“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Rania terbangun saat jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 03.07 dini hari. Ruangan kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Hujan turun pelan di luar sana, meninggalkan suara rintik yang samar di balik jendela kaca.
Rania mengerjap pelan. Dadanya terasa sesak lagi malam ini. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.
Kosong.
Rania langsung membuka mata lebih lebar.
“Mas Harsa?” panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Rania mengembuskan napas pelan. Mungkin suaminya sedang mandi.
Ia kembali merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata lagi. Tapi entah kenapa, perasaannya tidak tenang.
Sudah beberapa minggu terakhir Harsa sering terbangun tengah malam. Kadang keluar kamar diam-diam, kadang duduk sendirian di ruang kerja sampai pagi. Dan setiap kali Rania bertanya, lelaki itu selalu menjawab singkat.
Banyak pikiran.
Rania memiringkan tubuhnya pelan. Saat itulah matanya menangkap cahaya kecil dari ponsel Harsa yang tergeletak di nakas. Layar ponsel itu menyala.
Ada pesan masuk.
Awalnya Rania tidak berniat melihat. Ia bukan tipe istri yang suka memeriksa ponsel suami. Selama tiga tahun menikah, ia selalu percaya pada Harsa.
Namun malam ini, entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman. Tangannya bergerak pelan mengambil ponsel itu.
Notifikasi pesan masih terbuka di layar. Nama pengirimnya membuat napas Rania tercekat.
Wulan.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Dan isi pesannya…
[Terima kasih sudah datang malam-malam. Aku benar-benar nggak tahu harus minta tolong ke siapa selain kamu, Mas]
Tubuh Rania membeku. Mas Harsa datang malam-malam?
Matanya bergerak turun membaca pesan sebelumnya.
[Mas, maaf ganggu jam segini. Anakku tiba-tiba demam tinggi dan terus nangis nyari ayahnya. Bisakah kamu datang?]
Pesan itu dikirim pukul 01.12 dini hari. Rania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jadi, saat dirinya tertidur lelap di kamar ini, Harsa diam-diam pergi menemui Wulan tengah malam. Demi perempuan itu.
Rania menunduk pelan. Tenggorokannya terasa sakit tiba-tiba.
Lucu ya…
Suaminya sendiri bahkan jarang memeluknya akhir-akhir ini, tapi masih selalu datang kapan pun perempuan lain membutuhkan. Meski perempuan itu adalah istri mendiang adiknya sendiri.
Rania memejamkan mata kuat-kuat. Ia tahu dirinya seharusnya mengerti.
Wulan memang sendiri sekarang. Wulan kehilangan suami. Dan Wulan punya anak kecil yang masih butuh figur ayah.
Semua orang selalu bilang begitu. Termasuk Harsa.
Tapi bagaimana dengan dirinya Siapa yang peduli kalau Rania juga kehilangan suaminya perlahan?
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. Cepat-cepat ia menghapusnya sebelum jatuh.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka. Rania buru-buru meletakkan ponsel itu kembali tepat sebelum Harsa keluar.
Lelaki itu tampak segar setelah mandi. Kaos hitam tipis melekat di tubuh tegapnya, sementara rambut basahnya diusap kasar memakai handuk.
Harsa terlihat terkejut melihat Rania sudah bangun. “Kok belum tidur?”
Rania menatapnya beberapa detik. Tatapan yang membuat Harsa sedikit mengernyit.
“Mas dari mana?”
Harsa diam sepersekian detik terlalu lama. Lalu menjawab santai, “Olahraga.”
Rania hampir tertawa mendengarnya. Olahraga? Jam tiga pagi?
“Olahraga?” ulangnya pelan.
“Iya.”
“Malam-malam begini?”
Harsa melempar handuk ke sofa kecil dekat jendela. “Aku nggak bisa tidur.”
Jawabannya terdengar biasa. Terlalu biasa. Seolah pergi diam-diam tengah malam demi perempuan lain adalah hal normal.
Rania menatap wajah suaminya lama sekali. Mencari rasa bersalah di sana. Tapi tidak ada.
Harsa malah terlihat kesal karena ditanyai.
“Kenapa lihat aku kayak gitu?”
Rania tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip menahan hancur.
“Nggak apa-apa.”
“Kalau ada yang mau ngomong, ngomong aja.” Nada bicara Harsa mulai dingin.
Selalu begitu.
Belakangan ini, sedikit saja Rania bertanya, lelaki itu langsung emosi.
“Aku cuma heran aja,” kata Rania pelan. “Mas rajin banget olahraga sekarang.”
Harsa menghela napas kasar.
“Kamu mau nuduh apa?”
Rania tercekat. Padahal ia bahkan belum mengatakan apa-apa. Tapi Harsa sudah langsung marah. Hatinya terasa makin sakit.
“Aku nggak nuduh.”
“Rania, aku capek.” Harsa mulai meninggikan suara. “Jangan bikin masalah jam segini.”
Kalimat itu membuat dada Rania seperti diremas. Lagi-lagi dirinya yang dianggap sumber masalah.
Padahal yang ia inginkan cuma sedikit perhatian.
“Aku cuma tanya, Mas.”
“Dan nada kamu nyebelin.”
Air mata Rania hampir jatuh lagi. Ia menunduk cepat sebelum Harsa melihat. Dulu lelaki itu tidak seperti ini. Dulu Harsa akan menariknya ke pelukan kalau ia terlihat sedih. Dulu Harsa selalu mencium keningnya sebelum tidur.
Dulu…
Sebelum Wulan hadir terlalu jauh di kehidupan mereka.
“Mas sering ke sana?” tanya Rania lirih.
Harsa langsung menatap tajam.
“Kemana maksud kamu?”
“Rumah Wulan.”
“Aku cuma bantu mereka.”
“Jam satu malam?”
Hening.
Rahang Harsa mulai mengeras.
“Sudah kubilang, jangan mulai lagi.”
“Aku nggak mulai apa-apa…” suara Rania bergetar. “Aku cuma pengen tahu kenapa akhir-akhir ini Mas selalu ada buat dia, tapi nggak pernah ada buat aku.”
“Karena Wulan butuh bantuan!”
“Aku juga butuh suamiku…” Kalimat itu keluar begitu pelan.
Tapi cukup membuat suasana mendadak sunyi.
Untuk sesaat, Harsa terlihat kehilangan kata-kata. Namun hanya sesaat.
“Jangan egois, Rania.”
Deg.
Hati Rania benar-benar terasa runtuh kali ini.
Egois? Jadi meminta perhatian suami sendiri sekarang dianggap egois?
“Aku egois?” bisiknya lirih.
Harsa mengusap wajah frustrasi.
“Aku udah kehilangan adik aku. Jangan bikin aku harus mikirin hal nggak penting juga. Semua yang aku lakukan demi Gavin!”
Hal nggak penting?
Rania menatap kosong ke arah suaminya. Ternyata, dirinya sudah menjadi hal tidak penting dalam hidup Harsa.
Air mata akhirnya jatuh juga. Namun Harsa bahkan tidak mendekat. Tidak memeluk, tidak meminta maaf.
Lelaki itu hanya menghela napas panjang seolah lelah menghadapi dirinya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rania sadar. Suaminya mungkin masih tinggal satu rumah dengannya. Tapi hati Harsa sudah lama pergi entah ke mana.
“Aku mau tidur!” Harsa berbaring membelakangi Rania.
Sementara Rania, hanya menahan isak tangis sebelum turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu