Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Dipersempit
Tiga minggu berlalu sejak presentasi itu.
Dan... semuanya berubah.
Nggak drastis. Bukan perubahan yang bisa dilihat semua orang. Tapi buat Aruna... buat Aruna, perubahan itu... nyata.
Dhira mulai sering ngobrol sama dia.
Nggak ngobrol panjang. Bukan ngobrol kayak sahabat. Cuma... hal-hal kecil. Hal-hal sepele yang... yang harusnya nggak penting, tapi entah kenapa jadi penting banget buat Aruna.
Kayak kemarin, waktu Dhira nanya, "Kamu udah makan belum?" pas liat Aruna duduk sendirian di kelas saat jam istirahat.
Atau dua hari yang lalu, waktu Dhira nitip buku catatannya ke Aruna—"Tolong fotoin halaman ini, ya. Aku lupa nyatet."—padahal cowok itu bisa nitip ke siapa aja, tapi dia... pilih Aruna.
Atau pagi ini, waktu mereka ketemu di gerbang sekolah—kebetulan dateng bareng—dan Dhira bilang, "Selamat pagi" dengan senyum kecil yang... yang bikin jantung Aruna langsung dag dig dug.
Hal-hal kecil.
Tapi cukup.
Cukup buat bikin Aruna... ngerasa dilihat.
Ngerasa... ada.
Dan itu... itu yang bikin dadanya hangat setiap hari. Tapi juga... sesak.
Karena Aruna tau.
Tau banget.
Ini nggak baik.
Semakin dia deket sama Dhira, semakin perasaannya... membesar. Kayak balon yang ditiup terus-terusan, yang suatu saat pasti... meledak.
Dan Aruna takut.
Takut waktu itu dateng.
---
Hari ini, sore.
Perpustakaan sepi kayak biasa. Cuma ada Aruna, duduk di meja pojok deket jendela, buku catatan terbuka di depannya tapi matanya... kosong. Ngeliatin jendela. Ngeliatin langit sore yang mulai jingga. Awan bergerak pelan. Burung terbang melintas.
Tenang.
Tapi hati Aruna... nggak tenang.
Dia mikirin Dhira lagi. Terus. Nggak berhenti. Dari pagi sampai sekarang, otaknya cuma... Dhira Dhira Dhira.
*Ya Allah, kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia...*
"Aruna."
Deg.
Aruna nyaris lompat dari kursinya. Dia noleh cepet.
Dhira.
Berdiri di belakang kursinya, tangan di saku celana, seragamnya agak kusut—mungkin habis main basket—rambut berantakan dikit, tapi tetep... tetep keliatan...
*Astafirullah, jangan mikir yang aneh-aneh.*
"D-Dhira... dari... dari kapan berdiri di situ?" tanya Aruna, suaranya kecil, gemetar dikit.
"Dari tadi. Kamu kayaknya lagi melamun." Dhira jalan, duduk di kursi seberang Aruna tanpa izin—tapi Aruna nggak keberatan. "Lagi mikirin apa?"
Mikirin kamu.
Tapi Aruna nggak bisa bilang itu.
"N-nggak... nggak mikirin apa-apa kok..."
Dhira ngeliatin Aruna lama. Tatapannya... nggak percaya. Tapi dia nggak maksa. Cuma... senyum kecil. "Oke. Kalau kamu bilang gitu."
Diam.
Beberapa detik.
Aruna main-main pulpen di tangannya. Dhira ngeliat buku di meja—buku pelajaran biologi—terus ambil, baca-baca sekilas.
Sunyi.
Tapi... nggak awkward.
Aruna... suka momen kayak gini. Momen di mana mereka cuma... diem bareng. Nggak ngomong apa-apa. Tapi tetep... nyaman.
Tapi tiba-tiba Dhira nanya.
"Kenapa kamu selalu duduk paling belakang?"
Aruna menengadah. "Hah?"
"Di kelas. Kenapa kamu selalu duduk paling belakang? Barisan terakhir. Pojok."
Aruna... diem.
Pertanyaan itu... nggak pernah ada yang nanya. Nggak pernah ada yang... peduli.
"Aku... aku lebih nyaman di sana..." jawabnya pelan, nunduk lagi, main-main pulpen lebih cepet sekarang.
"Nyaman kenapa?"
"Karena... karena nggak ada yang... yang ngeliatin aku. Nggak ada yang... ganggu aku..."
Dhira diem. Ngeliat Aruna lama. Lama banget.
Terus dia bilang:
"Kadang tempat yang nyaman itu bisa jadi penjara juga, lho."
Deg.
Aruna berhenti main-main pulpen. Tangannya... beku.
Penjara.
Kata itu... nyelekit.
Karena... karena bener.
Barisan belakang itu... penjara. Penjara yang Aruna bikin sendiri. Penjara yang... yang bikin dia aman, tapi juga... terkurung.
"Kamu..." Dhira nunduk dikit, supaya matanya sejajar sama mata Aruna. "Kamu nggak pernah pengen... keluar dari sana? Pengen duduk di depan? Pengen... dilihat?"
Aruna ngangkat kepalanya pelan. Mata mereka bertemu.
Dan... Aruna nggak tau harus jawab apa.
Karena jawaban jujurnya...
Iya.
Dia pengen keluar. Pengen dilihat. Pengen... pengen jadi seseorang yang berarti.
Tapi dia takut.
Takut kalau keluar dari sana... orang-orang bakal liat dia dan... dan kecewa. Karena dia nggak... nggak secantik yang mereka harap. Nggak sepintar yang mereka kira. Nggak se... sempurna.
"Aku... aku nggak tau, Dhira..." bisik Aruna, suaranya bergetar. "Aku... takut..."
"Takut apa?"
"Takut... takut orang-orang ngeliat aku dan... dan ngerasa... aku nggak cukup baik..."
Dhira diem.
Lama.
Tatapannya... lembut. Lebih lembut dari biasanya.
"Aruna," panggilnya pelan. "Kamu tau nggak? Kamu... kamu lebih baik dari yang kamu kira."
Deg.
Aruna... nggak bisa napas.
"A-apa...?"
"Kamu itu... polos. Jujur. Nggak pura-pura. Dan itu... itu langka, tau." Dhira senyum kecil. "Kebanyakan orang di sini... pake topeng. Pura-pura jadi orang yang mereka nggak. Tapi kamu... kamu nggak gitu. Kamu... apa adanya."
Aruna... matanya panas.
Jangan nangis. Jangan nangis di sini.
Tapi air mata udah ngumpul di pelupuk mata. Siap jatuh kapan aja.
"Dhira... aku..." suaranya nyangkut di tenggorokan.
Dhira berdiri. Jalan ke samping Aruna. Berdiri di situ, tangan masih di saku celana, ngeliat Aruna dari atas.
"Besok," katanya pelan. "Coba duduk lebih depan. Nggak usah paling depan. Cukup... beberapa bangku lebih maju dari biasanya."
Aruna menengadah, ngeliat Dhira dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tungguin," lanjut Dhira. Senyum tipisnya... hangat. "Oke?"
Dan cowok itu jalan pergi. Keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Aruna sendirian.
Aruna duduk di sana.
Terpaku.
Jantungnya... dag dig dug nggak karuan.
Tangannya gemetar.
Dan air mata yang tadi ditahan...
Jatuh.
Satu tetes. Dua tetes.
Jatuh ke meja.
Aruna tutup wajahnya pake kedua tangan. Napasnya sesak. Dadanya... sakit.
Tapi bukan sakit yang... menyakitkan.
Sakit yang... hangat.
Sakit yang... bikin dia ngerasa... dihargai.
*Ya Allah... kenapa dia... kenapa dia baik banget sama aku...*
*Kenapa... kenapa dia peduli...*
*Apa... apa dia cuma bersikap baik? Atau... atau ada yang lebih dari itu?*
Aruna nggak tau.
Dan itu yang bikin... makin bingung. Makin sakit.
Karena harapan itu... harapan itu mulai tumbuh.
Harapan yang seharusnya... nggak ada.
---
Malamnya, Aruna duduk di kamar.
Jurnalnya terbuka. Halaman baru.
Pulpen di tangan.
Dia nulis.
---
*Hari ini Dhira bilang... aku lebih baik dari yang kukira.*
*Dia bilang... aku polos. Jujur. Apa adanya.*
*Nggak ada yang pernah bilang kayak gitu ke aku.*
*Nggak ada yang pernah... liat aku kayak gitu.*
*Dan sekarang... sekarang aku bingung.*
*Apa dia cuma bersikap baik?*
*Atau... atau ada sesuatu?*
*Tapi aku nggak berani berharap.*
*Karena aku tau... aku dan dia itu... berbeda.*
*Dia terang. Aku gelap.*
*Dia bintang. Aku... debu.*
*Tapi kenapa... kenapa dadaku tetep berdebar tiap dia deket?*
*Kenapa... kenapa aku pengen percaya... kalau mungkin... mungkin dia ngerasa sesuatu juga?*
*Ya Allah... tolong... tolong kuatkan aku.*
*Atau... atau jauhkan dia dariku.*
*Karena aku... aku nggak tau lagi... gimana caranya nahan perasaan ini.*
---
Aruna berhenti nulis.
Tangannya gemetar.
Matanya... basah lagi.
Dia tutup jurnalnya. Peluk jurnal itu erat di dada. Rebahan di kasur. Ngeliat langit-langit kamar yang... kosong.
Dan dia bisik pelan:
"Ya Allah... aku... aku jatuh cinta sama dia."
"Beneran jatuh cinta."
"Dan aku... aku nggak tau... gimana cara berhenti."
Tapi nggak ada jawaban.
Cuma... sunyi.
Sunyi yang nyesek.
Sunyi yang bikin Aruna ngerasa...
Sendiri.
Meskipun dadanya penuh... penuh perasaan buat cowok yang... yang mungkin nggak pernah ngerasa hal yang sama.
---
Keesokan harinya.
Pagi.
Aruna masuk kelas dengan langkah... ragu.
Kayla udah di bangku belakang—tempat biasa mereka—melambaikan tangan. "Aruna! Sini!"
Tapi Aruna... berhenti di tengah kelas.
Ngeliat bangku belakang. Tempat dia biasa duduk. Tempat yang... aman.
Terus ngeliat ke depan. Beberapa bangku lebih maju. Kosong.
Aruna tarik napas dalam.
*Bismillah.*
Dia jalan.
Nggak ke belakang.
Tapi... ke depan.
Duduk di bangku barisan keempat dari depan. Tengah.
Kayla melotot dari belakang. "Run? Kamu... duduk di situ?"
Aruna noleh, senyum kecil. "Iya... coba-coba aja..."
Kayla senyum lebar. "Oke! Gue seneng! Akhirnya kamu keluar dari zona nyaman!"
Aruna nggak jawab. Dia cuma... ngeliat ke depan kelas.
Ke bangku barisan kedua dari depan.
Tempat Dhira duduk.
Cowok itu belum dateng.
Aruna tunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Bel masuk bunyi.
Dan...
Dhira masuk kelas. Santai. Ransel di satu bahu. Rambut berantakan dikit.
Dia jalan ke bangkunya.
Tapi... dia berhenti.
Noleh ke belakang.
Mata mereka bertemu.
Dhira... senyum.
Senyum lebar.
Bukan senyum tipis kayak biasa.
Tapi senyum yang... tulus.
Dan cowok itu angkat jempol ke Aruna.
Aruna... wajahnya merah.
Jantungnya dag dig dug.
Tapi... dia senyum balik.
Senyum kecil.
Senyum yang... penuh harap.
Harap yang... mungkin bodoh.
Tapi tetep... ada.
Karena hati...
Hati nggak bisa dibohongin.