Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Mau Mengalah Lagi
Pagi ini Ella terbangun dengan mata yang sembab. Kemungkinan semua itu adalah efek nangis semalaman.
"Di make up aja kali ya.. Biar gak terlalu kentara.." Gumam Ella pada diri sendiri. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu menambah sedikit polesan make up agar dia terlihat fres pagi ini.
Setelah selesai, Ella meraih tas dan memasukan barang-barangnya ke dalamnya. Di rasa sudah siap, Ella segera keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke ruang makan dimana sekarang keluarganya berada.
"Selamat pagi.." Sapa Ella pada mereka. Di sana sudah adalah Dewi, Hendra, Lentera dan satu pria yang tak pernah Ella sangka datang sepagi ini. Dia adalah Araka.
"Ck, Kamu itu di kamar ngapain aja sih? Dari tadi kita itu nungguin kamu." Ella menghela nafas panjang. Selalu saja dia yang di salahkan. Coba saja kalau Lentera yang telat, Takkan ada teguran apapun dari pria yang tak lain adalah ayah tirinya itu.
"Maaf Yah, Ella bangungnya kesiangan.." Jawab Ella, Namun kali ini nada bicaranya sedikit berbeda, Datar dan terkesan dingin.
Ella duduk dengan tenang. Tanpa menunggu siapapun wanita itu mengambil sarapannya.
"Makanya kamu itu kalau tidur jangan malem-malem. Apalagi kamu kerja jadi sekretaris Araka. Untung Araka pagi ini datang ke rumah kita.. Kalau kamu telat terus Araka bisa pecat kamu.." Kali ini Mamanya yang menegur. Sepertinya hidup mereka sepi tanpa menegur Ella.
"Lain kali jangan tidur terlalu malam lagi Ella.." Lanjut Dewi.
"Apa yang di katakan Mama itu bener Kak.. Kalau kakak telat berangkat bekerja, Kak Araka bisa pecat kakak loh? Kakak memang tunangan Kak Araka, Tapi yang namanya pekerjaan kan harus profesional kan? Lagipula, Kalau nanti kakak di pecat terus kakak ngadu ke nenek Cahya yang ada Kak Araka lagi yang kena marah.." Ucap Lentera, Seperti biasa gadis berusia hampir dua puluh tahun itu mencari muka atau mencari perhatian dengan kata-katanya yang membuat orang mengira dia lebih dewasa dari Ella sendiri.
Ella tak menjawab apapun. Percuma saja kalau dia menjawab, Semua ucapannya selalu di pandang salah. Tak ada ucapan Ella yang benar di mata mereka.
"Ella! Kamu dengar tidak apa yang di katakan adik kamu?" Hendra kembali bersuara. Ella menatap ayah tirinya dengan tatapan yang tak biasa.
"Kalian menunggu disini untuk sarapan bersama atau hanya untuk kembali menyalahkan ku?" Semua yang ada disana hanya saling pandang saja.
"Kalau aku datang ke ruang makan ini hanya untuk di salahkan dan di hakimi. Aku tidak akan makan disini lagi.. Karena sepertinya setiap hendak makan selalu saja aku yang menjadi bahan masalah. Coba kalau yang telat itu Lentera, Kalian selalu memaklumi.." Mata Ella mulai berkaca-kaca,,Tapi dia tidak akan menangis kali ini. Dia sudah cukup lelah dengan tangisannya.
Kini tatapannya tertuju pada Araka. Pria itu hanya diam tak mengeluarkan satu patah katapun. Ella menarik nafas panjang. Makanan di atas piring belum dia sentuh sama sekali.
Ella beranjak, Ia meraih kota bekal kemudian memasukan makanan yang berada di piring tersebut ke dalam kotak bekal.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dewi pada putri sulung nya.
"Mau berangkat ke kantor.. Aku udah gak selera makan disini.." Setelahnya Ella berlaku pergi. Terserah bagaimana reaksi mereka.
"Berhenti disitu!! Ella!! " Teriak Hendra, Sayang anak tirinya itu sudah tak mendengar.
"Udah Pa.. Sekarang mending kita sarapan dulu aja.." Ucap Dewi, Baru saja hendak mengambil menu Araka ikut bangkit.
"Kak?
"Aku akan menyusul Ella ke depan.." Kata pria itu, Lentera memandang kedua orang tuanya secara bergantian, Wajahnya cemberut lalu dia ikut menyusul pria itu. Lentera tidak akan pernah membiarkan pria itu mengejar Ella.
"Pa..
"Ayo.." Hendra dan Dewi ikut menyusul.
Di luar sana, Ella masih berdiri. Dia melirik Araka yang kini ikut keluar. Entah sudah sarapan atau tidak, Ella tidak tahu.
"Ayo kita berangkat ke kantor. " Ajak pria itu, Baru hendak menjawab Lentera lebih dulu menyerobot.
"Kak, Anterin dulu aku ke kampus ya.." Araka menatap Ella yang kembali diam.
"Ya udah kalau Lentera mau ikut, Kamu duduk di depan bareng Araka. Biar Kakak kamu yang di belakang.." Suara itu, Adalah suara Mamanya. Lihatkan, Perbedaannya sekarang? Padahal sudah jelas yang tunangan Araka itu adalah Ella bukan Lentera, Tapi Lentera yang di suruh duduk di depan. Sungguh malang nasib Ella punya ibu yang bak ibu tiri seperti itu.
"Kita akan berangkat bersama Ella, Tapi mampir dulu ke kampus Lentera.." Ucap Araka dengan nada seperti biasanya. Datar dan juga dingin. Ella tak menjawab, Karena ia yakin sekali kalau dia menjawab akan kembali di salahkan. Sudah jelas kantor dan kampus Lentera itu beda arah masih saja ingin menuruti keinginan gadis itu.
"Sekarang kamu masuk.. Di belakang ya, Di depan sudah ada Lente...
Tiiin..
Tiinn..
Sebuah bunyi klakson memotong ucapan Araka. Pria itu menoleh ke arah mobil yang berhenti di depan gerbang. Ella tersenyum, Dia segera berlari ke arah mobil mengabaikan Araka begitu saja.
Semua mata mengarah pada gerbang dimana seorang wanita seumuran Ella keluar dari kendaraan roda empat tersebut.
"Udah siap?
"Udah..
"Yok sekarang kita berangkat.." Tanpa mempedulikan empat orang itu, Ella langsung masuk ke dalam kendaraan roda empat itu tanpa menoleh lagi.
Hal itu membuat Araka merasa tak biasa dengan sikap Ella yang sangat berbeda kali ini. Sejak tadi wanita itu lebih banyak diam.
"Sekarang kita berangkat.." Ucap Araka akhirnya, Lentera mengangguk setuju. Tatapan mata pria itu tak lepas dari mobil yang perlahan hilang dari pandangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Huuuffft.. Bismillah..." Ella duduk di bangku sekretaris, Ia mulai menyalakan laptopnya dan bekerja.
Berulang kali Ella melihat ponselnya barang kali ada pesan masuk. Akan tetapi tak ada satupun pesan yang ada.
Raut wajahnya semakin sedih saja. Ella tidak ingin berlama-lama bekerja di kantor ini. Kantor milik keluarga Araka. Ella ingin segera angkat kaki dari perusahaan yang selalu membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Bagaimana tidak? Dia seorang tunangan bos disini tapi Araka selalu memperlakukan dirinya lebih parah dari karyawan yang lain.
Ella masuk ke kantor ini juga bukan kemauannya sendiri. Tapi atas kemauan Nenek Cahya, Nenek dari Araka.
Sejak dulu wanita tua itu memang langsung tertarik dengan Ella. Sejak dulu Ella adalah gadis yang rajin, baik dan tulus maka dari itu Nenek Cahya hanya ingin Ella yang menjadi cucu menantunya. Nenek Tami, Nenek Lentera meminta Nenek Cahya sahabatnya agar Ella lah yang menjadi menantunya bukan Lentera yang merupakan cucu kandung.
Nenek Cahya pun langsung setuju juga. Meski bukan cucu kandung, Nenek Tami menyayangi Ella dengan sepenuh hati. Di saat Mama dan Ayahnya memarahinya, Masih ada nenek yang selalu membelanya, Tapi sekarang orang yang selalu membelanya sudah pergi. Ella kini hanya sendiri saja.
"Beberapa hari lagi, Lentera akan magang disini.. Aku harap kau tidak membuat ulah dengannya.." Kata Araka, Dia baru aja datang dan langsung mengatakan kalau Lentera akan magang di perusahaan ini.
"Ella kau dengar aku ti...
"Aku tidak tuli.. " Potong Ella ketus, Dia kembali fokus dengan laptopnya, Araka menghela nafas panjang dan berlalu pergi dari sana. Saat hendak membuka pintu ruangannya, Dia menoleh ke arah Ella yang sama sekali tak melihat ke arahnya.
"Dia sebenarnya Kenapa??
•
•
•
TBC