“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBab 20: Kupret
Beni melangkah menjauh sekitar lima meter, mencoba bersikap acuh tak acuh. Namun, suara decitan sepatu dan hantaman keras di aspal mendadak terdengar di belakangnya.
"Dapat kau, Kutu Kupret! Mau lari ke mana lagi kau, hah?!" bentak salah satu preman yang berbadan paling tambun. Ia langsung mencengkeram kerah seragam anak SMA itu hingga tubuh kurusnya terangkat.
PAAKK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi anak itu, membuat sudut bibirnya berdarah. Buku-buku pelajaran yang baru dipungutnya kembali berserakan di trotoar.
Warga kota yang melintas di sekitar sana mendadak mempercepat langkah, membuang muka, dan pura-pura tidak melihat. Tipikal masyarakat kota yang tidak ingin berurusan dengan preman lokal.
Beni menghentikan langkahnya. Ia menatap es tebu di tangannya yang tinggal setengah. Pemandangan di depannya benar-benar memicu memori kelam di kepalanya.
Dulu, saat ia dihajar oleh Kai dan gerombolannya di sudut sekolah, semua orang juga berjalan melewati dirinya seperti ini. Mengabaikannya seolah-olah ia hanya seonggok sampah yang mengotori jalan.
"Sialan," umpat Beni rendah. Ia meremas gelas plastik es tebunya hingga pecah, membuangnya ke tempat sampah terdekat. "Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadi pahlawan kesiangan."
Tetapi tubuh Beni bergerak lebih cepat daripada logikanya. Hanya dalam dua langkah lebar, Beni sudah berdiri tepat di belakang preman bertubuh tambun tersebut.
"Hei, Lepaskan tangan kotor mudamu dari anak itu," ucap Beni dengan suara yang rendah namun sarat akan tekanan intimidasi.
Preman tambun itu menoleh, wajahnya yang penuh minyak menyeringai kasar. "Hah? Siapa kau? Orang udik dari mana yang berani mencampuri urusan kami? Pergi sana sebelum kupatahkan lehermu!"
Dua preman lainnya langsung maju mengepung Beni, salah satunya mulai meraba pinggang belakangnya, seolah bersiap mencabut senjata tajam.
"Aku cuma orang lewat yang merasa terganggu dengan suara bising kalian," jawab Beni santai.
Tanpa menunggu lawan mengambil aba-aba, Beni memanfaatkan kecepatan barunya. Ia melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan preman tambun yang memegang kerah anak SMA itu, lalu memutarnya ke belakang dengan satu sentakan cepat.
KRETEKK!
"AAARRGGHH! Tanganku! Tanganku patah!" raung preman tambun itu, langsung berlutut di aspal dengan wajah meringis kesakitan. Cengkeramannya pada anak SMA itu terlepas seketika.
Dua preman lainnya yang melihat temannya dilumpuhkan dalam satu gerakan langsung naik pitam. "Bangsat! Hajar dia!"
Preman kedua menerjang sambil menghujamkan pukulan mentah ke arah pelipis Beni. Bagi manusia biasa, pukulan itu mungkin cepat.
Namun di mata Beni yang sudah terbiasa berhadapan dengan sambaran kilat Ikan Petir Bertanduk, gerakan preman itu terasa sangat lambat.
Beni hanya memiringkan kepalanya sedikit, menghindari pukulan, lalu melayangkan sebuah jotosan telak dari bawah tepat mengenai ulu hati lawan.
DUAKK!
Preman kedua langsung membungkuk, matanya melotot, dan seluruh udara di paru-parunya seperti dipaksa keluar. Ia ambruk ke trotoar sambil memegangi perutnya, muntah cairan kuning.
Preman ketiga yang melihat dua rekannya tumbang dalam hitungan detik langsung menciut. Ia menarik pisau lipat dari sakunya dengan tangan gemetar. "K-Kau... jangan macam-macam ya! Kami ini anak buah dari—"
"Aku tidak peduli kalian anak buah siapa," potong Beni dingin. Ia melangkah maju satu kali.
Melihat tatapan mata Beni yang tajam, preman ketiga itu kehilangan seluruh nyalinya. Ia menjatuhkan pisaunya, berbalik, dan lari tunggang langgang meninggalkan dua temannya yang masih mengerang kesakitan di atas trotoar.
Beni mendengus, merapikan kembali kerah kemejanya yang sedikit bergeser. "Ternyata manusia biasa benar-benar lemah setelah aku naik level. Ya walaupun ada batasan fisik juga jika lawannya manusia."
Ia kemudian berbalik dan berjalan menyeberang jalan menuju ruko dua lantai yang diincarnya sejak tadi.
Di depan ruko itu terpampang nomor telepon pemiliknya dengan tulisan 'DIKONTRAKKAN / DISEWAKAN'. Beni mengeluarkan ponselnya dan bersiap menelepon untuk menanyakan harga sewa.
Namun, saat ia menekan tombol di layar, ia menyadari ada bayangan yang mengikutinya dari belakang. Ketika ia menoleh, anak SMA tadi sedang berdiri di belakangnya dengan wajah polos, memeluk tas sekolahnya erat-erat seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Ngapain kau mengikutiku?" tanya Beni dengan dahi berkerut, merasa terganggu. "Urusan kita sudah selesai. Pulang sana."
Anak SMA itu menggeleng cepat, matanya yang bulat menatap Beni dengan pandangan penuh kekaguman yang berlebihan. "B-Bang... hebat banget! Abang tadi itu atlet drajat babi ya? Eh, maksudku petarung profesional? Tolong ajari aku, Bang! Aku selalu diganggu oleh mereka karena ibuku punya utang di pasar!"
Beni memutar matanya, merasa pening. "Aku ini nelayan, bukan pelatih bela diri. Dan berhentilah mengikutiku, aku sedang sibuk ada urusan bisnis."
Beni mengabaikannya dan mulai menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu panggilan tersambung dengan pemilik ruko.
Namun anak SMA itu tetap diam di tempat, berdiri kaku tepat satu meter di samping Beni, siap mendengarkan apa saja yang akan dibicarakan oleh sang 'penyelamat'-nya.