DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**BAB 9: SAHABAT YANG CURIGA**
Siang itu, matahari Jakarta lagi terik banget, dan Dadang, yang sekarang harus dipanggil David, lagi duduk di kamar sambil nyoba nyoba lagi cara pake remote AC yang tombolnya kebanyakan, pas pintu kamar kebuka tanpa ketuk sama sekali.
"Vid! Lo masih idup ternyata!"
Seorang cowok jangkung, kacamata bulat, rambut acak-acakan kayak abis ditarik-tarik sendiri saking stresnya mikirin kode, masuk dengan pede luar biasa, langsung nyemplung ke kasur David tanpa permisi.
Dadang kaget, refleks badan langsung siaga, tapi cepet ditahan, soalnya dari aura orang ini, dia gak ngerasa ada bahaya.
"Lo siapa?"
Cowok itu berhenti sebentar, ngeliatin Dadang dengan ekspresi yang campur antara bingung sama tersinggung.
"Lah, gila, lo lupa gue? Gue Anto, Anto Pratama, sahabat lo dari SMA, anjir, separah itu emang efek koma tujuh hari?"
"Oh... Anton," Dadang ngulang nama itu, mencoba mencerna, soalnya memori David yang asli memang samar-samar nempel di kepalanya, kayak nonton film resolusi rendah.
Anto berdiri, ngangkat tangan, "anto..bukan anton ya...Yaudah, salaman dulu, gue kangen anjir, tujuh hari lo bikin gue mikir lo bakal jadi vegetable selamanya."
Dadang ngangkat tangan, salaman, tapi tanpa sadar, kekuatan tangannya yang udah terlatih bertahun-tahun di padepokan, otomatis ngeremes telapak tangan Anto.
"Apa kabar, bro......... aaaaaaaaacia ciaaaaaaa...ciaaaaaaahh"
"WOUY.....SAKIT ANJING LO .....KENAPA SIH GALAK AMAT!"
Anto langsung narik tangannya, megangin jari-jarinya yang udah merah, mukanya meringis kesakitan sambil ngeliatin David dengan tatapan curiga.
"Maaf, maaf, gue kebawa suasana ," Dadang nyengir, garuk-garuk kepala.
Anto masih megangin tangannya, mukanya masih nahan sakit, tapi di dalam kepalanya udah mulai berputar pertanyaan-pertanyaan kecil. David, sobatnya dari SMA itu, kalau salaman biasanya lembek, kayak salaman sama spons basah, gak pernah sekali pun bikin orang lain kesakitan.
"Lo... lo kenapa sih, Vid? Dari kemarin gue denger lo udah beda banget. Katanya lo berani sama Reza, sampe bikin kakinya patah?"
"Oh itu, dia duluan yang nyleding gue."
"NYLEDING? Lo ngomongnya kayak preman pasar gini? David yang gue kenal , eh, maksud gue, David yang gue kenal itu kalo ngomong gagap, mikir lima kali sebelum buka mulut, sekarang lo malah ngomong kayak anak motor,bicara lo gue..lo beda sekarang tapi gue suka gaya lo"
Dadang cuma nyengir lagi, gak tau harus jawab apa, soalnya dia sendiri juga masih belajar nyamarin diri jadi David yang dulu.
"Gue cuma, eh, lagi pengen lebih, lebih pede aja."
Anto ngeliatin lama, alisnya naik sebelah, dan walau dia gak bilang apa-apa lagi saat itu, dalam hatinya udah ada satu kalimat yang terus diputer.
"Ada yang gak beres nih anak."
***
Sore harinya, Anto pulang ke apartemennya sendiri, duduk di depan tiga monitor komputer yang nyala bersamaan, jari-jarinya udah otomatis ngetik kode-kode yang cuma dia sama segelintir orang di Indonesia yang ngerti.
"Oke, David. Gue tau lo sobat gue. Tapi sobat gue ini, ada yang aneh."
Dia mulai nyari rekaman dashcam mobil David sebelum kecelakaan jatuh dari lantai dua, dan setelah ngebongkar beberapa lapis enkripsi yang ternyata gak terlalu kuat buat level dia, dia nemu sesuatu yang bikin alisnya berkerut dalem.
"Lah... ini kabel rem, kok kelihatannya kayak digerigit, eh, dipotong sengaja ya?"
Dia zoom in lebih jelas, dan keliatan ada bekas sayatan halus di selang rem mobil David yang dipake sebelum kecelakaan pertama.
"Ini sengaja. Ini bukan kecelakaan biasa. Tapi kenapa David masih hidup-hidup aja waktu itu? Untung amat."
Dia lanjut nyari rekaman CCTV rumah, malem kejadian David jatuh dari lantai dua, dan begitu video itu muncul, dia langsung condong ke depan, jantungnya berdebar.
Tapi videonya rusak. Cuma muncul siluet kabur, bayangan yang bergerak cepat, tanpa wajah jelas, seolah-olah sengaja dirusak atau memang kameranya bermasalah persis di momen itu.
"Anjir, ini sengaja dirusak. Ini, ini berarti David emang didorong. Dua kali coba dicelakain, dan dua kali, entah gimana caranya, dia selamat. Ini gak masuk akal."
Anto menyandarkan badan ke kursi, mikir keras, dahinya berkerut.tentang perubahan david dia berpikir keras.. .
"Oke, oke, gue harus cari tau lebih, mungkin di rumah sakit ada rekaman yang bisa kasih clue dan gue tau kenapa david berubah ini ganjil"
Dia mulai meretas sistem CCTV rumah sakit, jarinya lincah banget, dan setelah beberapa menit, dia berhasil masuk ke server penyimpanan video kamar David.
"Yes, masuk. Oke, coba cari momen David pertama sadar."
Dia putar rekaman itu, dan yang muncul di layar, bukan momen dramatis seperti yang dia harapkan, melainkan David yang berdiri di depan cermin kamar mandi, lagi buka celananya sendiri dan david dengan polos pegangin titid nya
Anto melongo, menganga mulutnya kebuka lebar
"Lahhhh, ini apa coba..."
Videonya lanjut, dan David terlihat komat-komat sendiri sambil masih nengokin bagian bawah tubuhnya,memegang titid nya...ekspresinya serius banget kayak lagi mecahin soal matematika tersulit di dunia.
"SI ANJIR! DASAR DAVID SIALAN! BUKA CELANA DEPAN CCTV, EMANG GAK ADA AHLAK NI ANAK! GOBLOK CULUN SIH CULUN TAPI JANGAN UDIK LAH"
Anto buru-buru nutup video itu, mukanya merah padam, terus dia diem sendiri, sadar sesuatu.
"Lah, kenapa gue malah liatin, tolol! Emang gue cowok apaan liatin titid anak culun itu!"
Dia ngelap muka sendiri, kayak mau ngehapus apa yang baru dia liat dari memori otaknya, terus narik nafas panjang, nyoba lagi cari rekaman lain yang lebih, ya, lebih berfaedah.
"Oke, oke, fokus, Anto. Cari yang lain."
Kali ini dia nemu rekaman David lagi makan di kamar rumah sakit, dan dari situ, alisnya kembali berkerut, tapi bukan karena geli, melainkan karena ada sesuatu yang bener-bener gak masuk akal.
David, yang biasanya makan rapi, duduk tegak di kursi, pakai sendok garpu dengan tata krama sempurna kayak lagi makan malam sama menteri, sekarang malah duduk di ranjang dengan kaki disilangkan, nampan makanan diletakin asal di pangkuan, dan tangannya, anjir, makan langsung pakai tangan, lahap banget, sampe ada nasi nyangkut di pipi yang dia gak sadar.
"Lah... ini David yang mana coba?"
Anto mundur sedikit dari layar, badannya kaku, pikirannya mulai berputar liar.
"David GA pernah makan kayak gini. David itu, gue ingat banget, dulu pas SMA aja, kalo makan di kantin, dia bersihin meja dulu pake tisu sebelum naro nampan, dia gak pernah, GAK PERNAH makan pake tangan kalo ada sendok di deketnya."
Dia putar ulang rekaman itu, memperhatikan lebih teliti, gerakan tangan, cara duduk, bahkan cara mengunyah, semuanya beda total dari kebiasaan sahabatnya yang dia kenal sejak bangku SMA.
"Ini... ini bukan David. Atau, atau David yang lain. Tapi David teu punya kembaran. Ini apa-apaan ini."
Anto menyandarkan badan ke kursi, matanya menatap layar yang sekarang membeku di frame David sedang mengunyah dengan ekspresi puas, sama sekali tidak menyadari sedang diawasi.
Di luar jendela apartemennya, langit Jakarta mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, dan di tengah kesunyian ruangan itu, hanya suara dengung komputer yang menemani pikiran Anto yang sekarang dipenuhi satu pertanyaan besar yang terasa semakin mendesak untuk dijawab.
Siapa david ,kenapa david berubah drastis?
*(bersambung)*