NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Langkah kaki Dimas melangkah keluar dari gerbang perusahaan dengan gontai, namun amarah yang meluap-luap jauh lebih berat daripada rasa malunya. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Setiap tatapan orang yang lewat, setiap bisikan yang terdengar di telinganya, terasa seperti pisau yang menikam harga dirinya yang sudah hancur lebur. Baginya, kehilangan jabatan, uang, dan reputasi adalah bencana terbesar yang pernah terjadi, jauh lebih menyakitkan daripada rasa bersalah atau penyesalan atas perbuatannya sendiri.

Di belakangnya, Rina berjalan tertatih-tatih. Wajahnya pucat, matanya bengkak karena menangis, dan tubuhnya gemetar ketakutan. Ia tidak lagi berani bersuara atau berjalan beriringan di samping Dimas seperti biasanya. Rasa percaya dirinya hilang sama sekali. Ia yang tadinya penuh rencana licik dan kebencian, kini hanya bisa menunduk dan mengikuti jejak langkah kekasihnya itu dari jarak agak jauh, takut meledakkan kemarahan Dimas yang sudah berada di ubun-ubun.

Begitu sampai di mobil mewah yang dulu bangga sekali dikendarai Dimas, laki-laki itu membuka pintu dengan kasar hingga berdecit keras. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi pengemudi dengan kasar, membiarkan pintu tetap terbuka lebar. Napasnya terdengar berat dan memburu, seolah sedang menahan badai yang siap meledak kapan saja.

Rina perlahan masuk ke kursi penumpang, duduk di ujung kursi sejauh mungkin dari Dimas. Ia menutup pintu pelan-pelan, takut sedikit saja bunyi berisik akan menjadi pemicu kemarahan laki-laki itu.

"Mas... Mas Dimas..." panggil Rina pelan, suaranya bergetar dan hampir tak terdengar. "Kita... kita harus bagaimana sekarang? Kita dipecat... nama kita rusak... pak Damar bilang akan menuntut ganti rugi... Apa yang akan kita lakukan?"

Pertanyaan itu justru menjadi sumbu yang menyulut api kemarahan Dimas. Ia membanting setir mobil dengan keras, matanya melotot menatap Rina dengan pandangan penuh kebencian, seolah wanita itulah satu-satunya penyebab segala musibah ini.

"Kamu bertanya apa yang harus kita lakukan?!" bentak Dimas dengan suara menggelegar, wajahnya berkerut menahan amarah yang meluap. "Kamu yang bertanya padaku?! Semua ini gara-gara kamu! Gara-gara usul licikmu yang katanya 'pasti berhasil'! Katanya tidak akan ada jejak! Katanya Ani pasti kalah! Lihat sekarang apa yang terjadi! Kita yang hancur! Kita yang diusir seperti pencuri!"

Rina terkejut, mundur bersandar ke pintu mobil sambil menangis tersedu-sedu. "Ma... Mas? Kenapa salahkan aku? Kan Mas juga setuju... Mas juga yang mau menjatuhkan dia... Mas juga yang marah besar melihat dia sama Pak Damar..."

"Diam kamu!" Dimas membentak lebih keras lagi, tangannya mengayun seolah ingin memukul, namun tertahan di udara. "Kalau saja kamu teliti! Kalau saja kamu tidak ceroboh! Kalau saja kamu tidak lupa mengubah rincian hitungan, tidak lupa memakai kertas yang benar! Kita tidak akan tertangkap basah! Kamu bodoh! Kamu tidak berguna! Aku bodoh percaya sama kamu!"

Dimas memukul dasbor mobil berkali-kali, melampiaskan segala rasa frustrasinya pada benda mati di hadapannya. Ia merasa dirinya paling benar, merasa dirinya korban, dan sama sekali tidak sadar bahwa kehancuran ini adalah buah dari perbuatannya sendiri, dari kecemburuan, keserakahan, dan kejahatan yang ia tanam sendiri.

Pikirannya kacau balau. Bayangan wajah Ani yang tenang, berwibawa, dan penuh kemenangan tadi terus berputar di kepalanya. Ani yang ia anggap sampah, Ani yang ia buang, Ani yang ia remehkan... justru dialah yang berdiri tegak, bersih, dan dihormati semua orang.

Sementara ia, Dimas, laki-laki yang merasa paling hebat, paling berkuasa, dan paling berhak... kini jatuh terperosok ke dasar tanah, dihina, dicemooh, dan diusir seperti binatang pengganggu.

"Kenapa dia? Kenapa dia yang menang?!" geram Dimas, matanya menatap kosong ke jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan sore itu. "Dulu dia wanita penurut, diam saja kalau disakiti, mau saja diperintah. Kenapa sekarang dia berubah? Kenapa dia jadi pintar? Kenapa dia jadi hebat? Dia curang! Dia pasti pakai jalan licik juga! Dia pasti pakai pesonanya ke Damar sampai Damar buta sama kejahatannya dia!"

Dimas tidak mau menerima kenyataan bahwa kehebatan Ani adalah milik Ani sendiri, bahwa kejujuran dan ketegaran itulah yang mengangkat derajat wanita itu. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia telah kalah telak, bahwa ia telah membuang permata paling berharga dalam hidupnya demi kaca yang berkilau semu seperti Rina.

Rina yang sejak tadi menangis, kini mulai berani berbicara lagi, meski suaranya masih penuh ketakutan. Ia juga mulai merasa menyesal dan marah, namun bukan marah pada dirinya sendiri, melainkan marah pada Ani.

"Itu semua salah dia, Mas... Salah Ani... Dia yang datang ke sini, dia yang cari masalah... Dulu dia diam saja di kampung, kenapa harus datang ke kota? Kenapa harus masuk ke perusahaan kita? Dia memang pembawa sial... Dia mau menghancurkan hidup kita... Dia dendam sama Mas, dia mau balas dendam..."

Kalimat-kalimat beracun Rina itu justru semakin menambah kobaran api di dada Dimas. Alih-alih sadar, ia semakin yakin bahwa Ani adalah musuh utama, penyebab segala kesengsaraannya.

"Iya... Kamu benar... Dia yang salah... Dia yang mulai duluan..." gumam Dimas dengan suara rendah dan mengerikan, matanya berkilat menakutkan. "Dia pikir dengan membongkar semua ini, dia sudah menang? Dia pikir aku akan diam saja menerima kekalahan ini? Dia salah besar! Dia tidak tahu siapa aku! Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang! Aku tidak akan membiarkan dia bahagia, apalagi bahagia karena menginjak-injak harga diriku!"

Dimas menyalakan mesin mobil dengan kasar, lalu memacu kendaraannya kencang sekali menerobos kemacetan kota. Ia tidak tahu mau ke mana, tapi satu hal yang ada di kepalanya: ia ingin merusak apa pun yang membuat Ani bahagia. Ia ingin menghancurkan ketenangan wanita itu, persis seperti wanita itu menghancurkan masa depannya hari ini.

"Mas... Mau ke mana kita?" tanya Rina cemas, melihat kecepatan mobil yang makin bertambah.

"Ke apartemennya!" jawab Dimas tegas dan penuh amarah. "Aku mau ketemu dia! Aku mau bicara sama dia! Aku mau minta kejelasan! Aku mau tanya, apa kurangnya aku sama dia sampai dia tega menghancurkan hidupku begini!"

"Jangan Mas! Nanti Pak Damar ada di sana! Nanti Mas makin susah!" Rina mencoba menahan, tapi sia-sia. Dimas sudah tidak mendengar alasan apa pun lagi. Logikanya sudah tertutup rapat oleh rasa benci dan rasa tidak terima yang membabi buta.

Mobil itu melaju kencang menuju kawasan apartemen tempat Ani tinggal. Di sepanjang jalan, pikiran Dimas dipenuhi bayangan kemewahan tempat tinggal Ani, kedekatan Ani dengan Damar, dan segala hal yang membuatnya iri dan sakit hati. Ia merasa tidak adil. Ia yang dulu berjuang, ia yang dulu susah payah, tapi kenapa Ani yang menikmati hasilnya? Kenapa Ani yang punya segalanya sekarang?

Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, sebenarnya Dimas tahu jawabannya. Ia tahu alasannya sederhana saja: karena Ani jujur, karena Ani tulus, karena Ani setia, dan karena Ani berharga. Tapi mengakui hal itu sama saja menghancurkan sisa-sisa egonya. Jadi, ia memilih untuk membenci, memilih untuk menyalahkan, dan memilih untuk berusaha merusak kebahagiaan orang lain agar rasa sakitnya sedikit berkurang.

Sesampainya di depan gedung apartemen megah itu, Dimas memarkirkan mobilnya sembarangan, hampir menabrak tiang pembatas. Ia turun dengan wajah merah padam, napasnya memburu. Rina menyusul di belakang dengan langkah tertatih, berusaha menahan Dimas namun tak berdaya.

Dimas menatap gedung tinggi itu dengan pandangan tajam dan penuh kebencian. Di lantai atas sana, Ani sedang berada di tempat yang nyaman, aman, dan bahagia. Sementara ia, Dimas, berdiri di bawah sini, hancur, miskin jabatan, dan penuh amarah. Perbedaan itu menyakitinya luar biasa.

"Aku tidak akan membiarkanmu tenang, Ani..." geram Dimas pelan, mengepal tangannya kuat-kuat. "Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu pikir kamu sudah bebas dariku? Ingat satu hal... Selama namaku masih ada di ingatanmu, selama aku masih bernapas... aku akan selalu menjadi bayang-bayang buruk dalam hidupmu. Aku akan pastikan kamu tahu, bahwa memusuhi Dimas adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu."

Namun, saat ia hendak melangkah masuk ke lobi, petugas keamanan segera menghadangnya.

"Maaf Pak, boleh saya bantu? Ada keperluan apa?" tanya satpam itu sopan namun tegas, menghalangi jalan Dimas yang terlihat gelisah dan marah.

Dimas terhenti, menatap satpam itu dengan tatapan membunuh. Ia sadar, masuk ke sana dengan kondisi seperti ini hanya akan membuatnya makin dipermalukan, makin terlihat rendahan dan tidak berakal. Damar pasti ada di sana, atau mungkin ada tetangga lain. Ia tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh terlihat seperti orang gila yang mengamuk.

Amarahnya yang meluap seketika berubah menjadi rasa sakit hati yang dingin dan kelam. Ia mundur perlahan, menatap lagi jendela-jendela gedung itu.

"Belum saatnya..." batinnya bergumam. "Belum saatnya aku berhadapan langsung. Aku harus cari cara lain. Cara yang lebih sakit buat dia. Aku harus cari cara supaya dia kehilangan semuanya, persis seperti aku kehilangan segalanya hari ini."

Rina yang melihat Dimas mundur, akhirnya bernapas lega meski hatinya masih penuh kekhawatiran. Ia menarik lengan Dimas pelan.

"Mas... ayo kita pergi... Di sini banyak orang... Nanti kalau Mas buat keributan, makin parah nasib kita... Kita cari jalan lain saja, Mas..."

Dimas menghempaskan tangan Rina kasar, namun ia tetap berbalik badan dan berjalan kembali ke mobil. Langkahnya berat, penuh dendam yang kini telah berubah menjadi keinginan balas dendam yang membeku di hatinya. Ia tahu, perang ini belum selesai. Bahkan, baginya, ini baru permulaan. Ia yang hancur, ia yang menderita, dan ia yang berhak menuntut balas—dalam pikirannya yang sesat itu.

Mobil itu kembali melaju, menjauhi apartemen, membawa dua orang yang hatinya gelap dan penuh dosa. Di luar, matahari mulai terbenam, menyisakan cahaya kemerahan yang suram, seolah menggambarkan masa depan Dimas yang kini tertutup awan kelabu, akibat perbuatannya sendiri yang telah ia pilih dengan sadar.

Di lantai sepuluh, di balik jendela kaca besarnya, Ani berdiri diam menatap matahari terbenam yang indah itu. Ia tidak tahu Dimas baru saja ada di bawah sana, penuh amarah dan kebencian. Ia hanya merasa damai. Ia berdoa dalam hati, semoga Dimas dan Rina sadar, semoga mereka berubah, semoga mereka tidak lagi menyakiti orang lain. Ia sudah memaafkan, dan ia sudah melangkah jauh ke depan. Ia yakin, kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebenaran, dan pada akhirnya, setiap orang akan menuai apa yang mereka tanam. Dan Dimas... baru saja memanen hasil tanaman kebencian dan kecemburuannya sendiri, dan rasanya ternyata jauh lebih pahit daripada yang pernah ia bayangkan.

bersambung ,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!