NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak
Popularitas:286.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Beberapa menit kemudian, Rani akhirnya selesai merangkai pesanan Clara. Mawar merah dipadukan dengan lavender ungu muda terlihat elegan dalam balutan kertas putih dan pita satin lembut.

“Sudah selesai, Mbak,” ujar Rani sambil menyerahkan rangkaian bunga itu.

Clara langsung tersenyum senang saat menerimanya.

“Cantik banget,” pujinya tulus.

“Terima kasih,” jawab Sahira pelan.

Clara masih memperhatikan bunga di tangannya dengan puas.

Sementara Saga berdiri di dekat meja kasir dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, namun tatapannya sesekali kembali jatuh pada vas mawar putih dan tulip yang masih berada di tempatnya.

Seolah pikirannya tertahan di sana.

“Berapa semuanya?” tanya Saga akhirnya.

Sahira menyebutkan nominalnya singkat.

Tanpa banyak bicara, Saga langsung mengeluarkan kartu dari dompetnya lalu memberikannya pada Rani untuk pembayaran.

Clara melirik Saga sekilas lalu tersenyum kecil.

“Harusnya aku yang bayar.”

Saga menggeleng tipis.

“Nggak apa,”

Sahira hanya berdiri diam memperhatikan semuanya. Melihat pria yang dulu begitu dekat dengannya kini membelikan bunga untuk wanita lain, entah kenapa tetap terasa menyakitkan.

Padahal lima tahun sudah berlalu. Namun, rupanya beberapa luka memang tidak pernah benar-benar sembuh. Setelah pembayaran selesai, Clara memeluk rangkaian bunganya dengan wajah senang.

“Kalau begitu kami pergi dulu,” ucapnya ramah pada Sahira.

Sahira mengangguk kecil.

“Iya.”

Saga tidak langsung bergerak.

Tatapannya sempat kembali bertemu dengan Sahira sesaat. Namun, kali ini tak ada yang mengatakan apa pun. Hanya keheningan panjang yang terasa semakin sulit dijelaskan.

Sampai akhirnya,

“Doktel tampan!”

Suara kecil Sahir memecah suasana.

Anak itu berdiri di dekat pintu toko sambil melambaikan tangan kecilnya semangat.

“Dateng lagi ya!”

Saga menoleh, dan tanpa sadar, ekspresi dingin di wajahnya sedikit melunak saat melihat bocah itu.

“Iya,” jawabnya pelan.

Sahir langsung tersenyum lebar.

“Sahel, tunggu!”

Clara memperhatikan interaksi itu sambil tersenyum tipis, meski jauh di dalam hatinya ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.

Sementara Sahira justru semakin tidak tenang. Karena semakin sering Saga datang, semakin sulit baginya menyembunyikan kebenaran yang selama ini ia jaga sendiri.

Beberapa menit berlalu.

Mobil Saga memasuki area parkir Rumah Sakit Kasih Ibu tepat ketika sebuah mobil hitam lain berhenti tidak jauh dari mereka.

Seorang pria paruh baya turun dari mobil itu sambil melepas kacamata hitamnya. Wajahnya tampan dan berwibawa meski usianya sudah tidak muda lagi. Dia adalah Dokter Mario. Paman Saga sekaligus pemilik Rumah Sakit Kasih Ibu.

Begitu melihat Saga dan Clara turun dari mobil, Dokter Mario langsung tersenyum tipis.

“Pagi,” sapanya hangat.

“Paman,” balas Saga sambil mengangguk hormat.

Clara ikut tersenyum sopan.

“Selamat pagi, Om Mario.”

“Pagi juga, Clara.” Tatapan Dokter Mario beralih pada bunga yang dibawa Clara, lalu tersenyum samar. “Wah, pagi-pagi sudah dapat bunga.”

Clara terkekeh malu.

“Beli di jalan tadi.”

Dokter Mario mengangguk kecil sebelum akhirnya menatap Saga lagi.

“Kebetulan kamu datang. Paman memang mau ngobrol sama kamu.”

Saga sedikit mengernyit.

“Sekarang?”

“Iya.” Dokter Mario memasukkan kedua tangannya ke saku jas dokternya. “Ada hal penting yang mau dibahas.”

Lalu pria itu menoleh pada Clara.

“Kalau Clara nggak keberatan, tunggu di ruang tunggu dulu, ya.”

Clara langsung mengangguk.

“Tentu, Om.”

“Nanti Aldi juga datang ke rumah sakit,” lanjut Dokter Mario santai. “Kalian kan dulu satu sekolah waktu SMA.”

Clara tersenyum kecil saat mendengar nama itu.

“Iya, udah lama nggak ketemu Aldi.”

“Ya sudah, nanti ngobrol saja.”

Setelah itu Dokter Mario mengajak Saga berjalan menuju ruangannya. Sementara Clara melangkah ke arah ruang tunggu dengan bunga di pelukannya. Ruangan Dokter Mario berada di lantai khusus dokter senior. Luas, rapi, dan dipenuhi aroma kopi yang samar.

Begitu masuk, Saga langsung duduk di sofa depan meja kerja pamannya. Sementara Dokter Mario berjalan mengambil dua cangkir kopi sebelum menyerahkan salah satunya pada Saga.

“Gimana kerja beberapa hari ini?” tanyanya santai.

Saga menerima kopinya pelan.

“Lumayan berat.”

“Tapi?”

Saga tersenyum tipis samar.

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

Dokter Mario mengangguk puas.

“Bagus.”

Hening sejenak memenuhi ruangan. Tetapi, beberapa detik kemudian, ekspresi Dokter Mario perlahan berubah lebih serius.

“Sebenarnya…” ujarnya pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi, “Paman mau tanya soal Sahira.”

Tangan Saga yang memegang cangkir kopi sedikit berhenti. Tatapannya perlahan terangkat. Dokter Mario melanjutkan dengan tenang.

“Kemarin Paman nggak sengaja lihat dia datang lagi ke rumah sakit.”

Saga diam.

“Anaknya sakit, ya?”

“Iya,” jawab Saga singkat. “Demam tinggi.”

Dokter Mario memperhatikan wajah keponakannya beberapa saat sebelum kembali bertanya,

“Dan kebetulan kamu yang merawat anaknya?”

Saga mengangguk kecil.

“Iya.”

“Udah bicara sama mereka?”

Saga tersenyum hambar.

“Sedikit.”

“Gimana?”

Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan,

“Nggak seakrab dulu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, jelas sekali ada sesuatu yang masih tertinggal di baliknya. Dokter Mario menghela napas pelan. Ia memang tahu tentang hubungan Saga dan Sahira dulu. Tahu seberapa besar Saga mencintai gadis itu. Dan tahu bagaimana hancurnya Saga setelah perpisahan mereka lima tahun lalu. Tetapi, ada satu hal yang sejak kemarin terus mengganggu pikirannya.

“Saga,” panggilnya serius.

“Hm?”

“Apa kamu nggak curiga?”

Kening Saga sedikit berkerut.

“Curiga apa?”

Dokter Mario menatapnya dalam.

“Anak itu.”

Tatapan Saga langsung berubah.

“Paman lihat sendiri kemarin,” lanjut Dokter Mario pelan. “Sahir … mirip banget sama kamu waktu kecil.”

Ruangan mendadak terasa sunyi, Saga menunduk pelan. Jemarinya perlahan menggenggam cangkir kopi lebih erat.

“Aku juga bingung,” gumamnya lirih.

Tatapan Dokter Mario semakin tajam memperhatikan perubahan ekspresi keponakannya.

Saga menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata,

“Kenapa dia bisa semirip itu sama aku…” Suara pria itu terdengar jauh lebih pelan sekarang.

“Padahal aku bukan ayahnya.”

Dokter Mario tetap diam.

Sementara Saga melanjutkan dengan nada bingung,

“Lima tahun lalu … aku dan Sahira nggak pernah melakukan hubungan sejauh itu.”

Tatapan Dokter Mario langsung berubah. Kening pria itu perlahan berkerut.

“Kalian nggak pernah?” ulangnya pelan.

Saga menggeleng.

“Kami pacaran seperti biasa.”

“Jadi maksudmu…” Dokter Mario menatapnya lebih dalam, “kalian benar-benar nggak pernah tidur bersama?”

Saga mengangguk pasti. Tetapi, anehnya Dokter Mario justru menatapnya dengan ekspresi tidak puas. Seolah jawaban itu malah membuat sesuatu terasa semakin janggal. Dan tatapan itu perlahan membuat jantung Saga ikut berdetak tidak tenang.

1
Retno Harningsih
up
Aditya hp/ bunda Lia
anakmu benar2 sudah gila dan seharusnya kamu sadar anakmu obsesinya udah membahayakan
tiara
semoga orang suruhan Saga cepat datang, untuk menangkap Clara
Oma Gavin
semua tokoh kok goblok dihari penting dan sakral ngga ada penjagaan sama sekali sedangkan clara masih bebas berkeliaran ya sudahlah readers bisa apa semua cerita dan tokohnya tergantung author nya
Aisyah Alfatih: maaf kak 🙏
total 1 replies
Fia Ayu
Antek2nya saga kemana x, kq sampe kecolongan 😥
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok gak ada yang jagain sih
Esther
Aduh....kenapa Sahira dibiarkan sendiri
ardiana dili
lanjut
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
bego banget saga udh tau clara nekad mlh santai ky gakda khawatir2nya, gakda penjagaan, gakda temen, clara dibiarin masuk, kd bacanya sebel, gak sahira gak saga bego bangèt
Nyonya Gunawan: Tenang,,tenang,,itu dah jdi skenario krn hrus ada bukti nyata utk nangkap clara..
total 2 replies
Lilik Juhariah
belum tau kl Aldy dibalik kejadian malam itu ya Om
Ita rahmawati
bakal jd Aldi ke 2 nih
Aysah Meta
Mr.Lois yg terhormat,cukup sdh pembelaan mu untuk anak mu..anak kau udh gila dengan semua obsesinya.
dari pada km dan nama baik mu hancur,lebih bijak kendalikan anak mu..dr pada menyesal di kemudian hari.
Lilik Juhariah
OOO ini si biang keroknya Clara
Lilik Juhariah
kayaknya ada sesuatu kenapa saga gakninget apa apa
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kapan masuk penjara nya
tiara
sepertinya Clara sudah siap-siap akan beraksi nih
Oma Gavin
cerita nya ngga usah banyak drama lagi ini sdh masuk part inti jadi segera aja bongkar
sri hastuti
lah ayolah thor, bikin gak sabar aja, libas Clara yg gak tau diri, muter2 terus, biar semua orang tau Clara pembunuh, kasihan Sahira , biar Sahira bahagia, 🙏🙏🙏
ardiana dili
lanjut
Sun Rise
cepat terbongkar kelakuan anknya si lois lah thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!