NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

He Know Me So Well

Serena keluar dari mansion pagi itu tanpa membangunkan Julian. Rumah besar itu masih sunyi saat ia berjalan melewati ruang keluarga dengan sweater putih oversized dan rambut yang diikat seadanya. Untuk pertama kali sejak tiba di Los Angeles, Serena merasa sesak berada terlalu lama di dalam mansion. Terlalu banyak pikiran di sana. Julian yang terus menatapnya penuh percaya justru membuat semuanya semakin rumit.

Karena itu, pagi ini Serena hanya ingin berjalan sebentar seperti seorang perempuan biasa. Membeli kopi sendiri.

Toko roti kecil dekat Hollywood Hills itu dipenuhi aroma butter hangat dan kopi yang baru digiling. Cahaya matahari pagi masuk samar melalui jendela besar, sementara beberapa orang duduk tenang menikmati sarapan mereka.

Serena baru saja hendak memesan ketika matanya menangkap sosok familiar di dekat jendela. Dan perempuan itu langsung berhenti.

Axel.

Pria itu duduk santai dengan hoodie hitam dan topi gelap, satu tangan memegang cangkir kopi sementara tangan lainnya sibuk memainkan ponsel. Tatapannya terlihat datar sampai akhirnya menyadari keberadaan Serena.

Lalu sudut bibirnya naik kecil.

“Hai!” Pria itu menyapa hangat.

Serena mengernyit heran sambil mendekat perlahan.

“Oke, tunggu.” Perempuan itu menunjuk Axel kecil. “Kenapa kau ada di sini?”

Axel terlihat geli melihat ekspresinya.

“Di toko roti?”

“Kau tahu maksudku.” Serena akhirnya duduk pelan di kursi depan Axel. “Los Angeles besar sekali.”

“Aku juga berpikir begitu sampai lima menit lalu.”

Serena masih memperhatikan pria itu beberapa detik lebih lama. Karena jujur saja, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Axel lagi setelah kejadian terakhir mereka di depan mansionnya. Dan mengingat bagaimana Damien memperlakukan pria itu waktu itu, situasi ini terasa sedikit canggung.

“Aku serius. Kenapa kau ada di sini?”

Axel menyesap kopinya santai. “Aku memang ada urusan di sini.”

“Seriously?”

“Hm. Anda kira aku menguntit?”

Serena memutar bola matanya, kesal. Axel adalah tipikal pria menyebalkan, walau sebenarnya terlihat hangat.

Axel tersenyum tipis. “Aku punya beberapa bar di sini.” Tatapannya kembali ke Serena. “Dan berniat membuka beberapa yang baru.”

Serena mengangguk kecil. “Aku lupa kau memang pebisnis.”

“Bisa dibilang begitu.”

“Aku kira tipe laki-laki sepertimu lebih cocok jadi kriminal.” Kalimat itu keluar spontan sampai Serena langsung menyesalinya.

Namun Axel justru tertawa kecil, menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi. Dan itu membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda.

“Aku lumayan sering mendengar itu,” ucapnya, serius.

“Maaf.” Serena tertawa kecil malu. “Aku cuma... kau punya aura menyeramkan kadang-kadang.”

“Kadang-kadang?”

“Oke. Sering.”

Axel kembali terkekeh pelan sambil menggeleng kecil. Anehnya, suasana canggung tadi perlahan mulai mencair.

Beberapa detik kemudian, Serena memainkan gelas kopinya pelan sebelum akhirnya berkata, “Aku juga minta maaf soal Damien waktu itu.”

Tatapan Axel langsung mengunci wajah Serena.

“Pacar Anda terlihat seperti ingin membunuhku waktu itu.”

Serena langsung menutup wajahnya sebentar karena malu. “Aku serius. Aku benar-benar malu mengingatnya.”

“Hm.” Axel bersandar santai ke kursi. “Dia memang terlihat sangat mencintaimu.”

Kalimat itu langsung membuat Serena terdiam. Karena cara Axel mengucapkannya terdengar begitu tenang. Tidak menyindir. Tidak mengejek. Hanya observasi sederhana.

“Dia memang...” Serena berhenti sejenak mencari kata yang tepat, “sulit.”

“Sulit dilepaskan?” tukas Axel, mengangkat alisnya.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Dan Serena membenci fakta bahwa Axel terdengar benar.

Perempuan itu buru buru mengalihkan topik. “Ngomong-ngomong, berhenti bicara formal seperti itu. Mungkin kita seumuran?”

Axel mengangguk santai. “Kurang lebih.”

“Nah.” Serena menunjuk pria itu kecil. “Jadi santai saja. Jangan pakai ‘Anda’ terus.”

Senyum tipis kembali muncul di wajah Axel.

“Baiklah... Serena.”

Entah kenapa cara Axel menyebut namanya terdengar sangat pelan. Sangat hati hati.

Hingga Serena tiba-tiba sadar pria itu jarang benar-benar memalingkan pandangan saat berbicara dengannya. Tatapannya terlalu fokus. Namun bukan dengan cara agresif. Justru seperti seseorang yang menikmati memperhatikan detail kecil.

“Kau cukup terkenal,” ujar Axel santai sambil memainkan cangkir kopinya. “Sulit untuk tidak mengenalmu.”

Serena mengernyit kecil. “Sejauh apa kau mengenalku?”

“Aku pernah melihat beberapa campaign dan pemotretanmu.”

“Kau lihat majalah fashion? Iklan?”

“Aku punya mata.”

Serena langsung tertawa kecil mendengar jawaban itu, membuat Axel memperhatikan caranya tertawa cukup lama sampai Serena sendiri sedikit salah tingkah.

“Aku kira laki-laki sepertimu tidak peduli dunia hiburan.”

“Aku memang tidak terlalu peduli.” Tatapan Axel kembali ke Serena. “Namun semua orang tahu Serena Roe.”

“Menyeramkan sekali mendengar itu.”

“Kau lebih menyeramkan di internet,” tukas Axel tersenyum miring, membuat Serena mengangkat alis kecil.

“Oh ya?”

“Iya.” Axel mulai menghitung santai dengan jarinya. “Rumor pertama yang aku baca tentangmu, soal Damien Knox pernah menghentikan sebuah after party hanya karena seorang model laki-laki menyentuh pinggangmu saat kau mabuk.”

Serena langsung membelalak. Rasa kaget dan malu bercampur menjadi satu.

“Ya Tuhan.”

“Kedua,” lanjut Axel santai, “katanya Damien memecat satu tim stylist karena mereka memilihkanmu gaun yang terlalu terbuka untuk gala dinner.”

“Itu tidak benar.”

“Jadi?”

Serena terdiam sepersekian detik.

Axel langsung terkekeh kecil.

“Oke. Sedikit benar,” gumam Serena malu.

“Ada lagi.” Tatapan Axel terlihat jauh lebih hidup sekarang. “Media pernah bilang Damien Knox menunda meeting investor selama dua jam karena kau marah dan memblokir nomornya.”

Serena langsung menutup wajahnya. Rasa malu benar-benar menyelimutinya saat ini.

“Kenapa kau hafal semua ini?”

“Karena lucu.”

“Tidak lucu.”

“Bagi internet, sangat lucu.”

Serena masih tertawa malu saat Axel melanjutkan lagi dengan santai, “Aku juga pernah membaca rumor kalau Damien membeli restoran hanya karena kau bilang suka dessert di sana.”

“Itu fitnah.”

“Fitnah?”

“Dia membeli gedungnya.”

Dan kali ini Axel benar benar tertawa. Suara tawanya rendah dan hangat sampai beberapa orang sempat menoleh ke arah mereka.

“Ada lagi,” lanjut pria itu sambil masih tersenyum samar. “Waktu Milan Fashion Week, katanya Damien hampir memukul fotografer karena pria itu terus memotret dadamu.”

Serena mengerang kecil sambil menyandarkan kepala ke meja. “Aku benci internet.”

“Aku belum selesai.”

“Oh tidak.”

“Aku punya rumor favorit.” Axel menyipitkan mata kecil seolah benar-benar berpikir. “Damien Knox membawamu ke Belanda diam-diam hanya karena kau ngambek dan tidak mau bicara dengannya selama seminggu. Media bilang, itu jurus jitu Damien.”

Serena langsung menatap Axel tidak percaya.

“Itu bahkan bukan rumor. Itu kejadian nyata.”

Axel tertawa lagi mendengar pengakuan jujur itu. Dan Serena sendiri mulai merasa heran. Karena tidak masuk akal seseorang mengingat begitu banyak detail tentang hubungan orang lain.

“Kau benar-benar mengikuti semua rumor itu?” tanya Serena akhirnya.

Axel mengangkat bahu santai. “Hubungan kalian sangat terkenal.”

“Tidak sampai segitunya.”

Tatapan Axel kembali tertahan di wajah Serena cukup lama.

“Percayalah,” gumamnya pelan, “lebih banyak orang memperhatikanmu dibanding yang kau kira.”

Jantung Serena berdetak sedikit aneh mendengar kalimat itu. Ia buru-buru berdiri sambil mengambil tasnya, ketika sadar bahwa sepertinya obrolan ini semakin larut.

“Aku harus kembali.”

“Aku antar.”

Serena langsung menggeleng refleks.

“Tidak usah. Aku jalan kaki. Rumahku dekat dari sini.”

“Aku membawa mobil.”

“Aku tidak ingin merepotkanmu.”

Axel ikut berdiri sekarang. Tingginya langsung membuat Serena sedikit mendongak.

“Kau tidak merepotkan.”

Serena ragu beberapa detik. Damien sedang tidak ada di sekitarnya. Dan entah kenapa, pagi ini Axel sama sekali tidak terasa mengancam.

Lagi pula, Serena memang tidak punya alasan kuat untuk menolak.

“Baiklah,” gumam perempuan itu pada akhirnya.

Senyum tipis seketika menggantung di bibir Axel.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!