NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Warisan

Senyum Bass makin lebar. “Tapi kamu belum jawab pertanyaanku lho, siapa kamu?”

Nowi tertawa gugup.

Apa lelaki itu sedang menggodanya?

Dia baru sadar cuma memakai baju santai, legging bolong dan baju kebesaran. Cepat-cepat Nowi merapikan rambutnya.

Mana mungkin cowok sekeren ini mengajak ngobrol atau menggodanya, hal seperti ini cuma terjadi ke Agnia.

“Ya ampun, Agnia!”

Nowi buru-buru mengambil ponselnya yang jatuh, terdengar suara teriak-teriak dari telepon.

“Aku aman, nggak apa-apa,” kata Nowi cepat. “Ternyata itu tetangga yang cek kondisi rumah, aku kira maling atau apa tadi.” Dia menekankan kata tetangga sambil melotot ke arah Bass.

“Kamu yakin? Mau aku telepon polisi? Aku takut banget lho tadi denger kamu teriaaak!”

“Tenang aja, kamu ini berlebihan banget. Aku aman kok. Nanti malam aku telepon lagi, janji.”

Tanpa menunggu jawaban, Nowi langsung matikan telepon. Saat dia menoleh lagi, Bass sudah bersandar di dinding dengan senyum jahil di wajahnya.

“Oke, Pak Kekar. Begini aja ya,” kata Nowi sambil melipat tangan di dada. “Bulan ini aku udah mecahin biji cowok, dan aku siap bikin rekor baru kalau kamu berani berbuat macam-macam.”

Dia menunjuk Bass.

“Komentar kamu tadi aku anggap nggak denger. Soal aku mau ganti alat bantu itu sama kamu, itu nggak bakal terjadi!”

Nowi menggerakkan tangannya ke arah pintu. “Kalau urusan kamu udah selesai, pintu keluar ada di situ. Silakan pulang.”

“Pak Kekar, ya?”

Bass malah makin senyum, tak marah sedikit pun.

Nowi ternganga.

“Serius?” kata Nowi nggak percaya. “Cuma itu yang kamu inget dari semua yang aku omongin tadi? Dasar cowok!”

Tatapan Bass tak lepas dari Nowi. Pria itu melangkah maju, membuat Nowi mundur tanpa sadar. Satu, dua, tiga langkah. Punggung Nowi akhirnya menabrak dinding.

Sungguh tidak masuk akal. Berada sendirian bersama orang asing, ia malah menjebak dirinya sendiri dalam posisi sulit. Bass berhenti tepat di hadapannya, dalam jarak yang terlalu dekat. Satu tangannya menempel di dinding dekat kepala Nowi, membuatnya terkurung.

Situasi ini sangat tidak menguntungkan. Otot lengan pria itu tampak tegang, dan mata Nowi tanpa sengaja terpaku pada tato yang membentang sepanjang lengan, mengikuti alur urat yang jelas terlihat di balik kulitnya.

Dengan santai, Bass menyibakkan rambut yang menutupi wajah Nowi lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Jarak antara mereka masih terlalu dekat, hingga Nowi merasa kewalahan.

Aroma napasnya yang mirip permen mint bercampur wangi sabun serta bau khas laki-laki, membuat pikiran Nowi menjadi kacau. Nowi menarik napas panjang lalu memberanikan diri menatap wajah pria itu. Tindakan ini ternyata keliru.

Mata hijau gelap Bass bertemu langsung dengan pandangannya, seketika membuat Nowi sulit mengatur napas. Pria itu memiliki ketampanan yang luar biasa.

“Oke, si tukang gombal,” kata Nowi sambil tertawa kecil.

Lalu ia melakukan kesalahan lain. Kedua telapak tangannya menempel di dada Bass dengan tujuan mendorong pria itu menjauh.

Dada pria itu terasa sangat keras. Alih-alih berhasil mendorong, sentuhan itu malah membuat Nowi mengeluarkan desahan pelan yang tidak disengaja. Ia merasa sangat malu.

Tentu saja Bass mendengar suara itu. Ekspresi wajahnya berubah seketika. Nowi segera menarik tangannya, menyembunyikannya di belakang punggung, dan mengalihkan pandangan.

“Sial,” gumam Bass pelan. “Kasih tahu aku harus ngapain biar bisa dengar suara kayak gitu lagi?”

Suaranya makin rendah dan terdengar akrab. Jari-jarinya menyentuh dagu Nowi lalu mengangkat wajahnya hingga pandangan mereka bertemu kembali. Jantung Nowi nyaris copot dari tempatnya. Ia tidak percaya apa yang sedang terjadi.

“Hemmm ... Apa Kita harus ngobrol sedeket ini?” tanyanya gugup.

Jari Bass masih menempel di dagunya, sementara ibu jarinya bergerak pelan tanpa tujuan yang jelas.

“Aku sih cukup menikmati,” jawab Bass santai. “Emang kamu mau ...” Sebelum menjauh, Bass sempat menggenggam pipi Nowi sejenak, lalu mundur satu langkah. “yang lebih ehem ehem?” tanya Bass.

“Maksudku...” Nowi mengembuskan napas dengan cepat. “Jelas aku bisa mikir lebih waras kalau kamu nggak sedeket tadi.”

Ia menggaruk tengkuknya dengan gerakan canggung. “Nowi,” katanya akhirnya. “Namaku Nowi.”

Suaranya terdengar gugup. Bass tiba-tiba berhenti bergerak. Kepalanya terangkat seakan baru saja menerima informasi yang sangat mengejutkan. Matanya menyipit pelan saat ia mengamati Nowi lebih dalam.

“Nowi?” ulangnya pelan. “Oh...” Bass mengembuskan napas. “Anaknya.”

Nowi mengerutkan dahi. “Anak siapa?”

“Pemilik rumah ini.” Bass melirik sekeliling ruangan. “Ini rumah kamu.”

“Oh.” Nowi berkedip beberapa kali. “Gimana kamu tahu?”

“Papaku yang urus properti ini. Karena gak ada penghuni, aku diminta memeriksa kondisinya sesekali, mengingat rumah ini bersebelahan dengan tempat tinggalku,” jelas Bass dengan nada santai. “Aku tahu siapa kamu, Nowi. Hanya aja aku gak nyangka akan bertemu kamu di sini.”

“Oh...” Nowi mengangguk cepat. “Iya bener. Kamu tadi udah bilang.” Ia menelan ludah. “Maaf. Tahun lalu aku sempat ngobrol sama Papa kamu setelah orang tuaku meninggal.”

Jantungnya berdetak cepat kembali, kali ini karena rasa takut. Ia khawatir Bass akan memberitahu orang lain bahwa ia telah kembali ke sini.

“Walaupun aku cukup menikmati pertemuan ini,” kata Bass sambil tersenyum tipis, “maaf ya tadi bikin kamu takut. Serius, aku nggak nyangka ada orang di sini. Biasanya aku cuma datang sebulan sekali buat pastiin rumahnya aman.” Pandangannya menyapu seluruh bagian ruangan. “Biar nggak ada anak mabok yang iseng masuk atau apa gitu.”

Nowi mengamatinya dengan saksama. Kemungkinan besar ia berkata jujur.

“Iya,” kata Nowi akhirnya. “Aku emang pewaris rumah ini. Bakal tinggal di sini beberapa bulan.”

“Cuma beberapa bulan?”

“Niatnya sih gitu.” Nowi menyilangkan tangan di dada. “Mau beresin sedikit, kayaknya perlu banyak perbaikan. Abis itu aku jual.” Ia berhenti berbicara sejenak. “Terus aku pergi.”

“Hm.”

Nowi mengernyitkan dahi. “‘Hm’ apaan?”

“Aku rasa kamu seharusnya pertahanin rumah ini, deh”

Nowi mengangkat alisnya. “Wah, kamu aja nggak kenal aku, mana tahu apa yang terbaik buat hidupku. Maaf ya, pendapatmu rasanya nggak terlalu penting.”

Nadanya terdengar lebih ketus dibandingkan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Bass hanya berbalik arah dan berjalan menuju pintu depan.

“Kita lihat aja nanti.”

Jantung Nowi terasa berhenti berdetak seketika. Rasa panik datang dengan tiba-tiba. Ia segera mengejar langkah Bass dan meraih pergelangan tangan pria itu.

“Eh ... tunggu.”

Bass menoleh, sementara alisnya terangkat sedikit. Nowi menggigit bibirnya.

“Denger, aku tahu kita baru kenal dan ini aneh, tapi...” Dia menarik napas panjang. “Bisa nggak kamu merahasiakan keberadaanku di sini?”

Bass menatap matanya dalam waktu yang cukup lama, lalu mengangguk satu kali tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nowi berusaha terlihat tenang, meski yakin wajahnya jelas memperlihatkan rasa takut dan kegelisahan.

“Nikmati harimu, Nowi,” kata Bass pelan. “Sampai ketemu lagi.”

Pintu tertutup, Nowi langsung terduduk di lantai dan bersandar pada dinding.

Kepalanya terasa pusing. Ia menarik lutut mendekati dada lalu memeluknya erat. Pikirannya terus mengulang peristiwa yang baru saja terjadi serta sosok pria bermata hijau gelap itu.

Rasa takut jika orang lain mengetahui kepulangannya ke Batu juga menghantuinya. Tak lama kemudian, kenangan-kenangan sedih yang lama tersimpan mulai muncul kembali.

Setelah cukup lama larut dalam kesedihan, Nowi akhirnya bangkit berdiri. Ia mengambil satu koper lalu naik ke lantai dua menuju kamar lamanya. Tangga tua itu mengeluarkan suara berderit setiap kali ia melangkah. Ia melewati kamar orang tuanya yang pintunya masih tertutup rapat, lalu terus berjalan hingga tiba di ujung lorong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!