NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Janji Berbalut Kecemasan

Malam hari itu, udara di kamar Puri terasa sejuk dan sunyi, hanya dipecah oleh suara kipas angin yang berputar perlahan di sudut kamar. Cahaya dari lampu meja yang berwarna kuning lembut menciptakan lingkaran hangat di tengah ruangan, menerangi tumpukan baju, buku, dan perlengkapan yang disusun rapi di atas lantai kayu yang sudah mulai memudar warnanya. Puri duduk bersila di atas karpet berwarna coklat tua, tangan sibuk melipat baju kaos putih polos ke dalam tas ransel besar berwarna biru tua tas yang dia beli seminggu lalu dengan harapan membara, namun kini terasa sedikit berat dan asing di tangannya.

"Kaos empat, celana panjang tiga, baju batik satu buat bertemu warga... oke, beres," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, sambil memberi tanda centang pada daftar kertas yang ditempel di dinding dengan pin berwarna-warni. Lalu, dengan gerakan terampil, dia meraih tas kecil berbentuk kotak, memasukkan obat-obatan satu per satu: pil paracetamol untuk berjaga-jaga kalau demam menyerang, salep povidone iodine untuk luka kecil yang mungkin terjadi, minyak angin cap kapak yang selalu setia menemani, bahkan pil maag andalannya, yang selalu dia butuhkan karena sering lupa makan saat sibuk dengan tugas kuliah. Semua disiapkan dengan teliti dan rapi, seperti itulah ciri khasnya. Puri adalah personifikasi dari keteraturan, selalu takut ada sesuatu yang tertinggal atau terlupakan.

Namun, di antara semua perlengkapan yang sudah siap, ada satu benda yang menarik perhatiannya lebih dari yang lain buku catatan bundar berwarna coklat yang dia bawa ke pembekalan di kampus siang tadi. Dengan hati-hati, dia membukanya di pangkuannya, dan matanya langsung tertuju pada baris tulisan yang dia buat dengan tergesa-gesa: "Desa Sidomukti, bale pasanggrahan tua..." Seketika, pikirannya kembali ke kejadian aneh yang terjadi di ruang kuliah tadi siang lampu yang tiba-tiba redup secara misterius, hawa dingin yang tiba-tiba menyebar dari punggungnya, dan selembar kertas yang terjatuh secara tak terduga dengan tulisan yang membuatnya penasaran: "dia sudah menunggu lama...". Dia menggenggam buku itu semakin erat, jari-jarinya terasa sedikit bergetar, seolah-olah buku itu adalah portal yang menghubungkannya dengan sebuah dunia yang belum dia kenal.

Tiba-tiba, pintu kamarnya dibuka perlahan tanpa suara seperti kebiasaan ibunya. Sejak dulu, ibunya selalu memiliki kepekaan untuk membuka pintu tanpa menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu konsentrasinya. Ibu Puri, yang mengenakan baju tidur berwarna biru muda dengan motif bunga mawar yang kecil-kecil, masuk dengan membawa secangkir teh hangat di kedua tangannya. Aroma harum teh daun salam langsung memenuhi ruangan aroma teh yang selalu dibuatkan ibunya ketika dia merasa cemas atau gundah. Ibu Puri menatap putrinya yang sedang sibuk mengepak barang, lalu melangkah perlahan menuju tepi ranjang yang empuk, berusaha untuk tidak mengganggu kegiatan sang putri.

"Masih packing, nak? Ini sudah jam dua belas lewat, lho," ucapnya dengan suara yang lembut dan menenangkan, seperti desiran angin sepoi-sepoi yang menyapu dedaunan.

Puri mengangkat wajahnya, tersenyum tipis meskipun kegelisahan masih terasa mengusik hatinya. "Iya, Bu. Besok pagi jam enam sudah harus kumpul di halte kampus, busnya langsung berangkat. Ibu belum tidur? Sudah lama bangun?" tanyanya dengan nada khawatir.

Ibu Puri menggelengkan kepalanya perlahan, senyum lembutnya tak pernah pudar. "Belum bisa tidur, nak. Tadi Ibu ketemu Ayu di pasar sore tadi dia lagi membeli sayuran untuk makan malam. Dia cerita banyak sekali, katanya kelompokmu mendapat tempat KKN di Desa Sidomukti, Kecamatan Temanggung. Benarkah itu, Puri? Desa yang jauh sekali dari sini?" Nada bicaranya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam.

Mata Puri berbinar sejenak, seolah-olah dia senang bisa berbagi cerita tentang KKN-nya dengan sang ibu. "Iya, Bu. Betul sekali. Dosen koordinatornya bilang desa itu bagus sekali, masih sangat asri, dan banyak budaya lokal yang bisa dipelajari di sana ada bale pasanggrahan tua yang sudah ada sejak zaman kolonial, lho! Aku ingin sekali melihat tempat seperti itu," ujarnya dengan antusiasme yang berusaha dia tunjukkan.

Namun, ekspresi wajah ibunya tidak berubah sedikit pun malah alisnya sedikit terangkat, menandakan kekhawatiran yang semakin mendalam. Dia menggenggam cangkir tehnya semakin erat, kedua jempolnya tampak kemerahan karena panas cangkir yang menyengat. "Desa Sidomukti... Ibu jadi ingat cerita Nenekmu tentang tempat itu, lho. Dulu, waktu Ibu masih kecil, Nenek selalu berpesan, 'Jangan pernah pergi ke Desa Sidomukti saat malam hari, anakku. Ada sesuatu yang bersemayam di sana sesuatu yang tersembunyi di balik lebatnya hutan dan kokohnya bale tua.' Katanya, ada kisah tentang sepasang kekasih yang tragis di masa lalu, yang arwahnya masih bergentayangan dan menunggu di sana," tuturnya dengan nada bergetar.

Puri berdiri perlahan dari duduk bersilanya, mendekati ibunya dengan langkah hati-hati, lalu duduk di sampingnya di tepi ranjang yang terasa lembut dan nyaman. Dia meraih

 tangan ibunya yang terasa sedikit dingin dan kering, menggenggamnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Bu, itu kan cuma legenda lama saja, kan? Setiap desa di Jawa pasti punya cerita mistis semacam itu untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak keluyuran malam-malam. Ibu jangan terlalu khawatir, aku pergi bersama teman-teman yang banyak, kok ada Ayu, Dina, Rio, Fahri, dan juga Rendra. Kami akan tinggal bersama di bale pasanggrahan itu, jadi aku tidak sendirian. Selain itu, ada kepala desa dan dosen pembimbing yang bisa dihubungi kapan saja melalui telepon, jadi Ibu tidak perlu khawatir," ujarnya berusaha menenangkan.

Ibu Puri menatap mata putrinya lekat-lekat, matanya dipenuhi dengan kasih sayang yang tak terhingga dan kekhawatiran yang tak mampu disembunyikan. Bahkan, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang mulai keriput. "Ibu tahu kamu itu kuat, Nak. Ibu tahu kamu bisa mandiri dan bertanggung jawab. Tapi, sejak Ibu mendengar kamu akan pergi ke sana, perasaan Ibu menjadi tidak enak sama sekali. Seolah-olah ada sesuatu yang menggigit-gigit hati Ibu, seolah-olah ada yang ingin memperingatkan Ibu untuk menjagamu baik-baik. Ibu takut sesuatu yang buruk akan terjadi padamu di sana," ucapnya dengan suara yang bergetar, nyaris seperti bisikan.

Perlahan, dia mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Puri yang halus dan lembut. "Apa kamu tidak mau kalau Ibu meminta tolong kepada dosenmu besok pagi? Supaya kamu bisa ditukar tempat dengan temanmu yang lain? Misalnya, dengan temanmu yang memang ingin pergi ke desa yang jauh, atau temanmu yang tidak keberatan dengan cerita-cerita mistis itu. Jadi, kamu bisa pergi ke desa yang lebih dekat, misalnya di sekitar Semarang atau Salatiga Ibu bisa datang menjengukmu setiap minggu," pintanya dengan nada memohon.

Puri menggelengkan kepalanya perlahan, namun dengan tegas. Dia menggenggam tangan ibunya yang berada di pipinya dengan erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan dan keyakinannya. "Maaf ya, Bu. Aku tidak mau. Kalau aku bertukar tempat, berarti temanku yang lain harus pergi ke sana. Aku tidak enak sama dia apalagi dia juga pasti ingin pergi ke tempat yang nyaman dan dekat dengan kota. Lagipula, aku ingin mencoba pengalaman baru di tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Aku ingin belajar sesuatu yang baru, bukan hanya berdiam diri di zona nyamanku saja," jawabnya dengan nada penuh tekad.

Ibu Rina menghela napas panjang dan perlahan, menyadari bahwa putrinya telah membuat keputusan yang bulat dan tak tergoyahkan. Dia tahu betul bagaimana watak Puri sekali dia sudah memutuskan sesuatu, sangat sulit untuk diubah. Dengan lembut, dia mengecup puncak kepala Puri yang berambut hitam lurus dan terawat. "Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, Ibu akan selalu mendukungmu. Tapi, Ibu minta janji ya, kamu harus menghubungi Ibu setiap hari meskipun hanya sekadar mengirimkan pesan singkat saja. Dan kalau ada sesuatu yang aneh atau menakutkan yang terjadi di sana, jangan ragu untuk pulang, ya? Rumah ini akan selalu terbuka lebar untukmu," pesannya dengan suara lirih.

"Janji, Bu. Aku akan menghubungi Ibu setiap hari. Dan aku akan baik-baik saja, Ibu percaya padaku," jawab Puri sambil tersenyum, meskipun dia sendiri mulai merasakan sedikit kecemasan karena perasaan tidak enak yang dirasakan oleh ibunya.

Setelah ibunya keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perlahan, Puri kembali menghampiri tas ranselnya yang tergeletak di lantai. Dia memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu dia duduk terdiam di lantai. Perasaan tidak enak yang dirasakan oleh ibunya tadi membuat dia merenung dalam-dalam. Apakah benar ada sesuatu yang sedang menunggunya di Desa Sidomukti? Apakah cerita yang dituturkan oleh neneknya dulu bukanlah sekadar legenda belaka? Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba menepis semua pikiran buruk yang mulai menghantuinya, tetapi hawa dingin yang pernah dia rasakan di kampus siang tadi tiba-tiba merayapi punggungnya lagi, membuatnya merinding. Besok, semuanya akan terjawab dengan sendirinya dan dia tidak tahu apakah dia sudah siap untuk menghadapi semua itu.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!