Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
COKELAT PENAWAR RUMUS
Salsa Kirana terbangun dengan perasaan yang tidak biasa pagi ini. Alarm di ponselnya baru saja berbunyi pukul lima lewat lima belas menit, namun matanya sudah terbuka lebar sejak sepuluh menit yang lalu. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, semacam getaran halus yang sulit dijelaskan dengan hukum fisika mana pun yang pernah dia pelajari. Pikirannya langsung melayang pada kejadian semalam. Bayangan punggung lebar Arkan, aroma parfum maskulin yang samar-samar tertiup angin, dan cara cowok itu memanggilnya "Partner" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Salsa menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan itu. "Cuma efek kaget karena hampir ditakut-takutin hantu. Nggak lebih," gumamnya pada cermin di depan meja rias. Dia segera bergegas mandi, berharap air dingin bisa menyegarkan logikanya yang mendadak agak tumpul.
Sesampainya di SMA Garuda, suasana koridor masih tergolong sepi. Salsa berjalan menuju lokernya dengan langkah yang sebisa mungkin dibuat setegas biasanya. Namun, langkahnya mendadak melambat saat melihat sosok jangkung yang sangat dia kenali sedang bersandar di depan kelasnya. Arkananta Putra, dengan seragam yang lagi-lagi tidak dimasukkan ke dalam celana dan rambut yang berantakan, sedang asyik memainkan kunci motor di jarinya.
Salsa menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Ngapain lo di sini? Kurang kerjaan banget pagi-pagi udah nangkring depan kelas orang," semprot Salsa, mencoba kembali ke mode "musuh bebuyutan" yang biasa dia perankan.
Arkan menegakkan tubuhnya, memberikan senyum miring yang selalu berhasil membuat Salsa ingin melempar kamus bahasa Inggris ke wajahnya. "Galak banget sih, Sa. Padahal semalam kayaknya udah agak jinak pas gue anter pulang. Gimana? Tidur nyenyak nggak setelah denger cerita horor sekolah?"
Wajah Salsa memerah seketika. "Berisik lo! Minggir, gue mau masuk."
"Bentar dulu," Arkan menahan pintu kelas dengan tangannya yang besar saat Salsa hendak masuk. "Gue cuma mau ngingetin, sore ini kita nggak ke perpus lagi. Kita harus ke toko komponen elektronik di pusat kota. Gue udah buat daftar alat yang kita butuhin buat piezoelektrik itu. Lo harus ikut, biar tahu apa aja yang dibeli dan nggak protes soal anggaran."
Salsa mengernyitkan dahi. "Ke pusat kota? Jauh banget. Kenapa nggak beli online aja?"
Arkan mendengus pelan, seolah pertanyaan Salsa adalah hal paling konyol di dunia. "Kita butuh barang yang kualitasnya bagus, Sa. Kalau beli online, kita nggak bisa ngetes tegangannya langsung. Lagian, lo kan paling anti sama kegagalan. Kalau alatnya rusak pas kita ngerakit gara-gara barang abal-abal, lo pasti bakal nyalahin gue tujuh turunan."
Salsa terdiam. Arkan benar. Ketelitian adalah prinsip utamanya. "Yaudah, jam berapa?"
"Jam empat, kayak kemarin. Gue jemput di gerbang," ujar Arkan santai. Dia kemudian mengacak rambut Salsa sebentar sebelum berjalan pergi menuju kelasnya sendiri yang berada di ujung koridor.
"Arkan! Jangan pegang-pegang rambut gue!" teriak Salsa kesal, meskipun tangannya refleks merapikan helai rambut yang berantakan itu dengan jantung yang berdegup kencang.
Sepanjang jam pelajaran matematika dan biologi, Salsa sama sekali tidak bisa fokus. Pak Darmono, guru matematika paling killer, bahkan sempat menegurnya karena Salsa terlihat melamun saat beliau menjelaskan tentang logaritma. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hidup Salsa Kirana, dia tidak mencatat satu kata pun dari papan tulis. Pikirannya penuh dengan daftar komponen elektronik dan... Arkan.
Kenapa cowok itu bisa berubah dari menyebalkan menjadi sangat kompeten dalam sekejap? Salsa selalu menganggap Arkan hanya modal beruntung punya otak encer, tapi melihat bagaimana Arkan menjelaskan konsep piezoelektrik di perpustakaan kemarin, Salsa mulai sadar kalau Arkan benar-benar menguasai bidangnya.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Salsa segera merapikan tasnya dan menuju gerbang sekolah. Di sana, Arkan sudah menunggu dengan motor besarnya. Kali ini, Salsa tidak banyak protes saat Arkan menyodorkan helm kepadanya. Dia naik ke atas motor dengan lebih luwes dibandingkan kemarin sore.
Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu sekitar empat puluh menit karena lalu lintas yang mulai padat. Selama perjalanan, Arkan tidak banyak bicara, dia fokus membelah kemacetan. Namun, setiap kali dia harus mengerem mendadak, dia selalu memberikan aba-aba kecil. "Pegangan, Sa," atau "Awas ngerem mendadak." Hal-hal kecil itu membuat pertahanan Salsa perlahan runtuh.
Mereka sampai di sebuah toko elektronik yang sangat luas dan penuh dengan rak-rak berisi komponen kecil yang terlihat rumit bagi orang awam. Arkan langsung menuju bagian sensor dan modul listrik. Dia mulai memilih beberapa lempengan piezoelektrik, kapasitor, dan kabel jumper dengan sangat teliti. Salsa mengikutinya dari belakang, mencoba memahami apa yang sedang dilakukan rivalnya itu.
"Kita pake sepuluh lempeng dulu buat prototipe," jelas Arkan sambil menunjukkan sebuah piringan logam kecil tipis kepada Salsa. "Nanti kita susun paralel biar arusnya stabil. Lo bagian hitung efisiensi konversinya ya? Pakai rumus energi mekanik ke listrik."
Salsa mengangguk, dia mulai mengeluarkan buku catatan kecilnya. "Oke. Gue juga mau cari bahan buat filtrasi airnya. Kita butuh karbon aktif, pasir silika, sama membran filter yang halus."
Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam di toko tersebut. Melihat Arkan berdiskusi dengan penjaga toko soal spesifikasi teknis komponen, Salsa menyadari satu hal: Arkan sangat serius dengan proyek ini. Tidak ada jejak Arkan yang tengil atau suka bercanda saat dia sedang memegang komponen elektronik. Matanya terlihat tajam dan penuh fokus.
Setelah semua belanjaan selesai, hari sudah mulai gelap dan mendung mulai menggelayut di langit. Arkan melihat ke arah langit dengan cemas. "Kayaknya mau hujan deras. Kita nggak mungkin langsung pulang. Ada kafe kecil di seberang jalan, kita ke sana dulu aja buat bahas laporan awal sambil nunggu hujan reda."
Salsa setuju. Mereka menyeberang menuju sebuah kafe bernama "Sudut Literasi" yang suasananya cukup nyaman dan tenang. Mereka memilih meja di pojok yang dekat dengan colokan listrik. Begitu mereka duduk, hujan benar-benar turun dengan sangat deras, menciptakan suara berisik di atas atap seng kafe.
Salsa langsung membuka laptopnya dan menyebarkan buku-buku referensi di atas meja. Dia mulai mencoba menyusun rumus untuk menghitung berapa banyak listrik yang bisa dihasilkan dari seribu langkah kaki murid SMA Garuda. Namun, kepalanya mulai terasa berdenyut. Rumus-rumus fisika yang biasanya terlihat sederhana di matanya, kini mendadak jadi sangat rumit. Satuan Joule, Watt, dan Volt seakan menari-nari di depannya tanpa mau membentuk sebuah kesimpulan.
"Aduh, kenapa hasilnya nggak masuk akal ya?" gumam Salsa frustrasi. Dia menghapus coretannya di kertas untuk kelima kalinya. "Harusnya tegangan yang dihasilkan nggak sekecil ini kalau kita pake sepuluh sensor."
Arkan, yang sedang asyik merakit kabel-kabel kecil sebagai simulasi, melirik ke arah Salsa. Dia melihat wajah cewek itu yang sudah pucat dan keningnya yang berkerut dalam. Salsa terlihat sangat stres, tangannya bahkan sedikit gemetar saat memegang pulpen.
"Sa, istirahat dulu," kata Arkan lembut.
"Nggak bisa, Arkan. Ini harus selesai sore ini biar besok kita bisa mulai eksperimen pertama. Gue nggak mau kita telat dari jadwal yang udah gue buat," balas Salsa tanpa menoleh. Dia kembali berkutat dengan kalkulatornya.
Arkan menghela napas. Tanpa pamit, dia berdiri dan berjalan menuju meja kasir. Salsa tidak mempedulikannya, dia terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memecahkan rumus tersebut secepat biasanya. Dia merasa gagal. Dia merasa tidak berguna sebagai partner Arkan yang disebut-sebut sebagai siswi paling ambisius.
Beberapa menit kemudian, sebuah tangan meletakkan sesuatu di atas buku catatan Salsa. Salsa tersentak dan mendongak. Di sana, di atas hitungan rumusnya yang berantakan, terdapat sebuah cokelat batang besar dengan kacang almond di dalamnya. Favorit Salsa. Di sampingnya, ada segelas cokelat panas yang masih mengepulkan uap.
"Makan dulu. Otak lo butuh glukosa, bukan cuma paksaan buat mikir," ujar Arkan sambil kembali duduk di depannya.
Salsa menatap cokelat itu, lalu menatap Arkan dengan bingung. "Lo... lo tahu dari mana ini cokelat kesukaan gue?"
Arkan mengangkat bahu, berpura-pura sibuk dengan tangnya. "Gue sering liat lo beli itu di kantin pas lagi jam istirahat kedua kalau lo lagi keliatan stres abis ulangan harian. Nggak susah buat ditebak."
Salsa tertegun. Jadi selama ini Arkan memperhatikannya? Bahkan sampai hal sekecil itu? Rasa hangat yang bukan berasal dari cokelat panas mulai menjalar di dada Salsa. Dia mengambil cokelat itu, membukanya dengan perlahan, dan mematahkan sepotong kecil lalu memasukannya ke mulut. Rasa manis dan gurih almond itu seketika memberikan efek tenang pada saraf-sarafnya yang tegang.
"Makasih ya," bisik Salsa tulus.
"Sama-sama. Sekarang tenangin diri dulu. Sini, biar gue liat hitungan lo," Arkan menarik buku catatan Salsa. Dia mempelajarinya sebentar, lalu mengambil pulpen Salsa. "Nih, lo salah di bagian konstanta piezoelektriknya. Lo pake nilai yang buat keramik biasa, padahal yang kita beli tadi itu polimer tinggi. Makanya hasilnya jadi kecil banget."
Arkan kemudian mencoret beberapa angka dan menuliskan rumus baru dengan sangat cepat namun rapi. "Coba hitung ulang pake angka ini. Gue jamin hasilnya bakal sinkron sama kapasitas baterai yang kita beli."
Salsa memperhatikan coretan Arkan. Matanya membelalak. "Oh iya! Kok gue bisa seceroboh itu ya?"
"Karena lo terlalu maksa, Sa. Belajar itu kayak lari maraton, bukan sprint. Kalau lo gas terus di awal, lo bakal tumbang sebelum garis finish," kata Arkan sambil menyesap kopi hitamnya. "Gue emang keliatan santai, tapi bukan berarti gue nggak belajar. Gue cuma tahu kapan otak gue harus berhenti biar nggak overheat."
Salsa terdiam, meresapi kata-kata Arkan. Dia selama ini selalu merasa bahwa istirahat adalah tanda kelemahan. Dia harus selalu menjadi yang terbaik, yang paling rajin, dan yang paling cepat. Tapi sore ini, di tengah rintik hujan dan aroma cokelat, dia menyadari bahwa ada cara lain untuk menjadi pintar tanpa harus menyiksa diri sendiri.
"Arkan," panggil Salsa pelan.
"Hm?"
"Kenapa lo mau satu kelompok sama gue? Maksud gue, lo kan tahu kita selalu berantem. Lo pasti bisa minta Bu Ratna buat ganti partner sama temen-temen basket lo yang lebih santai."
Arkan meletakkan tangnya, lalu menatap Salsa dalam-dalam. Tatapannya kali ini tidak ada main-mainnya. "Karena gue butuh orang yang bisa ngimbangin gue, Sa. Temen-temen gue emang seru, tapi mereka nggak punya visi kayak lo. Dan jujur aja, berantem sama lo itu... menarik. Lo satu-satunya orang di sekolah ini yang bikin gue ngerasa harus berusaha lebih keras biar nggak kalah."
Salsa merasa pipinya memanas lagi. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang masih basah oleh hujan. "Gombal banget lo."
"Gue serius, Sa. Lo itu pinter, tapi lo terlalu takut buat buat salah. Padahal dari salah itu kita belajar," Arkan tersenyum tipis. "Udah, lanjutin makannya. Habis ini gue bantuin susun draf bab tiganya."
Mereka menghabiskan waktu dua jam lagi di kafe itu. Suasana menjadi jauh lebih cair. Mereka mulai berbagi cerita di luar urusan sekolah. Arkan bercerita bagaimana dia dulu sering membongkar radio milik kakeknya karena penasaran dengan cara kerjanya, sementara Salsa bercerita tentang ambisinya menjadi dokter karena ingin menolong banyak orang seperti almarhum neneknya.
Salsa baru menyadari bahwa Arkan adalah pendengar yang sangat baik. Cowok itu tidak pernah memotong pembicaraannya, dia memberikan respon yang tepat, dan sesekali memberikan lelucon yang benar-benar lucu, bukan sekadar ejekan. Salsa mulai merasa nyaman berada di dekat Arkan. Rasa benci yang selama ini dia pupuk dengan rapi di dalam hatinya, perlahan mulai tertutup oleh rasa kagum dan rasa nyaman yang tidak terduga.
Saat hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis, mereka memutuskan untuk pulang. Arkan kembali mengantarkan Salsa sampai ke depan rumahnya. Kali ini, saat di atas motor, Salsa tidak lagi memegang jaket Arkan dengan kaku. Dia menyandarkan sedikit bahunya pada punggung Arkan, menikmati sisa-sisa aroma cokelat dan dinginnya angin malam.
Sesampainya di depan gerbang rumah Salsa, Arkan membantu Salsa melepas helmnya. Jarak mereka sangat dekat, sehingga Salsa bisa melihat butiran air hujan yang masih menempel di bulu mata Arkan.
"Makasih buat hari ini, Arkan. Buat alatnya, buat bantuannya, dan... buat cokelatnya," kata Salsa dengan suara lembut.
Arkan tersenyum, lalu mengacak rambut Salsa lagi, tapi kali ini dengan gerakan yang lebih pelan dan penuh kasih sayang. "Sama-sama, Partner. Besok jangan telat ya, kita ada jadwal eksperimen di lab setelah pulang sekolah."
"Iya, gue nggak bakal telat," janji Salsa.
Arkan memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motor. "Good night, Salsa. Jangan begadang lagi ya."
Salsa melambaikan tangan sampai motor Arkan menghilang di tikungan jalan. Dia masuk ke dalam rumah dengan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan dari wajahnya. Ibunya yang sedang menonton TV di ruang tengah sempat bertanya kenapa Salsa terlihat sangat bahagia, namun Salsa hanya menjawab dengan alasan "tugas sekolahnya lancar".
Di dalam kamarnya, Salsa meletakkan sisa bungkus cokelat pemberian Arkan di atas meja belajarnya. Dia menatapnya cukup lama. Ternyata, musuh bebuyutannya itu bisa menjadi orang yang paling perhatian di saat dia membutuhkannya. Salsa menyadari bahwa persaingan mereka mungkin tidak akan berakhir, tapi setidaknya sekarang persaingan itu tidak lagi terasa pahit.
Salsa membuka ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Arkan.
Salsa: Arkan, lo udah sampe rumah?
Hanya butuh waktu satu menit sampai ponselnya bergetar.
Arkan: Baru aja sampe. Kenapa? Kangen ya?
Salsa tertawa kecil melihat balasan itu. Dia mengetikkan balasan dengan cepat.
Salsa: Di mimpi lo! Gue cuma mau pastiin komponennya nggak basah kena hujan tadi.
Arkan: Tenang aja, semua aman di tas gue. Istirahat sana, Sa. Besok gue mau liat muka seger lo di sekolah, bukan muka zombie rumusnya.
Salsa: Iya, cerewet!
Salsa mematikan ponselnya dan merebahkan diri di tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan tenang. Besok akan menjadi hari yang panjang di laboratorium, tapi untuk pertama kalinya, Salsa merasa sangat tidak sabar untuk pergi ke sekolah. Bukan karena dia ingin mengejar nilai atau peringkat satu, tapi karena dia tahu ada seseorang yang menunggunya dengan senyum tengil dan segudang ide brilian yang selalu berhasil membuatnya terpukau.
Ternyata, rumus kimia dan fisika memang rumit, tapi perasaan manusia jauh lebih rumit dan tidak terduga. Dan bagi Salsa, Arkananta Putra adalah variabel baru yang tidak pernah dia sangka akan masuk ke dalam persamaan hidupnya, mengubah segalanya menjadi jauh lebih berwarna dan penuh kejutan manis seperti rasa cokelat di tengah hujan.