NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Dasar Licik

Sisi tentu saja tidak menyadari gunjing para perawat di luar. Ia masih sepenuhnya tenggelam dalam impian untuk menjadi bagian dari keluarga Ramadhan dan menolak untuk bangun dari khayalannya.

"Sudah tiga hari, Aluna. Lebih baik kamu tetap pingsan dan mati saja sekalian."

Berdiri di ambang pintu, Sisi merapal doa di dalam hatinya, sementara matanya berkilat penuh sarkasme. Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin untuk masuk, Sisi melangkah ke dalam kamar rawat.

Ia berjalan menghampiri Gavin dengan sikap penuh perhatian. Dengan gerakan telaten, ia membuka tutup termos, menyeka pinggiran piring dengan tisu, lalu menyerahkannya kepada Gavin. Sisi sengaja merendahkan nada suaranya agar terdengar manja. "Tuan Muda, Anda belum makan dengan benar selama dua hari terakhir. Saya sengaja memasak sup ayam ini sejak tadi malam.

Silakan dimakan selagi masih hangat untuk memulihkan stamina Anda."

Saat berbicara, Sisi sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan. Aroma parfum yang lembut dan sangat familier seketika menyergap indra penciuman Gavin, membuat pria itu sempat menahan napasnya. Sisi ternyata sengaja mencari tahu merek parfum favorit Aluna di mansion, lalu menyemprotkannya ke tubuhnya sendiri demi memikat perhatian Gavin.

Gavin mendadak memalingkan wajahnya dan menatap Sisi dengan pandangan tajam.

Jantung Sisi seketika berdegup kencang karena mengira taktiknya berhasil. Ia dengan penuh percaya diri mengulurkan tangannya yang ramping. "Tuan Muda..."

“Eugh…”

Sebuah lenguhan lemah memotong gerakan Sisi. Punggung Gavin seketika menegang kaku. Pria itu langsung menurunkan pandangannya ke arah ranjang, lalu sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Aluna sudah sadar!

Gavin mengabaikan Sisi, lalu menatap lurus ke arah sepasang mata Aluna yang tampak bingung dan sayu. Senyum cerah yang jarang terlihat kini terlihat di wajah tampan Gavin.

"Aluna, kamu akhirnya bangun."

Sisi yang masih berdiri di posisi mengulurkan tangan terpaksa menarik kembali lengannya dengan canggung. Rahangnya mengatup begitu rapat menahan malu, sementara kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangannya sendiri.

"Aluna, kenapa kamu tidak mati saja? Sialan!"

teriak Sisi histeris di dalam hati, namun ia tidak bisa melakukan tindakan apa pun di depan Gavin.

Tidak lama kemudian, gelombang dokter dan perawat bergegas masuk ke dalam ruangan setelah menerima laporan. Mereka segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi fisik Aluna.

"Tuan Gavin, seluruh fungsi organ tubuh Nona Aluna sudah kembali normal dan kesadarannya telah pulih sepenuhnya.

Setelah melewati masa pemulihan selama beberapa hari ke depan, beliau sudah diizinkan untuk pulang."

"Baik, terima kasih. Kalian boleh meninggalkan ruangan," sahut Gavin datar.

"Baik, Tuan."

Setelah seluruh tenaga medis membubarkan diri, Gavin duduk di kursi tepat di samping ranjang Aluna. Ia meraih dan menangkup jemari Aluna dengan sangat hati-hati, lalu berucap dengan nada yang teramat lembut,

"Aluna, syukurlah kamu sudah sadar. Kamu tidak tahu betapa kusutnya pikiranku selama beberapa hari ini..."

"Aku tidak mau tahu, dan aku tidak sudi melihat wajahmu. Bisa kamu keluar sekarang?" potong Aluna dengan suara yang terdengar serak dan lemah. Ia menatap Gavin dengan pandangan yang kosong dan dingin.

"Aluna, aku..."

Aluna memejamkan matanya rapat-rapat, menolak menatap pria itu sembari melontarkan kalimat tegas yang memotong pertahanan Gavin, "Jika kamu tidak ingin melihatku mati di tempat ini, keluar dari kamarku."

Mulut Gavin terbuka kaku, namun pada akhirnya tidak ada satu pun kata pembelaan yang mampu ia ucapkan. Rasa bersalah dan penolakan mentah-mentah dari Aluna terasa menghujam tepat di ulu hatinya, memberikan rasa sakit yang nyata pada dirinya.

Gavin mengeluarkan tawa getir, mencela kebodohan tindakannya sendiri di masa lalu. Ia memang pantas menerima perlakuan dingin ini. Pria itu tetap duduk membisu selama beberapa saat dengan pandangan tertunduk.

Setelah keheningan yang cukup lama, Gavin akhirnya bangkit berdiri. Ia berusaha keras menyembunyikan gurat kedukaan di matanya, menatap Aluna yang masih memejamkan mata dengan rapat, lalu berkata, "Karena kamu sedang tidak ingin melihatku, aku akan keluar sekarang."

Gavin kemudian memalingkan wajahnya ke arah Sisi, dan dalam sekejap, otoritas dinginnya kembali. "Jaga dia dengan baik. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku pastikan kamu akan menerima akibatnya."

Sisi yang ketakutan tidak berani membantah dan buru-buru menundukkan kepala. "Baik, Tuan Muda!"

Selama beberapa hari berikutnya, Gavin membagi waktunya antara menyelesaikan urusan mendesak di kantor dan menjaga Aluna di rumah sakit. Karena Aluna menolak keberadaannya di dalam kamar, Gavin memindahkan laptop dan berkas kerjanya ke kursi tunggu yang berada tepat di luar lorong kamar rawat VIP. Ia makan, bekerja, dan tidur di sana demi tetap memantau kondisi Aluna dari jarak dekat.

Pemandangan langka mengenai dedikasi seorang CEO kaya raya yang setia berjaga di depan kamar rawat itu diam-diam direkam oleh salah satu perawat, lalu diunggah ke media sosial. Unggahan tersebut mendadak viral, memicu opini publik yang positif di masyarakat, dan secara tidak langsung mendongkrak grafik harga saham Ramadhan Group di bursa efek.

Siang ini, Gavin terpaksa harus meninggalkan rumah sakit karena diwajibkan menghadiri pertemuan puncak antar-pengusaha.

Setelah memberikan rentetan instruksi ketat kepada para penjaga dan melangkah pergi dengan berat hati, Sisi memanfaatkan situasi tersebut untuk berjalan mendekati ranjang Aluna.

"Nona Aluna, selama Anda tidak sadarkan diri beberapa hari ini, ada banyak sekali kejadian besar yang terjadi di luar sana. Kejadiannya mirip sekali dengan kasus pemecatan di tempat kursus Cendekia..." Sisi sengaja menjeda kalimatnya saat melihat gerakan Aluna yang sedang minum mendadak berhenti.

Sisi melambaikan tangannya di udara dengan gestur berpura-pura panik. "Aduh, maaf! Mulut saya lancang sekali. Tidak ada apa-apa kok, Nona. Sungguh, tidak terjadi kejadian apa pun."

Aluna mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap pelayan itu dengan pandangan menyelidik. "Sebenarnya apa yang terjadi di luar?"

"Itu..."

"Katakan saja. Aku berjanji tidak akan mengadukan hal ini kepada Gavin."

Sisi memajukan tubuhnya, lalu berbisik dengan nada penuh intrik, "Pria yang waktu itu nekat memeluk Anda di koridor tempat kursus mengalami kecelakaan mobil hingga tulang kaki kanannya patah. Tidak lama setelah itu, ada orang tidak dikenal yang mengeroyoknya sampai pergelangan tangan kirinya patah. Dan puncaknya, Tuan Muda sendiri yang membelikan tiket pesawat agar pria itu keluar dari kota ini."

Taktik Sisi yang berpura-pura keceplosan ini sebenarnya sangat kentara. Aluna bukan wanita bodoh yang mudah dikelabui; ia langsung tahu bahwa Sisi sengaja memberikan informasi ini untuk menakut-nakutinya dan menegaskan betapa kejamnya tindakan Gavin di belakangnya.

Setelah melewati masa-masa kritis ini, Aluna kini bisa membaca dengan sangat jelas watak asli wanita di hadapannya. Sisi dengan segala kelicikannya sedang berusaha keras untuk bisa naik ranjang bersama Gavin, dan saat ini Sisi hanya mencoba memanfaatkan dirinya sebagai batu loncatan untuk menarik perhatian sang Tuan Muda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!