NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Fantasi Wanita
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 HURU HARA DI PAGI HARI.

Cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, menyinari meja panjang yang telah dipenuhi hidangan sarapan. Aroma roti panggang dan sup hangat memenuhi udara. Para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan, menunggu perintah.

Namun suasana di meja makan jauh dari kata hangat.

Ammar duduk di salah satu sisi meja, wajahnya tampak datar namun rahangnya mengeras. Di seberangnya, Sabrina duduk dengan postur tegak, wajah cantiknya tampak dingin dan tak sabar. Di antara mereka, Queen duduk kecil di kursinya, kedua kakinya menggantung tak menyentuh lantai.

Queen menatap piringnya lama. Tangannya memegang sendok, namun tak bergerak. “Mamah…” panggilnya pelan, suaranya kecil hampir tak terdengar.

“Queen disuapin ya…”

Sabrina mendesah keras, meletakkan sendoknya dengan bunyi yang cukup nyaring.

“Kamu jangan manja,” ucapnya ketus. “Makan sendiri. Jadi anak perempuan itu harus mandiri.” Kata-kata itu meluncur dingin, tanpa nada lembut sedikit pun.

Queen terdiam. Matanya yang bulat langsung berkaca-kaca. Tangannya yang kecil menggenggam sendok makin erat, lalu perlahan diturunkan kembali ke piring. Kepalanya menunduk, rambut halusnya menutupi sebagian wajahnya.

“Iya, Mah…” jawabnya lirih.

Pemandangan itu membuat dada Ammar bergemuruh.

Ia menoleh ke arah Queen, lalu ke arah Sabrina. Ada amarah yang perlahan naik ke permukaan, bercampur dengan rasa kecewa yang sudah lama ia pendam.

“Apa salahnya kalau Queen minta disuapi?” tegur Ammar, suaranya tertahan namun tegas. “Queen itu anak kamu. Dan kamu jarang ada waktu untuk dia.”

Sabrina langsung menoleh tajam.

“Jadi sekarang aku ibu yang buruk?” sahutnya sinis. “Kamu menyalahkanku?”

“Aku tidak bilang begitu,” balas Ammar, menahan emosi. “Tapi sebagai ibu, kamu seharusnya...”

“Lihat!” potong Sabrina sambil menunjuk Queen.

“Lihatlah apa yang terjadi sekarang! Ini semua karena ajaran pembantu itu!”

Queen tersentak. Tubuh kecilnya bergetar.

“Queen jadi manja, dan kamu...” Sabrina mengalihkan tudingannya ke Ammar, jarinya menunjuk tajam.

“Kamu malah membelanya!”

Brakk!

Suara keras menggema di ruang makan ketika Ammar menggebrak meja.

Para pelayan tersentak, menundukkan kepala lebih dalam. Udara terasa menegang dalam sekejap.

“Cukup!” bentak Ammar.

Namun kata-kata selanjutnya tertahan di tenggorokannya ketika suara tangis kecil memecah suasana.

“Huaa…!” Queen menangis. Tangisnya keras, penuh ketakutan.

“Mamah… Papah…” isaknya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. “Jangan berantem… Queen takut… hiks…”

Tangisan itu seperti pisau yang menghujam tepat ke dada Ammar. Ia langsung berdiri dan mendekati Queen. Tangannya yang besar dan kokoh itu gemetar saat memeluk tubuh kecil putrinya.

“Shh… shh… Papah di sini,” ucap Ammar lembut, kontras dengan amarahnya barusan. “Maaf… Papah minta maaf…”

Queen memeluk leher Ammar erat-erat, tangisnya belum reda. Tubuh kecil itu bergetar hebat, seolah benar-benar ketakutan.

Sabrina hanya terdiam. Untuk sesaat. Namun bukannya menyesal, sorot matanya justru mengeras.

“Lihat?” ucap Sabrina dingin. “Kamu membuat Queen semakin manja. Menangis sedikit saja langsung dipeluk.”

Ammar menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh peringatan. “Yang membuat Queen menangis bukan aku,” katanya rendah namun menusuk. “Tapi sikapmu.”

Sabrina tersenyum miring. “Sekarang kamu menyalahkanku sepenuhnya?”

“Aku menyalahkan siapa pun yang membuat anakku ketakutan,” jawab Ammar tanpa ragu.

Queen masih terisak, wajahnya memerah. Ammar mengusap punggung putrinya perlahan, menenangkan.

“Queen mau makan sama Papah?” tanyanya lembut.

Queen mengangguk kecil, masih sesenggukan.

Ammar menarik kursi, mendudukkan Queen di pangkuannya. Ia mengambil sendok kecil dan mulai menyuapi Queen dengan sabar.

Pemandangan itu membuat Sabrina berdiri tiba-tiba.

“Kamu sengaja mempermalukanku di depan pelayan?” ucap Sabrina tajam.

Ammar tidak menoleh. Fokusnya hanya pada Queen.

“Aku tidak peduli siapa yang melihat,” jawabnya singkat. “Anakku lebih penting.”

“Itu anakku juga!” bentak Sabrina.

“Iya,” Ammar akhirnya menoleh. “Dan justru karena itu aku tidak ingin dia tumbuh dengan rasa takut setiap pagi.”

Kata-kata itu seperti tamparan keras. Queen mulai sedikit tenang. Ia mengunyah pelan, sesekali masih terisak kecil.

Ammar menatap Sabrina lurus. “Mulai sekarang,” ucapnya dengan suara terkendali namun dingin, “jika kamu tidak bisa bersikap lembut pada Queen, setidaknya jangan melukai hatinya.”

Sabrina tertawa kecil, pahit. “Kamu berubah, Ammar.”

Ammar mengangguk pelan. “Mungkin. Karena aku mulai sadar apa yang benar-benar penting.”

Sabrina menggenggam tasnya. “Kalau begitu, lanjutkan saja sandiwara keluarga bahagiamu,” katanya sinis. “Aku tidak punya waktu untuk ini.”

Ia melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.

Suara langkahnya menghilang di lorong panjang rumah itu.

Ammar menghela napas panjang.

Queen menatap wajah papahnya dengan mata basah. “Papah… mamah marah sama Queen?”

Ammar tercekat. Ia tersenyum kecil, meski hatinya terasa perih. “Tidak, Sayang. Ini bukan salah Queen.”

“Bener?” tanya Queen ragu.

“Bener,” jawab Ammar mantap. “Queen anak baik.”

Queen memeluk Ammar kembali, kali ini lebih erat.

Ammar memejamkan mata. Di kepalanya, satu kesadaran semakin jelas.. Rumah tangga ini bukan lagi soal pertengkaran suami-istri. Ini tentang seorang anak yang perlahan kehilangan rasa aman, dan seorang ayah yang tak ingin terlambat menyadarinya.

Dan di sudut rumah lain, seorang wanita bernama Sari terbaring lemah tanpa tahu bahwa pagi itu, namanya kembali menjadi sumber pertikaian.

...----------------...

Di dalam kamar yang masih terasa tenang itu, Sari perlahan membuka matanya. Tubuhnya sudah tidak sepanas semalam. Kepalanya tidak lagi terlalu berat. Meski rasa nyeri masih tersisa, setidaknya kini ia bisa bernapas lebih lega. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menarik napas panjang sambil menenangkan diri.

" Syukurlah…" gumam sari

Ceklek…

Suara pintu terbuka membuat Sari menoleh refleks.

Senyum tipis langsung terukir di wajahnya saat melihat sosok kecil berambut hitam dengan piyama lucu berlari masuk.

“Kak Sariii!” seru Queen ceria.

“Nona…” Sari tersenyum hangat. “Pelan-pelan, nanti jatuh.”

Queen tertawa kecil lalu menghampiri ranjang. Di belakangnya, seorang pelayan masuk membawa nampan berisi bubur hangat, susu, dan beberapa potong buah.

Namun senyum Sari mendadak kaku.

Karena di belakang pelayan itu… Ammar ikut melangkah masuk.

Langkahnya tenang, wajahnya datar, namun sorot matanya langsung tertuju pada Sari.

Sari menelan ludah. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menjalar di dadanya. Namun saat Queen sudah berdiri di samping ranjang, menatapnya dengan mata berbinar, Sari memaksakan diri untuk tetap tersenyum.

“Queen bawain sarapan buat Kak Sari,” kata Queen bangga. “Biar Kak Sari cepat sembuh.”

Sari sangat terharu. “Terima kasih, Nona Queen,” ucapnya lembut. “Kakak jadi semangat.”

Queen langsung naik ke ranjang dan duduk di samping Sari tanpa ragu. Tangannya yang kecil menyentuh punggung tangan Sari dengan hati-hati.

“Kak Sari masih sakit?” tanyanya polos.

“Sudah mendingan,” jawab Sari lembut. “Karena Nona Queen doain kakak.”

Queen tersenyum lebar. “Queen doain semalaman loh.”

Ammar berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ada perasaan hangat yang menyusup ke dadanya perasaan yang seharusnya tidak ia rasakan.

“Kamu jangan ganggu Kak Sari terlalu banyak,” ucap Ammar akhirnya, suaranya tenang.

Queen menoleh ke arah papahnya. “Queen nggak ganggu. Queen nemenin.”

Ammar mengangguk kecil. “Baik. Tapi Kak Sari harus makan dulu.”

Ia melirik pelayan. “Taruh saja di meja kecil.”

Pelayan mengangguk dan meletakkan nampan di sisi ranjang, lalu mundur keluar kamar dengan sopan.

Kini, hanya mereka bertiga di dalam ruangan.

Keheningan terasa canggung bagi Sari. Ia menunduk, mencoba menghindari tatapan Ammar. Tangannya gemetar kecil saat hendak meraih sendok.

Queen langsung memperhatikan. “Kak Sari kenapa?” tanyanya khawatir.

Sari tersenyum cepat. “Tidak apa-apa. Kakak hanya masih agak lemas.”

Queen mendekat. “Queen suapin ya, kayak Kak Sari biasanya suapin Queen.”

Ammar ikut terdiam, memperhatikan.

“Tidak usah, Nona,” ucap Sari halus. “Kakak bisa sendiri.”

Queen menggeleng keras. “Nggak mau. Queen mau.”

Tanpa menunggu jawaban, Queen mengambil sendok kecil dan meniup bubur itu dengan gaya anak kecil, lalu menyodorkannya ke mulut Sari.

“Panas, Kak. Tiup dulu,” katanya serius.

Sari tertawa kecil, tulus. “Iya, terima kasih.” Ia membuka mulut, menerima suapan itu.

Ammar menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ada senyum tipis yang nyaris muncul di wajahnya senyum yang jarang sekali ia sadari.

“Kak Sari harus cepat sembuh,” kata Queen sambil menyuapi lagi. “Soalnya nanti Queen mau main lagi sama Kak Sari.”

Sari mengangguk pelan. “Iya… Kakak janji.”

Tatapan mereka bertemu sesaat. Sari cepat-cepat menunduk lagi.

Ammar melangkah mendekat, lalu duduk di kursi dekat ranjang. “Queen,” katanya lembut, “habis ini kamu ke bawah dulu ya. Papah mau bicara sebentar dengan Kak Sari.”

1
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
nah gitu dong Ammar..tegas jadi laki
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
ollyooliver🍌🥒🍆
ibunya adalah pelaku utama dan benalu sesungguhnya, tapi putrinya juga malah ngedukung😌
ollyooliver🍌🥒🍆
ammar bahkan lebih kaya secara ekonomi dlm karirnya😏
ollyooliver🍌🥒🍆
sebentar lagi hujan nih🙂
Felycia R. Fernandez
Ternyata tak direstui orang tua...
pantesan ...
Felycia R. Fernandez
Biarkan aja Mar...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
Felycia R. Fernandez
jangan hanya ngomong aja
Felycia R. Fernandez
selalu gtu,ntar ketemu Sabrina beda lagi.ngadon lagi.gak mikirin gimana nasib Sari yang udah ditidurin
Reni Anjarwani
terlalu bodoh ammarrt
Felycia R. Fernandez
Makanya jadi laki laki itu yang tegas,bukan hanya nafsu doank.di ajak hiha hiho langsung melempem.gak ingat apa yang udah terjadi ma Sari.bukannya cepat2 dinikahi.
ollyooliver🍌🥒🍆
gak usah peduliin, nanti ammar malah kesenangan..merasa direbutkan dua wanita😒
Felycia R. Fernandez: setuju
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ibu SETAN!
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kamu kenap gak tegas sebagai kepala keluarga Ammar,masa istri durhaka begitu masih dipelihara..
Nurminah
wanita tidak tahu diri plus tidak bersyukur
Felycia R. Fernandez
ya sakit donk... karena Ammar juga sudah memperkosa mu
Apriana Suci
bagus ammer kamu harus tegas💪💪
Felycia R. Fernandez
firasat seorang ibu gak akan pernah salah 🥺
Felycia R. Fernandez
Harus...Ammar harus bisa bertanggung jawab...
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kasihan Sari🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!