NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Malam berikutnya turun tanpa hujan, tanpa angin, tanpa suara yang berarti. Kota Qinghe tampak damai terlalu damai seolah dunia menahan napas.

Di lantai atas Toko Obat Feng Ling, Yun Ma duduk bersila. Lilin tidak dinyalakan. Ia tidak membutuhkannya. Sejak Api Sunyi bersemi di dalam dirinya, kegelapan bukan lagi sesuatu yang menekan. Justru keheningan lah yang menjadi wadah paling jujur.

Ia menutup mata.

Ruang dimensi menyambutnya seperti biasa langit perak, tanah hitam namun malam ini terasa berbeda. Tidak berat, tidak ringan. Tegang.

Shen Yu sudah berdiri di tengah ruang, kedua tangan terlipat di balik jubah hitamnya.

“Kau datang lebih cepat,” katanya.

“Ada sesuatu yang menggangguku,” jawab Yun Ma jujur.

“Pria tua itu?” tanya Shen Yu

Yun Ma mengangguk. “Tatapannya bukan tatapan orang yang kebetulan lewat.”

“Karena ia tidak kebetulan,” ujar Shen Yu. “Ia bernama Mo Zhen.”

Yun Ma terkejut. “Kau mengenalnya?”

“Tidak secara pribadi,” jawab Shen Yu. “Namun namanya tercatat dalam era yang seharusnya sudah mati.”

Shen Yu mengangkat tangannya, dan udara bergetar. Sebuah bayangan muncul lukisan kuno seorang tabib berjubah abu-abu dengan mata tajam seperti elang.

“Mo Zhen adalah tabib sekaligus penenun sumpah. Ia berjalan di antara sekte dan istana, mengikat perjanjian yang bahkan langit tidak berani langgar.”

Yun Ma mengerutkan kening. “Kenapa orang seperti itu ada di Kota Qinghe?”

“Karena Api Sunyi bangkit,” jawab Shen Yu tanpa ragu. “Dan dunia lama… mulai terbangun.”

Yun Ma mengepalkan tangan. “Aku tidak memanggil mereka.”

“Api tidak perlu undangan untuk membakar,” balas Shen Yu datar. “Namun kau belum siap untuk diperhatikan.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

Shen Yu menatapnya lama. “Kau harus belajar menyembunyikan api tanpa memadamkannya.”

Ia mengangkat satu jari.

Benang Api Sunyi muncul tipis, tak terlihat, namun Yun Ma bisa merasakannya seperti serat halus yang berdenyut pelan di ujung kesadarannya.

“Benang ini,” kata Shen Yu, “bisa mengikat niat. Malam ini, kau akan belajar mengikat dirimu sendiri.”

Yun Ma tertegun. “Mengikat… diriku?”

“Ya,” jawab Shen Yu. “Setiap manusia memancarkan kehendak. Api Sunyi memperjelasnya. Jika kau tidak menahannya, orang-orang seperti Mo Zhen akan terus menemukannya.”

Shen Yu menggerakkan jari, dan tiba-tiba Yun Ma merasa dadanya terbuka bukan secara fisik, tapi seperti lapisan pelindung yang disingkap.

Ia merasakan dirinya.

Bukan tubuhnya.

Dirinya.

Semua tekad, ketakutan, amarah, keinginan hidup terlihat jelas, telanjang.

“Sekarang,” perintah Shen Yu, “ikat itu.”

Yun Ma menggertakkan gigi. Ia mengendalikan benang Api Sunyi, mengarahkannya ke dalam melilit kehendaknya sendiri.

Rasa sakit tidak datang.

Yang datang justru… ketakutan.

Jika ia mengikat terlalu kuat, ia akan kembali kosong.

Jika terlalu longgar, dunia akan melihatnya.

Tangannya gemetar.

“Jangan ragu,” suara Shen Yu terdengar dekat. “Api Sunyi tunduk pada keputusan, bukan emosi.”

Yun Ma menarik napas panjang.

Ia tidak menekan.

Ia tidak menarik.

Ia menyepakati.

Benang itu melilit lembut, seperti simpul yang dibuat untuk bertahan, bukan mengekang.

Udara di sekitarnya langsung berubah.

Tekanan menghilang.

Kehadirannya… memudar.

Shen Yu mengangguk pelan. “Bagus. Mulai sekarang, kau akan terlihat seperti manusia biasa.”

Yun Ma membuka mata. “Dan di dalam?”

“Di dalam,” Shen Yu menatapnya, “kau tetap api.”

Beberapa hari berikutnya berlalu tenang terlalu tenang.

Namun ketenangan itu pecah pada pagi ketujuh.

Seorang utusan istana tiba di Kota Qinghe.

Ia datang dengan pakaian resmi, segel kekaisaran tergantung di pinggang. Warga berkumpul, berbisik-bisik.

Ayin pucat saat melihat lambang itu.

“Nona… itu…”

“Aku tahu,” jawab Yun Ma tenang. “Tenang saja.”

Utusan itu masuk ke Toko Obat Feng Ling dengan langkah terukur. Matanya menyapu ruangan, berhenti pada Yun Ma.

“Apakah Nona pemilik toko ini?” tanyanya sopan, namun kaku.

“Benar,” jawab Yun Ma.

“Kami mencari tabib yang mampu meracik penenang jiwa tingkat tinggi,” lanjutnya. “Atas perintah… keluarga Gu.”

Nama itu jatuh seperti batu ke air tenang.

Ayin menahan napas.

Yun Ma tersenyum tipis. “Keluarga Gu?”

“Ya. Putra Jenderal Gu mengalami gangguan tidur dan amukan batin yang parah,” kata utusan itu. “Tabib istana tidak mampu.”

Yun Ma menunduk sejenak. Ia tahu.

Gu Changfeng.

“Banyak tabib hebat di ibu kota,” katanya tenang. “Kenapa sampai ke kota kecil ini?”

Utusan itu ragu sesaat. “Atas rekomendasi… tabib kelana Mo Zhen.”

Shen Yu mendengus dingin di dalam kesadarannya.

“Jika Nona berkenan,” lanjut utusan itu, “Anda diundang ke ibu kota. Dengan imbalan yang pantas.”

Toko itu sunyi.

Yun Ma mengangkat wajahnya. “Aku akan mempertimbangkannya.”

Malam itu, ruang dimensi bergolak.

“Kau tidak boleh pergi,” kata Shen Yu tanpa basa-basi.

“Aku tahu,” jawab Yun Ma. “Tapi aku juga tahu ini bukan kebetulan.”

“Kau belum siap menghadapi mereka,” ujar Shen Yu.

Yun Ma menatapnya. “Aku tidak berniat menghadapi. Aku berniat melihat.”

Melihat apa yang tersisa.

Melihat apakah hatinya benar-benar sudah menjadi abu.

Shen Yu terdiam lama.

Akhirnya ia berkata, “Jika kau pergi, kau akan berada di pusat takdir lama.”

“Dan mungkin,” sambungnya pelan, “Api Sunyi-mu akan diuji.”

Yun Ma tersenyum tipis. “Bukankah itu yang selalu kau lakukan?”

Shen Yu menatapnya, lalu mengangguk. “Baik. Tapi kau tidak pergi sebagai Yun Mailan.”

“Lalu sebagai siapa?”

Shen Yu mengangkat tangan. Cahaya perak gelap berputar, membungkus Yun Ma.

Nama berpendar di udara.

Yun Zhi.

“Mulai sekarang,” kata Shen Yu, “kau adalah tabib kelana bernama Yun Zhi. Tak ada masa lalu. Tak ada paviliun. Tak ada api.”

“Dan Api Sunyi?”

Shen Yu tersenyum tipis nyaris tak terlihat. “Ia akan tidur. Tapi tidak mati.”

Di ibu kota, Gu Changfeng berdiri di balkon kediamannya.

Tidurnya kembali dihantui api.

Namun kali ini, tidak ada jeritan.

Yang ada hanya… sepasang mata tenang, menatapnya dari balik nyala yang tidak ada.

Ia terbangun dengan dada sesak.

“Yun Mailan…” bisiknya.

Ia tidak tahu.

Bahwa api yang pernah ia abaikan

Kini sedang berjalan kembali ke pusat dunia.

Dengan langkah pelan.

Tanpa nyala.

Tanpa suara.

Namun cukup untuk membakar segalanya.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!