Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pak Tomo mengikuti arahan Keyvandi, lelaki yang bekerja sebagai bodyguard Keyvandi itu sebenarnya bingung mengapa tuannya itu menyuruhnya putar balik, tapi ia tidak ingin bertanya lebih.
"Sudah sampai Den."
Keyvandi turun dari mobilnya dengan memakai hoddie, ia tidak ingin orang mengetahui siapa dirinya, memang lebih baik menggunakan cara ini.
Keyvandi melihat kanan dan kiri, ia mencari dimana Despina berada.
"Kak Vandi, disini!" Despina sedikit berteriak, gadis yang mengenakan hoddie putih itu langsung menghampiri Keyvandi.
"Sayang, ada apa denganmu?" Tanya lelaki itu dengan nada khawatir. Keyvandi langsung mengajak Despina untuk masuk ke dalam mobil miliknya dan duduk di kursi belakang kemudi sebelah lelaki itu.
Despina yang tadi memakai masker langsung melepas maskernya, ia juga melepas tudung hoddie miliknya.
"Kak, tolong aku, aku tidak ingin tinggal di rumah itu lagi?"
Keyvandi mengerutkan keningnya, ia menatap sang kekasih dengan pandangan khawatir.
Despina menggelengkan kepalanya, mata bengkak gadis itu masih terlihat jelas akibat terus menangis. "Aku, aku..." Despina menghentikan ucapannya, ia belum sanggup bercerita.
Keyvandi menghela napasnya pelan, ia mengusap sudut mata Despina dengan kedua ibu jarinya. "Sudah ya, tenangkan dirimu sayang, sekarang kau aman bersamaku," Ujar Keyvandi, lelaki itu berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Keyvandi sibuk dengan pikirannya,lelaki itu harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Despina sampai gadis itu seperti sekarang. Tapi mungkin tidak sekarang, karena sekarang fokusnya adalah membuat Despina nyaman dan tenang dulu.
Dengkuran halus terdengar, Keyvandi mengalihkan perhatiannya, ia melihat Despina sudah terlelap di alam mimpinya.
"Sayang, aku mungkin baru sebentar mengenalmu, tapi aku harap aku bisa selalu melindungimu." Humas Keyvandi pelan, hanya lelaji itu yang bisa mendengarnya.
"Pak, langsung jalan ke apartemennya Vandi aja ya," Pinta Keyvandi kepada pak Tomo.
"Baik den."
Keyvandi terus mengusap rambut Despina, lelaki itu berusaha membuat tidur gadis utusenyaman mungkin. Ia merasa entah apa kesulitan yang sudah gadis itu alami sampai tertidur begitu pulas meskipun baru dalam waktu sebentar.
30 menit berlalu, mobil milik Keyvandi yang berisi tiga orang itu telah sampai di sebuah apartement mewah. Keyvandi langsung keluar dari mobil dan menggendong deouna ala brydal style. Untung saja saat itu suasana di gedung apartemen itu sangat sepi, sehingga Keyvandi dengan leluasa membawa gadisnya.
"Kak," Panggil Despina disela-sela gendongan Keyvandi, gadis itu mulai sadar.
"Stttt, sayang tenanglah, pejamkan lagi matamu, kita sebentar lagi akan sampai." Keyvandi berusaha agar Despina kembali terlelap di tidurnya.
Despina menuruti ucapan Keyvandi gadis itu kembali memejamkan matanya.
***
Sedangkan di sisi lain seorang lelaki tampak murka karena adik tirinya kabur dari rumah.
"Kalian semua memang benar-benar tidak becus! Aku sudah membayar kalian mahal-mahal untuk menjaga satu orang gadis SMA saja tidak bisa, dasar tidak berguna!" Umpat Leo, lelaki itu adalah kakak tiri Despina, gadis swoulang dari meeting ia mendapatkan kabar jika Despina melarikan diri. Leo langsung marah, karena ia sudah membayar anak orang untuk menjaga gadis itu, tapi ternyata mereka kecolongan.
"Aku tidak mau tau, kalian harus menemukannya sampai dapat, jika tidak, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian. Mengerti!?"
"Ba-baik Boss, Mengerti!" Balas anak buah lelaki itu serempak.
Kemudian Leo masuk ke dalam rumahnya. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu, ia mengambil sebatang rokok dan menyesapnya. "Sialan! Kemana perginya gadis bodoh itu!? Bangsat!" Umpatan demi umpatan tidak berhenti keluar dari mulut lelaki itu, ia benar-benar kesal dengan Despina, padahal Despina adalah salah sumber uangnya, tapi sekarang ia kehilangan gadis itu.
"Liat saja Despina, karena kau sudah berani membangkang, jika kau ketemu aku akan membuatmu menyesal."
Leo juga kesal dengan pembantunya yang tidak becus menjaga Despina, tapi lelaki itu tidak bisa asal memarahi bik Ina, karean wanita tua itu adalah orang yang sangat berjasa di keluarganya, jika sampai buk Ina berhenti bekerja maka sang ibu nanti akan sangat murka padanya.
Leo dan Despina adalah saudara tiri, ayah Despina menikah dengan ibu dari Leo. Tapi sangat disayangkan kedua orangtua Leo dan Despina jarang sekali kembali ke Indonesia, untuk itu Leo menjadi semena-mena pada Despina. Selain itu, Leo juga sangat membenci Despina, karena semenjak kedatangan gadis itu di rumahnya sang ibu berubah, wanita itu lebih mementingkan Despina darinya, untuk itu ketika sang ibu memutuskan untuk mengikuti suaminya akhir ya itu menjadi kesempatan bagi Leo untuk membalas dendam.
***
Despina membuka matanya, gadis itu bingung melihat seisi kamar yang sekarang ia tempati. Ia merasa jika kamar itu bukanlah kamarnya.
"Shhh, aduh, kepalaku pusing sekali, sekarang aku dimana?" Gumamnya masih dengan nada yang lemah, pandangan gadis itu menyapu setiap sudut kamar yang saat ini ia tempati.
Bau maskulin di kamar ini begitu semerbak, warna dinding yang hitam dan abu-abu khas lelaki membuat Despina mengerutkan keningnya.
Ceklek
"Sayang, kau sudah bangun?" Keyvandi masuk ke kamarnya dan menghampiri Despina yang masih terlihat lemah. Lelaki itu membawa nampan berisi airputih, obat dan juga bubur panas. Ia berencana untuk membangunkan Despina agar gadis itu makanan juga minum obat, ia sangat mengkhawatirkannya.
Despina menganggukkan kepalanya, "Kak Vandi, apa aku berada di rumah kakak?"
Keyvandi tersenyum, ia mengusap pelan pucuk kepala Despina, "Iya sayang, lebih tepatnya sekarang kau berada di apartemenku."
Despina terdiam, ternyata ia berada di apartement milik Keyvandi. "Maafkan aku kak, aku merepotkan kakak."
"Tidak masalah sayang, aku senang karena merasa berguna untukmu, sekarang kau harus makan terlebih dahulu ya, setelahnya minum obat, aku sebentar lagi akan memangnggi dokter untu memeriksamu."
Despina hanya menganggukkan kepalanya, tubuhnya terlalu lemah jika harus banyak bicara, tenaganya sudah habis karena kejadian yang menimpanya tadi malam, juga belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Keyvandi dengan telaten menyuapi Despina, beberapa suapan telah Despina makan, ia terlihat makan dengan lahap, hal itu membuat Keyvandi prihatin dengan gadisnya itu.
Setelah sampai di suapan terakhir, Keyvandi langsung mengelap mulit Despina dengan tissu, kemudia lelaki itu memberikan Despina airminum.
"Minumlah dahulu, oh ya, Sayang, sepertinya kauminum obatnya nanti saja, kita akan menunggu dokter untuk memberikan obat yang pas denganmu."
"Terimakasih kak Vandi, aku merasa berhutang Budi pada kakak."
Keyvandi tersenyum, "Jangan mengatakan hal seperti itu, aku merasa tidak keberatan melakukannya. Sekarang kau boleh berbaring kembali, sambil kota menunggu dokter datang."
Keyvandi akhirnya membantu Despina untuk berbaring, lelaki itu juga memasang selimut di tubuh gadis itu.
"Cepatlah sembuh, aku mengkhawatirkanmu."
"Aku baik-baik saja kak," Balas Despina dengan senyum di bibir pucatnya itu.
Keyvandi hanya bisa menghela napasnya pelan, gadisnya ini sepertinya belum siap bercerita, mungkin Keyvandi akan meminta Despina bercerita lain kali, untuk sekarang biarlah gadis itu beristirahat.
"Sebentar ya, sepertinya dokternya sudah datang."
Keyvandi meninggalkan Despina seorang diri di kamarnya, lelaki itu membukakan pintu apartemen untuk dokter yang akan memeriksa Despina. Beberapa saat kemudia dokter itu telah berada di kamar Keyvandi bersama Keyvandi sendiri.
"Halo Nona, apakah ada yang Nona keluhkan?"
Despina berusaha untuk menyenderkan badannya di senderan tempat tidur, Keyvandi bergegas membantu gadis itu.
"Jika ingin berbaring tidak masalah Nona, aku hanya perlu memeriksa keadaan Nona saja."
Dokter itu mengeluarkan stetoskop, lalu mulai memeriksa Despina. Dokter tadi terdiam, begitupun dengan Despina dan juga Keyvandi.
"Baiklah, sepertinya Nona sangat kelelahan dan kurang istirahat, mungkin Nona ada yang dipikirkan akhir-akhir ini?" Tanya dokter itu sambil menulis beberapa resep obat untuk Despina.
"Sepertinya aku hanya kurang tidur saja dok, mungkin karena banyak sekali tugas sekolah, kebetulan aku duduk di bangku kelas 12," Balas Despina masih dengan nada yang lah namun sedetail mungkin, ia sengaja mengatakan jika sebagai siswi kelas sebelas mmebuatnya kelelahan, ia belum siap jika harus mengatakan yang sebenarnya.
"Baiklah, Tuan Vandi, ini adalah beberapa resep obat yang harus ditebus untuk Nona, emb..." Ucapan dokter itu terhenti karena ia tidak mengetahui nama Despina.
"Despina."
"Ah ya, untuk Nona Despina, sebaiknya Tuan Vandi segera menebusnya, dan juga untuk Nona Despina jangan dulu banyak berakty atau memikirkan hal yang berat, karena itu tidak akan baik untuk kesehatan Nona," Jelas dokter tadi.
Despina hanya menganggukkan kepalanya mengerti, setelahnya dokter tadi keluar bersama Keyvandi.
"Van, sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh Nona Despina, apa kau mengetahuinya?" Tanya dokter itu, kebetulan dokter itu adalah teman seangkatan dengan Vandindi SMA dulu, untuk itu ia akan memanggil Keyvandi dengan sebutan nama jika hanya berdua.
Keyvandi menatap dokter itu, "Ya, aku juga merasa begitu, tapi aku sama sekali tidak tau apa yang disembunyikannya dariku."
"Sabarlah Bro, tapi ngomong-ngomong siapa gadis itu, kenapa kau seperti sangat mengkhawatirkannya?"
Keyvandi menghentikan langkahnya, "Dia kekasihku."
"Apa!?"
"Sttt, diam bodoh, jika dia mendengar teriakanmu itu akan sangat mengganggunya."
Dokter itu hanya mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya membentuk huruf V. "Maafkan aku," Sesal dokter itu.
"Brian, Terimakasih sudah menyempatkan untuk datang kesini," Ucap Keyvandi pada dokter bernama Brian itu.
"No problem, jika kau butuh sesuatu untuk diperiksa silahkan hubungi aku lagi."
Brian menaik turunkan alisnya, lelaki itu memang sangat suka menggoda Keyvandi.
"Haishh, sudahlah, kau pulang saja sana, aku ingin menemui kekasihku."
Keyvandi mendorong tubuh Brian, lalu menutup pintu apartemennya dengan keras tanpa memperdulikan umpatan dari dokter Brian.
"Rasakan itu siapa suruh mengejekku."
Setelahnya, Keyvandi berjalan masuk ke dalam kamarnya lelaki itu ingin menemui kekasihnya.
"Sayang," Panggil Keyvandi pada kekasihnya itu.
Keyvandi menghampiri Despina dan duduk di pinggiran kasur. Lelaki itu memegang lembut tangan Despina yang lemas itu.
"Apa kau ingin menceritakan sesuatu kepadaku?"
Despina terdiam, ia menatap keyvandi, "Kak Vandi, kenapa kakak baik padaku?"
Keyvandi mengelus kepala Despina sayang, "Hei, jangan berkata seperti itu, aku mencintaimu sayang, tentu saja aku harus baik padamu."
"Tapi kak, aku tidak pantas."
"Jangan mengatakan hal seperti itu, hanya kau yang pantas untukku."
Despina merasa tidak pantas untuk Keyvandi, lelaki itu memang terlalu sempurna dan sangat baik, seharusnya Keyvandi bisa mendapatkan wanita yang lebih darinya, bukan sepertinya yang tidak berguna, dan hanya seorang gadi SMA.
"Kak, sepertinya besok aku akan berangkat sekolah."
Keyvandi mengusap pelan rambut Despina, "Iya sayang, tapi kau harus berjanji untuk sembuh dulu."
Tiba-tiba saja Despina terdiam, hal itu tentu saja membuat Keyvandi khawatir. "Sayang, ada apa denganmu, hei?"
"Kak, aku lupa jika aku tidak membawa peralatan sekolahku, bahkan aku juga tidak membawa baju selembarpun," Despina terlihat panik, bagaimana ia bisa sekolah jika barang-barang yang dibutuhkannya tidak ia bawa.
Keyvandi menenangkan gadisnya itu, "Tenanglah sayang, itu halnyang gampang, aku akan menyuruh anak buahku membelikan keperluan sekolahmu."
Mata Despina berbinar, ia merasa senang mendengar ucapan Keyvandi. "Terimakasih kak Vandi, lagi-lagi aku merepotkan kakak. Aku berjanji nanti jika kakak membutuhkan sesuatu, aku akan menolong kak Vandi."
Keyvandi hanya membalas ucapan Despina dengan senyumannya. Entah mengapa lelaki itu selalu merasa ingin melindungi Despina, ia tidak ingin hal buruk terjadi pada gadis itu, mungkin ia belum lama mengenal Despina, bahkan bisa dikatakan jika Despina adalah gadis pertama yang berhasil membuatnya tertarik. Padahal selama ini banyak sekali gadis yang berusaha mendekatinya, belum lagi dari kalangan penggemarnya. Hanya saja, saat itu belum ada satupun yang membuat Keyvandi tertarik.
"Sayang, sekarang kau harus beristirahat ya, pejamkan matamu. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menebus obat-obatanku." Keyvandi meminta Despina untuk tertidur, gadis itu menganggukkan kepalanya dan memposisikan dirinya untuk tidur.
Setelahnya, Keyvandi hanya menatap wajah gadis ayu itu, dengkuran halus dari Despina kembali terdengar. Keyvandi merasa lega melihatnya. "Entah apa yang sedang kau hadapi, tapi aku akan berusaha selalu ada di sisimu Despina."
Cup
Kecupan lembut mendarat di kening Despina, "Aku mencintaimu."
Sering ponsel Keyvandi berbunyi, lelaki itu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ternyata itu adalah panggilan dari Lia manajer sekaligus asistennya yang sangat cerewet.
"Hei, kau dimana!?"
Keyvandi menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian setelah dirasa aman lelaki itu kembali mendekatkan ponselnya di telinga. "Bisakah bersikap santai, aku tidak tuli," Kesal Keyvandi, lelaki itu tidak terima dengan manajer sekaligus merangkap sebagai asistennya itu berteriak padanya.
"Baiklah baiklah, aku hanya ingin tau apa kau masih di rumah kedua orangtuamu?"
Keyvandi memandang kearah Despina, kemudian ia kembali berbicara pada Lia, "Ya, aku masih di rumah orangtuaku, jadi jangan menggangguku, aku sibuk, adikku Keana juga memintaku untuk menemani Siera bermain dan menjaganya," Ujar Keyvandi, lelaki itu terpaksa berbohong, ia tidak ingin jika nanti berkata jika sekarang sedang di apartemen Lia akan mengetahui semuanya, untuk saat ini biarlah ia menyembunyikan hubungannya dengan Despina, karena jika sampai banyak orang yang tau tentang hubungannya dengan Despina, ia takut akan membahayakan gadis itu, ia tidak masalah dengan karirnya, ia hanya ingin Despina baik-baik saja.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin memberitahukan padamu jika jadwal Senin nanti kau akan mulai syuting seperti biasanya."
Keyvandi terdiam, "Emb, baiklah, tapi jangan menggangguku, oh ya, kau siapkan semuanya di kantorku saja, aku ingin berangkat sendiri dari rumah orangtuaku."
Tut
Setelahnya Keyvandi mematikan teleponnya sepihak, ia tidak peduli jika nanti Lia akan mengomelinya.
"Ja-jangan, ja-ngan lakukan itu..."
.
.
.
TBC