Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Bertekad nekat.
Hujan masih turun deras, air membanjiri selokan di depan rumah dinas. Dinda duduk terkulai, air mata bercampur dengan keringat mengalir di pelupuk matanya. Pikirannya hanya ada satu, jangan sampai membuat Bang Rama kesusahan lagi. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil tas kecil yang berisi beberapa potong baju, dan dompet. Ia meninggalkan uang yang Bang Rama berikan padanya dan hanya mengambil lima ribu rupiah lalu membuka pintu perlahan.
Melewati jalan kecil di samping Batalyon, ia meninggalkan tempat itu. Di jalan, hujan mengguyur badannya sampai basah kuyup. Dia tidak tau arah, tidak punya kerabat, tidak punya tempat lain untuk bersembunyi. Kakinya terus berjalan hingga langkahnya terasa berat tapi tak juga berhenti. Saat itu, dia hanya ingin menghilang dari semua masalah yang menimpa.
Sementara itu, Rama yang tiba di mess. Hatinya terasa kosong, hampa dan tidak tenang.
'Kenapa Dinda bilang begitu?'
Tiba-tiba perasannya tidak enak, Bang Rama langsung memutar balik motornya dan menuju rumah dinas.
Sesampainya disana, pintu terbuka, lampu menyala, tapi Dinda tidak ada di sana. Angin kencang dari segala arah. Meja makan masih bersih dengan porsi soto ayam yang belum disentuh.
"Ya Allah.. Dindaaaa..!!!!!!!!" Bang Rama kembali memeriksa setiap ruangan, menelpon nomor Dinda berkali-kali tapi tidak terhubung. Kerasnya debaran jantungnya tidak terkendali, seolah-olah dunia runtuh jika Dinda hilang dari sisinya. "Kamu dimana, Dindaaa???"
:
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, jalanan sudah sepi, tapi Bang Rama masih terus mencari Dinda. Dirinya sudah bertanya pada petugas piket jaga, para anggota remaja, penjaga gerbang, pedagang malam yang masih buka, namun semua bilang tidak melihat gadis muda yang basah kuyup seperti itu.
***
Lewat jam 12 malam. Bang Rama berhenti di tepi sungai yang sepi, nafasnya terengah-engah. Hanya suara air sungai dan hujan yang terdengar. Tiba-tiba, dia melihat bayangan seseorang duduk di gubug tua di pinggir sungai, badannya menggigil karena kedinginan.
Tidak salah lagi, itu Dinda. Tak ingin Dinda pergi lagi, Bang Rama langsung menghampirinya. "Dindaa.."
Dinda menoleh, wajahnya sudah pucat. Tau Bang Rama ada disana, Dinda berusaha kabur lagi.
Bang Rama langsung berlari ke arahnya, memeluknya erat sampai Dinda merasa aman. "Kenapa kamu pergi??? Kamu tidak tau kan, Abang kalang kabut cari kamu."
Dinda berontak tapi Bang Rama tetap memeluknya. "Denyut jadi Abang hampir berhenti berdenyut, Dindaa..."
Kini Dinda hanya bisa terdiam sejenak, merasakan pelukan Bang Rama yang terasa begitu menenangkan. "Kenapa Abang mencari Dinda."
"Kalau bukan karena hati, Abang tidak akan ada disini."
"Mak_sud Abang?????" Dinda seakan merasa ada yang berbeda namun tidak berani menebaknya.
"Apalagi yang harus di perjelas??"
"Jelaskan sebagai pria dewasa..!!!" Pinta Dinda.
"Seperti ini??" Di bawah guyuran hujan, Bang Rama menyambar bibir Dinda. Rasa hangat begitu mendebarkan..
Dinda terpaku sejenak. Entah apa yang di rasakannya, tapi Dinda tidak menolak setiap sentuhan yang Bang Rama berikan.
Namun, lama kelamaan Dinda tersadar. Ia menarik diri dari Bang Rama.
"Kenapa? Apa karena masih ada Ardi di hatimu?" Tanya Bang Rama.
//
Fia menarik selimutnya dengan gugup. Bang Sanca pun mengecup kening gadis yang baru saja tadi siang resmi menjadi istrinya, dalam diam karena dirinya tau, sahabatnya sedang mengalami masalah pelik terkait administrasi kelengkapan data diri.
"Masih malu sama Abang??"
Fia terdiam tanpa kata. Ia memberanikan diri menatap wajah Bang Sanca namun tetap saja ia belum mampu.
"Abang cinta nggak sih sama Fia?"
"Ya kalau nggak cinta masa mau di nikahi, dek. Ngarang aja kamu." Jawab Bang Sanca sambil mengusap pipi Fia. "Beberapa hari lagi kita tinggal di rumah dinas kita sendiri."
"Dinda dan Dira bagaimana?"
"Kan sudah ada suami masing-masing. Kamu juga sudah sama Abang." Kata Bang Sanca kembali mengusap lembut pipi sang istri.
Fia mengangguk, ia kembali beringsut dalam pelukan suaminya.
...
Bang Rama memulangkan Dinda ke rumah dinas. Suasana masih nampak sepi, tak ada tanda Dira dan Fia disana namun ia tidak ingin peduli akan hal itu. Fokus pikirannya hanya Dinda seorang.
"Ganti pakaianmu dan cepat tidur..!!" Ucapnya pada Dinda yang masih terlilit handuk, satu handuk lagi menutup kedua bajunya.
"Abang kembali saja ke mess." Ujar Dinda yang lama kelamaan sulit untuk mengontrol perasaannya.
"Abang tetap disini, Abang nggak mau sampai kamu kabur lagi." Jawab Bang Rama.
Dinda tidak berani menatap mata Bang Rama, ia hendak melangkahkan kaki menuju kamar mandi tapi baru selangkah berjalan, lampu pun padam. Dinda terpekik panik bersamaan dengan kilat dan sambaran petir yang membuatnya berbalik menuju kamar tapi.. Dirinya tidak menyangka akan menabrak Bang Rama hingga kemudian Bang Rama refleks memeluknya.
Dalam remang cahaya kilat petir, Bang Rama bisa melihat wajah cantik Dinda.
"Bolehkah kita seperti ini, sedekat ini??" Tanya Dinda lirih.
"Boleh." Jawab Bang Rama sambil mendekatkan wajahnya pada bibir Dinda.
Hela nafas mulai tak beraturan, Bang Rama yang awalnya hanya sekedar mengecup, mendadak membuatnya hilang kendali dan kontrol diri.
"Jangan, Bang. Dinda takut." Kata Dinda.
Bang Rama seakan tuli, ia membawa Dinda ke dalam kamar dan mendorongnya ke atas tempat tidur.
"Lupakan dia..!!! Abang juga bisa memberikan cinta yang sama, bahkan lebih."
Dinda ingin melawannya tapi lagi-lagi sentuhan itu membuatnya terpana bahkan terlena.
"Balas..!!" Pinta Bang Rama.
"Dinda nggak mau, Bang. Ini menyalahi aturan."
"Abang bertindak bukannya tanpa berpikir." Bang Rama menyelipkan tangannya di belakang punggung Dinda, di balik handuk yang masih melilit tubuhnya. Dengan satu gerakan tangan, Bang Rama sudah berhasil membuka benda tersebut lalu menariknya dan membuangnya asal. "Kenapa masih diam begitu?? Abang rem atau gas, sayang..!!"
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara