NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:218.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”

Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Kamu tadi kemari naik itu, kan?"

Yuda terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah halaman rumah. Di sana, motornya terparkir miring—catnya kusam, joknya sudah retak di beberapa sisi. Motor tua itulah yang tadi mengantarnya ke rumah wanita idaman.

“Iya,” jawab Yuda akhirnya, suaranya tenang. “Tapi...”

“Hah!” Dewi tertawa kecil, penuh ejekan. “Enggak tau malu banget ya? Apa kerjaan kamu?”

Yuda membuka mulutnya hendak menjawab, tapi Dewi sudah memotong lagi.

"Ojek?" Tatapan mata Dewi makin merendah. "Kamu dengan modal kek gini mau nglamar aku?"

Pak Hasto yang sejak tadi duduk di kursi kayu di sudut ruang tamu menghela napas panjang. Wajahnya menegang. “Dewi, jaga ucapanmu.”

“Loh, salah aku apa, Yah?” Dewi mendengus. “Aku cuma realistis. Masa aku dinikahi tukang ojek? Hidupku mau dibawa ke mana?”

Yuda menggenggam lututnya, berusaha tetap duduk tegak.

“Kamu... Siapa tadi namamu, anak muda?” tanya Pak Hasto.

"Yuda, Pak. Yuda Prayitna."

Pak Hasto mengangguk paham. "Jadi, kamu berniat untuk melamar anakku?"

Yuda mengangguk.

Pak Hasto memperhatikan pemuda yang baru pertama dia temui ini. Dari kasat mata, dia terlihat tampan, muda, bersih, wajahnya tegas.

"Di mana kamu kenal anakku Dewi? Kenapa ingin melamar anakku?"

Yuda membuka mulut lagi, hendak menjawab, tapi udah keduluan suara lain.

"Ya jelaslah di jalan. Pasti dia biasa mangkal di depan kantor tempat Dewi kerja." Suara Bu Sumi, istri Pak Hasto, ibu dari Dewi. "Pasti dulu dia pernah anter Dewi. Lihat aja jaket ojol ijo itu."

“Benar, Buk. Aku emang agak familar sama wajahnya, tapi...” Dewi memotong cepat. “Aku yakin dia salah satu ojol yang mangkal di depan kantor. Aku enggak mau. Malu sama teman-teman kalau sampai mereka tau aku dilamar sama tukang ojek online.”

Pak Hasto memukul ringan sandaran kursinya. “Cukup, Dewi!”

Dewi mendecak, namun tetap bersuara, “Pokoknya aku menolak, Yah. Jelas-jelas menolak. Aku enggak mau hidup susah sama tukang ojek online yang kebelet kawin.”

Suasana hening sejenak. Di saat itulah pintu dapur terbuka perlahan.

“Permisi… Minumnya, Yah.”

Seorang gadis keluar membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa gorengan. Langkahnya sedikit tertatih, kaki kirinya terlihat kaku. Ia menunduk sopan, hendak meletakkan hidangan di meja.

“Ning,” panggil Pak Hasto lembut. “Taruh saja di sini.”

Ningsih—atau Ning—mengangguk pelan. Gadis itu memakai jilbab sederhana yang warnanya hampir pudar, wajahnya bersih tanpa riasan. Tatapannya kalem, teduh, seperti danau di pagi hari. Yuda tak sengaja memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya.

“Ah, pas banget nih!” Dewi tersenyum miring. “Daripada aku, mending kamu nikah sama dia aja.”

Ning terhenyak. Tangannya gemetar kecil.

“Apa maksudmu, Wi?” tanya Pak Hasto tegas.

“Ya maksudku jelas, Yah.” Dewi melirik Ning sambil tertawa kecil. “Ning kan anak ayah juga. Walau kita beda ibu, tapi kan tetep anak ayah juga, kan?” Ia mengangkat bahu. “Dan aku rasa tuh, mereka cocok. Dari segi manapun. Lihat deh, satu tukang ojek, satu gadis pincang, hahaha. Sama-sama enggak punya masa depan. Cocok banget!”

“Dewi!” suara Pak Hasto meninggi. “Kamu keterlaluan! Ning itu adikmu!”

Yuda menoleh ke arah Ning. Gadis itu menunduk, matanya terarah ke lantai. Wajahnya tetap tenang, tapi ada luka yang tak kasatmata di sana. Yuda merasakannya.

Dewi yang tadi tertawa, kini diam merapatkan bibit. Tatapan mata Pak Hasto terasa sangat menghunus tajam.

"Tapi, apa yang Dewi bilang ada benarnya. Mending sama Ning saja," ucap Bu Sumi terdengar bijak. "Jadi enggak timpang. Kalau Dewi, dia lebih pantas sama yang selevel sama dia. Bukan tukang ojek online."

Pak Hasto memejamkan mata sejenak. Lalu menatap Yuda lagi.

“Kenapa kamu mau melamar Dewi, Nak Yuda?” tanya Pak Hasto, berusaha mengalihkan suasana.

Yuda membuka mulut, tapi belum sempat menjawab—

“Ya jelas karena aku cantiklah, Yah,” Dewi menyela sambil menyeringai. “Kerja kantoran, masa depan cerah. Wajar dong kalau tukang ojek kayak dia ngincer aku.”

Yuda mengepalkan tangannya, lalu mengendurkannya kembali. Ia menatap Dewi lurus-lurus. “Sebenarnya... Saya punya alasan lain...”

“Lah, emang kenyataannya begitu,” Dewi tertawa lagi. “Aku bukan level kamu. Nikah sama Ning aja. Dia pincang, kamu miskin. Cocok.”

Plak!

Pak Hasto menepuk meja. Tangannya gemetar menahan amarah. “Dewi! Jaga mulutmu! Ning pincang juga karenamu!”

Dewi terdiam, tapi senyum sinisnya belum hilang. Ning hanya diam menunduk.

Yuda berdiri perlahan. Dia memang sedari tadi menahan diri walau terus direndahkan. “Terima kasih, Pak, sudah menerima saya bertamu di sini.” Ia menoleh pada Dewi. “Maaf kalau kedatangan saya membuatmu tidak nyaman, lain kali saya akan lebih memperhatikan dengan apa datang.”

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas. “Ini nomor saya. Kalau suatu hari Dewi berubah pikiran.”

“Huh,” Dewi menyeringai, lalu mengambil kertas itu dan—tanpa ragu—melemparkannya ke arah Ning. “Tuh. Simpan aja. Kali aja cocok.”

Kertas itu jatuh di dekat kaki Ning. Ning memungutnya, lalu kembali menunduk. "Jangan begitu, Mbak. Mas ini datang dengan niat baik."

"Iya, makanya kamu aja yang nikah sama dia! Embak enggak mau!" tukas Dewi dengan sombongnya.

Yuda melirik Ning sekilas, tak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah pergi. Suara motor bututnya terdengar menjauh dari halaman rumah.

"Hhiiisshh! Miskin aja berani lamar aku," gerutu Dewi.

Bu Sumi melirik Suaminya, "Mas! Aku enggak rela kalau kamu terima lamaran pemuda tak tau diri itu. Dia sama sekali tak pantas buat Dewi. Kalau emang mau, lebih baik buat Ning saja. Biar dia cepat keluar dari sini. Dasar benalu!" katanya sambil melirik sinis pada Ning.

Gadis berjilbab itu hanya menunduk, meremas sisi tubuhnya dalam diam. Hatinya yang terasa perih.

Beberapa menit setelah itu, suara beberapa mobil berhenti di depan rumah.

“Assalamu’alaikum!”

Dewi langsung bangkit. “Itu pasti Ridho!”

Ia berlari kecil ke depan, wajahnya berbinar. Bu Sumi ikut menyambut dengan senyum lebar. Pak Hasto berdiri, menyambut rombongan keluarga yang datang dengan rapi.

"Wa'alaikum salam."

"Masuk! Masuk, nak Ridho."

"Terima kasih, Bu," ucap Ridho tersenyum, matanya melirik kecil pada gadis berjilbab yang menunduk kala pandangan bertemu.

"Ning! Sana ke dapur! Kamu enggak pantas di sini," bisik Dewi. Ning menurut, ia beresi bekas tamu sebelumnya. Lalu berjalan tertatih menyeret kakinya.

Rombongan masuk dengan senyum sopan. “Maksud kedatangan kami… kami ingin melamar.”

Dewi hampir melompat kegirangan. Bu Sumi menepuk tangannya sendiri. “Alhamdulillah! Kami tau kedekatan anak kita memang sudah sepantasnya ke jenjang yang lebih serius.”

Orang tua Ridho pun tampak senang karena niat baik bersambut. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu Sumi dan Pak Hasto."

Ridho menarik napas.

“Saya ingin melamar Ningsih,” ucap Ridho mantap.

Sunyi.

Dewi membeku. Bu Sumi terperanjat. Pak Hasto menatap Ridho dengan mata membesar.

“Ning…?” suara Dewi nyaris berteriak.

1
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kok smakin gak asik gini, knp hrs ning yg terapis kan banyak d9kter dkk nya, kok kesanya ning yg hrs dikorbankan, cerita apa ini, kok rmh tangga yuda dan ning yg hrs dirahasiakan in knp, aneh in cerita, mulek udh mulai gak asik, mau hapus ae
muthia
ibunya egois😭
nunik rahyuni
knp smasih saja di jadikan umpan...kasiankau ning...
klo tentang yuda apkh bukan ank kandung ya kok katanya pewaris sesungguhnya sdh sadar🤔🤔🤔🤔
dan apa yg di lakukan ortunya seolah2 g terlalu memikirkan perasaan kening dan yuda...🤔🤔🤔jd seolah olah yuda balas budi betul g ya
Arin
Nah kan semangat Ranu buat sembuh makin besar itu bagus.....
Tapi semangat dia itu karena jatuh cinta ke Ning yang mendorong untuk segera bangkit lagi. Mending kasih tau sekarang, daripada semakin dalam dia jatuh cinta ke Ning....
Sri Rahayu
wah gawat kl Ranu jatuh cinta sama Ning...nanti bisa berantem sama Yuda 🤩🤩🤩...tp cinta nya Ning kan buat Yuda😍😍😍...lanjut Thorr😘😘😘
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasian yuda
nunik rahyuni
rasa rasanya kok sebel aq sm yuda sekelg..
ning ayo pulang kermh q saja jgn mqu sam yuda lg kli yuda g bisa tegas dan jujur
Agunk Setyawan
anggun ini orang tua egois
mama
sumpah,..aq berharap setengah kebohongan terungkapkan ning pergi jauh biar anggun dan Yuda kelimpungan nyari.. klu perlu yg jauuuh sekalian ning..biar Yuda kepook,greget sm author ny juga dari kmrin gantung ajj ni cerita gk ndang sat set,.kmrin aj soal pk tio sat set sekarang makin kesini mkin greget
Sri Rahayu
kamu hrs ngomong ma mama mu Yuda...Ning istri mu tdk bisa terus menerus mengurus Ranu....mama nya jg gitu....uda saatnya kshtau Ranu kl Ning istrinya Yuda 🙃🙃🙃...lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mama Anggun juga Yuda lbh baik bilang terus terang sama Ranu bahwa Ning adalah salah strinya Yuda ,daripada ditutupi malah nanti Nanti malah jadi ribet .
sutiasih kasih
mm anggun... gmn sih... kn ning sdh mnikah... dan suami ning jg ankmu...
jujurlah mulai skrg mm anghun n yuda... jgn lah kalian jdikn ning umpan...
ranu jga jdi manusia kok g tau diri... klo mau smbuh kn g harus sll ning yg mndampingi terapi...🙄🙄
Nana Geulise
mama anggun salah kalau tetap menyembunyikan semuanya terhadap ning..jgn muntang2 ranu br bangun dr koma yuda dan ning yg menderita.yuda juga harus jujur kalau g mau kehilangan ning..
Arin
Mama Anggun-Yuda cobalah jujur. Apa perlu Ning yang kasih tau Ranu tentang status Ning dan Yuda. Ranu dulu cuma kasih pesan cari orang yang telah di tabrak karena merasa bersalah. Kalau sekarang Yuda menikahi Ning apa salahnya???
bibuk Hannan & Afnan: iya ih gregettttt gemesh banget sama mama Anggun dan Yudha knp gak jujur aja sedari awal Ranu sadar dr koma wkt ngenalin Ning dgn status yg sebenarnya klo Ning istrinya Yudha,
ini kak othornya pinter banget dah ahhhh bikin para reader penasaran gregettttt,
total 1 replies
Asiu Asiu
bikin ning nya pergi ninggalin yuda .
setelah ning tahu ning hamil anak yuda.
ning kecewa sama yuda karna tidak bisa tegas sama ranu juga mama nya...
sunaryati jarum
Jadi males baca
sunaryati jarum
Sekali lagi jika rumah tangga Ning dan Yuda hancur emak kecewa , padahal Ning sudah memberi signal tidak suka pada Ranu
nunik rahyuni
kok g lekas hamidun aja sih si ning..muak aq sm si ranu+ortu ny...si yuda jg..klo memang sayang dan cemburu knp jg mendorong istrinya dekat2 ranu...mudahan ning pinter dan peka klo cuma di manfaatkan j sm mertua buat kesembuhan ranu..minggat j ning...seolah olah kmu g punya harga diri...g usah lg diurusi si ranu..harusnya ranu seklg minta maaf karena membuat ning pincang..lha ini yg jd korban malah suruh merawat pelaku ...error kan 🤔🤔🤔dan pergi jauh j mereka g menghargai perasaanmu...
nunik rahyuni
ning dan ranu statusnya ipar..buka. muhrim harusnya tau batasan ..knp g mencari terapis yg lain..dr awal sdh bisa di tebak klo ning yv jd terapis bgaimana kelanjutanya..ning itu istri yuda...seolah olah mereka justru mendorong ning agar berhub sm ranu..knp...?dan yuda knp setuju..kan jd nya kebodohan masal..seklg bodoh..mau mempermainkan ning cm buat ranu sembuh..banyk cara lain kok...satu kebohongan yg melahirkan banyak kebohongn lainya...kebenaran terkadang menyakitkan tp itu yg terbaik untuk memutus rantai kebohongan.😡😡
Arin
Udahlah Yuda.... lupakan soal Ranu. Jelaskan lah nanti padanya. Yang penting jagalah keutuhan rumah tangga mu..... Apa Ranu juga masih mau bersama Ning, jika tau Ning sudah menikah? Apa Ranu mau menyakiti hati adiknya sendiri, hanya demi bisa bersanding dengan Ning?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!