NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pertemuan tak sengaja dengan musuh lama

Pertemuan tak sengaja dengan musuh lama di tempat yang seharusnya menjadi perlindungan rahasia ini membuat nyali Anindira kembali menciut. Suara decit ban mobil yang beradu dengan kerikil tajam di halaman vila terdengar seperti suara lonceng kematian. Anindira segera menarik Arkan ke balik punggungnya sambil menatap pintu gerbang besi yang kini mulai terbuka perlahan.

Sesosok pria dengan setelan jas abu-abu turun dari mobil mewah yang nampak sangat asing bagi lingkungan pegunungan yang sunyi ini. Wajah pria itu terlihat sangat kaku dengan garis rahang yang keras, mengingatkan Anindira pada sosok yang dulu pernah menghancurkan martabatnya. Ia adalah Reno, pria yang lima tahun lalu menjadi kaki tangan ayahnya untuk memastikan Anindira benar benar lenyap dari kota ini.

"Tuan Reno? Bagaimana Anda bisa menemukan tempat tersembunyi milik keluarga Adiguna ini?" tanya penjaga keamanan dengan suara yang sangat gemetar.

"Aku memiliki mata di setiap sudut kota ini, dan tidak ada satu pun rahasia yang bisa disembunyikan dariku," jawab Reno sambil melangkah masuk dengan penuh keangkuhan.

Anindira merasa kakinya seperti terpaku pada lantai teras saat melihat Reno mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru vila. Ia segera mengajak Arkan masuk ke dalam ruang tengah dan bersembunyi di balik pilar besar yang dilapisi kain beludru tebal. Peluh dingin mulai mengalir di pelipisnya karena ia tahu Reno adalah orang yang sangat teliti dan memiliki ingatan yang sangat kuat.

Di sisi lain, Devan melangkah maju untuk menghadang pergerakan Reno yang nampak sangat tidak sopan sebagai tamu yang tidak diundang. Aura permusuhan di antara kedua pria itu meledak seketika hingga membuat suasana di sekitar mereka menjadi sangat panas. Devan mengepalkan tangannya di samping tubuh sambil menatap tajam ke arah mata Reno yang nampak sangat licik.

"Apa tujuanmu datang ke sini tanpa izin resmi dari kantor pusat, Reno?" tanya Devan dengan nada bicara yang penuh dengan ancaman.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa sepupuku tidak sedang menyembunyikan sesuatu yang bisa membahayakan posisi ayahmu, Devan," balas Reno sambil menyeringai tipis.

Reno terus berjalan mendekat ke arah pintu utama vila, membuat jantung Anindira berdegup kencang hingga ia kesulitan untuk bernapas. Ia bisa mendengar suara derap langkah kaki Reno yang semakin dekat dengan posisi persembunyiannya bersama Arkan yang mulai merasa takut. Arkan memeluk kaki ibunya dengan sangat erat sementara Anindira mencoba menutupi mulut putranya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Anindira memejamkan mata rapat rapat sambil berdoa agar Tuhan memberikan keajaiban untuk melindunginya dari tatapan pria kejam itu. Ia teringat bagaimana Reno menyeretnya keluar dari rumah besar lima tahun lalu tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri. Luka lama itu kini seolah terbuka kembali dan mengeluarkan rasa sakit yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya.

"Ada aroma yang sangat familiar di dalam ruangan ini, seolah ada seseorang yang sudah lama hilang kembali muncul di sini," gumam Reno sambil berhenti tepat di depan pilar persembunyian Anindira.

"Jangan pernah mencoba untuk mengendus urusan pribadi saya jika Anda masih ingin tetap memiliki jabatan di perusahaan itu," tegur Devan dengan suara yang sangat menggelegar.

Devan segera menarik lengan Reno untuk menjauh dari area ruang tengah dan membawanya menuju ruang kerja pribadi yang berada di lantai atas. Anindira akhirnya bisa mengembuskan napas lega meski tubuhnya masih gemetar hebat akibat trauma yang kembali menyerang mentalnya secara mendadak. Ia menyadari bahwa kehadirannya di vila ini sudah tidak lagi aman karena keberadaan Reno yang nampak mulai mencurigai sesuatu.

Ia segera mengemasi barang barang miliknya dan berniat untuk mencari jalan keluar lain melalui pintu belakang vila yang menuju ke arah hutan. Namun, Arkan tiba tiba saja berteriak karena melihat seekor laba laba besar yang hinggap di ujung sepatunya yang berwarna biru. Suara teriakan Arkan bergema di seluruh ruangan yang sangat sunyi itu, memicu perhatian dari orang orang yang berada di lantai atas.

"Siapa yang berteriak di bawah sana? Suaranya terdengar seperti suara anak kecil yang sangat ketakutan," tanya Reno dengan nada penuh selidik yang sangat tajam.

"Itu hanya suara dari siaran televisi yang sedang ditonton oleh asisten saya untuk menghibur diri," dusta Devan sambil mencoba menutupi kegelisahannya.

Anindira segera membungkam mulut Arkan dan membawanya lari menuju area dapur yang memiliki akses langsung menuju gudang penyimpanan bahan makanan. Ia merasa seolah sedang dikejar oleh hantu masa lalu yang ingin menyeretnya kembali ke dalam kegelapan yang abadi. Di dalam gudang yang gelap, Anindira mencoba mencari kunci pintu darurat yang biasanya diletakkan di dekat rak besi yang sudah berkarat.

Setelah meraba raba dalam kegelapan, ia akhirnya menemukan sebuah kunci besar yang nampak sudah sangat tua dan penuh dengan debu tebal. Ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang pintu dan memutarnya dengan sekuat tenaga hingga terdengar suara dentuman logam yang cukup keras. Pintu itu terbuka sedikit dan menyingkap jalan setapak yang ditutupi oleh semak belukar yang sangat rimbun dan sangat liar.

"Ayo sayang, kita harus segera pergi dari sini sebelum pria jahat itu menemukan kita di dalam ruangan ini," bisik Anindira dengan penuh perasaan haru.

Mereka mulai berjalan menembus rimbunnya pepohonan pegunungan yang mulai tertutup oleh kabut tipis di sore hari yang sangat dingin. Anindira tidak peduli lagi dengan rasa pegal di kakinya karena ia hanya ingin menyelamatkan Arkan dari cengkeraman keluarga Adiguna yang haus akan darah. Namun, ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan pelarian mereka dari kejauhan menggunakan teropong jarak jauh yang sangat canggih.

Seseorang itu tersenyum puas sambil mencatat koordinat lokasi Anindira melalui perangkat komunikasi yang terhubung langsung ke markas rahasia milik Sarah. Ternyata, Reno hanyalah umpan yang sengaja dikirimkan untuk memancing Anindira keluar dari tempat persembunyiannya yang selama ini sangat sulit untuk ditembus. Anindira yang berbeda kini harus berjuang melawan rencana jahat yang jauh lebih sistematis daripada sekadar pengusiran fisik di masa lalu.

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!