Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 anjing gila
Nara melirik baju baru yang dipakai Yan Ran.bibirnya terangkat, membentuk senyuman sinis sebelum akhirnya dia memalingkan muka dengan malas.
Yan Ran adalah anak dari istri kedua ayahnya, usianya cuma beda tujuh bulan lebih muda dari Nara. Status ibunya sebenarnya cuma selir, tapi herannya, anak selir itu malah bisa memakai baju yang jauh lebih layak daripada Nara yang merupakan anak sah.
Nara menunduk, menatap bajunya sendiri yang berbahan kain kasar warna biru pudar penuh tambalan di sana-sini.
Ditambah lagi tangan kirinya yang sekarang dibungkus kain kasa tebal sampai kelihatan lusuh, senyum getirnya makin jelas.
Nasib memang suka bercanda. Dia terlempar ke dunia ini lewat transmigrasi tanpa alasan yang jelas, lalu malah berakhir jadi anak sulung di keluarga miskin.
Sudah miskin, dia juga tidak dipedulikan oleh kakek neneknya, dibenci ayahnya, dan dijauhi orang-orang karena punya enam jari yang dianggap pembawa petaka.
Mendengar teriakan Yan Ran yang melengking dari tadi, Nyonya Mu buru-buru bangkit berdiri. Dia menatap Nara dengan tatapan cemas.
"Ara, kamu istirahat saja dulu ya. Ibu mau ke dapur buat masak sekarang. Obatnya jangan lupa diminum," kata Nyonya Mu sambil menunjuk sebuah mangkuk tanah liat besar di dekat tempat tidur.
Nyonya Mu kemudian menoleh ke anak bungsunya. "Ning, bantu kakakmu minum obatnya sampai habis, ya?"
Yan Ning tidak langsung menjawab. Dia sempat melemparkan tatapan tajam ke arah Yan Ran sebelum akhirnya mengangguk pelan kepada ibunya.
Melihat respons itu, Yan Ran malah mencibir sambil melipat tangan di dada dengan gaya angkuh.
"Kalian sebaiknya gerak lebih cepat. Nenek sudah menunggu di depan," ucap Yan Ran dengan nada bicara yang menyebalkan. Matanya menatap mereka bertiga dengan pandangan merendahkan.
"Kalau mau cepat, kenapa tidak kamu saja yang masak? Tanganmu patah, ya?!" bentak Yan Ning yang langsung berdiri karena tidak tahan lagi.
"Ning, sudah, jangan ribut," potong Nyonya Mu panik. Dia buru-buru menarik ujung baju anak bungsunya itu.
"Ibu keluar duluan ya, biar cepat selesai," sambung Nyonya Mu yang kemudian langsung melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa.
Yan Ran tersenyum puas melihat kemenangan kecilnya. Dia melirik Yan Ning dengan tatapan mengejek.
"Bukan aku ya yang menyuruh dia pergi, ibumu sendiri yang langsung jalan," sindir Yan Ran dengan nada sinis.
"Kamu—"
"Ning," potong Nara tiba-tiba sebelum adiknya sempat mengamuk. "Bisa tolong ambilkan obatnya? Tangan Kakak mulai terasa nyeri lagi."
Mendengar ucapan kakaknya, Yan Ning terpaksa menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun. Dia mengambil mangkuk obat itu dengan hati-hati, lalu menyodorkannya ke arah Nara.
Nara memandangi cairan gelap di dalam mangkuk itu lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
Rasanya luar biasa pahit sampai dia hampir memuntahkannya kembali, tapi dia paksakan untuk menelannya sampai habis.
Nara melirik ke arah pintu dan melihat Yan Ran yang ternyata masih berdiri di sana sambil memasang wajah mengejek. Sebuah ide muncul di kepalanya untuk membalas anak manja itu.
"Ning, tahu tidak? Anjing gila itu memang bawaannya cuma bisa menggonggong," kata Nara sengaja memperkeras suaranya.
"Kalau ada anjing gila yang menggigit kita, masa kita harus balas menggigitnya juga? Buat apa memikirkan gonggongan tidak berguna seperti itu."
Yan Ning sempat melongo mendengar kata-kata kakaknya. Detik berikutnya, dia langsung tertawa lepas setelah paham maksud sindiran tersebut.
"Iya juga ya, Kak. Kita tidak usah peduli sama anjing gila," sahut Yan Ning sambil tersenyum lebar. "Ayo dihabiskan obatnya, hati-hati masih agak panas."
Yan Ran awalnya sempat kebingungan mendengar obrolan mereka. Tapi begitu sadar kalau dirinya sedang disamakan dengan anjing gila, wajahnya langsung memerah padam karena emosi.
"Nara si Jari Enam! Siapa yang kamu maksud anjing gila tadi?!" teriak Yan Ran murka.
Sayangnya, Nara sama sekali tidak peduli. Dia mengabaikan teriakan itu dan lanjut mengobrol santai dengan Yan Ning.
Kemarahan Yan Ran langsung meledak tidak terkendali. Dia melangkah maju ke dalam kamar, lalu menunjuk wajah Nara dengan kasar.
"Kamu tuli ya?! Aku tanya, siapa yang barusan kamu maki-maki?!" bentak Yan Ran dengan mata melotot.
Nara akhirnya memalingkan wajahnya. Dia menatap Yan Ran dengan sorot mata yang teramat dingin, tajam, dan menusuk.
Sambil mengangkat tangan kirinya yang masih terbalut kain kasa tebal, Nara berbisik dengan nada mengancam. "Panggil aku si Jari Enam sekali lagi, dan aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu."
"Sekarang jumlah jariku sudah sama seperti jarimu, cuma ada lima," lanjut Nara tanpa melepaskan pandangan matanya yang mengunci pergerakan Yan Ran.
Tatapan intimidasi yang tidak pernah Nara tunjukkan sebelumnya itu mendadak membuat jantung Yan Ran berdegup kencang karena takut.
Nyali Yan Ran seketika menciut melihat keberanian Nara yang sekarang. Sambil menggigit bibir bawahnya, dia menghentakkan kaki dengan kesal untuk menutupi rasa malunya.
"Kamu... awas saja ya! Lihat nanti!" ancam Yan Ran setengah gugup, sebelum akhirnya dia buru-buru berbalik dan lari keluar dari kamar karena ketakutan.