NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Pagi itu datang dengan udara yang dingin dan bersih.

Kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan ketika Kiara membuka mata. Cahaya matahari masuk pelan dari celah jendela kayu, menyentuh wajahnya lembut.

Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada. Lalu, ingatannya kembali ke desa, rumah pak kades, pernikahan yang tak ia rencanakan dan percakapan semalam bersama Bu Sulastri.

Kiara duduk di tepi ranjang. Selimut yang digunakan pria itu terlipat rapi, tak bersisa jejak. Kiara menghela napas pelan, entah lega atau justru kecewa, ia sendiri tak tahu.

Ia bangkit dan keluar kamar.

Di dapur, suara wajan terdengar pelan. Aroma bawang putih dan nasi hangat menyambutnya.

Sulastri sedang memasak.

“Pagi, Bu…” sapa Kiara, suaranya masih serak.

Sulastri menoleh dan tersenyum.

“Pagi, bangunnya nggak kesiangan hari ini.”

Kiara tersenyum kecil.

“Mas Alvar…?”

“Sudah ke kebun,” jawab Sulastri.

“Tapi sebelum berangkat, dia nitip pesan.”

Kiara mengerjap.

“Pesan apa, Bu?”

Sulastri tertawa pelan.

“Katanya … jangan lupa sarapan. Dan minum obat vitamin yang dia taruh di atas meja.”

Kiara terdiam, matanya refleks mencari meja makan. Benar saja, segelas air hangat dan dua butir vitamin ada di sana, rapi, seolah sudah dipersiapkan dengan sangat hati-hati.

“Dia nggak mau bangunin kamu,” lanjut Sulastri.

“Katanya, kamu masih butuh istirahat.”

Kiara menggigit bibirnya pelan.

“Oh…”

Sulastri melirik Kiara sambil tersenyum penuh arti.

“Kalau sudah bangun, sarapan dulu. Nanti kalau mau ikut ke kebun, bilang ibu.”

Kiara terkejut.

“Ikut ke kebun?”

“Iya, Alvar nggak keberatan.”

Kiara menatap piring nasi hangat di depannya. Entah sejak kapan, keinginan untuk ikut muncul begitu saja.

“Kalau … Kiara ikut,” katanya pelan,

“nggak apa-apa, kan, Bu?”

Sulastri menepuk bahu menantunya lembut.

“Pelan-pelan saja. Nggak ada yang memaksa.”

Kiara tersenyum.

Udara kebun masih dingin, tapi sinarnya sudah mulai menghangatkan kulit. Pepohonan mangga berdiri rapi, daunnya basah oleh sisa embun malam.

Kiara berhenti di batas kebun. Di sana, Alvar berdiri membelakanginya.

Pria itu hanya mengenakan singlet putih yang sudah sedikit basah oleh keringat. Otot lengannya terlihat jelas saat ia mengangkat galah panjang, menarik buah mangga yang menggantung tinggi. Setiap gerakannya tegas, terlatih, kulitnya mengilap tersapu cahaya pagi.

Kiara menelan ludah, dia tidak melangkah lebih dekat. Entah sejak kapan matanya begitu betah mengikuti setiap gerakan Alvar tarikan otot bahu, urat di lengan, punggung yang mengembang saat pria itu menghela napas.

Kiara tersenyum sendiri, pikirannya melayang terlalu jauh. Dia buru-buru mengalihkan pandangan ke tanah, tapi bayangan Alvar sudah terlanjur memenuhi kepalanya.

“Lagi ngapain?” Suara itu datang tiba-tiba.

Kiara tersentak, dia mendongak dan mendapati Alvar sudah berdiri tepat di depannya, galah mangga kini bersandar di bahunya. Wajah pria itu setengah tertutup bayangan topi caping, tapi sorot matanya jelas menangkap keterkejutan Kiara.

“Mas—” Kiara refleks mundur setengah langkah.

“A-aku… ngelamun.”

Alvar mengangkat satu alis.

“Kelihatan.”

Nada suaranya datar, tapi ada gurat geli yang tak ia sembunyikan. Kiara memalingkan wajah, pipinya menghangat.

“Maaf … aku cuma nunggu.”

Alvar melirik Kiara dari ujung kepala sampai kaki, kemeja panjang, celana yang lebih sopan dari biasanya, rambut diikat rapi.

“Capek berdiri?” tanyanya.

Kiara menggeleng cepat.

“Nggak, aku cuma … lihat-lihat.”

Alvar mengangguk pelan, lalu mengambil satu mangga dari keranjang kecil di dekat kakinya. Dia mengelapnya asal dengan kausnya sendiri, lalu menyodorkan pada Kiara.

“Pegang ini.”

Kiara menerima mangga itu refleks.

“Buat apa?”

“Biar kamu ada kerjaan,” jawab Alvar singkat.

“Daripada melamun lagi.”

Kiara mendengus kecil, tapi tersenyum.

Di sekitar mereka, suara burung dan angin yang menyentuh daun mangga terdengar jelas. Dari kejauhan, beberapa warga yang lewat di pematang sawah melirik ke arah kebun, melihat anak pak kades dan istrinya berdiri berdekatan di bawah matahari pagi.

Setelah itu, Alvar mengajaknya ke petak kangkung. Mereka memanen bersama, lalu menyiram kangkung-kangkung kecil yang masih segar. Kiara merasa senang, bukan hanya karena ikut membantu, tapi karena melihat sisi lain dari Alvar. Dia penyayang, telaten, dan penuh perhatian, bahkan pada hal-hal kecil. Namun, tiba-tiba air dari selang tak mau keluar.

Kiara mengernyit, lalu tanpa berpikir panjang ia mengarahkan ujung selang ke wajahnya sendiri, seketika air muncrat deras.

“Ah!” Kiara menjerit kaget, tubuhnya langsung basah kuyup.

Alvar yang melihat itu langsung panik, tapi kepanikannya berubah menjadi tawa lepas saat melihat wajah Kiara yang terkejut dan bajunya yang basah. Tawa itu begitu jujur, begitu ringan, hingga Kiara ikut tersenyum.

“Mas Alvar!” protes Kiara sambil mengarahkan selang ke arah suaminya.

Air menyembur ke tubuh Alvar. Pria itu reflek berlari menghindar, tertawa keras. Kejar-kejaran pun terjadi di antara barisan kangkung. Tawa mereka bercampur dengan suara air dan dedaunan yang bergoyang.

Saat Alvar berusaha merebut selang, tanpa sengaja tangannya melingkar di pinggang Kiara. Tubuh mereka bertabrakan, langkah keduanya terhenti. Kiara terdiam, begitu juga Alvar.

Tatapan mereka bertemu, jarak yang terlalu dekat membuat napas mereka saling bersentuhan. Tanpa sengaja, bibir mereka menempel, hanya sebentar, sekadar sentuhan, tapi cukup untuk membuat jantung keduanya berdetak keras, seakan bisa terdengar jelas di telinga masing-masing.

“Eh!”

Suara Sulastri mendadak terdengar dari arah rumah. Wanita itu berdiri sambil membawa keranjang sayur, menatap kebun yang sedikit berantakan. Namun, alih-alih marah, Sulastri justru tertawa melihat Alvar dan Kiara yang basah kuyup dan kaku di tempat.

“Ya ampun, kebun ibu jadi kolam,” ujarnya sambil menggeleng, senyumnya hangat. “Sudah, sudah. Kalian mandi dulu, nanti masuk angin.”

Kiara dan Alvar saling berpandangan, lalu tersenyum malu.

Sulastri membereskan kebunnya sambil memetik sayur yang masih bisa dibawa pulang, meninggalkan dua insan yang hatinya diam-diam mulai saling menghangat di bawah matahari pagi.

Siang itu, matahari tepat di atas kepala ketika Pak Yono pulang dari balai desa. Wajahnya tampak bersemangat. Baru saja ia meletakkan jas kerjanya, ia langsung memanggil Alvar yang sedang duduk di teras.

“Var, nanti malam kita diundang ke acara pembukaan pasar malam,” kata Pak Yono.

Alvar menoleh sekilas, lalu menghela napas pelan.

“Aku nggak ikut, Pak. Malas ketemu keluarga juragan sama Supradi.”

Nada suaranya datar, tapi jelas ada penolakan keras di sana. Pak Yono tak langsung menanggapi, sementara Sulastri yang mendengar dari dapur keluar sambil mengelap tangan.

“Alah, Var,” ujar Sulastri sambil tersenyum. “Pergilah, ajak Kiara sekalian. Biar dia jalan-jalan. Kasihan, sejak di desa belum pernah ke pasar malam.”

Alvar melirik Kiara yang berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu tampak ragu, seolah tak ingin merepotkan. Namun, entah kenapa, ucapan ibunya membuat Alvar terdiam sejenak dan dia menghela napas, lalu akhirnya mengangguk kecil.

“Ya sudah, kami akan datang sebentar saja.”

Malam pun tiba.

Sulastri tampak anggun mengenakan kebaya sederhana, sementara Pak Yono rapi dengan kemeja panjangnya. Kiara keluar dari kamar dengan dress bermotif bunga-bunga, jatuh lembut di tubuhnya. Rambutnya tergerai rapi, membuat Alvar yang sedang memakai jaketnya sempat terdiam beberapa detik terlalu lama.

“Sudah siap?” tanya Pak Yono.

“Sudah pak,” jawab Kiara pelan.

Mereka hendak berangkat dengan satu mobil, namun tiba-tiba Alvar meraih kunci motornya.

“Aku sama Kiara naik motor saja, Pak,” katanya santai.

“Kalau Bapak sama Ibu lama di sana, kami bisa pulang duluan.”

Pak Yono mengangguk tanpa curiga. “Ya sudah, hati-hati di jalan.”

Sulastri hanya tersenyum tipis, seakan paham betul akal anaknya.

Kiara menoleh ke Alvar. “Aku nggak keberatan kok naik motor,” katanya jujur.

Alvar mengangguk, menyembunyikan senyum kecil di balik sikap datarnya. Padahal itu hanya alasan semata, cara sederhana agar malam itu bisa ia lewati berdua dengan Kiara, tanpa banyak suara, tanpa banyak mata yang memperhatikan.

1
Suyatno Galih
Delia pengacara pintar mancing musuh tanpa kata
FisyanaLica
Hamil kembar, usia 3 bulan perut masih rata ya,,?
FisyanaLica
Padahal cuma Bogor - Jakarta ea yg bisa ditempuh pp 2 sampi 3 x sehari,, nyesek ea mba kiara,, sabar ea ,, ldr an bentar
bekti arianti
walopun konflik silih berganti tapi penyelesaiannya cepet
Tamirah
Penasaran saja siapa tunangan Delia
karena di alur cerita ini gak disinggung sama sekali nama yg ada nama Bram .
Tamirah
Nama bayi yang gampang diucapkan dan dihapal, biasa nya kalau latar belakang orangtua tua nya pengusaha atau dokter anak nya diberi nama yg berbau nama Eropa atau Amerika bahkan Turki, kadang tulisan dan ucapan gak sama .
Isyraeni Aidan
Ceritanya bagus, sy paling suka cerita yang alurnya seperti ini, perempuan kota menikah dengan laki2 yang tinggal di desa☺
Tamirah
Gak heran mulai dari awal memang ingin balas dendam,pas momentum dia ditampar Alvar itu yg disebar kan Vidio nya seolah olah memang Alvar dokter kejam pada pasien nya. Sang lakon menangnya belakangan.
Tamirah
Bumil bisa membuat seisi rumah ngurut dada. bila ngidam nya datang gak mengenal' tempat dan waktu.
Tamirah
Dahsyat nya pengaruh cinta, walau tadinya mereka Sahabat ,Lala,Kiara,Yoga,tega nya Yoga dan Lala mencelakai Kiara.
Belum puas rasanya kalau Kiara belum almarhum.Kalau cerita model gini gak didunia halu saja di dunia nyata pun ada sahabat membunuh .
Tamirah
Dibilang lucu emang lucu sebagai pembaca kadang baper, kalau terjadi kecelakaan di kolam komen ditulis semoga selamat,hati hati dijalan, jangan ngebut atau jangan bercerai , tinggalkan rumah dll, padahal ini hanya cerita halu tapi bisa membuat seolah olah nyata.Tuh pintar nya author mengemas cerita.
Tamirah
Kerjasama sama sdh dicabut dgn tanda bukti yg sah , kalau ada perpanjangan lagi tanpa sepengetahuan p.Rahmat tentu ada seseorang yg bermain di dalam nya lanjut Thor...!
Tamirah
Novel ini menarik Karena cerita gak berkutat dgn kehidupan kota namun mengangkat kehidupan masyarakat desa dgn segala permasalahannya yg kompleks spt ada ranah kesehatan termasuk rmh sakit besarta dokter nya,ranah hukum polisi pengacara dan notaris, ranah agraris meliputi pertanian dsb komplit banget lanjut Thor.
Aisyah Alfatih: terima kasih kak 🙏
total 1 replies
Tamirah
kalau hari pertama praktek sdh banyak pasien ibu hamil ini bisa menjadi masalah bagi dokter senior.kok bisa dokter baru pasiennya bludak.
Tamirah
Kalau satu rumah sakit dgn dr Hesti yg status pasien bisa ada drama lagi.
Tamirah
Tidak diragukan lagi siapa yg ada dibalik peristiwa ini kalau bukan Si Yoga.kumpulkan bukti yang lengkap ttg keterlibatan Yoga dan bisa menjadi alasan untuk memecat Yoga.
Tamirah
Ini salah satu manusia berkelakuan Dajjal yg terdampar disebuah desa.
Tamirah
Drama menegangkan sudah selesai, masih ada kah drama lain yg sudah menunggu..... lanjut Thor.
Tamirah
Janggal aja Semua keluarga berkumpul kok bisa Kiara dapat kejutan dari dr Hesti dipukul dan di culik, terlalu dipaksakan alur cerita nya.kalau yg melakukan itu seorang pria wajar la.... ini seorang dokter perempuan di desa lagi, jenius banget dokter ini gak layak hidup di desa.Ada pembunuh berdarah dingin diantara orang orang desa yg hidup nya sederhana.
Tamirah
,Seorang dokter pun bisa jadi raja tega itu wajar, karena cinta nya sdh gak dapat tempat lagi dihati Avar.
Namun hukum alam tetap berlaku TABUR DAN TUAI itu pasti.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!