NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Pagi hari berikutnya, Arlo bangun lebih awal dari biasanya. Ia segera berdiri dan bersiap pergi ke kampus, namun langkahnya mendadak terhenti.

Baru saat itu ia teringat—

Hari ini ia tidak memiliki jadwal mengajar.

Tubuh Arlo yang semula sigap langsung kehilangan semangat. Bahunya sedikit turun. Hari ini berarti… ia tidak bisa bertemu Zoya.

Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan. Namun baru beberapa langkah, pikirannya tiba-tiba teringat pada soal yang ia kirimkan kepada Zoya semalam.

Arlo langsung berbalik mengambil ponselnya di atas meja samping tempat tidur.

Dengan cepat ia membuka ruang obrolan mereka lalu mengetik:

> Bagaimana tugasmu? Apakah ada pertanyaan?

Jarinya nyaris menekan tombol kirim.

Namun saat melihat jam di layar—baru pukul setengah tujuh pagi—alis Arlo langsung berkerut.

Terlalu pagi.

Ia menatap pesan itu beberapa detik sebelum akhirnya menghapus semuanya perlahan.

Dengan kesal, Arlo melempar ponselnya ke atas kasur.

Ia mengusap rambutnya ke belakang dengan frustrasi.

Belakangan ini dirinya benar-benar aneh.

Gelisah.

Ragu-ragu.

Dan selalu memikirkan seseorang tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, di apartemen lain, orang yang memenuhi pikirannya justru masih tertidur pulas.

Zoya sama sekali tidak tahu bahwa ada seseorang yang memikirkannya hampir sepanjang malam.

Ia baru bangun secara alami sekitar pukul delapan lewat. Rambutnya masih sedikit berantakan ketika ia meraih ponselnya dengan malas.

Sebuah pesan langsung menarik perhatiannya.

Pengirimnya: Arlo.

Mata Zoya langsung membesar.

“Pagi sekali…?”

Ia membuka pesan itu dengan cepat.

Isi pesannya adalah pertanyaan apakah ia mengalami kesulitan mengerjakan soal yang diberikan kemarin. Di akhir pesan, Arlo juga mengatakan bahwa hari ini ia memiliki waktu luang dan bisa menjelaskan soal tersebut jika diperlukan.

Zoya membeku beberapa detik.

Lalu—

“ASTAGA!”

Ia langsung terduduk tegak di atas tempat tidur.

Baru sekarang ia teringat bahwa semalam ia sama sekali belum menyentuh soal itu!

Gara-gara percakapannya dengan Jaiden tentang pertunangan, suasana hatinya jadi kacau. Setelah pulang, ia bahkan tidak punya mood melakukan apa pun selain memaksa Necki bermain game bersamanya sampai larut malam.

Zoya buru-buru melihat waktu pesan dikirim.

Untungnya baru beberapa menit yang lalu.

Ia menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Dengan panik, Zoya langsung berlari menuju kamar mandi. Ia mandi secepat kilat bahkan belum sempat sarapan. Setelah itu ia duduk di meja belajar sambil mengerjakan soal dengan ekspresi serius.

Sekitar satu jam kemudian, Zoya akhirnya menjatuhkan pulpen dengan napas lega.

Ia segera membalas pesan Arlo:

> Maaf Profesor Arlo, tadi saya sedang memasak jadi baru melihat pesan.

Saya ada waktu hari ini. Kapan Profesor ada waktu luang?

Pesannya hampir langsung dibalas.

Cepat sekali.

Zoya berkedip heran.

Arlo mengatakan bahwa ia bisa datang sekarang. Ia juga menyebutkan bahwa hari ini ia membeli ikan dan bertanya apakah Zoya bersedia memasaknya untuk makan siang nanti.

Melihat itu, sudut bibir Zoya langsung terangkat manis.

Ia segera membalas setuju.

Setelah itu, Zoya buru-buru berdandan. Saat hampir keluar kamar, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

Masih ada Necki di apartemen ini.

Hari ini ia akan bersama Arlo. Tentu saja ia tidak ingin ada “orang ketiga” yang mengganggu suasana.

Tanpa ragu, Zoya langsung mengetuk pintu kamar Necki.

“Necki! Bangun!”

Dari dalam terdengar suara lemah penuh kantuk.

“Kenapa lagi…”

Zoya langsung berkata cepat:

“Bawa BenBen ke dokter hewan hari ini. Sudah waktunya vaksin dan vitaminnya.”

Necki yang baru bangun tidur menatap kosong ke arah pintu.

“…Hah?”

Namun sebelum ia sempat protes, Zoya sudah pergi lagi dengan langkah ringan dan suasana hati yang sangat baik.

Necki memandang pintu kamar yang tertutup sambil memeluk bantal dengan pasrah.

Necki merasa ia adalah asisten yang paling menyedihkan di dunia..

Tak lama setelah Necki pergi membawa BenBen, Arlo tiba di apartemen Zoya sambil membawa beberapa kantong plastik berisi bahan makanan.

Begitu mendengar bunyi lift pribadi apartemennya, Zoya segera berlari kecil keluar untuk menjemputnya. Saat pintu lift terbuka, sosok Arlo langsung terlihat berdiri di dalam dengan kemeja abu-abu gelap dan celana hitam sederhana. Di tangannya tergantung beberapa kantong belanja.

Mungkin karena datang terburu-buru, rambut Arlo tampak sedikit berantakan. Namun justru itu membuat kesan dingin dan kaku pada dirinya terlihat lebih lembut dari biasanya.

Begitu melihat Zoya muncul, tatapan Arlo yang semula datar langsung sedikit melunak.

“Kamu sudah makan pagi?” tanyanya pelan sambil melangkah keluar lift.

Zoya mengangguk asal.

“Sudah.”

Padahal sebenarnya ia hanya sempat meminum susu sebelum sibuk mengerjakan soal.

Tatapan Arlo turun ke wajah Zoya beberapa detik seolah mencoba memastikan apakah gadis itu berkata jujur atau tidak.

Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Zoya sudah lebih dulu melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan.

“Biar saya bantu membawanya.”

Melihat gerakan itu, Arlo hampir refleks memundurkan tangannya sedikit.

“Tidak perlu,” katanya cepat.

Zoya berkedip.

Arlo sendiri tampak sedikit kaku setelah mengatakan itu. Ia menunduk melirik kantong plastik di tangannya lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, “Berat.”

Padahal jelas-jelas kantong itu tidak terlalu berat baginya.

Namun entah mengapa, Arlo tidak ingin Zoya membawa barang-barang itu.

Mungkin karena sejak kecil ia terbiasa melihat ibunya dan neneknya diperlakukan dengan hati-hati oleh laki-laki di keluarganya, atau mungkin karena dalam pikirannya, membiarkan Zoya membawa barang sementara dirinya berjalan santai terasa sangat tidak benar.

Zoya menatap Arlo beberapa saat sebelum sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Profesor Arlo…”

Arlo menoleh.

“Kamu benar-benar seperti orang tua kuno.”

Langkah Arlo langsung berhenti sepersekian detik.

Zoya tertawa kecil sambil berjalan di sampingnya menuju pintu apartemen.

“Pria zaman sekarang jarang ada yang seperti Profesor.”

Arlo mengatupkan bibirnya pelan.

Entah kenapa, pujian sederhana itu membuat telinganya sedikit memanas.

Namun wajahnya tetap tenang seperti biasa. Ia hanya berkata datar:

“Laki-laki memang seharusnya membawa barang yang berat.”

Zoya yang mendengar jawaban serius itu langsung menahan tawanya.

Benar-benar kuno.

Dan anehnya… semakin lama justru semakin terlihat lucu di matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!