"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Kanvas Cinta dan Dunia Imajinasi Taehyung
Jika kemarin Jimin membangunkan Aira dengan wangi lavender, pagi ini Aira terbangun karena suara gesekan kuas di atas kanvas dan aroma cat minyak yang samar. Saat ia membuka mata, ia menemukan Taehyung sedang berdiri di depan jendela kamarnya yang besar. Taehyung mengenakan kemeja sutra longgar dan baret cokelat, tampak sangat seperti pelukis dari Paris.
"Ah, bidadariku sudah bangun," ucap Taehyung dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat seksi di pagi hari.
Aira mengucek matanya, ia melihat sebuah kanvas besar di sudut kamar. Di sana, sudah ada sketsa wajah Aira yang sedang tidur. "Kak Taehyung... Kakak melukis Aira pas lagi tidur? Pasti wajah Aira jelek banget, mulutnya mangap ya?" rengek Aira sambil menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang merona.
Taehyung tertawa kecil, ia menghampiri tempat tidur dan menarik selimut Aira dengan lembut. "Tidak ada yang jelek dari dirimu, Aira. Bahkan saat tidur pun, kau adalah karya seni paling sempurna yang pernah kulihat. Sini, bangunlah. Kakak sudah menyiapkan gaun yang sangat artistik untukmu hari ini."
Taehyung menyerahkan sebuah kotak besar berisi gaun bergaya vintage berwarna kuning gading dengan detail bordir bunga matahari. "Kita tidak akan ke taman bermain seperti kemarin. Kita akan masuk ke dalam dunia di mana warna dan perasaan bersatu. Cepat bersiap, Tuan Putri."
Aira bangkit dan memeluk leher Taehyung dengan manja sebelum beranjak ke kamar mandi. "Makasih Kak Tae... tapi nanti jangan foto-foto Aira pas lagi makan ya, Aira malu!"
"Tidak janji," goda Taehyung sambil mengedipkan satu matanya yang sangat menawan.
Taehyung membawa Aira ke sebuah galeri seni kontemporer yang sudah ia sewa secara privat. Di dalam galeri itu, tidak ada karya seni orang lain. Ternyata, Taehyung telah menyusun foto-foto dan lukisan yang ia ambil selama ini semuanya adalah tentang Aira.
Aira berjalan menyusuri lorong galeri dengan mulut terbuka karena takjub. Ada foto dirinya saat sedang tertawa bersama Jungkook, saat ia serius menulis naskah Miss KA, bahkan foto saat ia sedang menangis manja minta es krim.
"Kak... ini semua... Kakak simpan?" bisik Aira terharu.
Taehyung berdiri di belakang Aira, merangkul pinggang adiknya itu dengan posesif. "Setiap momen bersamamu adalah sejarah bagiku, Aira. Aku ingin mengabadikan setiap emosimu. Lihat lukisan di tengah itu," Taehyung menunjuk sebuah lukisan abstrak dengan warna-warna hangat. "Itu adalah perasaanku setiap kali kau memanggil namaku dengan nada manja."
Aira menyandarkan kepalanya di dada Taehyung, ia merasa sangat dicintai dengan cara yang berbeda. Jika Jimin menjaganya seperti malaikat, Taehyung memujanya seperti seorang seniman memuja inspirasinya.
"Kak Tae... makasih ya sudah melihat Aira seindah ini," gumam Aira. Ia berbalik dan memeluk Taehyung erat. "Aira nggak tahu harus balas apa..."
"Cukup jadilah model pribadiku selamanya," balas Taehyung. Ia mengeluarkan kamera Leica klasiknya dan mengambil foto wajah Aira dari jarak dekat. Klik. "Cantik. Sangat cantik."
Setelah dari galeri, Taehyung membawa Aira ke sebuah bukit tersembunyi yang sudah didekorasi seperti piknik klasik di pinggiran Prancis. Ada kain kotak-kotak merah, keranjang rotan berisi roti baguette, berbagai jenis keju, dan buah anggur segar.
"Wah, kayak di film-film lama!" seru Aira. Ia langsung duduk dan mulai bermanja-manja, meminta Taehyung mengupas buah anggur untuknya.
"Sini, buka mulutmu," ucap Taehyung. Ia menyuapi Aira dengan sangat telaten, sesekali ia mengusap sisa jus buah di bibir Aira dengan ibu jarinya. "Aira, besok kau akan kencan dengan Jungkook. Dia pasti akan membawamu ke tempat yang berisik dan penuh keringat. Tapi ingatlah hari ini, hari di mana kita hanya bicara soal keindahan dan perasaan."
Aira tertawa, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Taehyung sambil menatap langit biru. "Kak Taehyung cemburu ya sama Kak Kookie?"
Taehyung mengelus rambut Aira dengan lembut, tatapannya mendadak menjadi sangat dalam. "Aku selalu cemburu pada siapapun yang bisa mendapatkan perhatianmu, Aira. Bahkan pada naskah yang kau tulis. Karena saat kau menulis, kau tidak menatapku."
Aira mengerucutkan bibirnya, ia menarik tangan Taehyung dan menggenggamnya erat. "Aira kan selalu punya waktu buat Kak Tae. Buktinya sekarang Aira cuma lihat Kakak."
Taehyung tersenyum, ia membungkuk dan mencium hidung Aira dengan sangat gemas. "Manja sekali. Tetaplah seperti ini, jangan pernah tumbuh dewasa terlalu cepat."
Di tengah suasana piknik yang romantis itu, Taehyung tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil. "Mau aku ajarkan cara menggambar emosi? Atau kau mau menuliskanku sebuah puisi singkat sebagai Miss KA, khusus untukku?"
Aira tertawa bahagia, ia merasa kencan dengan Taehyung ini sangat tenang namun penuh dengan letupan perasaan yang artistik. Namun, di kejauhan, ia melihat sebuah drone kecil terbang di atas mereka ia sangat yakin itu adalah drone milik Jungkook yang sedang memata-matai mereka karena tidak sabar menunggu gilirannya besok.
Setelah piknik klasik yang menenangkan, matahari mulai bergerak perlahan menuju garis cakrawala, mengubah warna langit menjadi palet warna jingga, ungu, dan merah muda yang persis seperti lukisan impresionis. Taehyung tidak membiarkan momen ini berlalu begitu saja. Ia mengeluarkan dua buah kanvas kosong berukuran sedang dan tumpukan cat minyak.
"Kak... Aira kan nggak jago gambar. Nanti kalau hasilnya berantakan gimana?" rengek Aira sambil melihat tangannya yang sudah mulai terkena noda cat biru. Ia bermanja di samping Taehyung, mencoba mengelap tangannya ke celemek yang dipakai kakaknya.
Taehyung tertawa rendah, suara baritonnya terasa sangat menenangkan di tengah kesunyian bukit. "Seni bukan soal bagus atau tidak, Aira. Seni adalah soal apa yang kau rasakan. Sini, Kakak ajarkan."
Taehyung berdiri di belakang Aira, memeluknya dari belakang sehingga tubuh mungil Aira benar-benar terbungkus oleh dekapan Taehyung. Ia memegang tangan kanan Aira yang sedang memegang kuas, membimbingnya untuk menyapukan warna-warna hangat ke atas kanvas.
"Tutup matamu sejenak, Aira. Rasakan anginnya, rasakan detak jantungku di punggungmu, lalu bayangkan satu warna yang paling menggambarkan perasaanmu saat ini," bisik Taehyung tepat di telinga Aira, membuat bulu kuduk gadis itu meremang karena sensasi hangat yang menjalar.
Aira memejamkan mata, ia mengikuti gerakan tangan Taehyung. Di atas kanvas itu, mereka mulai menciptakan gradasi warna yang indah. "Aira merasa warna emas... karena hari ini rasanya mewah dan hangat banget, Kak," gumam Aira manja sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Taehyung.
"Maka kita lukis warna emas," jawab Taehyung. Mereka menghabiskan satu jam terakhir sebelum gelap dengan melukis bersama. Bagi Aira, ini jauh lebih intim daripada kata-kata. Ia merasa seolah jiwanya dan jiwa Taehyung sedang berpadu di atas kanvas tersebut.
Malam tiba, dan Taehyung membawa Aira kembali ke Mansion, namun bukan menuju ruang tengah, melainkan menuju aula besar yang biasanya digunakan untuk latihan dance atau pesta keluarga. Ruangan itu sudah disulap menjadi sebuah runway mini dengan lampu-lampu neon redup berwarna ungu dan biru.
Di sana, sudah berjajar tiga buah manekin yang mengenakan gaun-gaun mahakarya dari desainer favorit Taehyung di Paris. "Aira, sebagai inspirasiku, aku ingin melihatmu mengenakan ini. Aku sudah meminta desainer itu membuatkan versi kecil yang pas untuk tubuhmu," ucap Taehyung sambil memberikan gaun pertama.
Aira melongo melihat kemewahan di depannya. Ia berganti pakaian satu per satu. Gaun pertama adalah gaun malam hitam dengan aksen bulu-bulu halus, gaun kedua adalah silk dress berwarna merah mawar, dan yang terakhir adalah gaun vintage berbahan brokat emas.
Aira berjalan dengan malu-malu di atas karpet merah sementara Taehyung duduk di depan dengan kamera Leica-nya, memotret setiap gerakan Aira. "Kak... Aira malu! Aira kayak lagi ikut audisi Miss Korea!" rengek Aira sambil berputar manja di depan Taehyung.
Taehyung berdiri, ia meletakkan kameranya dan menghampiri Aira. Ia merapikan kerah gaun emas itu dan menatap Aira dengan pandangan yang sangat memuja. "Kau lebih dari sekadar Miss Korea, Aira. Kau adalah pusat dari setiap warna yang aku ciptakan. Aku ingin dunia tahu bahwa penulis Miss KA yang mereka agung-agungkan sebenarnya adalah bidadari yang sangat manja ini."
Taehyung mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya. Isinya adalah sebuah bross berbentuk bunga mawar yang terbuat dari berlian hitam dan ruby. Ia menyematkan bross itu di dada gaun Aira. "Ini adalah tanda bahwa kau adalah milikku hari ini. Jangan lepaskan ini sampai besok pagi, oke?"
Aira tersenyum sangat lebar, ia memeluk Taehyung erat-erat. "Kak Taehyung... makasih ya buat dunianya hari ini. Aira ngerasa jadi cewek paling cantik di dunia."
Kencan artistik itu harus berakhir saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Taehyung sedang membantu Aira melepas perhiasannya di depan meja rias kamar Aira saat pintu tiba-tiba terbuka dengan debuman keras.
Jungkook berdiri di sana dengan mengenakan setelan olahraga lengkap dan sepatu lari, wajahnya tampak sangat tidak sabar. Di tangannya, ia memegang sebuah pengeras suara (megaphone).
"WAKTU HABIS, HYUNG! SEKARANG SUDAH MASUK HARI KENCANKU!" teriak Jungkook melalui pengeras suara, membuat telinga Aira dan Taehyung hampir tuli seketika.
"Kook, ini masih jam sepuluh malam! Masih ada dua jam lagi!" protes Taehyung sambil memegang telinganya.
"Tidak peduli! Aku butuh Aira istirahat lebih awal karena kencanku besok akan sangat ekstrem! Dia butuh stamina!" Jungkook langsung masuk, menarik tangan Aira dari dekapan Taehyung, dan membungkus Aira dengan selimut tebal. "Ayo, Tuan Putri! Waktunya tidur! Besok kita akan menaklukkan dunia!"
Aira tertawa terbahak-bahak melihat persaingan kedua kakaknya itu. Ia menoleh ke arah Taehyung dan memberikan flying kiss. "Dadah Kak Taehyung! Makasih buat lukisannya! Kak Kookie, jangan ditarik-tarik, Aira pusing!"
Taehyung hanya bisa mendesah pasrah sambil memandangi kameranya yang penuh dengan foto-foto cantik Aira. "Nikmatilah waktumu besok, Kook. Tapi jangan harap kau bisa mengalahkan memori artistik yang kubuat hari ini."
Jungkook hanya menjulurkan lidahnya pada Taehyung sambil menggendong Aira menuju tempat tidur. "Kita lihat saja besok! Aira, besok jangan pakai gaun ya! Pakai baju yang bisa buat lari!" bisik Jungkook di telinga Aira dengan nada yang sangat antusias.
Aira memejamkan mata dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya. Setelah kelembutan Jimin dan estetika Taehyung, ia sudah bisa membayangkan betapa "liar" dan serunya kencan dengan si kelinci otot, Jungkook, besok pagi. Sambil memeluk bross mawar dari Taehyung, Aira pun terlelap dengan mimpi penuh warna.
📢 GILAAAAA! 😍 Kencan Taehyung bener-bener level dewa estetikanya! Tapi Jungkook udah mulai 'invasi' nih! 😂 Kira-kira kencan ekstrem apa yang disiapin Jungkook buat Aira besok? Apakah terjun payung atau balapan motor?
👇 VOTE [A] TEAM TAEHYUNG! Paling Romantis | [B] Nggak sabar mau kencan bareng Jungkook! | [C] Aira mending istirahat aja\, kasihan udah capek dimanjain terus! 😂
💬 KOMEN: Kalau kalian jadi Aira, lebih suka dapet kado gelang malaikat dari Jimin atau bross mawar berlian dari Taehyung?
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab selanjutnya bakal jadi kencan paling memacu adrenalin bareng Sang Golden Maknae, Jungkook!
⭐ KASIH RATING 5 STARS biar Aira terus jadi kesayangan BTS!
BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #TaehyungAiraDate #VStyle #ArtistAndMuse #JealousJungkook