Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Matanya berkeliaran menelisik sekitar keramaian, mencari perempuan muda yang keluar diam-diam. Di lautan manusia itu music menghentak keras, orang-orang nya bergerak dengan liar. Ia melangkah membelah kerumunan sembari mengamati sekitarnya dari sudut ke sudut sampai pandangan nya jatuh pada perempuan muda yang berjoget dikelilingi pria-pria, ia lantas berjalan menghampiri perempuan muda yang punya semangat membara.
Yasmin nampak bebas dalam balutan crop top dan celana jeans, bersikap layaknya wanita dewasa yang terbiasa dalam lingkungan berat. Seorang laki-laki muda kisaran awal 20-an meletakan tangannya di punggung Yasmin, mengusap nya perlahan dan perempuan itu nampaknya tidak keberatan dengan tindakan laki-laki itu. Saat tangan itu mulai turun menyentuh bokong nya, Yasmin menghindar dengan ekspresi tidak nyaman. Dan itu tidak luput dari pengamatan Rain.
Namun laki-laki itu tidak peka, malah merengkuh Yasmin, "Eh...ngga mau" ujarnya dengan nyaring karena Yasmin menepis sembari menjauh.
"Ngga usah pegang-pegang lah! Risih tau ngga"balas Yasmin tak kalah keras karena suara music yang kencang
"Ngga bakal, nanti gue bikin enak deh" tangan laki-laki itu terulur lagi nyaris menyentuh wajah Yasmin, tapi keburu ditahan Rain lebih cepat bahkan lebih cepat dari gerakan Yasmin.
Laki-laki itu terkesiap dan Yasmin terbelalak dengan keberadaan Rain yang tiba-tiba.
"Lo siapa?" Tanya laki-laki itu melangkah mundur, tatapan keduanya beradu.
"Petaka" laki-laki itu memutuskan kontak tatapan mereka, merasa terintimidasi dengan tatapan dan suara dingin dari Rain.
"Gue ambil minum dulu, bro" ujar laki-laki itu berdalih pada teman disamping, menghindar dari keadaan mencekam itu.
Rain masih melihat pada laki-laki itu yang nampak buru-buru ingin menghilang dari pandangan Rain, sementara teman-teman nya juga perlahan mundur teratur.
"Pak Taka ngapain kesini?" Teriak Yasmin menyentuh punggung tangan Rain.
Ia lantas mengalihkan perhatian, menatap Yasmin yang mengeryit. "Mengerjakan tugas, Nona. Menjaga Anda dari laki-laki seperti tadi yang pastinya membuat Nona tidak nyaman,"ujar Rain mendekat agar suaranya terdengar jelas.
"Kamu tahu dari mana aku disini? Kemampuan kamu ini bikin hatiku meleleh, karena pengawal aku sebelumnya sering terlambat sadar keberadaan ku "
Rain melepaskan genggaman Yasmin dengan perlahan, sembari mengangguk untuk merespon ucapannya. "Saya lihat sendiri, Nona"
Rain melihat sekitar sebelum melanjutkan, "Silahkan anda menikmati malam ini, saya akan duduk disana menunggu, Nona." Ujar Rain sembari menunjuk kursi yang dimaksud.
"Karena sudah disini, kenapa ngga ikut menikmati nya juga?" Yasmin melingkarkan
Kedua tangannya di pinggang Rain, membuat pria dalam pelukannya menatap jengkel tangan yang bertengger itu.
"Maaf Nona, tapi saya tidak bisa" tolak Rain, melepaskan pelukan Yasmin dengan lembut.
"Apa susahnya? Kamu cuma perlu lihat sekeliling dan ikuti bagaimana cara mereka menikmati nya" tangan Yasmin bepindah ke leher Rain, bergelayut manja.
Yasmin membawa tubuh kaku Rain bergerak ke kiri dan kanan seraya tersenyum menatap pria itu yang memasang ekspresi tidak bersahabat, "Senyum dong!" Ujar Yasmin, menarik sebelah pipi Rain.
Lalu tergelak melihat wajah tertindas Rain, "Kamu lucu tau ngga?" Imbuh nya disela tawa, tidak tahu kalau pria itu mulai kehilangan kesabaran.
"Sebaiknya kita pulang Nona, besok anda harus sekolah"
"Ngga mau, aku masih mau disini. Jangan kaya Papi aku yang suka ngatur dong, Pak Taka. Ngga seru!" Ujarnya manyun, sementara Rain sudah kepikiran jalan keluar dari situasi yang membuat nya muak.
"Begitu? Lihat apa setelah ini anda masih mau bertahan?" Ujar Rain, melepas rengkuhan Yasmin dengan kasar, lalu mengambil sebotol alkohol dari atas meja didekatnya dan melemparkan ke kerumunan.
Alhasil membuat keributan, orang-orang terkejut dan nyaris terjadi perseteruan. Bagi Rain menghadapi orang-orang yang kesal dengan kelakuan nya lebih baik dibandingkan menghadapi kelakuan manja majikannya. "Anjing...! Hampir kena kepala gue, siapa yang lempar?" Teriak pria dalam kerumunan, Rain bergerak maju tapi ditahan Yasmin.
"Jangan, kita pulang aja" wajah gadis itu tegang melihat orang-orang yang mencari pelaku, sementara yang membuat masalah puas melihat ketakutan gadis dihadapan nya.
"Sekarang Nona? Tapi saya belum mengaku" Yasmin menggeleng, lalu menarik tangan Rain agar menjauh dan pergi dari klub saat itu juga. Meninggalkan keramaian serta keributan dibelakang mereka, keduanya berjalan bergandeng tangan melewati manusia yang haus hiburan.
"Silahkan masuk, Nona" ujar Rain membuka pintu mobil dibelakang, Yasmin bergeming menatap pria itu dengan amarah tertahan karena gagal dugem sampai pagi.
"Kenapa kamu melakukan itu pak Taka? Kamu hampir saja membawa kita dalam masalah, kamu tahu siapa pria yang hampir kena lemparan itu?" Yasmin melototi Rain, pria itu terdiam sejenak sembari mengusap pelipis.
"Saya hanya ingin anda cepat pulang, dan siapa memang nya pria itu?" Pertanyaan tidak penting menurutnya karena ia tidak peduli siapapun pria itu, yang terpaksa ditanyakan setelah berpikir apa lagi cara menanggapi majikan kecil nya?
"Astaga...kamu ngga tahu? Dia itu anak dari keluarga ternama dikota ini, siapa yang ngga kenal sama dia? Yang jadi pembisnis diusia muda, belum lagi keluarga besarnya itu semuanya orang kaya yang berprestasi"
"Saya orangnya, Nona. Yang tidak kenal" mendapatkan jawaban itu dari Rain membuat perempuan muda itu berdecih, lalu masuk ke dalam kendaraan.
"Dasar sialan, menyusahkan saja"maki nya yang ingin ia bisikan ditelinga gadis itu, agar sang majikan tahu betapa muak ia pada pekerjaan nya.
Namun gerakan Rain tetap memastikan Yasmin masuk dengan aman tanpa terbentur, lalu mengitari Mobil untuk masuk ke arah kursi kemudi. "Saya akan membawa kendaraannya sekarang juga, Nona"
Tapi hatinya lagi-lagi bersuara, "perempuan sialan, jika ada tugas untuk menghajar kau akan ku ambil berapa pun biaya nya"
*****
Kembali ke lima tahun mendatang, pada masa sekarang 13-oktober-xxxx. Rain membuka tirai jendela ruangan nya, seketika udara hutan dimalam hari memenuhi paru-paru. Ia sandarkan tubuhnya ditepi jendela sembari menghisap lagi rokok yang tersemat dijemari panjangnya. Lalu menghembuskan asap nya perlahan, angin membawa serta kumpulan asap dari nikotin, menyebar masuk ke dalam ruangan yang sepi.
Namun hatinya terbiasa dengan kesepian itu, meskipun ia punya keluarga angkat dan Rksabi. Hati nya yang telanjur keras, sulit merasakan kebahagiaan yang nyaman. Dimana tidak perlu bicara, hanya memandangi orang-orang yang kita sayang berada dekat didepan mata, hati merasa puas seolah itulah salah satu alasan memilih hadir ke dunia. Selama ini ia selalu merasa kosong, hambar, dalam ketenangan yang ia tampakan sesaat.
"Dimana bocah itu sekarang bersembunyi bersama dengan bocah dari dirinya?" Ia mendesah kesal.
"Gara-gara bocah itu aku jadi kelimpungan mencari benihku, sembarangan sekali! Awas kalau ketemu, habis dia!"
Tatapannya beralih kedalam ruangan kala suara ponselnya berbunyi cukup keras, benda pipih itu menyala. Ia menghampiri ponsel yang menampilkan nomor tidak dikenal, sambil mengeryit sambungan panggilan diterima.
"Hallo dengan Rksabi? Saya klien anda tujuh tahun yang lalu, masih ingat dengan bunga mawar dan balon yang terbang?" Jelas perempuan diseberang, memori Rain bekerja cepat menyimpulkan.
"Ya?"
"Ini...aku mau meminta bantuan jasa Rksabi lagi, bisa?"
"Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor telepon ini? Rksabi tidak ada disini, anda salah sambung" lalu panggilan diputus secara sepihak oleh Rain, nomor itu pun diblokir.
Jika memerlukan bantuan jasa, seharusnya perempuan itu tidak menghubungi nomor pribadinya. Rain melakukan panggilan pada Sandi, memerintahkan nya untuk mencari nomor baru untuknya, juga mencari tahu informasi lebih tentang perempuan yang menghubungi nya.