Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Pertama
Lapangan kompetisi Sekte Awan Jernih selalu tampak megah saat pagi menjelang. Cahaya matahari muda memantul di permukaan batu putih yang disusun sejajar, menciptakan kilau lembut yang seperti menari di atas angin. Ratusan murid telah berkumpul, sebagian berbicara berbisik, sebagian lagi menonton dari tribun kayu yang mengelilingi arena. Suara langkah, kain jubah berkibar, dan denting ringan pedang kayu yang disentuh-tak-sengaja bercampur menjadi satu suasana yang hiruk-pikuk namun penuh disiplin.
Lin Feiyan berdiri di salah satu sisi arena, kedua telapak tangan berkeringat dingin meski udara pagi masih segar. Jubah biru muda murid baru yang ia kenakan tampak terlalu sederhana dibandingkan murid-murid lain yang memiliki pinggiran tenunan emas atau talisman tambahan. Feiyan hanya menggenggam satu talisman latihan biasa—talisman yang ia dapatkan dari gudang umum, bukan pemberian, bukan benda istimewa, hanya potongan kertas spiritual dengan garis qi tipis.
Ia mencoba menenangkan diri.
Hari ini… aku harus menunjukkan sesuatu. Bukan menang. Hanya… sesuatu.
Napasnya pendek, dan ingatan samar tentang Gao Lian yang semalam memandanginya dengan mata dingin tapi cemas muncul kembali.
“Jangan memaksakan diri, Feiyan.”
Lalu Lin Yue, dengan senyum lembut yang masih terasa menenangkan di sudut hatinya.
“Kau tidak sendirian. Aku di sini.”
Dan terakhir… tatapan Yan Mei—hangat, menggoda, seolah memintanya datang mendekat tanpa suara.
“Kamu pasti bisa. Aku yakin.”
Ingatan itu menumpuk, membebani, lalu perlahan menghilang saat seorang senior memanggilnya maju.
“Nomor 43, Lin Feiyan. Lawanmu: Murid tingkat dasar kelas biru, Mo Zan.”
Feiyan melangkah ke depan.
Mo Zan berdiri di seberang, wajahnya penuh percaya diri yang sedikit terlalu tinggi untuk seorang murid tingkat dasar. Jubahnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, dan sepasang mata cokelatnya memandang Feiyan seolah dia hanyalah angka tambahan di daftar kekalahannya.
“Jangan tegang, adik junior,” katanya sambil tersenyum miring. “Aku akan ringan tangan.”
Feiyan hanya menunduk sedikit. “Terima kasih, Senior.”
Namun sesuatu yang aneh terjadi ketika ia mulai memusatkan qi di dantian. Aliran yang biasanya lambat namun stabil tiba-tiba bergetar, seperti ada butiran pasir yang masuk ke sungai jernih. Ia menarik napas dalam, mencoba mengatur kembali ritme, tetapi gangguan itu semakin parah.
Kenapa…? Qi-ku tidak biasanya begini.
Belum sempat ia memahami, suara Elder penjaga formasi memecah udara.
“Mulai!”
Mo Zan melesat lebih cepat dari yang seharusnya mungkin dapat Feiyan tangkap dengan realm mereka. Feiyan mengangkat lengannya untuk menangkis, tetapi gerakannya terasa lambat setengah detik, tubuhnya seperti diselimuti kabut. Tangan Mo Zan menghantam lengannya, dan Feiyan terseret mundur dua langkah.
Benturan itu tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuatnya tersentak.
Tidak, ada yang mengacau. Ini bukan aku…
Ia mencoba memusatkan qi lagi, namun setiap kali ia mengalirkannya, gangguan halus itu muncul dan membuatnya tersedak. Mo Zan menyerang lagi, serangannya sederhana—pukulan dasar yang dilatih ratusan murid setiap hari—tetapi bagi Feiyan, itu tampak lebih cepat, lebih berat, lebih sulit dihindari.
Suara bisik dari luar arena mulai terdengar.
“Kenapa dia bergerak lambat?”
“Talenta pas-pasan.”
“Aku dengar dia masuk lewat jalur belas kasihan Elder.”
Feiyan merasakan dadanya panas. Bukan karena serangan Mo Zan, tetapi karena malu. Suara-suara itu menusuk lebih dalam daripada pukulan apa pun.
Di kejauhan, di antara kerumunan, seseorang tersenyum tipis—seulas senyum yang terlipat rapi, seolah mencicipi pahit manisnya adegan itu. Yan Mei berdiri bersandar pada tiang kayu, tangannya bermain dengan pita merah di pergelangan tangannya. Tatapannya tidak fokus pada arena, melainkan pada Feiyan. Setiap gerak Feiyan tercatat dalam matanya—dari kepanikan kecil di detik pertama, hingga penurunan percaya diri yang perlahan meluruh seperti kelopak bunga layu.
Mo Zan menyerang lagi.
Feiyan berusaha menghindar, tetapi gangguan dalam aliran qi membuat kakinya goyah. Ia melewatkan peluang mengelak yang jelas. Pukulan Mo Zan mendarat tepat di pundaknya dan membuat tubuhnya terlempar ke belakang.
Elder mengangkat tangan. “Pertarungan pertama selesai!”
Feiyan terhuyung berdiri, menelan rasa malu yang semakin mengental. Mo Zan hanya mengangguk ringan, lalu pergi tanpa kata lain.
Bisik-bisik penonton semakin keras setelah kekalahan itu. Seorang murid bahkan menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
“Terlalu mudah.”
“Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan teknik sederhana.”
“Mungkin dia harus cari sekte lain.”
Feiyan meremas talismannya, mencoba tersenyum agar tak terlihat rapuh. Tapi wajahnya pucat, dan tangannya bergetar tanpa bisa dikendalikan.
Ia menunduk, lalu menarik napas pelan.
Ini baru awal. Aku masih bisa memperbaiki…
Namun sebelum pikirannya selesai, nama Feiyan dipanggil lagi.
“Nomor 43, bersiap untuk pertarungan kedua.”
Feiyan menelan ludah. Ia belum sepenuhnya pulih dari rasa malu, dan qi-nya masih berantakan. Ia menatap sekeliling, mencari sedikit wajah yang memberinya kekuatan. Gao Lian tidak terlihat. Lin Yue pun tidak. Hanya… Yan Mei. Gadis itu masih bersandar malas, senyumnya berubah lembut, seolah memberi dukungan.
Feiyan, kau bisa…
Senyumnya berkata begitu.
Namun hati Feiyan justru terasa makin kacau.
Lawan kedua adalah seorang murid yang jelas lebih berpengalaman. Namanya Shen Mu, murid kelas biru atas. Ia memasuki arena dengan langkah percaya diri, sedikit mengayunkan tangan seakan memamerkan kelincahannya.
“Jangan khawatir,” katanya ringan. “Aku tidak akan membuatmu pingsan.”
Feiyan mengangguk kecil. “Aku akan melakukan yang terbaik.”
Sayangnya… “yang terbaik”-nya mulai tercerai sebelum sempat ia lakukan.
Begitu pertandingan dimulai, aura Shen Mu tampak sedikit berkilau, seperti cahaya tipis yang menempel pada kontur tubuhnya. Cahaya itu membuat gerakannya terlihat lebih anggun, lebih tegas—lebih unggul dari Feiyan dalam segala aspek.
Charm tipis dari Yan Mei bekerja halus, memperindah aura Shen Mu tanpa ia sadari. Hasilnya? Feiyan terlihat semakin buruk di perbandingan mata penonton.
Shen Mu menyerang dengan pola sederhana: langkah ke depan, serangan garis lurus, lalu putaran kecil. Semua teknik dasar yang Feiyan juga kuasai. Namun Feiyan gagal membaca ritmenya. Begitu ia mencoba menangkis, qi di lengannya macet. Ia merasakan sakit seperti tertarik dari dalam.
Tubuhnya terpental kasar ke tanah.
Sorakan kecil terdengar.
Ada yang berdeham menahan tawa.
Ada yang bersiul pelan.
Feiyan bangkit dengan sisa tenaga, wajahnya panas dan matanya berair—bukan karena sakit fisik, tetapi karena rasa kecewa yang menumpuk tanpa tempat meluap.
Kenapa aku… selalu begini? Apa aku seburuk itu?
Shen Mu mengangkat tangan. Serangan terakhirnya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Feiyan terduduk tak berdaya.
Elder menghentikan pertandingan.
“Tepikan. Pertarungan kedua selesai.”
Feiyan duduk diam beberapa detik, menunduk, mencoba tidak memperlihatkan wajahnya yang hampir menangis. Namun ia tahu—ia bisa merasakan pandangan kasihan dari beberapa murid, dan rasa jijik dari yang lain.
Ia perlahan bangkit, memegang lengan yang nyeri, dan melangkah ke sisi arena.
Ini terlalu cepat… aku belum—aku bahkan tidak menunjukkan apa pun.
Napasnya tersengal, bukan karena kalah, tapi karena hatinya terasa terkikis.
Dan dari kejauhan, Yan Mei masih berdiri di tempat yang sama. Kali ini ia tidak tersenyum. Ia menatap Feiyan dengan ekspresi halus… seperti seseorang yang melihat seseorang lain tersesat dalam hujan deras—dan menunggu saat tepat untuk membuka payung dan memanggilnya masuk.
Feiyan menunduk, menunggu panggilan ketiga. Tangannya gemetar. Qi-nya semakin tidak stabil.
Ia mencoba merapikan napas.
Mencoba berdiri tegak.
Mencoba percaya diri.
Namun suara panggilannya datang lebih cepat dari keteguhan yang ia cari.
“Nomor 43. Pertarungan terakhir.”
Feiyan mengangkat kepalanya.
Matanya kabur oleh tekanan, namun ia melangkah juga.
Ini… akan jadi paling menyakitkan.
Dan ia tidak punya pilihan selain masuk ke arena lagi.
Angin sore di arena latihan terasa dingin menusuk, seolah mengikuti napas Feiyan yang pendek dan tidak stabil. Sorak para murid mulai mereda, berganti gumaman bosan ketika ia kembali berdiri di tengah panggung formasi. Tubuhnya masih bergetar dari kekalahan sebelumnya—kekalahan yang terlalu cepat, terlalu mudah.
Elder menopang tangan di punggung, suaranya datar.
“Pertarungan ketiga. Lin Feiyan, bersiap.”
Feiyan menelan ludah. Ia berusaha mengatur qi-nya, menarik napas panjang, namun… macet lagi. Misty Disruptor Powder masih menggantung samar di aliran nadinya, seperti benang halus yang menahan gerak.
Lawan ketiganya melangkah masuk—murid senior tingkat dua. Tubuhnya tegap, aura stabil, dan… lebih terang dari seharusnya.
Charm Yan Mei bekerja sempurna.
Aura lawan itu berkedip lembut, membuatnya tampak jauh lebih menawan, lebih berbakat, lebih pantas untuk menang. Dan akibatnya, Feiyan malah seperti bayangan kusam yang berdiri di hadapannya.
Beberapa murid di pinggir arena mulai berbisik.
“Kalau ini juga kalah, ya sudah jelas kelasnya.”
“Dia benar-benar cuma keberuntungan masuk sekte.”
“Kasihan sih… tapi lucu juga.”
Feiyan memejamkan mata. Fokus. Fokus, Feiyan.
Ketika pertarungan dimulai, ia bergerak pertama—atau berusaha. Aliran qi-nya tersendat sesaat, membuat langkahnya terlambat sepersekian detik. Lawannya menyambar celah itu tanpa ragu.
Pukulan ringan.
Sangat ringan.
Namun dengan kondisi qi-nya kacau, efeknya bagaikan palu.
“Ukh—!”
Feiyan terpental beberapa langkah.
Sorakan kecil terdengar.
Bukan kagum.
Bukan peduli.
Tapi… geli.
Ia menggigit bibir, rasa logam memenuhi lidahnya.
“Aku… tidak boleh gagal lagi…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Ia mengangkat kedua tangannya.
Memanggil teknik satu-satunya yang benar-benar ia kuasai.
Breath of Pure Mist.
Sebuah kabut tipis mulai berputar di telapak tangannya, setidaknya mencoba.
Namun Misty Disruptor menabrak sirkulasi qi-nya dengan kasar.
—Crack.
Teknik itu pecah.
Benang qi-nya berbalik arah, meledakkan percikan kecil yang menyambar lengan Feiyan sendiri.
“Agh—!”
Seketika arena sunyi.
Lalu…
“Tuh kan, gagal lagi…”
“Dia bahkan teknik dasar saja nggak stabil.”
“Eh, jangan keras-keras. Nanti dia nangis.”
Feiyan merunduk. Tidak menangis—tetapi matanya memanas, pandangan bergetar. Tangannya yang terbakar merah ia sembunyikan di balik lengan bajunya.
Lawan di hadapannya bahkan tampak ragu untuk menyerang.
Namun ingin segera selesai, ia mengayunkan satu tepisan sederhana.
Sentuhannya nyaris ringan.
Tapi itu cukup.
Tubuh Feiyan terpental jauh seperti boneka kain, terbanting di ujung arena formasi. Dada dan punggungnya perih, telinganya berdenging. Ia mencoba bangkit—lututnya goyah—dan jatuh lagi.
“Sudah cukup.”
Suara Elder terdengar—dingin, bukannya peduli.
Riuh murid-murid berubah menjadi gumaman kasihan… tetapi kasihan yang merendahkan.
Terlalu lemah untuk diperhatikan.
Terlalu kecil untuk dianggap musuh.
Terlalu mudah diinjak tanpa rasa bersalah.
Feiyan menunduk. Napasnya terputus-putus.
Kenapa… aku selalu begini?
Kenapa semua usahaku… selalu gagal?
Ia mengangkat kedua tangannya.
Telapak itu gemetar hebat.
‘Milik siapa tangan seperti ini? Kenapa… seperti bukan tanganku sendiri?’
Shackled Heart Seal di dalam tubuhnya berkedut pelan—tidak tampak oleh mata siapapun, namun cengkramannya memperberat rasa bersalah, rasa tidak cukup, rasa gagal.
Seolah seluruh dunia sedang mengatakan:
Kamu bukan apa-apa.
Feiyan memaksa berdiri. Ia menahan sakit di lengan, menggigit pipi bagian dalam agar tidak menangis.
Ia membungkuk sopan pada Elder, lalu berjalan keluar arena perlahan.
Setiap langkah seperti diseret.
Murid-murid yang lewat menghindari tatapannya.
Sebagian menunduk karena tidak enak… sebagian menahan tawa.
Tidak ada yang memanggil namanya.
Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.
Angin sore menyusup masuk ke jubahnya, membuat tubuhnya terasa semakin ringan dan kosong.
Sedikit saja dorongan, ia mungkin jatuh.
Ketika ia mencapai ujung koridor latihan—sunyi, sepi, tanpa sorakan…
Di sanalah seseorang sudah menunggu.
Bersandar lembut pada tiang kayu. Senyum hangat. Tatapan yang seolah memahami segalanya.
Yan Mei.
Ia melangkah pelan menghampiri Feiyan.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat tangannya dan mengusap debu dari pipi Feiyan. Gerakannya lembut, manis, seperti sentuhan seorang sahabat yang paling tulus.
“Feiyan…” suaranya seperti selimut hangat di malam dingin.
“Kamu sudah berusaha.”
Ia mendekat sedikit, mata coklatnya memantulkan bayangan Feiyan yang rapuh.
“Sekarang… biarkan aku yang menjagamu.”
Feiyan menatapnya, mata merah, napas gemetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak kompetisi dimulai… dadanya sedikit melonggar.
Yan Mei meraih lengannya, menuntun Feiyan keluar koridor, langkah demi langkah, seolah membawa pulang seseorang yang hampir jatuh.
Di balik senyum manis itu, di dalam mata yang tampak lembut—
ada kilatan kecil.
Rasa memiliki yang berdenyut pelan.
Benang pertama telah terikat.