Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Tebasan Pembelah langit
Bai Ling yang baru sadar dari pingsannya perlahan membuka mata. Pandangannya langsung tertuju ke arah arena pelatihan, dan rasa keterkejutannya tak bisa ia sembunyikan. “Pertarungan macam apa ini…” gumamnya dengan wajah tegang.
Matanya menatap tajam ke arah Han Chuan yang tengah menangkis setiap pukulan dari Wan Ju dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat. Han Chuan, tunggu saja… saat konferensi Pemburu Iblis nanti, aku akan gunakan segala cara untuk membunuhmu, batinnya penuh amarah.
Sementara itu, di arena, dentuman keras kembali terdengar saat Han Chuan dan Wan Ju sama-sama terdorong mundur akibat benturan kekuatan mereka. Debu mengepul tinggi, dan tanah di sekitar mereka mulai retak karena tekanan energi yang dilepaskan.
“Hhh… Han Chuan,” ucap Wan Ju sambil mengatur napasnya yang berat, “kau berhasil membuatku semakin bersemangat. Sekarang, aku akan lebih serius.”
Tubuhnya mulai bergetar, dan suara gemuruh rendah terdengar dari dalam dirinya. “Penempaan Fondasi Dewa — Fondasi Api Neraka!”
Begitu kata-kata itu keluar, energi panas luar biasa meluap dari tubuhnya. Api merah di tangannya berubah menjadi api hitam yang berputar liar di sekitarnya. Dari balik tubuhnya, muncul bayangan besar menyerupai beruang raksasa bertanduk dua, seluruh tubuhnya terbakar api pekat berwarna hitam. Bayangan itu meraung keras sebelum menyatu ke dalam tubuh Wan Ju, membuat aura kekuatannya melonjak tajam.
Kini, di dahinya muncul tanduk kecil berwarna hitam, dan matanya memancarkan cahaya merah gelap. Udara di sekitar arena bergetar karena panas dan tekanan energi yang memancar dari tubuhnya.
“Lihat! Lihat itu!” teriak salah satu murid dari barisan penonton. “Senior Wan Ju sudah menggunakan kekuatan aslinya!”
“Benar! Itu Fondasi Api Neraka! Aku belum pernah melihatnya sebelumnya!” sahut yang lain dengan penuh semangat dan rasa takut bercampur kagum.
Han Chuan menatap perubahan fisik dan aura Wan Ju dengan terkejut. “Ternyata senior Wan Ju sudah mencapai Ranah Penempaan Fondasi… tidak heran kekuatannya terasa begitu berat,” gumamnya pelan. Ia kemudian mengeratkan genggaman pada pedangnya. “Kalau begitu, aku juga akan mengerahkan semua yang kumiliki.”
Belum sempat Han Chuan menyelesaikan kalimatnya, Wan Ju sudah menghilang dari pandangannya. Dalam sekejap, suara ledakan terdengar di depan Han Chuan.
Tinju besar berlapis api hitam meluncur ke arahnya. Han Chuan hanya punya waktu sepersekian detik untuk bereaksi. Ia segera mengangkat pedangnya, menahan serangan itu dengan sekuat tenaga.
Benturan keras membuat percikan api dan kilatan petir biru menyebar ke segala arah. Keduanya sama-sama terdorong mundur, tapi tubuh Han Chuan yang lebih ringan terhempas lebih jauh.
Belum sempat ia berdiri tegak, Wan Ju mengangkat kakinya dan menendang Han Chuan dengan keras di dada. DUARR! Tubuh Han Chuan terpental dan menabrak pohon besar di tepi arena hingga batang pohon itu retak.
“Han Chuan! Kau tidak apa-apa?!” teriak Xue Lin dari tepi arena, wajahnya panik.
Han Chuan mengusap darah di sudut bibirnya, lalu berdiri perlahan. “Tenang saja… aku masih baik-baik saja,” ucapnya sambil mengatur napas dan menatap lurus ke arah Wan Ju. Matanya kini memancarkan tekad yang kuat.
Wan Ju tersenyum tipis. “Kalau begitu bersiaplah… ini belum apa-apa!”
Kedua tangannya terangkat, dan api hitam mulai berputar di sekelilingnya seperti pusaran badai. “Teknik Fondasi — Pukulan Beruntun Api Neraka!”
Ia melangkah maju cepat, lalu menghantam udara berkali-kali. Dari setiap pukulannya, terbentuk gelombang tinju api hitam yang melesat secara beruntun.
Suara ledakan terdengar bertubi-tubi yang mengguncang arena. Setiap tinju energi yang dilepaskan meninggalkan jejak hitam membakar udara.
Namun Han Chuan tidak gentar. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas panjang, lalu membuka mata dengan sorot tajam.
“Baiklah, kalau begitu… lihat jurus ini!” teriaknya.
Han Chuan menancapkan kaki ke tanah, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Aura biru dengan garis-garis hitam berkilat muncul di sekeliling bilah pedangnya.
“Tebasan Musim Gugur!”
Dalam sekejap, ia mengayunkan pedang dengan kecepatan luar biasa. Setiap ayunan menciptakan bilah energi berbentuk setengah lingkaran yang berwarna biru tua dengan kilatan hitam di tepinya. Bilah-bilah itu melesat cepat dan menghantam tinju-tinju api hitam dari Wan Ju.
Benturan energi antara pedang biru dan tinju api hitam menimbulkan ledakan besar. Gelombang energi bercampur antara panas dan listrik menyebar luas, membuat tanah berguncang hebat.
Para murid menutup mata dari hembusan angin panas yang menyengat kulit. Sebagian bahkan terpaksa mundur beberapa langkah. Dari tengah kepulan asap tebal, dua sosok terlihat masih berdiri Han Chuan dengan pedangnya yang bergetar karena benturan, dan Wan Ju dengan tangan yang masih menyala api hitam.
Keduanya kini benar-benar bertarung dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki.
“Hebat, hebat! Hahaha! Sangat hebat, Han Chuan! Tapi ini belum seberapa!” teriak Wan Ju dengan suara keras sambil mengepalkan kedua tangannya. Aura panas kembali memancar dari tubuhnya, dan aliran energi spiritual deras masuk ke dalam meridiannya.
“Teknik Fondasi — Pukulan Penghancur!”Suara ledakan keras menggema, dan seketika tangan raksasa berwarna hitam terbentuk di udara di atas kepalanya. Tangan itu berputar cepat, memadat dari api dan energi murni, lalu melesat ke arah Han Chuan seperti meteor jatuh
Angin kencang menyapu arena, membuat murid-murid di sekitar terpaksa menutup mata dan mundur.
Han Chuan menatap tangan raksasa itu dengan sorot mata tenang. Ia tidak bergeming, hanya perlahan mengangkat pedangnya dan menggenggam gagangnya dengan kedua tangan. Tubuhnya dipenuhi energi spiritual yang berputar deras di dalam.
Di ruang kesadarannya, bola cahaya berwarna biru yang biasanya redup kini bersinar jauh lebih terang. Energi besar memancar darinya, mengalir deras ke seluruh meridian Han Chuan hingga aura biru pekat menyelimuti tubuhnya.
Han Chuan menarik napas dalam-dalam, uap panas keluar dari mulutnya ketika ia menghembuskan napas. Genggaman tangannya pada pedang semakin kuat. “Teknik Rahasia — Lukisan Dalam Pedang: Tebasan Pembelah Langit!”
Ia berteriak keras sambil melangkah maju. Pedangnya terangkat tinggi, lalu ditebaskan ke depan dengan seluruh kekuatan dan fokus yang dimilikinya.
Dari ayunan pedang itu, muncul tebasan energi raksasa yang membelah tanah tempat ia berdiri. Warna tebasan itu kuning keemasan, namun di dalamnya terdapat bercak-bercak hitam seperti tinta yang hidup, berputar di sekeliling bilah energi tersebut.Tebasan itu menghantam langsung tangan raksasa hitam milik Wan Ju.
Benturan energi dan teknik mereka menghasilkan gelombang ledakan besar yang mengguncang seluruh arena. Cahaya kuning dan hitam saling bertabrakan, menciptakan pusaran energi yang menelan tanah di sekitar. Udara mendesis panas, dan sebagian batu di arena mulai terangkat karena tekanan spiritual.
Namun, perlahan-lahan, tebasan milik Han Chuan mulai mendominasi. Suara retakan terdengar dari tangan raksasa hitam milik Wan Ju, sebelum akhirnya meledak berkeping-keping dan lenyap menjadi abu hitam.
Serangan Han Chuan tidak berhenti di situ tebasan energi itu terus meluncur maju, menembus udara dan melesat lurus ke arah Wan Ju yang berdiri di tengah kepulan asap.
Wan Ju terkejut, matanya membelalak. Ia mencoba mengangkat tangannya untuk menahan serangan itu, tapi kekuatannya tidak cukup. “Tch—tidak sempat…!” gumamnya.
Serangan Han Chuan pun menghantamnya dengan keras. Tubuh Wan Ju terpental jauh ke belakang, menghantam batu besar di tepi arena hingga retak. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, sementara aura api hitam yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya mulai memudar.
Arena sunyi sesaat. Hanya suara angin dan debu yang berputar pelan di sekitar Han Chuan yang masih berdiri tegap, pedangnya tertancap ke tanah, dan matanya menatap lurus ke arah Wan Ju yang terbaring di kejauhan.
Suara bisikan kagum mulai terdengar di antara para murid.
“Itu… itu benar-benar kekuatan dari teknik rahasia Lukisan Dalam Pedang milik Han Chuan…”
“Dia berhasil mengalahkan senior Wan Ju yang sudah mencapai Ranah Penempaan Fondasi…”
Han Chuan mengatur napasnya perlahan. Pedangnya masih bergetar halus karena sisa energi yang belum reda. dan perlahan lahan dia terhuyung dan terduduk lemah sambil mengatur nafas nya.
Sementara itu, Wan Ju yang duduk bersandar pada batu besar perlahan tersenyum sambil menghapus darah di bibirnya. “Haha… luar biasa, Han Chuan. Sepertinya akademi kita benar-benar melahirkan monster baru.”