ibu boleh tebak?” tanyanya sambil mendekat.
“Tentu saja,” jawab Kai cepat.
Senna kemudian berjongkok di depan anak itu sambil mengusap lembut rambut hitamnya.
“Layang-layangnya masih utuh…” gumamnya pelan.
Tangannya mulai meraba gulungan benang di tangan Kai dengan teliti, lalu senyumnya perlahan melebar.
“Dan benangnya tidak putus.” Tatapannya langsung berbinar bangga. “Anakku menang lagi!”
Seketika Senna langsung memeluk tubuh kecil Kai erat-erat. Pelukan hangat itu berlangsung beberapa saat hingga akhirnya Kai tertawa kecil di dalam pelukannya.
“Kau memang anak pintar,” ujar Senna penuh bangga sambil menangkup pipi Kai lembut. “Tidak sia-sia dulu Ibu ngajarin kamu main layang-layang.”
Kai tersenyum kecil, lalu tatapannya beralih pada layang-layang di tangannya.
“Ibu Senna dulu pernah bilang…” ucapnya pelan.
“Hm?”
“Layang-layang itu bukan soal siapa yang terbang paling tinggi…” Kai menatap langit di luar jendela. “Tapi bagaimana dia tetap bertahan meskipun diterpa angin kencang.”
Langkah Senna langsung terdiam.
Sementara Kai melanjutkan dengan polosnya.
“Dan benangnya juga tidak boleh lepas…” tangannya menggenggam gulungan benang itu erat. “Karena kalau putus, layang-layangnya bakal hilang arah.”
Untuk sesaat hati Senna terasa hangat. Ia tidak menyangka anak kecil itu masih mengingat semua ucapan sederhananya sejak dulu. Tanpa sadar wanita itu kembali mengusap kepala Kai lembut.
“Anak kecil kok ngomongnya seperti orang dewasa…” gumamnya haru.
Senna kembali menggenggam tangan Kai erat. Anak itu dituntunnya keluar rumah dengan wajah penuh kebanggaan, seolah ingin memberitahu seluruh dunia jika dirinya memiliki anak hebat yang patut dibanggakan.
Langkah mereka berhenti di depan halaman rumah saat beberapa ibu-ibu tetangga sedang berkumpul sambil membersihkan ikan hasil tangkapan pagi.
“Nah, lihat ini!” seru Senna penuh semangat sambil menunjuk layang-layang di tangan Kai. “Anakku menang lagi!”
Kai langsung menunduk malu-malu kecil, sementara Senna justru terlihat jauh lebih bangga dibanding dirinya.
“Wah hebat ya Kai,” ujar salah satu tetangga dengan tulus.
Namun tidak semua memberikan tatapan hangat. Salah satu wanita hanya mendengus pelan sambil melipat tangan di dada.
“Namanya juga anak laki-laki, pasti suka begituan.” Nada bicaranya terdengar meremehkan.
Senna langsung melirik tajam, tapi belum sempat membalas wanita itu kembali bicara.
“Sayang aja…” bibirnya menyeringai tipis. “Anak sepintar itu nggak punya ayah.”
Deg.
Suasana mendadak hening. Kai perlahan menundukkan pandangannya, tangannya menggenggam gulungan benang itu semakin erat.
Sementara Senna yang melihat perubahan wajah Kai langsung membalas dengan cepat ucapan tetangganya itu.
"Hai, anakku meskipun tak punya ayah tapi dia punya empat ibu yang menyayangi dia, dan asal kamu tahu dia tidak kekurangan apapun!" cetus Senna.
Wanita itu hanya tersenyum sinis. "Sayang saja, anak laki-laki kan juga butuh sosok ayah, atau gak kamu saja yang menikah biar anakmu itu punya Bapak."
Senna langsung menatapnya tidak terima namun belum sempat ia membalas suara dari arah lain terdengar.
"Saya rasa Kai tumbuh jauh lebih baik, dari pada beberapa anak yang hidup dengan ayahnya tapi tidak mempunyai sopan santun.
Seketika semua orang menatap ke arah suara itu. Anne mendekat sambil membawa kantong belanjaannya. Tatapannya terlihat tajam pada wanita itu.
"Lagian...," lanjut Anne santai sambil berdiri di samping Kai. "Dia tidak pernah kekurangan kasih sayang kok."
Tanpa sadar tangan Anne mengelus pundak anak itu dari samping.
"Dia punya Mama Alena, punya Ibu Senna, Ibu Rina dan juga saya," lanjut Anne menjelaskan. "Jadi tolong jika punya mulut harap dijaga, semisal anda tidak suka dengan pernyataan temanku tinggalkan saja. Beres kan."
Wanita paruh baya itu membuang mukanya kasar, seperti kalah telak melawan Anne.
Kai langsung menatap wajah Anne diam-diam, entah kenapa dadanya terasa hangat mendengar itu.
Sementara Senna tersenyum puas sambil merangkul pundak Kai bangga.
“Tuh dengar?” katanya sengaja diperkeras. “Anakku dicintai banyak orang.”
Sementara wanita itu langsung meninggalkan tempat tanpa berani menoleh lagi.
Bersambung.
Pagi semua...