NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sembilan

Luka pada wajah Dahlia sudah selesai diobati Pak Adnan. Laki-laki itu menujukkan apa yang kemarin diucapkannya tentang cinta. Bukan hanya mengobati luka fisiknya saja tetapi psikisnya juga dengan memberikan rasa aman dan nyaman yang saat ini sangat dibutuhkannya.

Entah sudah berapa banyak panggilan dan pesan masuk dari Ryan. Suaminya itu memintanya pulang ke rumah untuk menyelesaikan semuanya dengan baik-baik. Karena tidak ada yang digubris Dahlia, Ryan pun mengirimkan pesan berisi ancaman jika istrinya tidak pulang ke rumah dalam waktu satu jam.

"Aku akan menemanimu."

"Nggak, aku akan menyelesaikan sendiri."

"Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."

"Nggak, aku pastikan dia nggak akan bisa menyakitiku."

"Tetap aja aku nggak bisa tenang, aku harus ikut dan memastikanmu baik-baik aja."

Tolong, jangan semakin mempersulitku lagi. Biarkan aku menyelesaikan masalah kami."

Pak Adnan menarik napas panjang lalu dia memeluk Dahlia. Mengecup pucuk kepalanya dengan sangat sayang.

"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu dan aku pastikan dia akan menerima akibatnya kalau menyentuhmu lagi."

Dahlia mengangguk pelan di dalam pelukan Pak Adnan.

Walau terasa sangat berat, Pak Adnan percaya pada Dahlia untuk menyelesaikan masalahnya. Dia pun membiarkan Dahlia pulang menemui suaminya.

Saat ini Dahlia sudah duduk di kamar berhadapan dengan Ryan.

Ryan menatap luka yang dibuatnya namun diobati laki-laki lain. Marah, sangat marah tapi dia tidak lagi keras dan kasar pada Dahlia. Meredam segala emosi yang kembali memuncak dengan mengingat dia begitu sangat mencintai istrinya.

"Aku sangat hancur, sayang, dengan apa yang telah kamu lakukan pada laki-laki itu."

"Aku juga sangat hancur saat tahu kamu dan atasanmu memasuki kamar hotel padahal kamu bilangnya lembur."

Tatapan mereka bertemu intens, saling menyelami perasaan masing-masing yang menang benar hancur.

"Itu nggak seperti yang kamu lihat, sayang, aku memang lembur tapi nggak di kantor. Lagi pula di dalam kamar hotel itu sudah ada Susan dan Arfan."

Ryan langsung menghubungi Arfan dan memintanya menjelaskannya kepada Dahlia, Susan juga ikut menjelaskan dan Liana tanpa Dahlia duga.

Mereka bertiga berhasil membuat Dahlia merasa bersalah sudah menuduh suaminya berkhianat.

"Aku minta maaf dengan sikap lancangku pada Liana tapi aku nggak ada maksud apa-apa. Itu hanya candaan aja kok."

Diam sejenak sebelum kembali membela diri.

"Liana sudah sangat dekat dengan kami, terkadang kami kelewatan dalam bercanda, itu aku akui. Tapi nggak pernah lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Meski kami dekat kami tetap profesional."

Ryan memegangi tangan Dahlia, sangat erat, menunjukkan dia nggak mau kehilangan istrinya itu.

"Kamu dan laki-laki itu, sejauh mana hubungan kalian?. Apa kalian pernah tidur bersama?."

Dengan cepat Dahlia menggeleng-gelengkan kepala, dan kenyataannya memang tidak pernah.

"Aku memaafkanmu dan kita lanjutkan lagi rumah tangga kita ini. Buang jauh-jauh cerai dari hidup kita karena kita akan bersama selamanya."

Kemudian Ryan memeluk Dahlia, mencium kening yang kemudian turun ke mata, hidung, pipi, bibir dan leher. Sebenarnya dia melakukan itu ingin mengetahui apa ada jejak laki-laki itu di dalam tubuh istrinya dan setelah dia memasukinya dia sangat yakin dan percaya kalau istrinya berkata jujur.

Pagi-pagi sekali Dahlia bangun langsung menutupi tubuh polos penuh jejak suaminya. Bertepatan dengan getar ponsel yang ada di atas sofa. Dahlia segera ke kamar mandi saat menerima panggilan.

"Halo, Pak."

"Kamu gimana, Ia?."

Dahlia menatap dirinya di dalam cermin.

"Aku dan suamiku kembali bersama, apa yang terjadi pada kami hanya kesalahpahaman yang biasa terjadi pada pasangan istri yang bekerja."

"Aku nggak salah dengar, Ia?."

"Nggak, Pak, kami sudah saling memaafkan dan melupakannya apa yang terjadi. Kami akan terus bersama-sama. Makasih, sudah selalu ada menemaniku."

"Iya."

Dahlia menatap layar ponselnya saat sambungan teleponnya diputus Pak Adnan. Ini sudah benar dan dia tidak boleh dekat dengan Pak Adnan lagi.

Dahlia menatap pintu kamar mandi yang terbuka, suaminya masuk dan langsung memeluknya dari belakang.

"Sambil mandi, sayang."

Lalu dia membawa tubuh istrinya ke bawah shower dan mereka mengulang apa yang telah mereka lakukan semalam. Hubungan intim ini menjadi penguat hubungan mereka ke depannya.

"Pulangnya aku jemput, kita ngumpul bareng Arfan, Susan sama Liana."

"Iya."

Dahlia berjalan memasuki lobi, dia menghentikan langkahnya untuk memasuki lift saat melihat Pak Adnan tapi laki-laki itu tidak menggunakan lift yang sama dengannya. Bahkan laki-laki itu tidak terus berjalan melewatinya tanpa menyapa.

Sudah seharusnya seperti ini.

Meski Dahlia sangat sibuk dengan pekerjaannya di depan monitor tapi dia masih bisa menjawab pertanyaan Lusi.

"Bolos ke mana kemaren?."

"Aku jalan-jalan tapi sendiri karena tahu kamu dan yang lain pasti nggak mau bolos."

"Yang bener aja bolos rame-rame, yang ada kita dikeluarin semua"

Dahlia tertawa namun pelan.

"Nah itu pinter."

"Tapi kenapa bohong sama Ryan?."

"Pasti disuruh pergi sama kalian-kalian, yang ada aku nggak jalan-jalan."

"Bener sih, tapi kamu lari dari apa sampai harus jalan-jalan?."

"Sebenarnya nggak lari juga, cuma mau makan duren, sate, nasi padang aja di puncak. Seru tahu."

Kembali Dahlia tertawa, menertawakan kebohongan yang dibuatnya dan Lusi mempercayainya.

"Masa iya?."

"Kamu dan pacarmu bisa cobain supaya tahu letak serunya."

"Entar deh kalau libur, aku ke sana ajak dia."

"Hmmm."

Lusi menjauh dari meja Dahlia membuat Dahlia sangat senang dan bisa fokus pada pekerjaannya walau ada yang mengganjal di dalam hatinya akan sikap Pak Adnan.

Dahlia menutup wajah sambil menahan napas lalu membuangnya perlahan. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya sampai selesai.

Di lobi dia bertemu suaminya yang sudah sejak tadi menunggu. Mereka segera meninggalkan perkantoran dengan saling bergandengan, membuat Pak Adnan harus menghindar dar mereka.

Di sebuah tempat karaoke mereka berkumpul, pada awalnya Dahlia merasa kurang nyaman dengan kehadiran Liana namun karena pembawaan Liana yang dewasa cepat juga meluluhkan Dahlia dan bisa menerima pertemanan barunya itu.

Sudah tidak aneh dengan Susan dan Arfan yang sudah jauh dulu dikenalnya.

"Tenang aja aku akan menjadi CCTV mu di kantor."

"Makasih, San, tapi nggak begitu juga. Aku percaya pada suamiku."

"Memang itu yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga di mana suami istri bekerja. Ryan suami yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga sangat mencintaimu."

Dahlia menatap Ryan yang sedang bernyanyi dengan Liana dan Arfan, mereka duet bertiga.

Seru, ternyata seseru itu berada di lingkungan suaminya. Ini hanya perkara salah paham yang tidak harus dibesar-besarkan dan untungnya hubungannya sudah kembali harmonis dengan sang suami.

Mereka pun pulang dengan mengambil jalan masing-masing karena tidak ada jalur yang searah di antara mereka.

"Maaf, aku salah."

"Nggak apa-apa, sayang. Kita akan sering kumpul bareng supaya kamu tahu aku tidak macam-macam di luar sana. Hanya kamu yang aku cintai, sayang."

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!