NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Perjalanan menuju ibu kota berlangsung senyap.

Yun Ma kini bernama Feng Ling Yun tidak membawa Ayin. Ia berangkat seorang diri dengan kereta sewaan sederhana, mengenakan jubah kelabu pucat dan cadar tipis yang menutupi separuh wajahnya. Rambutnya disanggul rendah, dihias hanya satu tusuk giok tanpa ukiran. Tidak mencolok. Namun justru karena itu, aura tenangnya memikat dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Api Sunyi tidur.

Bukan padam hanya terlipat rapat, seperti bara yang disembunyikan di balik abu dingin.

Di setiap pos pemeriksaan, ia lolos tanpa hambatan. Tidak ada tatapan mencurigakan. Tidak ada tekanan takdir yang mendorong atau menarik. Dunia memperlakukannya seperti yang ia inginkan, orang biasa.

Ibu kota menyambutnya dengan gegap gempita yang jauh dari Qinghe.

Gerbang raksasa, jalan-jalan lebar penuh pedagang, aroma dupa dan kuda bercampur menjadi satu. Yun Ma menatap semua itu tanpa keterikatan. Dulu, tempat ini adalah pusat kehancuran hatinya. Kini… hanya kota besar dengan terlalu banyak suara.

Ia langsung dibawa ke kediaman keluarga Gu.

Tidak melalui gerbang utama, melainkan pintu samping khusus tamu profesional. Diskresi. Kehati-hatian. Jelas bahwa keluarga Gu tidak ingin penyakit sang putra menjadi konsumsi publik.

Seorang pelayan wanita membimbingnya ke paviliun timur.

“Tabib Feng,” ucapnya sopan, “Tuan muda sudah menunggu.”

Yun Ma mengangguk kecil.

Langkahnya ringan.

Tidak ada gemetar.

Tidak ada sesak.

Paviliun itu luas, jendela-jendela terbuka menghadap taman batu dan kolam koi. Udara dipenuhi aroma herbal yang familiar ramuan penenang yang tidak bekerja.

Gu Changfeng berdiri membelakanginya, tangan bertumpu pada pagar kayu balkon. Tubuhnya lebih kurus dari terakhir yang Yun Ma ingat. Bahunya tegang, seolah dunia terus menekan dari segala arah.

“Tabib Feng Ling Yun,” katanya tanpa menoleh, suaranya rendah. “Akhirnya.”

Yun Ma berhenti tiga langkah di belakangnya.

“Tuanku,” jawabnya tenang. “Aku hanya tabib kelana. Jangan berharap keajaiban.”

Gu Changfeng tertawa kecil pahit.

“Jika aku masih percaya keajaiban, aku tidak akan memanggil orang asing dari kota kecil.”

Ia berbalik.

Dan pandangan mereka bertemu.

Untuk sepersekian napas, dunia berhenti.

Gu Changfeng membeku.

Bukan karena wajah itu ia kenal tidak sepenuhnya. Cadar menutupi bagian bawah wajah Yun Ma, menyisakan mata dan dahi. Namun mata itu…

Terlalu tenang.

Terlalu familiar dalam cara yang membuat jantungnya bergetar tanpa sebab.

“Kita pernah bertemu?” tanyanya pelan, nyaris ragu pada dirinya sendiri.

Yun Ma menunduk hormat, gerakannya terukur. “Banyak orang merasa begitu padaku. Mungkin karena aku sering mendengar tanpa menilai.”

Gu Changfeng menatapnya lama.

Ada dorongan aneh di dadanya. Seperti ingin memanggil nama yang tidak muncul di lidah. Seperti kehilangan yang sudah lama dikubur, kini mengetuk dari dalam.

“Silakan,” katanya akhirnya, memberi jalan. “Periksa aku.”

Yun Ma mendekat.

Ia tidak menyentuhnya langsung. Hanya duduk di meja rendah, membuka kotak kayu berisi jarum perak, kantong kecil berisi daun kering, dan botol-botol kaca tanpa label.

“Apa yang kau lihat saat tidur?” tanyanya lembut.

Gu Changfeng terdiam. Biasanya, pertanyaan itu membuatnya marah.

Namun dari mulut tabib ini… ia merasa aman menjawab.

“Api,” kata Gu Changfeng akhirnya. “Bukan api yang membakar. Api yang menatap.”

Yun Ma mengangguk kecil. “Apakah api itu menghakimimu?”

“Tidak,” jawab Gu Changfeng lirih. “Itu yang paling menyiksa" Tangannya mengepal. “Ia hanya… ada. Seperti menunggu.”

Yun Ma mengambil jarum perak, menusukkannya perlahan ke titik di pergelangan tangannya sendiri bukan untuk melukai, hanya membangunkan getaran.

“Api itu tidak ingin membalas,” katanya pelan. “Ia hanya ingin diakui.”

Gu Changfeng menatapnya tajam. “Kau bicara seolah kau mengenalnya.”

Yun Ma mengangkat wajahnya untuk sesaat hanya sesaat ia membiarkan Api Sunyi bernafas, bukan menyala hanya hadir.

Udara di paviliun berubah. Tidak panas. Tidak dingin. Tapi sunyi… seperti dunia menahan napas.

Gu Changfeng tersentak matanya melebar, “Ini…” bisik Gu Changfeng “Perasaan ini…”

Yun Ma segera menekannya kembali, “Tenang,” katanya lembut. “Aku hanya menyelaraskan denyut batinmu. Sekarang, dengarkan.”

Ia mulai meracik ramuan, bukan obat keras, bukan penekan emosi melainkan ramuan penjernih daun qingxin, akar lotus kering, setetes embun pagi yang disimpan dalam botol giok kecil.

“Minum ini sebelum tidur,” katanya. “Bukan untuk melupakan api. Tapi untuk duduk bersamanya tanpa takut.”

Gu Changfeng menerima cawan itu dengan tangan gemetar “Tabib Feng,” katanya tiba-tiba. “Jika aku bertanya… kau akan menjawab jujur?”

“Jika pertanyaannya bukan tentang masa lalu orang lain,” jawab Yun Ma tenang.

Gu Changfeng menatapnya dalam-dalam.“Apakah seseorang bisa benar-benar melepaskan… setelah ia menghancurkan sesuatu yang penting?”

Yun Ma terdiam sejenak lalu ia menjawab, jujur. “Ya.”

Nada suaranya tidak pahit dan tidak juga sedih hanya… selesai. “Syaratnya,” lanjutnya, “adalah berhenti berharap pada pengampunan yang tidak diminta.”

Gu Changfeng menunduk kata-kata itu menghantam lebih keras daripada amarah. “Terima kasih,” katanya lirih.

Yun Ma berdiri. “Obat akan bekerja perlahan. Jangan mencariku setelah ini. Jika kau mencarinya, artinya kau belum sembuh.”

Gu Changfeng tersenyum pahit. “Kau kejam, Tabib Feng.”

“Tidak,” jawab Yun Ma. “Aku hanya tidak ingin menjadi jangkar.”

Ia berbalik dengan langkahnya mantap.

Namun sebelum ia keluar, Gu Changfeng berkata pelan, nyaris seperti doa,“Jika aku bermimpi lagi… apakah api itu akan kembali?”

Yun Ma berhenti di ambang pintu.“Api tidak pernah pergi,” katanya tanpa menoleh. “Ia hanya berhenti menuntut.”

Malam itu, Gu Changfeng tidur, benar-benar tidur dan dalam mimpinya api tetap ada namun kini… ia duduk bersamanya tanpa jeritan dan tanpa rasa bersalah yang menyesakkan hanya keheningan dan sepasang mata yang tersenyum tipis lalu perlahan menjauh.

Ia terbangun dengan mata basah dan untuk pertama kalinya, dadanya terasa… ringan.

Yun Ma meninggalkan ibu kota sebelum fajar tidak ada perpisahan dan tidak ada hadiah. Hanya sekantong perak yang ia titipkan kembali kepada pelayan, dan secarik catatan resep lanjutan.

Di luar gerbang, ia melepas cadar udara pagi menyentuh wajahnya, ia menghirup dalam-dalam, tidak ada sesak tidak ada harap yang tertinggal.

Shen Yu muncul di ruang kesadarannya, diam.“Apa yang kau rasakan?” tanyanya akhirnya.

Yun Ma berjalan menyusuri jalan tanah menuju luar kota.“Tenang,” jawabnya jujur. “Dan… kosong yang sehat.”

“Kau tidak menoleh,” kata Shen Yu.

“Tidak perlu,” balas Yun Ma. “Ia sudah menemukan caranya sendiri.”

Shen Yu terdiam lama lalu berkata pelan, hampir seperti persetujuan, “Api Sunyi tidak lagi menuntut.”

Yun Ma tersenyum tapi bukan senyum pahit dan bukan senyum menang hanya senyum seseorang yang telah pulang ke dirinya sendiri.

Di Kota Qinghe, Toko Obat Feng Ling kembali buka seperti biasa.

Ayin menyambutnya dengan mata berkaca-kaca, namun Yun Ma hanya menggeleng kecil.

“Tidak ada cerita,” katanya sambil mengganti papan harga. “Hanya perjalanan singkat.”

Dan memang begitu adanya tidak ada takdir yang pecah tidak ada cinta lama yang bangkit hanya satu api yang akhirnya belajar… diam dan seorang wanita yang melanjutkan hidupnya tenang dan utuh tanpa menoleh ke abu yang sudah dingin.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!