Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Imajinasi yang Menjelma
Seminggu telah berlalu sejak malam di mana status "kita" diresmikan di atas karpet apartemen dengan martabak manis sebagai saksinya. Di kantor, akting mereka luar biasa rapi. Sia tetap menjadi asisten yang cekatan dengan panggilan "Pak" yang sopan, sementara Arkan tetap menjadi CEO yang auranya sanggup membekukan ruangan rapat. Namun, begitu pintu apartemen Arkan tertutup rapat di malam hari, semua topeng itu luruh bersama jas yang disampirkan Arkan di sofa.
Malam ini, progres Nightshade sudah menyentuh Bab 26. Sebuah bab yang sejak sore tadi sudah diperingatkan Arkan sebagai "bab yang paling menguras energi mental".
Sia duduk di bar dapur, menyesap cokelat panasnya sambil memegang tablet. Arkan berada di meja kerja seberang ruangan, pura-pura sibuk dengan beberapa dokumen, namun matanya sesekali melirik ke arah Sia, memperhatikan setiap perubahan raut wajah kekasihnya itu.
Sia mulai membaca. Di Bab 26 ini, hubungan Bima dan Raya mencapai titik didih. Setelah sekian lama terjebak dalam ketegangan seksual yang tertahan, mereka akhirnya menyerah pada insting di sebuah kabin terpencil.
Awalnya, Sia hanya membaca dengan kening berkerut, mencoba menjadi editor yang objektif. Namun, semakin jauh ia menggulir layar, napasnya mulai terasa pendek. Arkan menuliskan setiap detail dengan sangat... berani. Bukan hanya soal sentuhan kulit, tapi soal bagaimana Bima memandang Raya seolah wanita itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di dunia. Deskripsi tentang tangan Bima yang kuat namun gemetar saat menyentuh lekuk tubuh Raya, hingga bisikan-bisikan rendah yang memprovokasi gairah, ditulis dengan diksi yang begitu puitis sekaligus eksplisit.
Sia merasa pipinya memanas. Pikirannya mulai tidak sinkron. Kata-kata di layar itu perlahan berubah menjadi visual di kepalanya. Ia tidak lagi melihat Bima dan Raya sebagai karakter fiksi. Ia justru membayangkan tangan yang dideskripsikan Arkan sebagai tangan Bima itu adalah tangan Arkan sendiri yang sekarang sedang memegang pena di seberang sana. Ia membayangkan aroma kayu cendana dan citrus milik Arkan, bukan aroma pinus kabin Bima.
"Bab-nya... sudah selesai kamu baca?" suara rendah Arkan memecah keheningan, terdengar jauh lebih dalam dari biasanya.
Sia tersentak kecil, hampir menjatuhkan tabletnya. Ia mendongak dan mendapati Arkan sudah berdiri di dekat meja kerja, menyandarkan pinggulnya di sana sambil melipat tangan di dada. Matanya yang gelap mengunci pandangan Sia.
"Sudah... eh, maksud aku, hampir," jawab Sia gugup. Ia buru-buru meletakkan tabletnya di atas meja bar dengan posisi layar menghadap ke bawah. "Arkan, kamu... kamu beneran nulis ini sendirian? Maksud aku, imajinasi kamu di bab ini... liar banget. Jauh lebih berani dari bab-bab sebelumnya."
Arkan berjalan perlahan mendekati Sia. Setiap langkahnya terasa seperti detak jantung Sia yang makin cepat. "Seorang penulis harus bisa merasakan apa yang dirasakan karakternya, Sia. Dan seminggu terakhir ini, aku punya banyak referensi nyata yang membuat imajinasiku bekerja sepuluh kali lebih keras."
Arkan berhenti tepat di depan Sia, ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja bar, mengurung Sia di tengah. "Kenapa wajahmu merah sekali? Apa ada bagian yang menurutmu terlalu... berlebihan?"
Sia menelan ludah, berusaha mencari suaranya yang hilang. "Nggak berlebihan. Cuma... aku nggak nyangka kamu bisa mendeskripsikan perasaan 'haus' itu sedetail itu. Rasanya kayak aku bisa ngerasain apa yang Raya rasain saat Bima mulai..." Sia menghentikan kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan karena bayangan di kepalanya makin menjadi-jadi.
Arkan sedikit merunduk, hingga wajah mereka sejajar. Aroma parfumnya kini menyerang indra penciuman Sia, persis seperti yang ia bayangkan saat membaca tadi. "Saat Bima mulai apa, Sia? Saat dia mulai menyadari bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk menunjukkan betapa dia menginginkan wanita itu?"
Jari Arkan bergerak pelan, menyelipkan sehelai rambut Sia ke belakang telinga, lalu jemarinya menetap di sana, mengusap tengkuk Sia dengan gerakan lembut yang memicu desiran halus di sepanjang tulang belakangnya.
"Aku bayangin itu kita," bisik Sia jujur, suaranya hampir hilang. "Pas baca adegan di meja itu... aku nggak bisa berhenti mikirin kalau itu kamu dan aku."
Tatapan Arkan berubah menggelap. Ada percikan gairah yang tidak lagi disembunyikan di sana. "Kalau begitu, imajinasiku berhasil. Karena sejujurnya, Sia, saat aku mengetik setiap kata di bab itu, aku sama sekali tidak memikirkan Bima. Aku memikirkan bagaimana rasanya kalau aku melakukan itu padamu, di sini, sekarang."
Arkan menarik kursi bar yang diduduki Sia agar lebih dekat dengannya. Ia meraih dagu Sia, mendongakkannya agar mata mereka bertemu sepenuhnya. Suasana di apartemen yang biasanya tenang kini terasa sangat panas, seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis.
"Kamu tahu, Sia? Bagian tersulit dari menjadi pacarmu sekaligus Bosmu adalah menahan diri di kantor," gumam Arkan, suaranya makin serak. "Melihatmu memakai rok span dan kemeja rapi setiap hari, lalu harus bersikap seolah aku tidak ingin menarikmu ke ruanganku dan mengunci pintunya... itu siksaan yang luar biasa."
Sia merasakan tangannya bergetar. Ia memberanikan diri melingkarkan lengannya di leher Arkan, menarik pria itu agar lebih dekat lagi. "Kalau sekarang... nggak ada pintu yang harus dikunci, kan?"
Arkan menyeringai tipis, sebuah senyum yang penuh dengan janji-janji manis sekaligus provokatif. Ia mengangkat tubuh Sia dari kursi bar dan mendudukkannya di atas meja marmer yang dingin—posisi yang persis sama dengan salah satu adegan di Bab 26 yang baru saja Sia baca.
"Satu hal yang perlu kamu tahu tentang Nightshade, Sia," bisik Arkan tepat di bibir Sia, napasnya terasa hangat dan memburu. "Dia tidak pernah menulis sesuatu yang tidak sanggup dia lakukan di dunia nyata."
Ciuman yang menyusul kemudian jauh lebih menuntut daripada ciuman mereka sebelumnya. Ini bukan lagi ciuman manis, melainkan ciuman yang penuh dengan keinginan yang tertahan selama seminggu terakhir. Sia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merambat masuk ke sela-sela rambut Arkan, menariknya seolah ia tidak ingin ada jarak sekecil pun di antara mereka.
Arkan melepaskan ciumannya sejenak untuk menatap Sia, memastikan bahwa wanita itu menginginkan hal yang sama. "Sia, kalau kita lanjutin ini... naskah Bab 27 mungkin akan sangat terlambat diunggah."
Sia menarik kerah kaus Arkan, membawanya kembali masuk ke dalam pelukannya. "Biarin aja pembacanya nunggu. Lagipula, penulisnya butuh riset lebih dalam untuk bab selanjutnya, kan?"
Arkan terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh kemenangan. Ia kembali menciumi leher Sia, meninggalkan jejak-jejak hangat yang membuat Sia mendesah pelan. Imajinasi liar yang tadi hanya ada di barisan teks tabletnya kini mewujud dalam sentuhan nyata yang jauh lebih mendebarkan.
Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela apartemen lantai atas itu, namun di dalam, api yang mereka nyalakan sendiri sudah cukup untuk membakar semua batas profesionalitas yang tersisa. Malam itu, Arkan Dewangga membuktikan bahwa ia bukan hanya mahir merangkai kata-kata erotis di platform novel, tapi ia adalah praktisi yang jauh lebih hebat saat melibatkan hati dan hasratnya pada wanita yang telah menjadi pusat dunianya.
Bab 26 mungkin adalah puncak cerita bagi Bima dan Raya, tapi bagi Arkan dan Sia, ini hanyalah awal dari bab-bab baru yang jauh lebih intim, di mana setiap sentuhan adalah diksi dan setiap kecupan adalah tanda baca yang sempurna. Mereka tidak lagi sedang menulis cerita; mereka sedang hidup di dalamnya.
Saat Arkan mengangkat Sia menuju kamar utama, tablet di meja bar masih menyala, menampilkan paragraf terakhir Bab 26: "...dan di dalam keheningan yang menyesakkan itu, mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk meredam badai adalah dengan membiarkan diri mereka hancur bersama dalam pelukan yang tak berujung."
Dan malam itu, mereka benar-benar membiarkan badai itu mengambil alih. Tanpa skrip, tanpa rencana, hanya ada Arkan dan Sia yang saling memiliki sepenuhnya.