NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dara Valencia

Pagi itu halaman rumah keluarga Rama terasa berbeda.

Udara masih segar, embun belum sepenuhnya mengering di dedaunan. Zizi dengan rambut barunya yang lebih pendek dan tegas melangkah keluar setelah selesai sarapan bersama orang tuanya. Ia tidak menyangka apa pun, hanya ingin menghirup udara pagi dan menata pikirannya sebelum memasuki hidup baru.

Di depan teras, sebuah mobil berwarna merah mengilap sudah terparkir rapi. Warna merahnya menyala, berani, kontras dengan kepribadian Zizi yang selama ini lebih banyak menahan diri. Pita besar terpasang di kap depan mobil itu.

Zizi berhenti di anak tangga terakhir. “Pa…” suaranya kecil. “Ini…?”

Rama berdiri di samping mobil, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Wajahnya tidak sepenuhnya tersenyum, namun ada kebanggaan yang jelas di balik tatapannya.

“Ini bukan hadiah untuk merayakan perceraianmu,” katanya pelan. “Ini hadiah untuk keberanianmu memulai hidup baru.”

Zizi terdiam. Hatinya bergetar pelan. Shinta berdiri tidak jauh di belakangnya, matanya lembut, basah, tetapi tersenyum.

“Kamu sudah terlalu lama mengemudi kehidupan orang lain,” lanjut Rama. “Sekarang… mengemudilah untuk dirimu sendiri.”

Rama lalu menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Zizi. Kunci kecil, tetapi terasa berat luar biasa di genggamannya. Zizi menatap benda itu, lalu menatap mobil merah di hadapannya. Di kaca spion, ia melihat pantulan dirinya: rambut lebih pendek, wajah tanpa beban lama, bukan lagi Zizi yang pulang dengan mata bengkak.

Perempuan itu menarik napas panjang.

“Terima kasih, Pa… Ma…” suaranya pecah tapi hangat. “Aku akan jaga kepercayaan ini.”

“Bukan mobilnya yang harus kau jaga,” sahut Shinta lembut. “Tapi dirimu.”

Zizi tersenyum—senyum yang benar-benar lahir, bukan dibuat. Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi. Aroma interior baru menyambutnya, wangi khas yang seolah mengatakan: selamat datang.

Tangannya menyentuh setir. Ada sensasi aneh—takut sekaligus berani.

Rama mencondongkan tubuh ke jendela. “Mulai hari ini,” ucapnya tenang, “kamu tidak lagi berjalan… kamu melaju.”

Mesin mobil dinyalakan. Suaranya halus, tapi menggema dalam dada Zizi. Di cermin, ia melihat matanya sendiri—bukan mata istri yang ditinggalkan, bukan perempuan yang disisihkan keluarga suami—melainkan seseorang yang sedang memilih dirinya.

Mobil merah itu meluncur keluar gerbang pelan-pelan. Senja belum datang, tapi Zizi tahu: hari-harinya yang lama telah selesai. Yang menyala kini bukan hanya cat mobilnya, tapi keberanian baru di dadanya.

.

Beberapa waktu lalu saat menunggu sidang perceraian, Zizi dengan bantuan Danu belajar bisnis.

Tidak pernah secara terang-terangan tampil di depan keluarga Zizi, tidak pula berdiri di ruang direksi. Ia hadir dengan cara lain, malam-malam panjang di kafe sepi, secangkir kopi yang mendingin, laptop terbuka, dan catatan yang berantakan.

“Ini arus kas,” ucap Danu sabar, jarinya menunjuk tabel di layar. “Jangan cuma lihat besar angka. Lihat cerita di baliknya. Perusahaan itu seperti manusia; kalau napasnya tersengal, kamu harus tahu kenapa.”

Zizi menopang dagu, memperhatikan sungguh-sungguh. “Kalau aku salah ambil keputusan?”

“Semua orang pernah salah,” jawab Danu tenang. “Yang penting kamu berani bertanggung jawab. Kamu bukan boneka yang dipajang di kursi direktur, Zi. Kamu pemimpin.”

Kata-kata itu menggema lama di kepalanya.

Danu mengajarinya membaca laporan laba rugi, menganalisis saham, menilai risiko investasi, hingga menghadapi tekanan psikologis di ruang rapat. Bukan dengan nada menggurui, melainkan seperti seseorang yang dengan tulus mendorong sayap yang mulai terbuka.

Kadang Zizi tertawa karena Danu menggambar diagram aneh di buku catatan. Kadang ia diam lama karena takut tidak mampu. Pernah sekali ia hampir menyerah.

“Aku tidak cocok,” ucapnya lirih. “Aku ini cuma… istri gagal.”

Danu menatapnya tajam saat itu. “Kamu bukan definisi dari kegagalan siapa pun. Kamu sedang menulis ulang hidupmu.”

Sejak saat itu, Zizi belajar lebih keras.

.

.

Ruang rapat utama berada di lantai paling atas gedung itu—tinggi, luas, berdinding kaca, memperlihatkan kota yang berdenyut tenang di bawah sana. Meja oval panjang mengilap, kursi-kursi kulit hitam teratur rapi, dan aroma kopi pahit menyatu dengan wangi kayu mahal. Para dewan direksi sudah duduk, sebagian saling berbisik, sebagian lagi berpura-pura sibuk membuka berkas.

Mereka tahu hari ini penting.

Namun mereka belum tahu, hari ini bukan hanya soal perusahaan.

Pintu terbuka.

Rama melangkah masuk terlebih dahulu—tenang, karismatik, aura pemimpin yang sudah puluhan tahun terbentuk. Di belakangnya, seorang perempuan muda mengikuti langkahnya. Untuk sesaat, ruangan itu senyap—hening yang tidak direncanakan, tapi muncul begitu saja.

Rambut perempuan itu kini pendek sebahu, dipotong rapi, memberi garis tegas pada rahangnya. Tidak ada lagi gaun lembut atau riasan malu-malu. Ia mengenakan setelan jas sederhana, elegan tanpa aksesori berlebihan. Tatapannya jernih, mantap, dan… asing bagi mereka yang pernah mengenalnya sebagai Zizi yang dulu.

Kini, ia tampak seperti seseorang yang telah melewati badai dan memilih untuk tidak kembali menjadi orang yang sama.

Rama berdiri di ujung meja. Suaranya berat, jelas.

“Terima kasih sudah hadir.”

Ia menatap satu per satu pria dan wanita yang duduk di hadapannya—direksi, orang-orang lama yang menyaksikan naik turunnya perusahaan. “Hari ini, saya tidak hanya membawa laporan bisnis. Saya membawa penerus.”

Semua pandangan serempak beralih pada perempuan itu.

Rama melanjutkan, lebih pelan namun penuh tekanan,

“Mulai hari ini, CEO perusahaan ini adalah… Dara.”

Perempuan itu melangkah maju.

Tidak ada lagi nama “Zizi” di hadapannya. Ia meninggalkannya di pengadilan, di rumah yang tidak lagi rumah, di tatapan suami yang tidak benar-benar melihatnya.

“Perkenalkan,” katanya, suaranya jernih dan stabil, “nama saya Dara Valencia.”

Beberapa direksi saling melirik. Ada yang terkejut. Ada yang meremehkan. Ada yang penasaran. Sebagian mengenal wajahnya samar—putri pemilik, yang dulu jarang muncul di kantor, lebih dikenal sebagai perempuan lembut yang sibuk dengan rumah tangga.

Tapi perempuan yang berdiri di depan mereka sekarang bukan orang itu.

Dara menatap lurus ke depan, bukan menantang, bukan pula merendah. Hanya yakin.

“Aku tidak datang untuk sekadar duduk di kursi atas,” lanjutnya. “Aku datang untuk bekerja. Untuk membawa perusahaan ini lebih jauh daripada sebelumnya. Pengalaman pribadiku mengajarkanku satu hal—bertahan itu penting, tapi berubah… lebih penting lagi.”

Kata-katanya menggema pelan di ruangan itu.

Beberapa dewan mengangguk.

Sebagian lain masih menyilangkan tangan, menilai.

Rama tersenyum tipis. Ada kebanggaan yang ia sembunyikan rapi. Ia tahu anaknya sudah bukan gadis yang dulu menangis diam-diam di kamar. Ia adalah perempuan yang berani mengganti nama sendiri dan menandai hidup baru tanpa meminta izin siapa pun.

Dara melanjutkan presentasi singkat—strategi, rencana ekspansi, sistem digitalisasi, investasi yang lebih agresif. Kata-katanya runtut, jelas, tanpa gemetar.

Setiap kalimatnya memotong keraguan.

Seorang direksi senior akhirnya angkat bicara.

“Nama boleh baru,” katanya hati-hati, “tapi perjalanan ini panjang. Bisakah Anda menjamin Anda akan bertahan?”

Dara tersenyum kecil.

“Tidak ada yang bisa menjamin masa depan,” ucapnya tenang. “Tapi saya bisa menjamin saya tidak akan lagi hidup setengah-setengah.”

Ia mengucapkannya bukan hanya pada direksi.

Tapi pada masa lalunya.

Pada Arman.

Pada pernikahan yang kini tinggal berkas pengadilan.

Pada gadis bernama Zizi yang dulu menunggu di rumah dingin tanpa suara.

Rapat berakhir dengan tepuk tangan yang awalnya ragu, lalu mantap. Tidak meriah, tapi cukup untuk mengukuhkan langkah pertama seorang CEO baru.

Keluar dari ruangan, Dara berhenti sejenak di depan dinding kaca.

Kota di bawah sana menyala.

Bukan lagi tempat yang menakutkan.

Melainkan medan tempur yang ia pilih sendiri.

.

.

.

Nah.... kalian para reader, pasti makin penasaran kan dengan cerita Dara. jangan lupa untuk tetap semangati author yang receh ini ya...

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!