Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stalker
“Jisu ... aku merasa aneh. Sepertinya aku sakit. Aku tidak ingin melakukan apa-apa. Rasanya sebagian diriku hancur. Sesuatu menekan dadaku, aku merasa sesak."
Mendengar Anjani mengucapkan deretan kalimat menyedihkan itu, Nam Jisu yang duduk di sampingnya segera menariknya ke dalam pelukan. Dia sangat paham apa yang Anjani rasakan sekarang.
Bagaimana pun perkaranya, perceraian tetap adalah hal yang menyakitkan, terlebih untuk seorang Anjani yang selama ini begitu mengagungkan rumah tangganya dengan pria bajingan bernama Ahn Woojun.
“Tak apa, Anja. Semua akan baik-baik saja.”
Posisi sedang di kamar Jisu, duduk di atas ranjang. Mereka baru saja kembali dari kantor pengadilan keluarga (Family Court), selepas mengajukan berkas perceraian Anjani.
“Hidup yang tak sesuai impianmu bukanlah hidup yang gagal, Anja. Dan hidup yang sesuai impianmu juga belum tentu hidup yang berhasil. Sampai sejauh ini, kau sudah melakukan yang terbaik. Sebagai sahabat, aku sangat bangga padamu.”
Meski kadang sering merengek seperti anak-anak karena hal sepele, Jisu sebenarnya sangat dewasa dan bisa diandalkan saat siapa pun membutuhkannya, apalagi seorang Anjani yang sudah dianggapnya keluarga sendiri.
“Terima kasih, Jisu. Terima kasih karena terus menguatkanku.”
Anjani terpaksa mengalah saat Jisu memaksa tetap beristirahat dan menginap di rumahnya, setidaknya untuk beberapa hari sampai kalutnya hilang.
Pagi ini.
Nam Jisu menawarkan untuk tinggal dan menemaninya, namun Anjani menolak dengan mengatakan, “Jangan buat pelanggan toko rotimu berlarian karena sering tutup. Pergilah, aku tidak akan kemana-mana.”
Terpaksa, Jisu pergi bekerja, undur diri dengan wajah [tetap] sedikit merasa cemas.
Menjelang siang pukul 10.04, Anjani yang biasa sibuk bekerja bahkan di akhir pekan, mulai merasa bosan tidak melakukan apa pun di rumah Jisu yang sepi itu.
Akhirnya dia memutuskan keluar berjalan-jalan.
Di sekitar area tempat tinggal Jisu ada sebuah taman bermain. Di tepiannya, Anjani duduk diam di sebuah kursi bersandar. Menatap anak-anak kecil yang asyik bermain bersama para ibu atau mungkin pengasuh mereka.
Sesekali dia tersenyum tipis melihat betapa menggemaskannya anak-anak itu.
“Ageng dan Charita pasti sudah besar-besar sekarang," gumamnya, dengan bahasa Indonesia, sambil tersenyum. Nama-nama itu adalah nama anak-anak tetangganya dulu saat di Bali.
Iya, Anjani berasal dari Bali, lahir dengan nama lengkap Ni Luh Anjani, 28 tahun lalu.
“Aku rindu Bali, aku rindu Kuta.”
Saat yang sama ....
“Annyeong!"
Baru akan melayangkan pikiran ke kampung halaman, suara sapaan itu mengejutkannya Anjani sampai melengak.
“Anda ... lagi?" Cukup terkejut, terheran dan bingung.
Kemunculan ke sekian yang memang ... mengejutkan.
Sekarang Anjani yakin jika pria itu benar-benar menguntitnya dengan sengaja. “Kenapa Anda selalu muncul di mana saja?” Dia memberanikan diri untuk bertanya. “Apa Anda menguntit saya?!”
Sudah duduk di samping Anjani, tanpa izin. Dan wajahnya itu ... masih sama, hanya mata dan kening tertutup poni. Maskernya masih menutup bagian hidung sampai ke daguーSi Tuan Berkaki Panjang.
“Mau bilang tidak, aku berbohong, tapi untuk bilang iya, aku tidak melakukannya.”
Anjani menatapnya dengan mata mengecil. “Apa maksudnya itu?”
Pandangan dialihkan ke depan sebentar, lalu kembali ke wajah Anjani, pria itu menjawab, “Sinyalmu terlalu kuat. Aku berjalan mengikuti itu.”
Lelucon kosong, Anjani tercengang sesaat, lalu berdecih sambil membuang muka.
“Kau bisa juga berekspresi seperti itu, ya?” Bicaranya santai sekali, seakan sudah mengenal Anjani untuk waktu yang lama.
Membalikkan pandangan Anjani dalam sekejap. “Memangnya apa yang Anda tahu tentang saya? Kita saling mengenal saja tidak.” Ketidaknyamanannya mulai kentara. Menurutnya sikap pria itu terlalu semena-mena.
“Yeah ... akuー"
“Sebenarnya apa yang Anda inginkan dari saya?” Satu pertanyaan menyambar, memotong kata lelaki itu, Anjani 'tak sabar. “Bunga yang kemarin di kedai, Anda yang mengirimnya, 'kan? Apa Anda seorang predator yang hobi menguntit wanita?"
“Hey!” Pria itu tak terima.
“Apa?!”
“Tidak.”
“Tidak apa?”
“Soal bunga itu benar. Tapi soal predator ... menurutku itu terlalu berlebihan dan ... menguntit wanita ... Itu juga salah."
“Lalu?”
Seraup napas diambil lalu diembuskan asal, pandangan pria itu dia luruskan pada Anjani untuk kemudian bertutur dengan cukup serius. “Yang aku inginkan darimu, ada banyak, Nona. Tapi aku bukan seorang predator seperti yang kau tuduhkan. Bukan juga penguntit wanita, karena yang benar adalah ... aku menguntit Nona Anjani ... saja.”
Yeah, kata wanita terlalu umum, bisa untuk siapa pun.
Dan cukup mengejutkan juga, pria itu bahkan tahu namanya. Tapi Anjani berpikir lagi, itu bukan hal sulit. Ada Nam Jisu yang bisa saja ditanyai di toko roti. Agak membingungkan untuk bisa dicerna dengan cepat, dia masih belum paham dengan apa yang dimaksudkan lelaki itu dan kata-katanya yang ambigu tadi.
Sebentar saja, Anjani menelisik penampilan yang baginya mencurigakan. Masker itu tak pernah dilepas dan kelakuannya bukan porsi orang yang ingin mengenal dengan cara yang baik-baik. “Dia bahkan mengaku menguntitku secara jelas.”
Dalam sesaat kesimpulan didapat tanpa mau mengambil penjabaran pelik.
“Saya tidak peduli apa pun tujuan Anda, tapi jika Anda terus melakukan ini, saya akan lapor polisi. Permisi.”
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!