Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: REKAMAN PENGAKUAN
Malam di perbukitan Kota A tidak pernah benar-benar tenang bagi mereka yang membawa beban dendam di pundaknya. Di dalam ruang kerja pribadi Arlan Syailendra yang terletak di menara barat kediamannya, suasana terasa begitu steril dan mencekam.
Ruangan itu didominasi oleh teknologi mutakhir; dinding-dindingnya dilapisi panel kedap suara kelas militer, sementara di tengah ruangan, sebuah meja konsol berbentuk melengkung menampilkan deretan monitor holografik yang memancarkan cahaya biru elektrik, menyinari wajah Alana yang tampak seperti pahatan es.
Alana duduk tegak, tangannya yang ramping mencengkeram pinggiran meja hingga buku-bukunya memutih. Di telinganya terpasang headset profesional yang mampu menangkap frekuensi suara terkecil sekalipun.
Di belakangnya, Arlan berdiri tegak. Pria itu tidak memakai jas, hanya kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memancarkan aura predator yang sedang mengawasi wilayahnya.
Salah satu tangannya bersandar pada sandaran kursi Alana, sebuah gestur yang secara tidak sadar menunjukkan kepemilikan dan perlindungan mutlak.
Lukas, putra kecilnya yang jenius, duduk di kursi tinggi di samping Alana. Wajah bocah itu tidak menunjukkan ketakutan, melainkan fokus yang luar biasa. Jari-jarinya menari dengan ritme yang stabil di atas tablet transparan, menjernihkan gelombang audio yang dikirimkan oleh alat penyadap mikro yang ia tanam di bawah jok kulit Maybach milik Adrian saat keributan di Gala tadi.
"Sinyal telah distabilkan, Mummy. Aku sudah membuang noise dari suara mesin dan angin. Kita memiliki akses audio langsung dari kabin mobil mereka," bisik Lukas dengan nada datar namun penuh pencapaian.
Alana mengangguk pelan. "Putar, Lukas."
Suara statis terdengar sejenak, sebuah desis yang diikuti oleh bunyi mesin Maybach yang meraung keras, menandakan bahwa Adrian sedang melarikan mobilnya dengan kecepatan yang berbahaya.
Tak lama kemudian, suara napas yang terengah-engah dan isak tangis yang tertahan mulai terdengar. Itu adalah suara Sisca.
"KAU LIHAT MATANYA, ADRIAN?! KAU LIHAT KALUNG ITU?!" Suara Sisca pecah, melengking dengan nada histrionik yang hampir mencapai kegilaan. "Itu dia! Demi Tuhan, itu Aura! Dia kembali dari kubur untuk menjemput kita!"
"DIAM, SISCA! TUTUP MULUTMU SEBELUM AKU MENAMPARMU!" Suara Adrian menggelegar melalui headset, begitu keras hingga Alana harus sedikit menjauhkan telinganya. Terdengar bunyi hantaman keras, kemungkinan Adrian memukul setir mobil karena frustrasi yang memuncak.
"Kau sudah membuat kita menjadi bahan tertawaan di seluruh Gala! Kau menghancurkan reputasi yang kubangun selama lima tahun hanya dalam lima menit dengan akting gila-mu itu!"
"REPUTASI?! KAU MASIH MEMIKIRKAN REPUTASI?!" Sisca tertawa histeris, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kaca pecah.
"Dia menatapku seolah dia tahu segalanya! Dia memakai liontin lotus perak itu—liontin yang sama yang kau paksa aku ambil dari lehernya saat dia menangis memohon nyawa di pinggir jurang itu! Adrian, bagaimana mungkin seorang dokter asing dari luar negeri tahu tentang rem mobil yang diputus? Bagaimana mungkin dia tahu jika itu bukan dia?!"
Alana memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut Sisca terasa seperti kilat yang menyambar ingatan gelapnya. Ia seolah kembali ke malam itu, merasakan bau aspal basah, dinginnya hujan, dan rasa sakit yang luar biasa saat mobilnya kehilangan kendali.
Di dalam rekaman, suara Adrian merendah, berubah menjadi desisan ular yang penuh racun. "Dengar baik-baik, Sisca. Aku sendiri yang memotong kabel rem itu di garasi rumah kita malam itu. Aku memastikan remnya akan blong tepat saat dia mencapai turunan tajam di jalur perbukitan. Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari jatuh sedalam tiga ratus meter ke dasar sungai yang berbatu. Dia sudah mati! Kau mengerti? Aura sudah membusuk di dasar jurang!"
"Lalu siapa wanita itu, Adrian? Siapa?!" Sisca meratap, suaranya kini dipenuhi keputusasaan.
"Mungkin dia kerabat jauh, atau mungkin orang yang diupah oleh musuh bisnis kita untuk menjatuhkan Mahendra Group. Siapa pun dia, dia hanya manusia. Dan jika dia benar-benar mencoba mengusik kita dengan dongeng tentang masa lalu, aku akan memastikan dia menyusul Aura lebih cepat dari yang dia bayangkan."
Rekaman itu terus berlanjut, membongkar bagaimana mereka berdua merencanakan pembersihan jejak, termasuk menyuap polisi setempat untuk menutup kasus kecelakaan itu sebagai "kecelakaan tunggal akibat cuaca buruk".
Mereka bahkan mendiskusikan bagaimana mereka merayakan "kematian" Aura dengan membuka botol wine termahal hanya beberapa jam setelah mobil Aura jatuh.
Arlan, yang mendengarkan melalui speaker tambahan, merasakan amarah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah Alana, melihat bagaimana wanita itu gemetar karena kemarahan yang tertahan.
Arlan meletakkan tangannya di atas tangan Alana yang mengepal di meja, meremasnya dengan tekanan yang stabil—seolah ingin mengatakan bahwa ia ada di sana untuk menanggung beban itu bersama-sama.
Alana membuka matanya.
Tatapannya kini tidak lagi menunjukkan kesedihan, melainkan kegelapan yang murni dan tak berdasar. Ia melepas headset-nya dengan gerakan perlahan dan tenang, namun ketenangan itu lebih menakutkan daripada teriakan Sisca di rekaman tadi.
"Lima tahun," bisik Alana, suaranya begitu rendah hingga Arlan harus membungkuk untuk mendengarnya. "Selama lima tahun aku bertanya-tanya, apakah ada sedikit saja penyesalan di hati Adrian saat ia melihat mobilku terjun. Dan malam ini, aku mendapatkan jawabannya. Dia tidak hanya tidak menyesal, dia bangga akan perbuatannya."
Arlan menarik kursi Alana agar menghadapnya. Ia berlutut di depan wanita itu, menatap langsung ke dalam matanya yang jernih namun penuh api. "Kau memiliki segalanya sekarang, Alana. Rekaman ini adalah bukti hukum yang tak terbantahkan. Dengan satu panggilan telepon dariku, Adrian dan Sisca akan dijemput oleh unit taktis besok pagi. Mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka di sel isolasi."
Alana menggelengkan kepalanya perlahan. Sebuah senyuman tipis yang dingin tersungging di bibirnya. "Penjara terlalu mewah untuk mereka, Arlan. Jika mereka dipenjara sekarang, mereka akan dianggap sebagai korban dari konspirasi bisnis. Mereka akan tetap memiliki pengacara terbaik, martabat mereka mungkin akan dipertahankan oleh beberapa pengikut setianya."
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Arlan, suaranya berat dengan rasa ingin tahu.
"Aku ingin kehancuran total," jawab Alana. "Aku ingin Adrian melihat Mahendra Group hancur berkeping-keping, melihat semua hartanya disita, melihat namanya dihina oleh setiap orang di kota ini.
Aku ingin dia merangkak di jalanan, kelaparan dan tak punya tempat tinggal. Dan untuk Sisca... aku ingin dia tetap hidup dalam kegilaannya, dihantui oleh bayanganku setiap kali dia menutup mata, sampai dia sendiri yang memohon padaku untuk mengakhiri hidupnya."
Arlan menatap Alana dengan kekaguman yang dalam. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan wanita yang terluka, tapi dengan seorang arsitek pembalasan dendam yang paling cerdas yang pernah ia temui.
"Seorang permaisuri memang tidak mencari keadilan di tangan orang lain; dia menciptakannya sendiri. Baiklah, Alana. Aku akan menjadi pedang dan perisaimu. Mahendra Group akan mulai goyah besok pagi. Aku akan memastikan bank-bank utama menarik dukungan mereka."
Lukas tiba-tiba berdehem, menarik perhatian kedua orang dewasa itu. "Mummy, Paman Arlan... ada satu bagian lagi yang harus kalian dengar. Ini terjadi tepat sebelum mereka keluar dari mobil."
Lukas memutar bagian akhir rekaman.
"...Dan Adrian, jangan lupakan Proyek Teratai," suara Sisca terdengar lebih tenang namun licik. "Jika Dr. Alana itu memang dikirim oleh orang-orang dari masa lalu kakekmu, dia mungkin tahu tentang rahasia di balik laboratorium bawah tanah di vila lama. Itulah alasan sebenarnya kakekmu memberikan kode enkripsi warisan itu pada Aura, bukan padamu. Ada sesuatu di sana yang jauh lebih berharga daripada seluruh saham Mahendra Group."
"Aku tahu, Sisca! Aku sedang mencari cara untuk membobol brankas itu selama lima tahun! Jika aku mendapatkan formula 'Teratai' itu, Syailendra Group pun tidak akan bisa menyentuhku!" Suara Adrian berakhir dengan tawa dingin sebelum rekaman benar-benar mati.
Ruangan itu kembali hening. Alana dan Arlan saling berpandangan. Nama itu—Proyek Teratai—seolah-olah membuka lembaran misteri baru yang jauh lebih besar dari sekadar pengkhianatan rumah tangga.
"Laboratorium bawah tanah? Formula?" Alana mengerutkan kening. "Kakek tidak pernah memberitahuku apa pun tentang proyek sains. Dia hanya bilang itu adalah warisan untuk masa depan anak-anakku."
Arlan berdiri, wajahnya kembali menjadi kaku dan serius. "Sepertinya kakekmu bukan sekadar pengusaha, Alana. Mahendra Group mungkin hanyalah kedok untuk sesuatu yang jauh lebih besar di dunia medis atau teknologi. Itulah sebabnya Adrian begitu terobsesi untuk melenyapkanmu. Dia tidak hanya menginginkan uang; dia menginginkan kekuatan yang bisa mengubah tatanan dunia."
Arlan berjalan menuju jendela besar, menatap cakrawala Kota A yang mulai diterangi cahaya fajar yang pucat. "Permainan ini baru saja berubah, Alana. Sekarang ini bukan hanya tentang balas dendam pribadi. Ini adalah tentang melindungi rahasia yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan banyak nyawa. Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan Adrian menyentuh Proyek Teratai itu."
Alana berdiri, menghampiri Arlan di jendela. Ia menatap pantulan dirinya dan Arlan di kaca—dua orang yang berbeda, namun kini terikat oleh takdir dan musuh yang sama. "Besok, serangan pertama akan dimulai," bisik Alana. "Dan aku akan memastikan bahwa 'Teratai' ini akan tumbuh subur di atas reruntuhan Mahendra Group."
Malam itu berakhir dengan aliansi yang semakin solid. Di balik kemewahan kediaman Syailendra, sebuah rencana besar telah matang. Alana, sang Permaisuri yang Terlupakan, kini telah memegang kartu as di tangannya, siap untuk memainkan langkah skakmat yang akan mengubah sejarah Kota A selamanya.