Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjun Bebas di Tengah Api
"Gedung ini tidak akan bertahan lima menit lagi!" teriak Zian di tengah suara alarm yang memekakkan telinga. Debu semen dan serpihan kaca beterbangan di koridor lantai 40.
Elara membantu ayahnya berdiri, sementara matanya melirik ke arah jendela besar yang retak. Di luar, siluet jet tempur F-18 terlihat memutar balik di cakrawala kota, bersiap untuk serangan pemungkas.
"Kael! Di mana titik ekstraksi?" Elara berteriak melalui komunikator yang terganggu statis.
"Tidak ada ekstraksi helikopter! Langit adalah zona larangan terbang!" sahut Kael dengan nada panik. "Tapi ada kabar baik. Aku meretas sistem pemeliharaan gedung. Di atap ada peluncur darurat untuk kapsul penyelamat pemadam kebakaran, tapi itu hanya muat untuk satu orang. Sisanya... kalian harus menggunakan parasut dasar laut yang ada di gudang darurat lantai ini!"
Zian menatap Elara. "Kau bawa Ayah ke kapsul itu. Aku dan Kael akan menyusul lewat jalur udara."
"Tidak, Zian! Kita pergi bersama!"
"Elara, tidak ada waktu untuk berdebat!" Zian menarik tangan Elara menuju gudang peralatan. Dia mendobrak pintu baja dan mengambil dua tas parasut taktis. "Ayahmu harus selamat. Dia adalah saksi kunci di pengadilan internasional nanti."
Rudal kedua menghantam. Kali ini lebih dekat, menghancurkan lantai 38. Lantai yang mereka pijak miring drastis, membuat meja-meja berat meluncur dan menghantam dinding.
Tristan, yang tadi terkapar, merayap di antara puing-puing. Wajah logamnya mengeluarkan percikan listrik. "Kalian... tidak akan... ke mana-mana..." rintihnya sambil mencoba mengangkat senjata laser tangannya.
Zian melepaskan tembakan presisi yang menghancurkan sirkuit di lengan Tristan, membungkam pria itu untuk sementara. "Cepat, Elara! Ke atap!"
Mereka berlari menaiki tangga darurat yang sudah mulai runtuh. Di atap, angin kencang menerjang. Elara memasukkan ayahnya ke dalam kapsul penyelamat berbentuk telur besi.
"Elara, janji padaku kau akan menyusul," kata ayahnya, matanya berkaca-kaca.
"Aku janji, Yah. Sampai jumpa di bawah," Elara menekan tombol peluncuran. Kapsul itu melesat keluar dari relnya, jatuh bebas sebelum parasut otomatisnya terbuka di ketinggian rendah.
Kini tinggal Elara dan Zian. Di langit, jet tempur mulai melepaskan rudal ketiga.
"Pakai parasutmu!" perintah Zian.
Mereka mengenakan tas parasut dengan kecepatan kilat. Elara menatap Zian, wajah pria itu kotor oleh jelaga namun matanya tetap setenang telaga.
"Jika kita tidak berhasil," bisik Elara.
"Kita akan berhasil," potong Zian. Dia meraih tangan Elara, menggenggamnya kuat. "Lompat dalam hitungan tiga. Satu... dua... TIGA!"
Mereka melompat dari ketinggian 200 meter tepat saat rudal menghantam puncak menara. Ledakan dahsyat di belakang mereka menciptakan gelombang panas yang mendorong mereka lebih jauh ke udara.
Pemandangan di bawah sangat kacau. Ribuan warga memenuhi jalanan, berteriak saat melihat gedung ikonik itu runtuh. Elara melihat parasutnya terbuka dengan sentakan keras. Dia melayang di antara gedung-gedung pencakar langit lainnya, menghindari tiang listrik dan baliho besar.
RATATATATA!
Tiba-tiba, tembakan senapan mesin terdengar dari bawah. Pasukan darat yang setia pada rezim Gedeon mulai menembaki mereka yang sedang melayang di udara.
"Zian! Mereka menembaki kita!"
Zian melepaskan tali parasutnya lebih awal saat berada di ketinggian sepuluh meter di atas sebuah truk militer yang sedang bergerak. Dia mendarat dengan keras di atas tenda truk, berguling, dan segera melumpuhkan pengemudinya.
Elara mendarat di atap sebuah kafe, segera mencabut pistolnya dan memberikan tembakan perlindungan bagi Zian.
"Kael! Kami di darat! Sektor 4, Jalan Boulevard!"
"Aku meluncur ke sana! Bertahanlah!"
Van kusam milik Kael muncul dari tikungan, menabrak barikade polisi dengan nekat. Pintu samping terbuka lebar. Zian melompat masuk, disusul oleh Elara yang melakukan salto dari atap kafe langsung ke dalam van yang sedang melaju.
"Jalan! Jalan!" teriak Elara.
Kael menginjak gas dalam-dalam. Di dalam van, Elara terengah-engah. Dia melihat ke arah jendela belakang. Gedung penyiaran itu kini tinggal kerangka yang terbakar, sebuah simbol dari runtuhnya tirani tua.
"Ayahmu mendarat dengan selamat di zona hijau. Rakyat melindunginya," kata Kael sambil memutar setir dengan liar menghindari blokade. "Tapi ada berita buruk. Militer terbelah. Perang saudara pecah di pinggiran kota. Pasukan yang mendukung kebenaran mulai bergerak menuju istana presiden."
Zian memeriksa lukanya, sebuah goresan peluru di lengan kiri. "Ini adalah kesempatan kita. Kita harus bergabung dengan pasukan pemberontak. Kita harus menangkap sisa dewan menteri sebelum mereka melarikan diri ke luar negeri."
Elara mengisi ulang magasin senjatanya. Dia menatap bayangannya di kaca van. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh luka, namun dia belum pernah merasa sehidup ini. Dia bukan lagi "Tentara Seksi" yang hanya menjadi objek fantasi; dia adalah simbol perlawanan.
"Zian," kata Elara pelan. "Madame X. Dia masih di kapal selam penyelamat tadi, kan?"
Zian mengangguk. "Kael sudah mengamankan koordinatnya. Dia ditahan oleh unit Phoenix yang tersisa di perairan internasional. Tapi ada sesuatu yang aneh. Data yang kau kirim dari pulau tadi... ada satu nama yang terus muncul sebagai penyandang dana rahasia."
Kael memunculkan dokumen itu di layar monitor van. "Nama kodenya adalah 'Orion'. Dan menurut pelacakan transaksi terakhir, Orion ada di dalam istana presiden saat ini."
Elara menyipitkan mata. "Jadi presiden kita sendiri adalah bagian dari Iron Sight?"
"Bukan bagian, Elara," sahut Kael. "Dia adalah pendirinya. Madame X hanyalah wajah publiknya."
Elara dan Zian saling berpandangan. Musuh yang mereka hadapi ternyata berada di puncak tertinggi kekuasaan negara mereka.
"Kita punya satu misi terakhir," kata Zian, suaranya berat dan penuh wibawa. "Kita masuk ke istana. Kita ambil kepala Orion."
"Bukan hanya kepalanya," tambah Elara. "Kita ambil negaranya kembali."
Van itu meluncur menembus asap dan api di jalanan ibu kota, menuju jantung kekuasaan yang kini sedang bergoyang. Revolusi telah dimulai, dan Elara Vanya siap untuk memimpin serangan terakhir.
Suara gemuruh rakyat yang menuntut keadilan terdengar seperti ombak pasang di luar pagar tinggi Istana Kepresidenan. Namun, di dalam gerbang baja itu, kesunyian yang mencekam menyelimuti taman-taman yang tertata rapi. Lampu-lampu sorot menyapu setiap jengkal tanah, mencari tanda-tanda penyusupan.
Elara Vanya merangkak di dalam saluran drainase bawah tanah, air setinggi lutut membasahi seragam taktis barunya. Di belakangnya, Zian dan tiga anggota elit Unit Phoenix yang tersisa bergerak tanpa suara.
"Kael, status?" bisik Zian ke mikrodifon di kerahnya.
"Gerbang elektronik di sektor Barat sudah kuacak selama tiga puluh detik. Kalian harus keluar dari saluran sekarang," sahut Kael dari pusat komando bergerak. "Ingat, Orion telah mengaktifkan 'Garda Hitam'—unit pengawal pribadi yang tidak terdaftar dalam militer resmi. Mereka memiliki instruksi untuk menembak siapa saja, termasuk menteri yang mencoba melarikan diri."