Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Lembaran Baru yang Diridai
Tiga bulan berselang sejak malam peluncuran koleksi Kelahiran Kembali, hidup Andini kini mengalir tenang layaknya air yang membawa berkah. Merek busananya, Nadir Label, tak lagi sekadar bisnis musiman. Kini, nama tersebut telah bertransformasi menjadi salah satu kiblat fesyen muslimah paling berpengaruh di tanah air.
Langit Jakarta sore itu dihiasi semburat jingga keemasan. Andini tampak duduk santai di area outdoor sebuah restoran keluarga yang asri di kawasan Jakarta Selatan. Dibalut tunik bernuansa dusty pink dan hijab pashmina syar'i yang senada, jemarinya bergerak lincah di atas layar gawai, meninjau rancangan untuk cabang butik terbarunya.
"Assalamualaikum," sapa sebuah suara berat yang terasa familier sekaligus menenangkan.
Andini mendongak, lalu menyunggingkan senyum santun yang tulus. "Waalaikumsalam, Farhan."
Farhan berdiri gagah di sana, mengenakan kemeja koko modern berwarna putih bersih dengan lengan yang terlipat rapi hingga siku. Ia tak datang sendiri. Di sampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya berwajah teduh dalam balutan gamis anggun yang memancarkan aura keibuan. Beliau adalah Ibu Maryam, ibunda Farhan.
Andini segera bangkit dan melangkah maju untuk mencium tangan Ibu Maryam dengan penuh rasa hormat. "Selamat sore, Tante. Silakan duduk."
"Sore, Andini. Wah, ternyata aslinya jauh lebih cantik dan anggun daripada cerita Farhan ke Ibu," ujar Ibu Maryam lembut, seketika membuat pipi Andini merona di balik riasan tipisnya.
Mereka bertiga pun berbincang hangat ditemani teh panas dan kudapan sore. Suasana mengalir sangat cair berkat sosok Ibu Maryam yang terbuka dan bijak. Beliau sama sekali tidak mempermasalahkan kegagalan rumah tangga Andini di masa lalu. Bagi beliau, ketangguhan mental, kesucian hati, dan kesalehan Andini jauh lebih bermakna daripada status sosial semata.
Di sela obrolan, pandangan Farhan tak sengaja menangkap sesuatu di luar restoran, tepat di seberang jalan raya yang padat. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi penuh iba sekaligus tegang.
"Ada apa, Farhan?" tanya Andini yang menyadari perubahan raut muka pria itu.
Andini pun mengikuti arah pandangan Farhan ke luar jendela kaca besar. Detik itu juga, napasnya seolah tertahan sejenak.
Di seberang jalan, tepat di trotoar yang panas, terlihat seorang pria berpakaian sangat lusuh dengan celana jins robek di bagian lutut dan kaus oblong yang pudar. Pria itu tengah bersusah payah mendorong sebuah kursi roda tua yang bannya sudah gundul. Di atas kursi roda tersebut, duduk seorang wanita tua dengan tubuh separuh lunglai, mulut yang tak lagi simetris, dan tatapan mata kosong. Wanita tua itu hanya mengenakan daster murah yang sudah koyak di bagian lengannya.
Mereka adalah Reno dan Ratna.
Reno tampak begitu kelelahan dengan peluh yang bercucuran deras di dahi penuh kerutan stres. Demi menyambung hidup dan membiayai pengobatan ibunya yang lumpuh, Reno kini terpaksa bekerja serabutan dan sesekali memulung barang bekas setelah seluruh aset perusahaannya disita bank. Mereka kini mendiami kontrakan petak yang sempit di pinggiran rel kereta api.
Dari kejauhan, Reno tak sengaja menoleh ke arah restoran mewah tersebut. Lewat dinding kaca yang transparan, matanya bersitatap langsung dengan manik mata bening milik Andini. Reno terpaku di tempatnya. Langkah kakinya seolah terkunci.
Ia melihat Andini—mantan istri yang dulu diusirnya tanpa bekal apa pun di malam yang dingin—kini duduk dengan begitu terhormat dan dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Andini tampak begitu bersinar, begitu suci, dan berada jauh di luar jangkauan hidupnya yang kini telah hancur lebur. Reno menatap tangannya yang kotor dan kapalan, lalu beralih menatap ibunya yang mulai merengek haus. Rasa sesak akibat penyesalan kembali menghantam dadanya, memutuskan sisa-sisa kesombongan yang pernah ia miliki.
Di dalam restoran, Farhan menatap Andini dengan penuh kelembutan. "Ndin, kamu tidak apa-apa? Apa kita perlu pindah tempat atau aku minta sekuriti di luar untuk..."
Andini menarik pandangannya dari Reno. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang sangat tulus. Rasa benci dan dendam yang dulu sempat menguasai hatinya kini benar-benar telah sirna, digantikan oleh rasa syukur mendalam atas ketetapan Allah.
"Tidak perlu, Farhan. Aku tidak apa-apa," jawab Andini tenang. "Masa lalu itu sudah selesai. Aku sudah memaafkan mereka dan membiarkan takdir Tuhan bekerja dengan caranya sendiri."
Ibu Maryam yang mendengar jawaban itu menepuk punggung tangan Andini dengan penuh rasa bangga. "Anak pintar. Wanita yang mulia adalah dia yang mampu memaafkan saat dirinya sudah berada di atas."
Farhan berdeham kecil, wajahnya tampak sedikit gugup namun tatapan matanya memancarkan keseriusan yang mutlak. Pria itu merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Andini.
Andini tertegun, jantungnya berdegup kencang.
"Andini," Farhan menatap mata Andini dengan penuh rasa hormat. "Aku tahu kamu pernah melewati badai besar di titik nadir hidupmu. Namun di mataku, badai itu justru membentukmu menjadi mutiara yang paling berharga. Sore ini, di hadapan Ibuku, aku ingin meminta izinmu. Izinkan aku menjadi imam yang menjaga, menghormati, dan membimbingmu hingga ke jannah-Nya. Andini, bersediakah kamu menikah denganku?"
Suasana seketika terasa begitu syahdu seiring embusan angin sore yang memainkan ujung hijab lavender Andini. Ia menatap kotak cincin itu, lalu beralih menatap Ibu Maryam yang mengangguk penuh restu dengan mata berkaca-kaca. Terakhir, ia menatap mata Farhan yang sarat akan ketulusan seorang pria saleh.
Air mata haru perlahan menetes di pipi Andini. Kali ini bukan air mata luka, melainkan air mata kebahagiaan yang membuncah. Tuhan tidak hanya mengangkat derajatnya dari keterpurukan, tetapi juga menggantikan semua rasa sakitnya dengan kado yang jauh lebih indah.
Andini menundukkan wajahnya dengan santun, menyembunyikan rona merah di pipinya, lalu mengangguk pelan. "Bismillah... jika ini adalah jalan yang diridai oleh Allah, saya menerima khitbah-mu, Farhan."
Di seberang jalan yang terik, Reno kembali melangkah menyeret kursi roda ibunya menjauh ke dalam gang-gang sempit yang gelap, menghilang bersama penyesalan abadi. Sementara di dalam kehangatan restoran, Andini siap melangkah memasuki lembaran hidup yang baru, meninggalkan titik nadir dan menyambut takdir indah yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya.