Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.
Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Keunggulan yang Tidak Bisa Ditiru
Pertemuan dengan Rudi beberapa hari lalu meninggalkan kesan mendalam bagi Arga.
Bukan karena pria itu mengancam atau meremehkan warung keluarganya.
Justru sebaliknya.
Rudi terlihat cerdas.
Terlalu cerdas untuk diremehkan.
Sejak saat itu, Arga mulai mengamati minimarket milik Rudi dengan lebih serius.
Setiap pulang sekolah, ia sengaja melewati tempat tersebut.
Bukan untuk berbelanja.
Melainkan untuk belajar.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah bekerja lebih dari sepuluh tahun di dunia korporasi.
Ia tahu satu prinsip penting.
Kalau ingin mengalahkan pesaing, jangan hanya melihat kelemahannya.
Pahami juga kekuatannya.
Dan kekuatan minimarket itu sangat jelas.
Tempatnya bersih.
Produknya lengkap.
Pencahayaannya terang.
Pelayanannya cepat.
Bahkan beberapa barang dijual lebih murah dibanding warung keluarganya.
Kalau bersaing secara langsung, warung mereka hampir tidak punya peluang menang.
Arga berdiri di depan minimarket sambil memperhatikan pelanggan yang keluar masuk.
Sebagian besar membeli makanan ringan kemasan.
Minuman botol.
Es krim.
Atau kebutuhan sehari-hari.
Semua produk pabrikan.
Semua barang yang bisa disimpan dalam waktu lama.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
Apa yang tidak bisa dijual oleh minimarket?
Arga terus memikirkannya sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju dapur.
Ibunya sedang mengupas pisang.
Melihat pemandangan itu, sebuah ingatan lama muncul di benaknya.
Saat masih kecil, ibunya sering membuat pisang goreng untuk dijual.
Rasanya sangat enak.
Bahkan tetangga sering datang khusus untuk membelinya.
Namun setelah warung mulai sepi dan kondisi ekonomi memburuk, ibunya berhenti membuatnya.
Karena takut tidak laku.
"Bu."
Ibunya menoleh.
"Kenapa?"
"Pisang goreng buatan Ibu masih seenak dulu?"
Ibunya tertawa kecil.
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Aku serius."
"Tentu saja masih."
Arga tersenyum.
"Itu bagus."
Ibunya mengernyit.
"Kamu merencanakan sesuatu lagi?"
Arga tidak langsung menjawab.
Ia mengambil sebuah kursi lalu duduk di dekat meja dapur.
"Bu, menurut Ibu kenapa minimarket lebih ramai?"
"Karena lebih besar."
"Selain itu?"
"Barangnya lebih banyak."
"Selain itu?"
Ibunya berpikir sejenak.
"Lebih modern mungkin."
Arga mengangguk.
Semua jawaban itu benar.
Namun bukan itu yang sedang ia cari.
"Kalau begitu, apa yang tidak bisa mereka jual?"
Ibunya terlihat bingung.
"Maksudmu?"
"Pisang goreng."
"Hah?"
"Pisang goreng yang baru matang."
Ibunya terdiam.
Arga melanjutkan.
"Pastel."
"Risoles."
"Bakwan."
"Semuanya harus dibuat setiap hari."
Tatapan ibunya perlahan berubah.
Seolah mulai memahami arah pembicaraan.
"Minimarket tidak bisa membuat itu."
Arga mengangguk.
"Mereka bisa menjual makanan kemasan."
"Tapi tidak bisa menjual makanan rumahan yang baru matang setiap hari."
Untuk beberapa saat dapur menjadi sunyi.
Kemudian ibunya menghela napas.
"Kamu mau menjual gorengan?"
"Kenapa tidak?"
"Kalau tidak laku bagaimana?"
Pertanyaan itu langsung keluar.
Dan Arga sudah menduganya.
Karena itulah alasan utama ibunya berhenti membuat makanan dulu.
Takut rugi.
Takut bahan terbuang.
Takut gagal.
"Kalau kita buat sedikit dulu?"
"Sedikit?"
"Dua puluh buah."
Ibunya masih tampak ragu.
Namun kali ini Arga tidak memaksa.
Ia tahu kepercayaan membutuhkan waktu.
Malam harinya, ia kembali menghitung.
Dua puluh pisang goreng.
Biaya bahan.
Minyak.
Gas.
Keuntungan.
Semuanya dicatat dengan rinci.
Keesokan paginya, Arga menunjukkan hasil perhitungannya kepada ibunya.
"Kalau habis terjual, untungnya lumayan."
Ibunya membaca catatan itu.
Lalu kembali membaca.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk.
"Kita coba."
Mendengar jawaban itu, Arga tersenyum lebar.
Untuk pertama kalinya, ibunya benar-benar terlibat dalam salah satu ide bisnisnya.
Pagi berikutnya, rumah mereka menjadi lebih sibuk dari biasanya.
Bahkan sebelum matahari terbit, aroma pisang goreng sudah memenuhi dapur.
Arga membantu mengupas pisang.
Ayahnya membantu menata meja.
Sementara ibunya sibuk menggoreng.
Suasana yang sederhana.
Namun entah kenapa terasa hangat.
Sangat hangat.
Saat melihat kedua orang tuanya bekerja bersama seperti itu, Arga tiba-tiba teringat kehidupan sebelumnya.
Saat itu, keluarganya jarang berkumpul.
Semua terlalu sibuk memikirkan masalah masing-masing.
Kini ia memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
Dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Menjelang siang, dua puluh pisang goreng akhirnya selesai dibuat.
Warnanya keemasan.
Aromanya harum.
Bahkan Arga sendiri langsung merasa lapar saat melihatnya.
Mereka meletakkan nampan kecil di depan warung.
Tanpa spanduk.
Tanpa promosi besar.
Hanya tulisan sederhana.
**Pisang Goreng Hangat.**
Awalnya tidak ada yang membeli.
Lima belas menit berlalu.
Setengah jam.
Ibunya mulai terlihat cemas.
"Lihat? Mungkin memang tidak laku."
Namun tepat saat itu, seorang siswa berhenti.
"Ada pisang goreng?"
"Iya."
"Boleh beli dua?"
Tak lama kemudian datang siswa lain.
Lalu siswa berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Menjelang jam pulang sekolah, aroma gorengan mulai menarik perhatian lebih banyak orang.
Dalam waktu kurang dari satu jam, setengah dari stok sudah habis.
Ibunya mulai terkejut.
Saat satu nampan terakhir terjual, bahkan ayahnya ikut tercengang.
"Habis?"
"Habis."
Ibunya masih menatap nampan kosong.
Seolah tidak percaya.
Sudah lama sekali ia tidak melihat makanan buatannya laku secepat itu.
Arga memperhatikan ekspresi tersebut.
Lalu tersenyum.
Karena ia tahu ini bukan sekadar tentang keuntungan.
Ini tentang kepercayaan diri yang kembali tumbuh.
Kepercayaan bahwa warung mereka masih bisa berkembang.
Malam itu, setelah warung tutup, ibunya berkata pelan.
"Mungkin besok kita bisa buat lebih banyak."
Mendengar kalimat itu, senyum Arga semakin lebar.
Karena ia tahu perubahan terbesar hari ini bukanlah tambahan pemasukan.
Bukan pula pisang goreng yang habis terjual.
Melainkan fakta bahwa ibunya mulai percaya pada masa depan warung mereka sekali lagi.
Dan itu jauh lebih berharga daripada uang.