"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 (Firasat di balik cangkir kopi)
Malam semakin larut di kawasan Senopati, namun kedai ramen 24 jam itu justru terasa semakin hangat. Marvel baru saja menghabiskan mangkuk ramen keduanya dan bersiap memanggil pelayan untuk meminta segelas ocha dingin tambahan. Namun, gerakannya terhenti saat ia menyadari perubahan drastis pada raut wajah Kevin.
Pria yang biasanya selalu siap dengan lelucon sarkastik dan tawa renyah itu mendadak terdiam. Gelas berisi cairan ocha di tangan Kevin hanya diputar-putar perlahan, menatap riak air di dalamnya dengan pandangan yang teramat dalam dan serius. Sebagai orang kepercayaan tertinggi Mike yang memegang kendali atas jaringan intelijen internal Raharja Group, ekspresi seperti ini dari Kevin adalah sebuah alarm bahaya.
"Kev," Marvel menurunkan tangannya, mencondongkan tubuhnya ke atas meja bar kayu. "Ada apa? Wajahmu mendadak horor begitu. Jangan bilang saham kita anjlok lagi malam-malam begini."
Kevin mengembuskan napas panjang melalui hidung, lalu meletakkan gelasnya dengan ketukan pelan. Ia menoleh, menatap Marvel dengan sepasang mata yang sarat akan kewaspadaan.
"Vel, aku punya insting yang tidak enak tentang situasi di Menteng dan kantor pusat sebulan terakhir ini," ucap Kevin, suaranya merendah hingga nyaris tenggelam di antara musik latar kedai.
Marvel mengerutkan kening. "Maksudmu? Bukankah semuanya sudah beres? Paman Hardi sudah resmi ditahan, kaki tangannya di dewan komisaris sudah kita bersihkan semua, saham kita bahkan menyentuh angka tertinggi. Kakek Surya juga sudah memberikan restu mutlak setelah tahu Alisha hamil. Apa lagi yang kurang?"
"Justru karena semuanya terlihat terlalu sempurna, Vel," sela Kevin tajam, urat di pelipisnya sedikit menegang. "Kamu tahu sendiri bagaimana watak keluarga Raharja. Mereka itu predator. Kehancuran Hardi memang mutlak, tapi aset pribadi dan jaringan gelapnya di luar negeri tidak semuanya bisa kita sita. Dan jangan lupa... Hardi memiliki seorang putra angkat yang selama ini sengaja dihapus dari silsilah resmi keluarga demi menghindari radar Mike."
Marvel seketika menegakkan punggungnya, ekspresi jenakanya hilang tanpa sisa. "Putra angkat? Maksudmu... Rendy?"
"Benar. Dari laporan tim informanku dua hari lalu, Rendy tiba-tiba kembali ke Jakarta setelah tiga tahun menghilang di London. Pergerakannya sangat bersih, dia tidak menggunakan nama belakang Raharja, dan dia tidak mendekati aset perusahaan sama sekali," Kevin mengepalkan tangannya di atas meja. "Tapi instingku mengatakan, ketenangan di sekitar Mike dan Alisha saat ini adalah jenis ketenangan sebelum badai besar datang. Seseorang sedang mengintai dari balik bayangan, Vel. Dan targetnya bukan lagi sekadar kursi CEO... tapi Alisha dan calon bayi mereka."
Marvel terdiam, merasakan hawa dingin mendadak merayap di tengkuknya. Jika insting Kevin sudah berbicara, maka bahaya itu bukanlah sekadar ketakutan kosong. "Kita harus memperketat pengamanan Alisha di kampus dan yayasan ibunya, Kev. Jangan sampai Mike tahu kita kecolongan."
"Aku sudah menambah dua tim pengawal rahasia tanpa atribut untuk memantau ruko PAUD Ibu Sarah sejak kemarin pagi," pungkas Kevin dengan nada suara yang mutlak. "Kita tidak boleh membiarkan iblis baru merusak kebahagiaan yang baru saja didekap Mike setelah empat tahun penantian dalam sunyi."
Sementara ketegangan baru mulai menyusun bidak caturnya di sudut-sudut gelap Jakarta, sebuah atmosfer yang jauh lebih hangat dan sarat akan romansa sedang tercipta di sebuah apartemen mewah kawasan SCBD.
Alvin berdiri di dapur bersih, mengenakan celemek kain motif kotak-kotak di atas kaus oblong putihnya. Tangan kekarnya tampak terampil membalik potongan daging ham di atas wajan antilengket, sementara aroma harum roti panggang mentega dan kopi susu arabika memenuhi seluruh ruangan.
Pintu kamar utama perlahan terbuka, menampilkan sosok Anita yang melangkah keluar dengan rambut yang dibiarkan terurai alami. Ia mengenakan gaun rumah kasual berwarna abu-abu yang longgar. Sisa-sisa kelelahan emosional pasca-konfrontasi di Surabaya, kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh binar kebahagiaan yang jernih di sepasang matanya.
Alvin menoleh, dan senyuman lebar langsung terbit di wajah tampannya. "Selamat pagi, Calon Nyonya asisten CEO yang paling cantik se-Indonesia. Duduklah, sarapanmu sudah siap."
Anita terkekeh pelan, berjalan mendekati meja konter dapur dan duduk di kursi bar. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Alvin dengan pandangan yang dipenuhi rasa cinta yang mendalam. "Sejak kapan seorang Alvin yang biasanya malas bangun pagi berubah menjadi koki pribadi yang serajin ini, hm?"
Alvin meletakkan sepiring roti panggang, telur mata sapi, dan ham di depan Anita, lalu ikut duduk di kursi sebelah wanita itu setelah melepas celemeknya. Ia meraih jemari lentik Anita dan mengecup punggung tangannya dengan penuh khidmat.
"Sejak aku berhasil mendapatkan restu resmi dari kedua orang tuaku di Surabaya, Nit," jawab Alvin dengan binar mata yang sarat akan kepastian. "Empat tahun aku harus menahan diri melihatmu mengenakan topeng sebagai istri kontrak Mike. Sekarang, setiap detik bersamamu adalah waktu berharga yang tidak boleh kubuang untuk bermalas-malasan."
Anita tersenyum haru, meremas pelan jemari Alvin. Mengingat bagaimana beraninya Alvin pasang badan membelanya di depan Pak Baskoro dan Ibu Retno tempo hari membuat hatinya selalu dipenuhi rasa syukur. Pria ini siap membuang hak waris dan nama besarnya demi dirinya.
"Vin..." Anita menyesap kopi susunya sedikit sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius namun lembut. "Soal persiapan pernikahan kita bulan depan... aku ingin kita merayakannya dengan sangat sederhana. Hanya keluarga inti, Mike, Alisha, Kevin, dan Marvel. Aku tidak butuh pesta mewah di hotel bintang lima."
Alvin menaikkan sebelah alisnya, menatap Anita dengan pandangan menyelidik yang hangat. "Kenapa? Kamu takut media bisnis akan menggoreng berita tentang mantan istri kontrak Mike yang menikah dengan asistennya?"
Anita menggeleng mantap, menatap lurus ke dalam manik mata Alvin. "Dulu, saat bersama Mike, setiap detail pernikahanku adalah untuk konsumsi publik dan kepentingan saham. Semuanya palsu, penuh kamera, dan melelahkan. Sekarang, bersamamu... aku ingin pernikahan kita murni milik kita. Aku ingin mengucapkan sumpah di atas altar yang sejati, di hadapan orang-orang yang tulus menyayangi kita, tanpa ada satu pun kilatan lampu jepretan wartawan."
Mendengar penuturan jujur dan mendalam dari Anita, Alvin merasakan dadanya membuncah oleh kehangatan yang luar biasa. Ia memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Anita, membawa tubuh wanita itu ke dalam dekapan hangatnya di atas kursi bar.
"Apapun yang kamu inginkan, Anita," bisik Alvin di sela-sela kecupan lembutnya di pelipis Anita. "Sederhana atau mewah, di kapel kecil atau di pinggir pantai... asalkan nama yang tertulis di buku nikah itu adalah namaku dan namamu, aku akan mengabulkannya dengan seluruh jiwaku."
Anita membalas pelukan Alvin dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu yang beraroma maskulin dan wangi kopi. Di dalam apartemen yang sunyi di tengah bisingnya ibu kota pagi itu, Alvin dan Anita telah menemukan pelabuhan hati mereka yang sesungguhnya. Mereka tidak lagi dibelenggu oleh bayang-bayang kertas kontrak atau ketakutan akan penilaian dunia. Cinta mereka telah teruji oleh waktu dan pengorbanan, siap menyongsong hari esok dengan pondasi yang teramat kokoh.
Namun, di luar dinding apartemen yang hangat itu, waktu terus berjalan halus. Riak kecil dari dendam Rendy yang diendus oleh insting tajam Kevin perlahan mulai bergerak mendekat, bersiap menguji kekuatan ikatan persahabatan dan cinta yang baru saja mekar di dalam lingkaran dinasti Raharja Group.