Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Seperti biasa, jam menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Yudiz sudah berdiri di depan sajadah.
Tubuh tegapnya bersandar ringan di dinding kamar, sementara jam digital di atas lemari kecil berdetik pelan, seolah ikut menjaga sunyi.
“Rani, ayo bangun. Kita tahajud dulu, yuk.” ajak Yudiz.
Rani yang masih tenggelam dalam dunia mimpinya, tidak mendengar suara suaminya sama sekali.
Ia semakin memeluk guling erat seperti sedang memeluk helm trail.
Yudiz menghela napas panjang dan berjalan ke kamar mandi.
Ia mengambil segayung air hangat lalu perlahan menyiramkannya ke pipi Rani.
BYURR!
“ASTAGHFIRULLAH ABI!! Abi, mau bunuh aku ya?!” teriak Rani setengah sadar.
“Kalau aku mau bunuh kamu, nggak mungkin pakai air hangat, Sayang.”
Rani mengerucutkan bibirnya, kesal, tapi tetap bangun dan mengganti pakaiannya.
Meski masih manyun, ia ikut berjalan kaki bersama Yudiz menuju pondok.
Langit masih gelap dengan bintang-bintang bertahan menyala seperti sisa harapan dalam hati yang keras kepala.
Rani duduk di saf belakang dan gerakan Sholatnya masih kaku, tapi kali ini ia berhasil menyelesaikan salat tahajud tanpa menguap tiga kali berturut-turut seperti malam sebelumnya.
Shalat subuh menyusul.
Ia mencoba mengikuti bacaan imam dengan lirih, meski bibirnya bergerak tak tentu arah.
"Yang penting gerak dulu", batinnya.
Setelah Shalat Subuh, para santri berkumpul di teras pondok, membentuk lingkaran kecil.
Lilis, adik Yudiz yang baru pulang dari lomba MTQ di Jakarta, langsung menghampiri Rani dengan senyum penuh semangat.
“Mbak Rani, yuk belajar ngaji bareng kami!” ajaknya ceria.
Rani menatapnya dengan tatapan ragu, jamun di balik tatapan Lilis, ada ajakan yang tulus.
“Oke, tapi jangan ketawa ya,” ucap Rani pelan.
Lilis menyerahkan mushaf.
Rani membukanya perlahan, menatap huruf-huruf hijaiyah yang terasa seperti alien baginya.
“BIS-MI-LLAAAH-HIIR-RAH-MAA-NIR-RAHIIIMMMM!!!”
Suaranya menggema dan lebih mirip komentator balap.
“HAHAHAHAHA!!”
Satu per satu tertawa santri tertawa terbahak-bahak.
Rani langsung terdiam dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Tangannya menutup mushaf dan dadanya terasa sesak.
“Maaf…” bisiknya, lalu berlari meninggalkan lingkaran itu.
Ia berlari pulang keluar dan membuka pintu kamar dengan cepat.
Ia membanting tubuh ke kasur, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi kepala.
Lilis berdiri di ambang pintu dan hanya menatap dengan iba.
“Tidak apa-apa, Mbak Rani. Belajar itu memang tidak selalu mudah. Tapi jangan berhenti hanya karena tawa sesaat dari orang lain.”
Rani tidak menjawab di balik selimutnya sambil menangis sesenggukan.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan terdengar suara langkah kaki yang sudah dikenalnya mendekat perlahan.
Yudiz duduk di sisi ranjang sambil melihat istrinya di balik selimut.
Tangannya hanya mengusap bagian atas selimut, tepat di kepala Rani yang tersembunyi.
“Tahu nggak, sayang. Nabi Musa dulu gagap dan itu tidak membuat beliau berhenti berdakwah.”
Rani terdiam dan menghapus air matanya saat suaminya bicara.
"A-aku gagal, Bi." ucap Rani.
“Kamu nggak gagal. Semua yang baru mulai pasti canggung, dan itu bukan alasan untuk berhenti.”
Perlahan Rani membuka selimutnya dan menatap wajah suaminya dengan mata yang basah.
“Abi, mereka tadi tertawa terbahak-bahak,” ucapnya lirih.
Yudiz mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang sedang berbicara.
“Tapi aku tidak, sayang."
Yudis menggenggam tangan Rani dan mencoba meyakinkan nya.
“Kamu punya sesuatu yang jauh lebih penting dari suara indah, Rani."
Rani menganggukkan kepalanya dan ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Untuk pertama kalinya Rani memberanikan diri bersandar di bahu Yudiz.
Mentari pagi perlahan menyingkap kabut di halaman rumah Kyai Abdullah.
Burung-burung kecil bertengger di pucuk pohon mangga yang kemarin sempat dipanjat Rani.
Angin berhembus pelan, membawa kesejukan yang terasa lebih damai dari biasanya.
"Ayo kita sarapan dulu," ajak Yudiz.
Rani menganggukkan kepalanya dan bersiap ke ruang makan.
Di ruang makan, Rani duduk memeluk lutut di sudut ruangan, wajahnya masih sembab.
Di depannya, semangkuk bubur ayam terhidang lengkap dengan telur rebus dan kerupuk.
Yudiz datang membawa dua gelas teh hangat dan duduk di samping Rani.
“Makan yuk. Jangan biarkan hari ini rusak cuma karena mereka belum paham betapa luar biasanya kamu."
Rani mendongak, menatap suaminya sejenak, lalu menyuap bubur perlahan.
"Abi, beneran nggak malu punya istri kayak aku?”
Yudiz tersenyum kecil sambil menatap wajah istrinya.
"Kenapa harus malu? Yang bikin aku malu itu kalau aku jadi suami yang membiarkan istrinya putus asa hanya karena belajar mengaji.”
Rani tertawa kecil dan untuk pertama kalinya hari itu wajahnya merekah.
Kemudian Rani membereskan piring kotor dan mencucinya dengan hati yang terasa sedikit lebih ringan dari pagi tadi.
Rani yang sedang mencuci piring tidak menyadari jika Nyai Salmah masuk ke dapur.
Beliau menatap Rani yang sedang mencuci piring dengan pandangan yang tidak ramah.
Sejak awal, Nyai Salmah memang menyimpan ganjalan di hatinya.
“Rani, kalau mencuci piring itu jangan kasar begitu. Suaranya sampai ke depan,” tegur Nyai Salmah dingin.
Rani menarik napas panjang dan mencoba bersabar menghadapi Ibu Mertuanya.
“Iya, Nyai. Maaf.”
“Harusnya kamu belajar dari Laila. Laila itu lembut, Hafidzah 30 juz, dan adabnya luar biasa. Kalau saja dulu Yudiz jadi menikah dengannya, mungkin rumah ini sudah penuh dengan lantunan Al-Qur'an yang merdu, bukan suara teriakan seperti komentator balap yang memalukan tadi.”
Rani menghentikan aktivitasnya dengan dadanya yanh mulai panas.
“Nyai, aku tidak tahu siapa Laila. Dan aku memang bukan Laila. Abi sudah memilihku menjadi istrinya”
“Memilihmu? Dia hanya menuruti ayahnya!” ucap Nyai Salmah dengan suara tinggi.
“Lihat dirimu. Celana ketat, rambut liar, bicara kasar. Kamu itu seperti noda di tengah kesucian pesantren ini. Kamu tidak akan pernah bisa menyamai Laila, baik dari fisik maupun akhlak.”
Rani berbalik dan menatap mertuanya dengan mata menyala.
“Kalau begitu, kenapa Nyai tidak nikahkan saja Yudiz dengan Laila dari dulu? Kenapa harus aku yang diseret ke sini untuk dibanding-bandingkan?”
PLAK!
Suara tamparan keras yang dilayangkan oleh Nyai Salamah dan mendarat di pipi Rani Suasana
Suasana mendadak senyap, piring yang dipegang Rani terlepas dan pecah berantakan di lantai, sama seperti perasaannya saat itu.
Rani memegang pipinya yang panas dan air mata kemarahan menggenang di pelupisnya.
Tepat saat itu, Yudiz masuk ke dapur karena mendengar suara piring pecah.
“Astaghfirullah! Umi? Apa yang Umi lakukan?” Yudiz terperangah melihat ibunya dengan tangan yang masih gemetar dan Rani yang memegangi pipinya.
“Dia tidak punya sopan santun, Yudiz! Umi hanya mendidiknya!” bela Nyai Salmah dengan wajah tegang.
Rani tidak mengucapkan sepatah kata pun dan ia membalikkan badannya .
Ia meninggalkan pecahan piring dan ketegangan di dapur itu.
Langkah kakinya terdengar cepat dan masuk ke dalam kamarnya.