NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERTEMPURAN DI TENGAH KEGELAPAN

Kegelapan yang menyergap gudang galangan kapal nomor 07 itu terasa begitu pekat dan instan. Gelombang kejut dari bom elektromagnetik (EMP) yang meledak di dermaga luar tidak hanya mematikan seluruh lampu penerangan, tetapi juga melumpuhkan total alat bidik termal, senter taktis, dan sistem komunikasi radio interkom yang terpasang di helm pasukan khusus Mahardika. Kesunyian yang mencekam sempat merayap selama beberapa detik, hanya diinterupsi oleh suara desis halus dari perangkat elektronik yang terbakar arus pendek.

Namun, bagi seorang Dafa Mahardika, kegelapan bukanlah sebuah hambatan. Kehilangan indera penglihatan justru membuat indera pendengaran dan insting predator puncaknya menajam hingga ke batas maksimal. Pria itu menahan napasnya lambat, memosisikan tubuh tegapnya bersandar pada dinding dingin kontainer besi, mendengarkan setiap pergerakan sekecil apa pun di dalam ruangan yang luas itu.

SWISH!

Suara tebasan angin dari kapak besar yang diayunkan oleh pria bertopeng di belakangnya terdengar begitu jelas di telinga Dafa. Tanpa perlu melihat, Dafa merendahkan tubuh besarnya secepat kilat, membiarkan mata kapak itu menghantam dinding kontainer hingga memercikkan bunga api kecil di dalam kegelapan.

Memanfaatkan kilatan cahaya pemantik dari benturan besi tersebut, Dafa mengayunkan kaki kanannya dalam sebuah tendangan berputar yang luar biasa keras, menghantam tepat di ulu hati pria bertopeng itu hingga terdengar suara tulang rusuk yang retak.

BUGH!

Pria itu terlempar ke belakang, menabrak tumpukan palet kayu hingga hancur berantakan.

"Dafa! Kamu di mana?!" suara Mami Kinanti terdengar memanggil lirih dari tengah ruangan, sarat akan rasa panik namun mencoba tetap tegar. Wanita paruh baya itu masih terikat kuat di atas kursi besi, tidak bisa melihat apa pun di sekelilingnya.

"Tetap di tempatmu, Mami! Jangan bergerak sedikit pun!" balas Dafa, suara baritonnya yang berat bergema rendah di antara dinding gudang, memberikan rasa aman yang mutlak di tengah badai.

Detik berikutnya, suara rentetan tembakan otomatis kembali membubung tinggi dari arah luar dermaga, menembus pintu besi gudang yang mulai didobrak paksa dari luar. Langkah kaki dari ratusan orang berpakaian taktis baru yang mengepung mereka terdengar semakin mendekat, beritme konstan layaknya pasukan semut yang siap mengepung mangsanya.

"Pak Dafa! Ini bukan anak buah Baskoro Sanjaya!" teriak Mikael dari balik kegelapan sudut kiri, suara asisten pribadinya itu terengah-engah setelah berhasil melumpuhkan seorang musuh menggunakan belati taktisnya. "Berdasarkan seragam taktis yang sempat saya raba sebelum lampu mati... ini adalah The Vipers, kelompok tentara bayaran internasional tingkat tinggi dari Asia Timur! Seseorang telah membayar mereka dengan nilai fantastis untuk melenyapkan Anda malam ini!"

Dafa menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin di sudut bibirnya yang tegas. Amarahnya tidak lagi meledak panas, melainkan berubah menjadi energi dingin yang mematikan. Baskoro Sanjaya rupanya tahu bahwa kekuatan internal klan Sanjaya tidak akan cukup untuk menahan amukan Mahardika, sehingga tua bangka itu nekat menjual sisa asetnya demi menyewa pembunuh internasional.

"Tidak peduli apakah mereka ular atau serangga, Mikael..." ucap Dafa, suaranya terdengar sangat tenang namun dipenuhi ancaman kematian yang mutlak. Pria itu mengokang kembali senapan serbu taktisnya secara manual tanpa bantuan optik. "Siapa pun yang menginjakkan kaki di atas tanah Mahardika dengan senjata di tangan mereka... hanya berhak pulang ke negara mereka di dalam kantong mayat."

BLAAAAMM!

Pintu besi utama gudang akhirnya runtuh total dihantam oleh kendaraan taktis milik pasukan The Vipers. Kilatan lampu suar (flare) berwarna merah darah dilemparkan masuk ke dalam ruangan, membakar kepekatan malam dengan pendaran cahaya kemerahan yang eksotis namun mengerikan.

Di bawah pendar cahaya merah suar tersebut, puluhan anggota The Vipers melangkah masuk dengan formasi tempur yang sangat rapi, memegang senapan serbu laras panjang yang diarahkan ke segala penjuru.

Pertempuran jarak dekat yang luar biasa brutal dan berdarah pun pecah dalam sekejap di antara barisan kontainer besi. Dafa bergerak layaknya bayangan hitam yang tidak tersentuh. Kecepatan menembak dan insting posesifnya untuk melindungi Mami Kinanti membuatnya bertarung tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri.

BANG! BANG! BANG!

Tiga orang tentara bayaran yang mencoba mendekati posisi kursi Mami Kinanti seketika tumbang dengan lubang peluru tepat di tengah dada mereka akibat tembakan akurat Dafa. Pria itu melompat dari atas kontainer, mendarat tepat di depan kursi ibunya, menjadikan tubuh tegap bidangnya sendiri sebagai perisai hidup dari hujan peluru yang beterbangan liar.

Tangan kiri Dafa bergerak secepat kilat merobek tali pengikat di tubuh Mami Kinanti menggunakan pisau lipat taktisnya, sementara tangan kanannya terus melepaskan tembakan balasan ke arah musuh yang merangsek maju.

"Mikael! Bawa Mami ke jalur evakuasi bawah tanah di balik ruang genset sekarang juga!" perintah Dafa dengan nada suara yang menuntut kepatuhan mutlak.

"Tapi bagaimana dengan Anda, Pak?!" tanya Mikael panik saat melihat lengan baju Dafa kini telah ternoda oleh darah baru akibat goresan serpihan peluru yang melesat dekat.

"Amankan Mami terlebih dahulu! Itu perintah, Mikael!" bentak Dafa keras, sepasang mata elangnya berkilat tajam penuh intimidasi seorang penguasa tertinggi.

Mikael tidak punya pilihan lain. Ia langsung merangkul pundak Mami Kinanti, membimbing wanita tua itu bergerak merangkak di sela-sela kontainer menuju pintu rahasia di bagian belakang gudang bawah tanah.

Sementara itu, kembali ke Rumah Sakit Pusat Mahardika, suasana di kamar VIP juga tidak kalah menegangkan. Nazya Humaira masih terduduk di atas ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat. Rintik hujan yang menghantam kaca jendela kamar terdengar seperti detak jam pasir yang menghitung mundur sisa waktu kehidupan orang-orang yang dicintainya.

Jerat gairah dan ikatan batin yang kuat di antara Nazya dan Dafa membuat janda muda itu bisa merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi pada suaminya. Dadanya terasa sangat sesak dan panas, diikuti oleh debar jantung yang berpacu liar tak menentu.

"Mas Dafa... tolong kembali dengan selamat..." bisik Nazya, air matanya menetes turun membasahi selimut rumah sakit. Sifat protektif Dafa selama ini telah mengubahnya dari seorang janda muda yang rapuh menjadi wanita yang tahu artinya berjuang demi cinta.

Nazya melirik ke arah pintu kamar mandi yang berada di sudut ruangan. Rasa gelisah yang teramat sangat membuatnya tidak bisa hanya berdiam diri menunggu kabar di atas ranjang. Dengan susah payah, ia menurunkan kedua kakinya yang masih dibalut gips ringan, mencoba melangkah menggunakan tongkat penyangga kayu di samping ranjang.

Namun, baru saja kaki Nazya menyentuh lantai, pintu kamar VIP mendadak terbuka dengan sentakan yang sangat pelan. Sesosok pria mengenakan seragam dokter rumah sakit lengkap dengan masker medis putih melangkah masuk ke dalam ruangan.

Nazya menghela napas lega sesaat, mengira itu adalah dokter jaga yang ingin memeriksa kondisinya. "Dokter... bagaimana dengan kondisi Ayah saya di ruang ICU?"

Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia berbalik, mengunci pintu kamar dari dalam dengan gerakan yang teramat senyap, lalu perlahan-lahan melepaskan masker medis dari wajahnya.

Saat wajah di balik masker itu menyingkap seutuhnya, seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Nazya seolah disedot paksa keluar. Pria di depannya bukanlah dokter rumah sakit Mahardika, melainkan Rendy—mantan suaminya yang seharusnya berada di dalam sel tahanan kepolisian pusat!

Wajah Rendy tampak dipenuhi senyuman distorsi yang sangat mengerikan, sepasang matanya memerah penuh dendam dan kegilaan yang tak terkendali. Di tangan kanannya, sebuah alat suntik berisi cairan berwarna bening kekuningan—racun saraf dosis tinggi yang sama dengan yang digunakan untuk meracuni Pak Handoko—tampak berkilauan di bawah lampu kamar.

"Halo, Nazya sayang..." desis Rendy dengan suara parau yang membuat bulu kuduk Nazya meremang hebat. "Baskoro Sanjaya memang kalah di pelabuhan... tapi orang-orangnya berhasil membebaskanku di tengah jalan menuju kantor polisi. Malam ini... jika aku tidak bisa memilikimu kembali, maka tidak akan kubiarkan Dafa Mahardika tersenyum di atas kemenangan sahamnya!"

Rendy melangkah lebar maju ke arah ranjang, mengacungkan jarum suntik maut itu langsung ke arah leher jenjang Nazya yang kini telah terdesak di sudut dinding kamar tanpa ada jalan untuk melarikan diri.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!