Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Pria Dingin yang Mengganggu
Cahaya dini hari masuk samar dari balik jendela besar kamar Arkana Mahendra. Langit masih gelap kebiruan ketika pria itu membuka mata perlahan dari sofa panjangnya.
Suasana mansion begitu sunyi sampai suara napas pelan Kemuning terdengar jelas. Dan hal pertama yang dilihat Arkana adalah tangan kecil yang masih menggenggam bajunya erat.
Arkana menunduk beberapa detik tanpa bergerak.
Jemari mungil itu mencengkeram ujung kausnya seperti takut kehilangan sesuatu. Padahal dalam tidur pun wajah Kemuning masih terlihat gelisah dan lelah. Bekas air mata samar masih tertinggal di pipinya.
Pria itu mengerutkan dahi pelan. Ia tidak suka disentuh orang lain, bahkan oleh keluarganya sendiri.
Namun anehnya, sejak tadi malam ia belum juga melepaskan tangan Kemuning. Seolah dirinya takut gadis itu kembali menangis kalau dijauhkan.
Tatapan Arkana perlahan naik ke wajah tidur Kemuning. Bulu mata gadis itu panjang dan masih tampak lembap karena tangisan semalam. Dalam keadaan tidur, Kemuning terlihat jauh lebih muda dan rapuh.
Sangat berbeda dari perempuan-perempuan yang biasa berada di sekitar Arkana. Mansion Mahendra sudah lama terasa dingin baginya.
Sejak ibunya meninggal beberapa tahun lalu, rumah itu hanya penuh kesunyian dan pekerjaan. Arkana bahkan lupa kapan terakhir kali seseorang mencari kehangatan darinya seperti ini. Pikiran itu langsung membuat rahangnya mengeras kesal. Ia pasti hanya terlalu lelah. Tidak ada alasan lain. Kemuning hanyalah masalah baru yang dibawa ayahnya pulang tengah malam. Dan Arkana tidak suka masalah.
Saat Arkana hendak menarik bajunya perlahan, Kemuning bergerak kecil dalam tidur. Bibir gadis itu bergetar samar seolah sedang bermimpi buruk lagi.
“Kak Ning jangan pergi...” gumamnya lirih menirukan suara Agam.
Dada Arkana terasa aneh mendengar itu. Beberapa menit kemudian, cahaya pagi mulai memenuhi kamar.
Kemuning mengerjapkan mata perlahan sebelum tersadar dari tidurnya. Ia langsung membeku saat menyadari posisi tubuhnya sangat dekat dengan Arkana. Dan tangannya masih menggenggam baju pria itu erat-erat.
Mata Kemuning langsung membesar panik. Ia buru-buru menarik tangannya seperti tersengat api.
“Ma-maaf!” ucapnya cepat dengan wajah merah padam. “Aku tidak sengaja!” Kemuning langsung mundur terlalu cepat dari sofa.
Kemeja putih kebesaran milik Arkana melorot sedikit di bahunya tanpa ia sadari. Kulit putih bahu gadis itu terlihat samar di balik cahaya pagi. Dan mata Arkana refleks berhenti beberapa detik di sana. Arkana segera memalingkan wajah sambil berdeham pelan.
Ekspresinya kembali dingin seperti biasa. Namun ada ketegangan kecil di rahangnya sekarang. Kemuning sama sekali tidak sadar.
“Kalau bangun tidur jangan bergerak sembarangan.”
Nada suara Arkana terdengar datar dan tenang. Namun itu justru membuat Kemuning makin malu setengah mati.
Ia buru-buru membetulkan kemeja di tubuhnya gugup. “Aku benar-benar minta maaf...” Kemuning menunduk dalam sambil meremas ujung baju.
Arkana memperhatikannya beberapa detik tanpa bicara. Gadis ini terlalu mudah panik untuk ukuran orang dewasa.
Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Seorang pelayan masuk membawa pakaian baru dan memberitahu bahwa sarapan sudah siap.
Kemuning langsung menegang lagi begitu mendengar kata “sarapan.” Ia belum pernah duduk makan bersama keluarga kaya raya sebelumnya.
Arkana berdiri dari sofa sambil merapikan jam tangannya. Tubuh tinggi pria itu terlihat sangat rapi bahkan baru bangun tidur. Sementara Kemuning merasa dirinya seperti anak kampung tersesat di hotel mahal. Ia semakin ingin menghilang dari rumah itu.
Ruang makan keluarga Mahendra jauh lebih besar dari yang dibayangkan Kemuning. Meja panjang penuh makanan mahal tersusun rapi di tengah ruangan elegan. Pelayan berdiri di beberapa sudut sambil menunggu perintah dengan tenang. Kemuning sampai takut melangkah terlalu keras.
Mahardika Mahendra sudah duduk di kursi utama sambil membaca koran pagi. Pria tua itu mengangkat kepala saat melihat Kemuning masuk bersama Arkana. “Duduk.” Perintah singkat itu langsung membuat Kemuning gugup.
Kemuning duduk pelan di kursi paling ujung. Tangannya kaku saat melihat banyak sendok dan garpu tertata di depannya. Ia bahkan takut salah memegang alat makan. Semua hal di ruangan itu terasa terlalu mahal untuk disentuh.
Arkana duduk di seberangnya sambil meminum kopi tanpa ekspresi. Namun diam-diam matanya menangkap gerakan kecil Kemuning yang terlihat kebingungan. Gadis itu memegang sendok seperti takut merusaknya. Dan entah kenapa, itu membuat Arkana menahan napas pelan.
Suara langkah heels terdengar memasuki ruang makan. Kemuning langsung menoleh gugup ke arah wanita cantik elegan yang baru datang. Gaun satin mahal membungkus tubuh tinggi anggun wanita itu dengan sempurna. Aura dinginnya hampir sama menakutkan dengan Arkana.
Ratih Maharani berhenti begitu melihat Kemuning duduk di meja makan keluarga. Tatapan matanya langsung turun perlahan menilai penampilan gadis desa tersebut. Ada keheningan tipis yang terasa sangat tidak nyaman. Kemuning refleks menundukkan kepala.
“Jadi ini gadis yang dibawa pulang semalam?”
Suara Ratih lembut tetapi terasa tajam.
Mahardika melipat korannya perlahan tanpa menjawab langsung. Sedangkan Arkana tetap diam sambil meminum kopinya.
Ratih duduk elegan di kursinya sebelum kembali menatap Kemuning. “Keluarga Mahendra sekarang memang terlalu mudah membuka pintu untuk orang asing.”
Kemuning langsung merasa wajahnya memanas malu. Jemarinya otomatis saling menggenggam di bawah meja. “Aku tidak berniat merepotkan siapa pun...” Suara Kemuning sangat pelan hampir tidak terdengar.
Ratih tersenyum tipis tanpa kehangatan sedikit pun.
“Tahu diri ternyata. Bagus.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan halus. Kemuning langsung kehilangan selera makan sepenuhnya. Ia semakin sadar bahwa dirinya memang tidak pantas berada di rumah itu. Mungkin semua orang di sini berpikir dirinya perempuan murahan.
Ratih belum berhenti. “Gadis desa biasanya cepat salah paham kalau diberi kebaikan sedikit. Jadi lebih baik jangan bermimpi terlalu tinggi.”
Tatapannya jelas mengarah pada Kemuning. Mahardika mulai terlihat tidak nyaman mendengar istrinya. Namun sebelum pria tua itu bicara, suara Arkana lebih dulu terdengar dingin. “Dia tamu Ayah. Tidak perlu dipermalukan di meja makan.”
Semua orang langsung terdiam. Ratih membelalak tipis menatap putranya sendiri. Mahardika juga terlihat sedikit terkejut dengan ucapan Arkana. Karena biasanya pria itu tidak pernah peduli urusan siapa pun.
Kemuning sendiri langsung mengangkat kepala pelan. Matanya bertemu sesaat dengan Arkana yang masih terlihat dingin seperti biasa. Namun untuk pertama kali sejak datang ke rumah itu, dadanya terasa sedikit hangat. Meskipun ia tidak mengerti kenapa Arkana membelanya.
Kemuning mencoba mengambil gelas teh di dekat tangannya yang luka. Namun jemarinya sedikit gemetar karena gugup. Arkana refleks memindahkan gelas panas itu menjauh sebelum tersentuh kulit lecet Kemuning. Gerakannya cepat dan spontan.
Pria itu sendiri langsung diam sesaat setelah melakukannya.
Seolah baru sadar pada refleks protektifnya sendiri.
Arkana segera kembali meminum kopi dengan wajah dingin. Namun rahangnya tampak sedikit mengeras kesal.
Mahardika memperhatikan interaksi kecil itu diam-diam. Lalu pria tua tersebut meletakkan sendoknya perlahan. “Arkana. Ajak Kemuning membeli pakaian hari ini.”
Kemuning langsung panik mendengar itu. “Ti-tidak perlu, Pak. Aku masih bisa memakai ini.” Ia buru-buru menolak karena merasa tidak enak.
“Aku sibuk.” Arkana menjawab lebih cepat dengan nada dingin.
Mahardika langsung menatap putranya tajam tanpa berkedip. Tatapan penuh tekanan yang langsung membuat suasana tegang.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Arkana akhirnya menghela napas pelan penuh malas. “Baik.”
Jawaban singkat itu justru membuat jantung Kemuning makin kacau. Pergi berdua dengan Arkana saja sudah cukup membuatnya gugup. Sekarang ia harus keluar rumah bersama pria itu? Kemuning merasa dirinya pasti akan mempermalukan Arkana di depan banyak orang. Dan pikiran itu membuat perutnya mulas.
Tak lama kemudian, Arkana berjalan lebih dulu keluar mansion menuju halaman depan. Mobil sport hitam miliknya sudah menunggu di bawah cahaya matahari pagi.
Kemuning buru-buru mengikuti dari belakang sambil memeluk tas kecil pemberian pelayan. Jantungnya tidak berhenti berdebar sejak tadi. Karena terlalu gugup memperhatikan punggung Arkana, Kemuning tidak melihat anak tangga depan mansion. Kakinya mendadak terpeleset ke depan. Tubuh kecil itu langsung kehilangan keseimbangan. Dan napasnya tercekat panik.
Arkana refleks berbalik cepat sebelum Kemuning jatuh. Satu tangannya langsung menarik pinggang gadis itu ke dadanya dengan kuat. Namun tangan satunya tanpa sengaja menyentuh paha putih Kemuning di balik kemeja longgar yang dipakainya.
Keduanya langsung membeku di tempat.
Kemuning menahan napas dengan wajah merah padam. Sementara Arkana menatapnya diam dengan rahang menegang keras. Sentuhan singkat itu terasa terlalu nyata di telapak tangannya.
Dan untuk pertama kalinya, Arkana mulai sadar bahwa Kemuning jauh lebih berbahaya bagi ketenangannya daripada yang ia kira.