Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakhir di jeruji besi
Matahari sudah meninggi saat Bu Elma dan Mita menggeliat di balik selimut sutra mereka. Aroma alkohol semalam masih tertinggal tipis di udara, namun tertutupi oleh rasa puas yang membuncah. Mereka merasa telah menang besar, pikirnya Kamila sudah hancur, diusir, dan kini mereka bebas menikmati harta tanpa gangguan "si anak pembawa sial" itu.
"Mam, semalam seru banget ya? Akhirnya kita bisa berpesta tanpa perlu melihat wajah melas Kamila," ucap Mita sambil merenggangkan tubuhnya, senyum licik menghiasi bibirnya.
"Tentu saja, Sayang. Kamila itu sudah tidak ada gunanya lagi, sekarang dia pasti membusuk di jalanan atau menjadi pembantu di Mansion Chendana tanpa bayaran. Kita hanya perlu menikmati hidup," balas Elma dengan tawanya yang renyah.
Namun, tawa itu tak bertahan lama.
BRAAAK!
Pintu depan rumah mereka didobrak paksa. Suara gaduh langkah sepatu bot berat menggema di lantai marmer. Elma dan Mita tersentak, segera berlari keluar kamar dengan piyama mereka yang masih berantakan.
Di ruang tamu, belasan pria berbadan tegap dengan seragam hitam, bodyguard kiriman Evan kini sudah berdiri mengepung ruangan. Di tengah-tengah mereka, berdiri Kevin dengan wajah sedingin es, memegang beberapa lembar dokumen legal.
"Apa-apaan ini?! Siapa kalian? Beraninya masuk ke rumah orang tanpa izin!" teriak Elma dengan suara melengking.
Kevin melangkah maju, mengangkat dokumen di tangannya. "Nyonya Elma, mulai detik ini, rumah ini bukan lagi milik Anda. Tuan Besar Chen dan Tuan Evan telah membatalkan kesepakatan hutang piutang atas nama Kamila. Sebagai gantinya, karena hutang lima ratus juta Anda belum terbayar dan adanya bukti tindak kriminal, seluruh aset ini disita oleh keluarga Chendana."
Wajah Elma berubah menjadi pucat pasi. "Tidak mungkin! Kamila adalah jaminannya! Dia sudah diambil oleh Tuan Chen!"
"Kamila bukan barang yang bisa Anda perjualbelikan untuk melunasi hutang judi Anda," suara dingin itu muncul dari ambang pintu. Evan melangkah masuk, tatapannya menghunus tajam seolah ingin menguliti kedua wanita di hadapannya. "Kalian pikir aku tidak tahu rencana busuk kalian dengan Rian?"
Mendengar nama Rian disebut, jantung Mita seakan berhenti berdetak. "R...Rian? Siapa itu? Kami tidak kenal!"
"Jangan berbohong!" bentak Evan hingga membuat mereka berdua berjingkat ketakutan. "Rian sudah menceritakan semuanya. Bagaimana kalian membayarnya untuk merusak reputasi Kamila. Kalian memanfaatkan kebaikan Kamila untuk kepentingan perut kalian sendiri."
Bersamaan dengan itu, beberapa petugas kepolisian masuk ke dalam ruangan.
"Nyonya Elma dan Nona Mita, kalian ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik, konspirasi kriminal, dan penipuan. Silakan ikut kami ke kantor polisi," ujar salah satu petugas sambil mengeluarkan borgol.
Dunia seolah runtuh bagi Elma dan juga Mita. Kemenangan yang mereka rayakan semalam berubah menjadi mimpi buruk yang paling nyata.
"Tolong! Tolong jangan bawa kami!" jerit Elma sambil berlutut di kaki petugas. "Tolong jangan jebloskan kami ke dalam penjara, kami tidak mau tinggal di sana Pak Polisi! Ini semua pasti salah paham!"
Mita pun ikut menangis histeris, mencoba memegang ujung celana Evan. "Tuan Evan, ampuni kami! Kami hanya khilaf! Tolong jangan ambil rumah ini, kami mau tinggal di mana?"
Evan mundur satu langkah, menghindari sentuhan tangan Mita dengan raut muak. "Kalian akan tinggal di tempat yang layak untuk orang seperti kalian, yaitu di balik jeruji besi. Rumah ini adalah milik mendiang ayah Kamila, dan aku akan memastikannya kembali ke tangan yang berhak, yaitu Kamila."
Petugas polisi tanpa ampun menarik paksa kedua wanita itu. Teriakan histeris dan tangisan mereka memenuhi halaman rumah yang dulu megah itu, sebelum akhirnya mereka dimasukkan ke dalam mobil polisi yang sudah menunggu.
Setelah suasana mulai sunyi, Evan menatap sekeliling rumah itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Kamila yang sedang tidur tenang bersama Zevan di Mansion nya.
"Satu per satu, semua orang yang menyakitimu akan hancur, Kamila. Itu janjiku," gumam Evan pelan, lalu ia memberi isyarat pada Kevin untuk mengganti seluruh kunci rumah dan memasang segel atas nama perusahaan Chendana.
Keadilan untuk Kamila baru saja dimulai.
.
.
Berita penangkapan Elma dan Mita menyebar secepat kilat di kalangan tertentu. Di sebuah apartemen mewah, Siska membanting ponselnya ke sofa setelah menerima laporan dari anak buahnya. Wajahnya yang cantik berubah menjadi tegang dan pucat.
"Sial! Bagaimana bisa Evan bergerak secepat itu?!" geram Siska sambil mondar-mandir. "Rian tertangkap? Elma dan Mita juga? Jika mereka buka mulut, habislah aku!"
Siska segera mengambil kacamata hitam besar dan syal untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak boleh terlihat oleh siapa pun, terutama orang-orangnya Evan. Dengan langkah terburu-buru, ia memacu mobilnya menuju kantor polisi tempat Elma dan Mita ditahan.
setibanya di kantor polisi, Siska kini pergi ke ruangan kunjungan para tahanan.
Dengan menggunakan nama palsu dan mengaku sebagai sepupu jauh Elma, Siska akhirnya berhasil mendapatkan akses untuk menemui mereka di ruang kunjungan yang sempit dan pengap. Begitu melihat Siska, Elma dan Mita langsung menghambur ke arah teralis besi dengan wajah sembab dan berantakan.
"Non Siska! Tolong kami! Kamu lihat sendiri kan, polisi menyeret kami seperti binatang!" rintih Elma dengan suara serak.
"Iya, Non Siska! Tolong keluarkan kami dari sini! Kami tidak mau dipenjara!" sahut Mita histeris.
Siska memasang wajah prihatin, meski di balik kacamata hitamnya, matanya menatap mereka dengan penuh kejijikan. Ia menggenggam tangan Elma yang gemetar melalui celah jeruji.
"Tenanglah, Tante Elma dan juga Mita, dengarkan aku baik-baik," bisik Siska dengan nada meyakinkan. "Aku datang ke sini untuk menjamin kebebasan kalian. Aku sudah menyiapkan pengacara terbaik dan paling mahal untuk menangani kasus ini. Kalian akan segera keluar."
Mata Elma berbinar penuh harapan. "Benarkah, Siska? Kau memang malaikat penyelamat kami!"
"Tapi ada satu syarat," potong Siska cepat, suaranya merendah menjadi bisikan tajam. "Kalian jangan pernah menyebut namaku di depan polisi atau Evan. Jika kalian bilang aku terlibat, pengacaraku akan menarik diri dan kalian akan membusuk di sini selamanya. Mengerti?"
Elma dan Mita mengangguk dengan cepat tanpa berpikir panjang. "Kami janji! Kami tidak akan menyebut namamu sedikit pun. Tolong cepat bebaskan kami!"
"Bagus. Tetaplah diam, dan serahkan sisanya padaku," ucap Siska sambil memberikan senyum palsu yang menenangkan sebelum berbalik pergi.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan mesin menyala, raut wajah prihatin Siska menghilang seketika. Ia melepas kacamata hitamnya dan melemparkannya ke kursi penumpang. Keheningan di dalam mobil mewah itu mendadak pecah oleh suara tawa yang melengking dan penuh kemenangan.
"Hahahaha! Bodoh! Benar-benar bodoh!" Siska tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap gedung kantor polisi melalui kaca spion dengan tatapan menghina.
"Kalian pikir aku benar-benar akan membantu kalian? Mana mungkin aku mempertaruhkan reputasiku demi sampah seperti kalian!" maki Siska sambil menyalakan sebatang rokok.
"Hanya demi uang beberapa ratus juta, kalian rela melakukan apa saja. Otak kalian benar-benar sudah berubah menjadi otak udang karena keserakahan."
Siska mengambil ponselnya kembali, jemarinya menari di atas layar mencari sebuah nama.
"Ini sudah menjadi rencanaku sejak awal. Jika kalian masuk penjara, tidak akan ada lagi bukti yang mengarah padaku. Kalian akan menjadi tumbal yang sempurna," gumamnya licik.
Ia menekan tombol panggilan, setelah beberapa nada sambung, suara berat seorang pria menjawab di seberang sana.
"Halo, Om Wisnu? Ini Siska. Aku butuh bantuan Om untuk 'membereskan' berkas di kepolisian agar dua wanita ini tidak pernah bisa keluar lagi... Iya, Om. Aku tahu Om paling bisa diandalkan dalam hal ini."
Siska menutup teleponnya, lalu kembali tertawa puas sambil menginjak pedal gas, meninggalkan kantor polisi dengan perasaan di atas angin. Bagi Siska, Elma dan Mita hanyalah bidak catur yang sudah saatnya dibuang ke tempat sampah.
Bersambung...
kopi untuk mu👍