NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Langkah kaki Bu Tia yang terburu-buru terhenti tepat di hadapan kerumunan itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan sisa-sisa ketegangan yang masih terasa di udara. Matanya menatap satu per satu wajah murid laki-laki di sana, ada Gavin, Aldi, Dafa, dan Rian yang tampak bingung namun sangat peduli.

"Anak-anak," suara Bu Tia melunak, namun ada nada serius di dalamnya. "Ada kabar baik dari rumah sakit. Vina sudah melewati masa kritisnya. Dokter Sari baru saja menelepon, katanya Vina sudah jauh lebih stabil dan... dia sudah bisa dijenguk oleh laki-laki."

Aldi mengernyitkan dahi, mewakili kebingungan teman-temannya yang lain. "Tunggu, Bu... maksudnya dijenguk laki-laki? Memangnya sebelumnya kenapa? Kami cuma tahu Vina masuk rumah sakit karena 'sakit' setelah kejadian semalam, tapi Ibu dan Bu Raisa belum menjelaskan detailnya kepada kami."

Suasana seketika menjadi sangat sunyi. Raisa menunduk, sementara Bu Tia menghela napas berat. Ia menyadari bahwa selama ini mereka sengaja menutup rapat detail kejadian demi melindungi privasi Vina, namun sekarang mereka perlu tahu agar bisa bersikap dengan benar saat bertemu nanti.

"Duduklah sebentar," pinta Bu Tia sambil menunjuk kursi panjang di koridor.

Setelah mereka duduk, Bu Tia memulai dengan suara rendah. "Ibu minta kalian mendengarkan ini dengan kepala dingin. Vina bukan sekadar sakit biasa. Apa yang dilakukan Rendi dan teman-temannya semalam adalah tindakan kekerasan seksual dan penganiayaan fisik yang sangat berat."

Gavin mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Rian dan Dafa tertegun, mata mereka membelalak tidak percaya.

"Traumanya begitu dalam," lanjut Bu Tia dengan mata berkaca-kaca. "Sejak dibawa ke rumah sakit, Vina mengalami shock hebat. Dia histeris setiap kali melihat laki-laki, bahkan dokter pria pun tidak bisa mendekat karena dia merasa terancam. Dia merasa dunianya hancur."

"Astaga... separah itu?" bisik Aldi, suaranya bergetar karena rasa bersalah dan marah yang bercampur aduk.

"Tapi hari ini adalah keajaiban," sambung Bu Tia sambil tersenyum tipis. "Berkat pendampingan intensif dari Bu Raisa dan tim medis, Vina mulai merasa aman. Dia sendiri yang meminta agar teman-temannya datang. Dia tahu kalian berlima adalah orang-orang yang berdiri membela dia di sekolah tadi. Dia ingin melihat bahwa tidak semua laki-laki itu jahat seperti Rendi."

Raisa mengangkat kepalanya, menatap murid-muridnya. "Itu sebabnya, Ibu minta kalian tetap tenang saat di sana nanti. Jangan tunjukkan wajah kasihan, tapi tunjukkan bahwa kalian bangga padanya karena dia sangat kuat."

Gavin berdiri pertama kali, wajahnya kini penuh tekad. "Kami mengerti, Bu. Kami tidak akan mengecewakan Vina. Ayo kita berangkat sekarang."

"Ayo, Bu!" sahut yang lain serempak.

Rombongan murid-murid bersama Bu Raisa mulai bergerak menuju area parkir. Di tengah kesibukan mereka menyiapkan kendaraan, Tia menahan langkahnya sejenak dan menepuk bahu Raisa.

"Bu Raisa, Ibu berangkat duluan saja bersama anak-anak. Saya masih harus mengunci beberapa laci di ruang BK dan merapikan sisa dokumen laporan tadi. Tanggung sedikit lagi, nanti saya menyusul pakai mobil saya sendiri," ujar Tia dengan senyum menenangkan.

Raisa sempat ragu. "Ibu tidak apa-apa sendirian? Suasana sekolah sedang agak tidak enak setelah kejadian tadi."

"Ah, jangan khawatirkan saya. Saya ini kan 'menteri pertahanan' ruang BK, saya aman. Titip salam buat Vina ya, bilang saya segera ke sana," canda Tia yang akhirnya membuat Raisa mengangguk dan berlalu bersama Gavin, Dafa, dan yang lainnya.

Sekitar lima belas menit kemudian, Tia keluar dari lobi sekolah yang sudah mulai remang. Ia berjalan menuju mobil kecilnya di sudut parkiran. Namun, saat ia memutar kunci kontak, mesin mobilnya hanya mengeluarkan suara tersedak yang menyedihkan.

Cek-cek-cek... brem... mati.

"Aduh, jangan sekarang dong sayang... Ibu lagi buru-buru," gumam Tia sambil mencoba berkali-kali, namun hasilnya nihil. Ia mendesah frustrasi sambil keluar dari mobil dan membuka kap mesin, meski sebenarnya ia tidak paham apa yang sedang ia lihat.

Tiba-tiba, sepasang lampu depan mobil SUV mewah menyala di dekatnya, membelah kegelapan parkiran. Mobil itu berhenti tepat di sampingnya, dan kaca jendela terbuka perlahan. Sosok Pak Surya muncul di balik kemudi dengan wajahnya yang tenang namun berwibawa.

"Ada masalah dengan mobilnya, Bu Tia?" tanya Surya.

Tia menoleh, sedikit terkejut. "Eh, Pak Surya. Iya nih Pak, sepertinya ngambek. Padahal saya harus segera ke rumah sakit menyusul Bu Raisa dan anak-anak."

"Mobil Anda sepertinya butuh montir. Jam segini sulit mencarinya. Mari, naiklah ke mobil saya. Saya juga kebetulan ingin ke rumah sakit untuk memantau keadaan Vina," tawar Surya dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Tia tampak ragu. Ia teringat bisik-bisik di ruang guru tentang betapa kaku dan formalnya Pak Surya, serta desas-desus kuat bahwa pria itu menyimpan perasaan khusus pada Bu Raisa.

"Aduh, tidak usah Pak, merepotkan. Saya... saya bisa pesan taksi online saja," tolak Tia halus sambil tangannya sibuk memencet layar ponselnya.

Surya mematikan mesin mobilnya dan turun, mendekati Tia. Ia berdiri cukup dekat hingga Tia bisa mencium aroma parfum kayu yang maskulin namun familiar. Surya menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Bu Tia, daerah ini sulit mendapatkan taksi di jam pulang sekolah. Dan saya rasa, akan lebih aman jika kita berangkat bersama. Anggap saja ini perintah atasan yang tidak ingin stafnya terlantar di parkiran," ujar Surya, kali ini dengan sedikit senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.

Tia tertegun. Ada getaran aneh yang ia rasakan saat menatap mata pria itu, sebuah perasaan aman yang tidak masuk akal.

"Tapi Pak... bagaimana kalau bu raisa atau guru lain lihat kita bareng, bisa jadi gosip. Saya tidak enak" bisik Tia jujur.

Mendengar nama Raisa disebut, ekspresi Surya tidak berubah, namun tatapannya semakin dalam pada Tia. "Bu Raisa orang yang bijaksana, dia tidak akan berpikir macam-macam. Dan yang lebih penting sekarang adalah sampai ke rumah sakit dengan cepat. Masuklah, Bu Tia."

Tia akhirnya menyerah. Ia menutup kap mobilnya dan berjalan menuju pintu penumpang depan. Saat ia duduk di dalam mobil yang sejuk dan harum itu, suasana menjadi hening secara instan. Surya mulai menjalankan mobilnya keluar dari gerbang sekolah.

......................

Mobil SUV hitam milik Pak Surya meluncur membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam kabin, keheningan sempat terasa canggung. Tia berkali-kali merapikan tasnya, sementara Surya fokus pada kemudi, meski sesekali matanya melirik ke arah Tia dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Terima kasih ya, Pak. Saya jadi merasa tidak enak. Padahal Bapak pasti lelah sekali hari ini," ujar Tia memecah kesunyian.

"Tidak masalah, Bu Tia. Kita memiliki tujuan yang sama," jawab Surya singkat namun terdengar lebih lembut dari biasanya.

Sementara itu, suasana di depan kamar rawat Vina sudah cukup ramai. Raisa, Gavin, Dafa, Aldi, dan Rian berdiri dengan cemas. Tak lama kemudian, Pak Surya dan Bu Tia muncul di ujung lorong.

"Nah, itu mereka!" seru Aldi.

Saat pintu kamar rawat dibuka perlahan, aroma antiseptik yang tajam menyambut mereka. Vina tampak bersandar di tempat tidur, wajahnya masih sangat pucat dengan beberapa perban yang menempel. Di sampingnya, Ayah Vina setia menggenggam tangan putrinya.

Begitu rombongan anak laki-laki itu masuk, tubuh Vina seketika menegang. Ia menarik tangannya dari genggaman ayahnya dan mencengkeram pinggiran selimut. Matanya yang sayu membelalak, memancarkan ketakutan yang instingtif saat melihat Gavin dan kawan-kawan.

"Vina..." bisik Gavin terhenti di ambang pintu, menyadari reaksi trauma temannya itu.

Ayah Vina segera berdiri, mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Nak, lihat dulu. Mereka bukan orang jahat. Ini teman-temanmu juga Ada Pak Surya dan Bu Guru juga di sini."

Vina bernapas pendek-pendek, matanya beralih ke arah Bu Raisa dan Bu Tia yang berdiri di barisan depan. Tia segera mendekat, memberikan senyum paling hangat yang ia miliki.

"Vina sayang, ingat Ibu? Ibu Tia dan Bu Raisa bawa pasukan pelindung kamu nih." ujar Tia dengan suara yang sangat menenangkan.

Ayah Vina menatap putrinya dalam-dalam. "Ayah ada di sini, Nak. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Mereka datang karena sayang padamu."

Perlahan, ketegangan di bahu Vina mulai mengendur. Ia menatap Gavin yang berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih ke Aldi yang membawa buket bunga kecil, serta Dafa dan Rian yang menunduk hormat.

"Hai, Vin..." suara Aldi pecah, "Kami... kami senang kamu sudah sadar."

Melihat ketulusan di wajah teman-temannya, benteng ketakutan Vina perlahan runtuh. Setetes air mata jatuh di pipinya, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang luar biasa. Ia memberikan anggukan kecil yang sangat tipis, sebuah tanda bahwa ia mengizinkan mereka mendekat.

"Terima kasih... sudah datang," bisik Vina nyaris tak terdengar.

Kehebohan kecil pun terjadi. Aldi dengan semangat meletakkan bunganya di meja samping tempat tidur. Rian mulai melontarkan candaan kecil untuk mencairkan suasana, sementara Gavin hanya bisa berdiri di sisi tempat tidur, memastikan bahwa Vina tahu dia akan selalu ada untuk menjaganya.

Di sudut ruangan, Raisa memperhatikan momen itu dengan perasaan lega. Namun, tatapannya teralih saat melihat Pak Surya yang berdiri di samping Bu Tia. Surya tidak menatap Vina, melainkan menatap Tia dengan ekspresi yang begitu sendu, seolah-olah ia sedang melihat keajaiban yang nyata namun tak bisa ia sentuh.

1
Zainatul Fibriyana
bagus bgt cerita
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Zainatul Fibriyana
bagus bgt ceritanya
Yahhh__: Terima kasih banyak kak🙏
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!