Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegembiraan
Hari setelah penerbit menyetujui konsep buku baru, Lila, Siti, Dina, dan Rian berkumpul dengan Bu Lina dari perpustakaan untuk mengambil alamat anak-anak yang menulis cerita. Mereka ingin mengunjungi satu per satu—minta izin agar cerita mereka dimasukkan ke buku, dan berbagi kabar baik bahwa buku "Hati yang Saling Menyentuh" akan benar-benar dibuat.
"Kita mulai dari rumah anak yang nulis cerita tentang kucing ya, Kak Lila?" ajak Siti, memegang daftar alamat. "Namanya Adit, kan? Dia udah sempat bilang rumahnya deket taman."
"Baik deh! Mari kita pergi sekarang, sebelum hari mulai panas," jawab Lila, membawa tas yang berisi buku "Hati yang Bersama" dan hadiah kecil berupa pena cantik.
Mereka berjalan ke rumah Adit, yang terletak di gang kecil dekat taman. Ketika mereka mengetuk pintu, seorang wanita muda membuka pintu—itu Ibu Adit. "Selamat pagi, semuanya! Ada apa ya?"
Lila tersenyum. "Maaf mengganggu, Bu. Kami dari perpustakaan dan sekolah. Kami mau bertemu Adit, kalau dia ada di rumah."
Segera, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun keluar dengan lari, mata bersinar ketika melihat mereka. "Kak Lila! Kak Siti! Kamu dateng ke rumahku!"
Mereka duduk di teras rumah. Lila membuka tas dan mengambil konsep buku baru. "Adit, ceritamu tentang kucing yang mencari teman sangat bagus. Kami mau masukkan cerita itu ke buku baru yang akan kami bikin. Boleh kan?"
Adit terkejut dan langsung mengangguk dengan cepat. "Boleh! Boleh banget, Kak! Aku gak percaya—ceritaku akan ada di buku!"
Ibu Adit juga tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Adit dulu selalu malas baca dan nulis, tapi sejak acara di perpustakaan, dia senang banget bikin cerita. Terima kasih banyak ya, semuanya."
Siti memberinya pena cantik dengan gambar kucing. "Ini hadiah buat kamu, Adit! Semoga kamu tetep senang nulis cerita."
Setelah itu, mereka melanjutkan ke rumah Maya—anak perempuan yang nulis cerita tentang keluarga yang berlibur. Rumahnya terletak di pinggiran kota, dengan taman kecil yang dipenuhi bunga. Ketika mereka tiba, Maya sedang membantu Ibunya menanam bunga.
"Maya, lihat siapa yang dateng!" panggil Ibu Maya.
Maya berbalik dan langsung berlari ke arah mereka. "Kak Dina! Kamu bawa gambarnya belum?"
Dina membuka buku sketsa miliknya dan menunjukkan ilustrasi kucing yang dia kerjakan, lalu mengambil sketsa baru. "Ini sketsa untuk cerita mu, Maya—gambar keluarga kamu yang sedang berlibur di pantai. Bagus kan?"
Maya menangis senang. "Sangat cantik, Kak! Aku senang banget cerita ku akan ada di buku."
Lila menjelaskan tentang buku baru dan minta izin. Maya langsung menandatangani lembaran izin yang dibawa. "Aku akan ceritain ke semua teman di sekolahku! Mereka pasti senang banget!"
Sore hari, mereka mengunjungi rumah terakhir—Rizky, anak laki-laki yang memberi kertas tulisan kepada Lila di perpustakaan. Rumahnya kecil tapi nyaman, dan Rizky sedang duduk di meja menulis cerita baru.
"Kak Lila! Aku lagi bikin cerita baru loh—tentang anak yang membantu kakeknya berkebun!" ujar Rizky dengan bangga.
Lila membaca cerita itu sebentar. "Ini sangat bagus, Rizky! Nanti kalo selesai, bisa kita masukkan ke cetakan kedua buku baru ya?"
Rizky mengangguk gembira. Ketika Lila memberitahu bahwa cerita pertamanya akan ada di buku, dia melompat-lompat kegembiraan. "Ayah! Ibu! Dengar itu—ceritaku akan ada di buku!"
Ayah Rizky mendekati mereka. "Terima kasih banyak atas semuanya. Rizky dulunya sangat pendiam, tapi sekarang dia suka berbicara dan berbagi cerita. Kamu semua benar-benar mengubah kehidupannya."
Setelah selesai mengunjungi ketiga rumah, mereka berjalan pulang ke sekolah. Siti memegang kantong yang berisi lembaran izin. "Kita udah dapat izin semua ya, Kak Lila. Aku senang banget mereka semua setuju."
Dina tersenyum. "Mereka terkejut banget, tapi senangnya terlihat dari wajah mereka. Aku pengen cepat selesai ilustrasi buat semua cerita."
Rian membuka laptopnya. "Aku udah merekam video saat kita mengunjungi mereka. Bisa kita gunakan buat promosi buku baru nanti."
Mereka semua berdiri di halaman sekolah, melihat matahari yang mulai terbenam. Lila memegang tangan Siti dan Dina. "Semua ini sangat berharga, ya. Kita tidak cuma bikin buku—kita bikin kenangan dan harapan baru untuk mereka."
Rama dan Rara tiba dengan camilan. "Kamu semua capek kan? Mari istirahat dan makan dulu. Besok kita mulai kerja sama lagi untuk buku baru."
Mereka semua duduk di bangku halaman sekolah, makan camilan dan berbicara tentang rencana peluncuran buku. Di hati mereka, ada kebahagiaan yang tak terlukiskan—kebahagiaan karena bisa berbagi cinta dan cerita dengan lebih banyak orang, dan membangun jaringan hati yang semakin erat.