Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KHSC
Keputusan Arjuna untuk mengizinkan Nareswari tidur di kamarnya terasa seperti ia telah menyerahkan sebuah benteng strategis kepada musuh. Kamar tidur utama itu adalah tempat perlindungan terakhirnya, ruang yang didesain untuk menjadi cerminan sempurna dari egonya: mewah, minimalis, dan sepenuhnya soliter.
Nares masuk dengan koper kainnya yang sederhana. Juna hanya mengawasi dari kursi malas di sudut ruangan, mengenakan jubah mandi sutra hitam, posturnya tegang.
“Kau bisa gunakan lemari yang ada di ujung,” kata Juna, suaranya kering. “Ada sofa besar di dekat jendela. Rio akan mengirimkan seprai baru besok, tapi untuk malam ini, gunakan saja selimut cadangan.”
“Terima kasih, Juna,” jawab Nares.
Nares mulai bekerja. Bukannya mengeluh, ia justru menunjukkan efisiensi yang senyap. Ia tidak mendekati lemari pakaian Juna yang tertutup kaca. Ia menemukan sudut yang sempurna di samping rak buku, meletakkan sajadah kecilnya, dan menata beberapa buku agama di atas nakas yang tidak terpakai. Sofa itu memang besar, tetapi Nares tidak memperlakukannya sebagai tempat tidur. Ia memperlakukannya sebagai tempat singgah.
Hal yang paling mengganggu Juna adalah aroma. Setelah Nares selesai merapikan, aroma eau de parfum mahal milik Juna yang mendominasi ruangan kini tercampur dengan aroma sabun yang sangat bersih, aroma teh herbal, dan sedikit aroma baby powder yang lembut dari tas kosmetik Nares. Ruangan itu tidak lagi berbau dirinya sendiri.
Juna mencoba mengabaikan Nares, berpura-pura membaca laporan di tablet. Tapi ia gagal.
Ketika Nares keluar dari kamar mandi, ia sudah mengenakan pakaian tidur yang sangat sopan: piyama katun longgar dengan lengan panjang. Ia tidak mencoba untuk menarik perhatian, yang ironisnya, justru menarik perhatian Juna sepenuhnya. Nares mematikan lampu besar, hanya menyisakan lampu tidur yang redup.
“Selamat malam, Juna,” bisik Nares dari sofa.
Juna hanya bergumam sebagai balasan.
Ia menutup matanya, berusaha tidur. Namun, ia tidak bisa. Ia terbiasa dengan keheningan mutlak. Malam itu, ia mendengar suara napas yang sangat pelan, teratur, di seberang ruangan. Kehadiran Nares adalah gelombang mikro yang mengganggu frekuensi ketenangan Juna. Ia terus-menerus sadar bahwa ia tidak sendirian. Keintiman paling sunyi dan paling menjengkelkan yang pernah ia rasakan.
***
Pukul empat pagi, Juna terbangun, bukan karena alarmnya, melainkan karena keheningan yang tiba-tiba terpecah.
Nares telah bangun. Ia tidak menyalakan lampu, tetapi cahaya rembulan yang masuk melalui jendela setinggi langit-langit cukup untuk Juna melihat siluet Nares. Nares mengambil wudhu di kamar mandi, dan tak lama kemudian, ia menggelar sajadahnya.
Juna berbaring, matanya tertutup rapat, mencoba tidur lagi. Tetapi suara Nares yang mengucapkan niat Shalat Subuh dengan suara pelan dan khusyuk, segera menarik perhatiannya.
Nares memulai shalat. Juna, seorang agnostik yang dibesarkan di lingkungan yang kaya tetapi sekuler, jarang menyaksikan ritual keagamaan sedekat ini. Ia mendengar alunan ayat-ayat pendek, suara sujud, dan heningnya duduk di antara dua sujud.
Ketika Nares mengucapkan do’a setelah shalat, Juna merasakan kehangatan yang merambat.
“Ya Allah, ya Tuhan kami, ampunilah dosa suamiku, Arjuna. Berkahilah pekerjaannya. Berikanlah ia ketenangan hati. Jagalah ia dari segala kesulitan. Dan berikanlah kami kekuatan untuk menjalankan amanah pernikahan ini, meskipun ia adalah kontrak, jadikanlah ia berkah bagi kami…”
Suara Nares begitu murni, do’anya begitu tulus, menyebut nama Juna dengan kerendahan hati. Juna merasa seperti disengat. Gadis ini, yang ia perlakukan seperti barang sewaan, setiap pagi mendoakannya. Do’a itu menusuk jauh ke dalam pertahanannya, membuat Juna merasa malu dan tak pantas.
Juna membuka mata sedikit, melihat Nares melipat sajadahnya. Nares tidak tahu Juna terbangun. Ia sama sekali tidak memanfaatkan momen itu untuk menarik perhatian Juna. Ia melakukannya murni karena keyakinannya.
Ketika Nares memasuki kamar mandi, Juna segera bangkit. Ia buru-buru mandi, mengenakan setelan jasnya. Ia harus melarikan diri dari ruangan ini, dari kehangatan yang mengancam ini.
Di meja sarapan, Juna hanya minum kopi. Rio, yang mengantar sarapan, melihat Juna tampak lebih tegang dari biasanya.
“Pak Juna, Anda terlihat… kurang tidur?” tanya Rio hati-hati.
“Aku hanya terbiasa tidur sendiri, Rio. Kehadiran orang lain di kamar itu mengganggu konsentrasiku,” jawab Juna dingin. Ia tidak ingin mengakui bahwa yang mengganggu bukan kebisingan, melainkan keintiman yang sunyi.
***
Nares kembali ke rutinitasnya di kampus. Hubungannya dengan Danu dan Lia membaik setelah ia menunjukkan hasil laporan yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa ia tidak memerlukan koneksi untuk unggul.
Namun, di tengah kesibukannya, Nares menerima telepon dari Bu Melati.
“Nares, sayang. Besok malam kita ada acara penting. Resepsi bisnis besar di hotel bintang lima. Itu akan menjadi penampilan resmi pertamamu sebagai Nyonya Bhaskara. Juna sudah menyetujuinya.”
Nares panik. Ia tidak punya gaun, ia tidak punya perhiasan, dan ia tidak tahu tata krama acara high society.
“Bu, saya… saya tidak punya baju. Saya tidak tahu harus pakai apa,” bisik Nares.
“Tenang, sayang. Ibu sudah menyiapkan semuanya. Penata busana dan penata rias akan datang ke apartemen sore ini. Jangan khawatir. Juna harus melihat betapa cantiknya istrimu.”
Nares menutup telepon. Ia merasa seperti boneka yang didandani untuk sebuah pertunjukan, di luar kehendak pribadinya. Ia kembali ke apartemen dengan perasaan tegang.
Saat ia memasuki kamar, ia melihat ada gaun mewah berwarna navy tergantung di lemari pakaian Juna—tepat di samping jubah mandi Juna. Itu adalah gaun yang sangat mahal, jauh dari kesederhanaan yang ia sukai.
***
Pukul lima sore, penata busana dan penata rias datang. Juna, anehnya, berada di apartemen. Ia sedang melakukan panggilan video di ruang kerjanya, tetapi Nares tahu, Juna mengawasi.
Penata busana, seorang wanita bernama Tania, mencoba membantu Nares mengenakan gaun itu. Gaun itu berbahan sutra, indah, tetapi memiliki potongan yang sedikit terbuka di bagian lengan dan leher, yang membuat Nares tidak nyaman.
“Mbak, saya minta maaf. Saya tidak bisa memakai gaun ini. Saya butuh yang lebih tertutup,” pinta Nares dengan sopan.
Tania panik. “Tapi Nyonya, ini gaun terbaik yang disiapkan Bu Melati! Ini gaun dari Paris!”
Suara perdebatan itu terdengar hingga ke ruang kerja Juna. Juna keluar, ekspresinya kesal.
“Ada apa ini?” tanya Juna tajam.
“Maaf, Juna. Gaun ini… terlalu terbuka. Aku tidak nyaman,” Nares menjelaskan, tangannya menutupi bagian leher.
Juna menatap gaun itu. Ia melihat ketidaknyamanan Nares yang tulus, bukan hanya pura-pura. Ia melihat wajah Nares yang polos, yang tidak cocok dengan gaun pesta yang berani.
“Tania, cari gaun yang lain. Yang tertutup, sesuai dengan gaya Nareswari,” perintah Juna, nadanya final. “Bukan karena aku konservatif. Tapi aku tidak ingin tamu-tamu berpikir Nareswari tidak memiliki harga diri.”
Tania bergegas mencari solusi. Juna menatap Nares, yang tampak lega.
“Terima kasih, Juna,” bisik Nares.
“Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuk nama baik Bhaskara,” balas Juna, kembali ke mode dingin.
Setelah Tania pergi, Nares kembali ke kamar. Ia harus berganti pakaian. Juna berdiri di dekat kamar mandi, memegang ponsel, pura-pura tidak melihat.
Nares sadar, ia harus berganti pakaian di kamar Juna, karena kamar tamunya sudah dikosongkan untuk tamu-tamu penting yang akan menginap. Tidak ada pilihan lain.
Nares masuk ke kamar mandi, tetapi ia lupa membawa handuk. Ia harus keluar sebentar.
“Juna,” panggil Nares dari ambang pintu kamar mandi, tubuhnya hanya dibalut jubah mandi. “Bisa tolong ambilkan handuk di lemari cadangan?”
Juna menoleh. Ia melihat Nares, wajahnya memerah karena malu, hanya berjarak beberapa langkah darinya. Juna, yang biasanya sangat mengendalikan diri, merasakan darahnya berdesir deras. Pemandangan itu, Nares yang malu dan rapuh, membuat bentengnya runtuh sesaat.
Juna berjalan perlahan ke lemari. Ia mengambil handuk tebal dan berjalan kembali. Ia menyerahkan handuk itu ke tangan Nares.
Saat tangan mereka bersentuhan—sentuhan singkat, lembut, dan tak terhindarkan—Juna merasakan sengatan listrik yang nyata. Sentuhan itu jauh lebih panas dan nyata daripada ciuman amarahnya di Bab 5. Nares segera menarik handuk dan buru-buru masuk ke kamar mandi.
Juna berdiri terpaku. Ia menatap tangannya. Ia baru saja merasakan kedekatan fisik yang tidak bersyarat, tanpa paksaan, tanpa kontrak. Itu adalah sentuhan yang tak bersalah, dan justru sentuhan itu yang menghancurkan kendalinya. Juna tiba-tiba menyadari, bahwa keintiman yang paling berbahaya bukanlah yang ia paksakan, tetapi yang ia temukan secara tak sengaja.
Malam itu, Juna kembali tidur dengan kesadaran penuh akan kehadiran Nares di seberang ruangan. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada laporan. Setiap tarikan napas Nares, setiap gerakan kecil Nares di sofa, terasa seperti guntur di telinganya.
Juna merasakan pagar yang ia bangun kini tidak hanya goyah, tetapi sudah roboh di beberapa bagian. Ia tidak tahu bagaimana cara membangunnya kembali, karena yang merobohkannya bukanlah serangan, melainkan ketulusan dan kehadiran yang murni. Ia adalah seorang pria yang terikat, bukan oleh janji suci, tetapi oleh suara do'a dan kehangatan handuk yang dibalutkan oleh istrinya.
***
Juna akhirnya menyerah. Ia pindah ke ruang kerjanya. Ia menatap layar monitor, tetapi pikirannya kosong. Ia mengambil ponsel, membuka pesan lama antara ia dan Nares.
Ia melihat pesan Nares yang menolak uangnya: “Aku tidak mau dibayar untuk melaksanakan ibadah.”
Ia melihat pesan Nares yang meminta izin tugas kampus: “Aku akan mencari taksi sekarang. Terima kasih atas izinnya.”
Juna menyadari, Nares tidak pernah menuntut. Ia hanya meminta ruang untuk menjadi dirinya sendiri, dan ia memenuhinya dengan kehangatan.
Juna mengambil kunci mobilnya lagi. Ia pergi ke tempat parkir dan duduk di mobilnya selama satu jam, menatap kosong ke luar. Ia tidak ingin kembali ke kamar itu, bukan karena ia membenci Nares, tetapi karena ia takut pada dirinya sendiri di hadapan Nares.
Ketika ia kembali pukul tiga pagi, ia melihat pintu kamarnya terbuka sedikit. Nares menyalakan lampu kecil di sudut, memastikan jalan masuk bagi Juna. Nares tertidur di sofa, tetapi ia tidak menutup pintu sepenuhnya.
Juna masuk, menutup pintu. Ia tidak membangunkan Nares. Ia hanya berdiri di samping sofa Nares. Ia melihat wajah damai Nares yang tidak pernah ia dapatkan dalam tidurnya sendiri.
Juna merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil kartu nama Larasati yang ia temukan terselip di jasnya dari pertemuan tadi. Juna menatap kartu nama itu lama, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil. Ia membuangnya ke tempat sampah.
Ia tidak kembali ke tempat tidurnya. Juna mengambil bantal dan selimut, dan tidur di lantai di seberang ruangan. Ia masih menjaga batas, tetapi ia tidak bisa lagi tidur di kamar itu tanpa keberadaan Nares.
Malam itu, Juna akhirnya tidur nyenyak, mendengarkan suara napas Nares.
Bersambung....