Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Tatapan Cemburu
Arkana masih memegang dagu Kemuning di dalam mobil yang parkir di pinggir jalan. Jemari pria itu terasa hangat di kulitnya yang dingin karena gugup. Jarak mereka terlalu dekat sampai napas Arkana menyentuh wajah Kemuning pelan. Dan Kemuning benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi.
“Berhenti meminta maaf seolah kau serendah itu.” Suara Arkana rendah dan tenang tepat di depan wajahnya.
Tatapan matanya begitu tajam sampai membuat dada Kemuning bergetar aneh.
Jantung gadis itu berdetak terlalu keras. Kemuning takut Arkana bisa mendengarnya. Namun di balik rasa malu dan gugup yang memenuhi tubuhnya, ada perasaan lain yang mulai tumbuh perlahan. Perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sejak kedua orang tuanya meninggal. Dan itu justru lebih menakutkan.
Arkana sendiri terdiam beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Matanya masih tertahan pada wajah Kemuning yang memerah dan gugup. Gadis itu terlalu mudah terluka oleh ucapan orang lain. Dan Arkana mulai membenci hal itu.
Ia tidak suka melihat Kemuning menunduk seperti tadi di butik. Tidak suka mendengar gadis itu terus meminta maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya. Dan yang paling mengganggu, Arkana sadar dirinya tidak tahan melihat Kemuning menangis. Kesadaran itu membuatnya kesal sendiri.
Pria itu akhirnya menarik tangannya perlahan dari dagu Kemuning. Ekspresinya kembali dingin seperti biasa dalam hitungan detik. Seolah momen tadi tidak pernah terjadi. Namun suasana di dalam mobil sudah berubah sepenuhnya.
Perjalanan pulang terasa sangat canggung. Kemuning duduk diam sambil memainkan jemarinya sendiri di atas pangkuan. Pipinya masih panas setiap kali mengingat tatapan Arkana tadi. Dan diam-diam ia beberapa kali mencuri pandang ke arah pria itu.
Arkana fokus menyetir dengan satu tangan di kemudi. Namun tanpa sadar, matanya terus melirik hal-hal kecil tentang Kemuning. Cara gadis itu menggigit bibir bawah saat gugup. Cara rambut hitam panjangnya bergerak pelan tertiup AC mobil. Dan setiap kali Kemuning terlihat cemas, jemarinya akan saling meremas kecil. Hal sederhana yang seharusnya tidak menarik perhatian Arkana sama sekali. Tetapi anehnya, pria itu justru terus memperhatikannya. Sampai akhirnya Arkana mengembuskan napas pelan kesal pada dirinya sendiri.
Mobil sport hitam itu akhirnya memasuki halaman mansion Mahendra menjelang sore. Langit mulai berubah jingga keemasan di atas bangunan megah tersebut. Kemuning buru-buru membuka pintu mobil sambil membawa beberapa paper bag pakaian baru. Namun barangnya terlalu banyak untuk tubuh kecilnya. Beberapa paper bag langsung jatuh berantakan di tangga depan mansion.
Kemuning panik dan buru-buru berjongkok memungutnya. “Astaga... maaf...” gumamnya kecil karena merasa merepotkan lagi. Wajahnya langsung pucat malu.
Sebelum sempat membereskan semuanya sendiri, seseorang ikut berjongkok di depannya. Seorang pria muda berpakaian rapi membantu memungut paper bag tanpa banyak bicara. Wajahnya ramah dengan senyum hangat yang jauh berbeda dari Arkana.
Kemuning langsung sedikit terkejut. “Tidak apa-apa, Nona.”
“Saya bantu.” Suara pria itu sopan dan lembut. Namanya Reno, salah satu bodyguard sekaligus sopir keluarga Mahendra.
Kemuning buru-buru menerima paper bag dari tangan Reno. “Terima kasih,” ucapnya pelan sambil tersenyum tulus untuk pertama kali sejak datang ke mansion. Senyum kecil yang membuat wajah polosnya terlihat jauh lebih hidup. Dan tanpa sadar, Reno ikut tersenyum balik.
Namun beberapa langkah dari sana, Arkana mendadak berhenti berjalan. Tatapannya langsung jatuh pada interaksi kecil itu. Senyum Kemuning pada Reno terasa mengganggu entah kenapa. Perasaan aneh langsung muncul di dada Arkana. Kenapa dirinya terganggu hanya karena Kemuning tersenyum pada laki-laki lain? Padahal gadis itu bebas bicara pada siapa saja. Namun melihat Reno terlalu dekat dengan Kemuning membuat rahang Arkana menegang samar. Dan itu benar-benar mengganggu suasana hatinya.
“Reno.” Suara Arkana terdengar datar memotong suasana.
“Barangnya biar pelayan yang urus.” Nada tenangnya justru terasa mengintimidasi.
Reno langsung berdiri tegak sambil mengangguk hormat. “Baik, Tuan Muda.” Pria itu segera mundur karena sadar suasana berubah dingin tiba-tiba.
Sedangkan Kemuning malah jadi bingung sendiri. Apa ia melakukan kesalahan lagi? Kemuning langsung menunduk panik sambil memeluk paper bag di tangannya. Namun sebelum sempat bicara, Arkana sudah merebut beberapa paper bag darinya begitu saja. Lalu berjalan masuk ke mansion tanpa menoleh.
Kemuning buru-buru mengejar Arkana dengan langkah kecil gugup. Jantungnya kembali berdebar karena sikap pria itu sulit ditebak. Kadang sangat dingin sampai menakutkan. Namun kadang juga membuatnya merasa dilindungi.
Begitu masuk ke ruang tengah mansion, Ratih Maharani langsung memperhatikan mereka. Tatapan wanita elegan itu turun perlahan ke paper bag butik mahal di tangan Arkana. Lalu beralih pada pakaian baru yang dipeluk Kemuning. Sorot matanya langsung berubah tipis.
“Cepat sekali Arkana peduli pada gadis asing.” Nada suara Ratih terdengar halus tetapi menusuk.
Kemuning langsung panik dan buru-buru menggeleng. “Bu-bukan begitu. Semua ini bukan kemauan saya... Aku sudah bilang tidak perlu...” Kemuning bicara terbata sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Ia benar-benar takut Ratih salah paham.
Ratih memperhatikan reaksi Kemuning beberapa detik. Lalu matanya beralih pada Arkana yang berdiri di dekat tangga. “Aneh. Kau biasanya bahkan malas memilih hadiah untuk perempuan.”
Arkana langsung memasang ekspresi datar. “Aku hanya menjalankan perintah Ayah.” Jawabannya singkat dan dingin seperti biasa.
Namun Ratih tetap menangkap sesuatu yang berbeda. Karena sepanjang percakapan itu, Arkana beberapa kali tanpa sadar memperhatikan Kemuning. Terutama saat gadis itu terlihat gelisah atau menunduk malu. Tatapan kecil yang mungkin tidak disadari Arkana sendiri. Tetapi tidak luput dari pengamatan Ratih.
Malam datang perlahan menyelimuti mansion Mahendra. Setelah makan malam yang canggung, Kemuning kembali ke kamar Arkana sambil membawa pakaian barunya. Ia merasa tidak enak jika harus merepotkan para pelayan lagi. Jadi ia memutuskan membereskan semuanya sendiri.
Kemuning berdiri di depan lemari besar Arkana sambil berjinjit pelan. Salah satu paper bag berada di rak atas yang terlalu tinggi untuknya. Ia mencoba meraihnya dengan hati-hati sambil berdiri di ujung kaki. Namun tubuh kecilnya mulai kehilangan keseimbangan.
“Ah—!”
Sebelum tubuh Kemuning jatuh ke belakang, dua tangan kuat langsung menangkap pinggangnya dari belakang. Tubuh gadis itu refleks membeku seketika. Karena punggungnya menempel tepat di dada Arkana. Pria itu baru keluar dari kamar mandi.
Rambut hitamnya masih sedikit basah dan aroma sabun maskulin memenuhi udara di sekitar mereka. Tubuh Arkana terasa hangat menempel di belakang Kemuning. Membuat napas gadis itu langsung kacau. Arkana sendiri ikut diam lebih lama dari seharusnya.
Tangannya masih menahan pinggang kecil Kemuning erat tanpa sadar. Jarak mereka terlalu dekat sampai Arkana bisa mencium aroma lembut rambut gadis itu. Dan suasana kamar mendadak terasa sangat sunyi. Kemuning bahkan takut bergerak sedikit pun sekarang. Jantungnya berdetak liar sampai terasa menyakitkan. Ia bisa merasakan napas Arkana menyentuh sisi lehernya pelan. Dan itu membuat lututnya hampir lemas.
“A-aku minta maaf...” Kemuning akhirnya bicara pelan sambil mencoba menjauh malu.
Namun sebelum benar-benar lepas, tangan Arkana justru menahan pinggangnya sedikit lebih erat. Membuat tubuh mereka kembali menempel dekat. Arkana menunduk perlahan ke dekat telinga Kemuning. Napas hangat pria itu menyapu kulit sensitif gadis tersebut pelan. Lalu suara rendah Arkana terdengar tepat di samping telinganya. “Kau memang punya hobi jatuh ke pelukanku?”